Akibat sebuah kecelakaan, Alea—Ratu Mafia yang ditakuti dunia bawah—bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang siswi SMA yang cupu, norak, dan selalu menjadi sasaran perundungan.
Lebih buruk lagi, gadis itu bukan hanya dibenci di sekolah, tetapi juga ditolak oleh keluarganya sendiri. Penampilan lusuh dan tingkahnya yang dianggap memalukan membuatnya hidup tanpa suara, tanpa pembelaan.
Kini, jiwa dingin dan berbahaya milik Alea menempati tubuh yang selama ini diremehkan semua orang.
Sekolah yang dulu penuh ejekan mulai terasa tidak aman.
Keluarga yang dahulu membuangnya perlahan menghadapi perubahan yang tak bisa mereka kendalikan.
Akankah mereka menyesal telah membenci Alea?
Ataukah justru Alea yang tak lagi peduli untuk memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rs_31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alea yang hancur
Kesal dengan tingkah Damian dan yang lainnya, Ara langsung saja pergi menjalankan motor sport miliknya tanpa menatap ke arah mereka semua.
"Kenapa harus seperti ini?" tanya Arabella kepada dirinya sendiri.
Suaranya pelan, tapi hatinya bergemuruh. Dada Ara terasa sesak saat mengingat tatapan Damian tadi. Tatapan yang terlalu familiar terlalu dalam seolah menembus semua yang ia sembunyikan.
Dia kesal bukan main. Bukan hanya karena pertemuan itu, tapi karena semua kenangan yang tiba-tiba kembali menyerbu tanpa permisi.
"Bagaimana bisa Damian berada di Indonesia?"
Dulu dia berada di negara Italia dengannya. Kota itu menyimpan terlalu banyak luka. Terlalu banyak darah. Terlalu banyak kenangan yang ingin ia kubur selamanya.
Selama ini Alea bersamanya, tapi dia tidak pernah tahu kalau Damian mempunyai keluarga di Indonesia. Tidak pernah. Bahkan dalam hidup lamanya sekalipun, Damian tidak pernah membahas tanah kelahirannya.
"Ya tuhan takdir apa ini?"
Ara menarik gas lebih kencang. Angin malam menghantam wajahnya, tapi tidak mampu mengusir panas di kepalanya.
Semua terasa berantakan.Ara menghentikan motornya tepat di jembatan kosong. Mesin dimatikan dengan kasar. Sunyi langsung menyergap.
Dia turun dari motor, langkahnya berat. Ara berjalan ke arah trotoar dan berdiri di sana, menatap ke arah jalanan, melihat motor dan mobil yang berlalu lalang di bawah sana. Lampu kendaraan berpendar seperti kenangan yang berkelebat tanpa henti.
Ara tersenyum kecut saat menyadari kalau semua ini bahkan lebih dari kata kebetulan semata.
"Argghhht, sialan!" teriak Ara dengan lepas di sana.
Suara itu menggema di jembatan yang sepi, lalu hilang ditelan malam.Ara teringat akan kehidupan lalu di tubuhnya saat menjadi Mafia bersama dengan Damian. Malam-malam penuh darah. Keputusan tanpa ampun.
Dan dia selalu berdiri di sisi Damian.Dia mati terbunuh karena musuh. Peluru itu menembus tubuhnya tanpa ampun. Hangat darahnya masih terasa nyata di ingatannya.
Sedangkan Damian dia bahkan sangat hancur.Tatapan pria itu di detik terakhir hidupnya masih melekat jelas di benak Ara.Tatapan yang penuh amarah, kehilangan, dan kehancuran.
Tapi sekarang dia kembali.Dan hidup di tubuh Arabella Kalandra.
Takdir seolah mempermainkannya sekali lagi.
Sedangkan di sirkuit, Damian terdiam. Tatapannya masih tertuju ke arah jalan tempat Arabella pergi. Dia ingin mengejarnya ingin memastikan sesuatu yang sejak tadi mengusik pikirannya.
Tapi saat mengingat sikap gadis itu, langkahnya tertahan. Tatapan dingin itu terlalu asing namun juga terlalu ia kenal.
Rahang Damian mengeras.
" Gue pergi dulu," kata Damian singkat kepada Riko, suaranya datar.
Dia lalu menatap Kenzo dan Kenzi sekilas. Tatapannya tajam, penuh arti, tapi tidak mengatakan apa pun. Setelah itu, dia langsung berbalik dan pergi meninggalkan sirkuit tanpa menunggu jawaban.
Langkahnya tenang, tapi pikirannya berisik.Semua kembali berputar di kepalanya. Cara gadis itu menunggangi motor. Cara dia berdiri di garis start. Bahkan caranya menatapnya tidak mungkin dia salah.
Damian mengepalkan tangannya pelan." Akhirnya gue menemukanmu Alea," gumam Damian dalam hati.
Nada suaranya nyaris seperti bisikan yang hilang tertelan angin malam.Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat. Bukan senyum biasa. Senyum tipis yang penuh arti.
Senyum seseorang yang akhirnya menemukan sesuatu yang pernah hilang darinya.Dan kali ini dia tidak akan membiarkannya pergi lagi.
♧♧♧♧
Setelah kepergian Ara, Kenzi dan Kenzo terdiam mematung dia tidak menyangka ternyata Queen Racing yang selama ini dia kagumi adalah adiknya sendiri.
" Sejak kapan Ara bisa balapan?" tanya Kenzi kepada kembarannya.
Dia masih syok sedikit tidak percaya dengan apa yang di lihat malam ini. Kenzo menggelengkan kepalanya dengan kuat menatap Kenzi dengan tatapan tidak percaya.
" Kenzi, ternyata selama ini kita tidak pernah tahu siapa adik kita sendiri," kata Kenzo kepada adiknya.
" Mana mungkin Ken, anak sialan itu anak yang tidak berguna, bahkan sekalipun dia berubah dia tetap saja bukan adik kita," jawab Kenzi dengan penuh kebencian menatap ke arah depan.
" Kenzi, kenapa sih Lo masih keras kepala ,setelah apa yang tadi lo lihat," bentak Kenzo.
Dia benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah Kenzi yang begitu sangat membenci Arabella.
" Sampai kapanpun dia bukan adik gue, adik gue hanya Vania titik."
" Tapi meskipun begitu, Ara masih adik kita, adik kandung kita Kenzi, dan asal lo ingat di tubuh Ara ada darah Kalandra yang mengalir di tubuhnya."
Kenzi langsung menoleh tajam ke arah Kenzo. Tatapannya penuh penolakan, keras seperti batu yang tak bisa dihancurkan.
"Jangan bawa-bawa darah segala, Ken. Buat gue, keluarga itu bukan soal darah. Tapi soal siapa yang pantas disebut keluarga," ucap Kenzi dingin.
Kenzo terdiam sesaat. Rahangnya mengeras. Dia tahu kerasnya Kenzi, tapi malam ini sesuatu di hatinya mulai berubah.
Bayangan Ara di lintasan tadi terus terputar di kepalanya. Cara gadis itu menunduk sebelum start. Cara dia melesat tanpa ragu. Cara semua pembalap di sana menyingkir memberi jalan.
Itu bukan kebetulan ataupun kebetulan apalagi keberuntungan, tapi itu adalah bakat yang dia sembunyikan dan yang paling menyakitkan selama ini, keluarga Kalandra tidak permah tahu sedikit pun.
"Kita buta, Kenzi," kata Kenzo pelan, nyaris seperti pengakuan dosa.
Kenzi tertawa sinis menertawakan kebodohan Kenzo yang begitu percaya dengan intrik Arabella.
" Siapa yang buta? Gue enggak. Gue cuma nggak mau peduli."
Kenzo menatap kembarannya lama. Selama ini mereka selalu kompak dan untuk saat ini dia merasa ada jarak di antara mereka berdua.
"Lo sadar nggak sih, dari dulu Ara selalu sendiri," ucap Kenzo lirih.
Kalimat itu membuat Kenzi terdiam sepersekian detik. Tapi hanya sebentar.
"Dia yang milih sendiri," balas Kenzi cepat, seolah menolak perasaan yang hampir muncul.
Kenzo menghela napas berat. Dia tahu, malam ini tidak ada gunanya berdebat.Karena yang berubah bukan Kenzi tapi dirinya. Mungkin ini takdir keluarga mereka yang tidak beruntung.
♧♧♧
Di sisi lain, malam semakin larut.
Ara masih berdiri di atas jembatan. Angin dingin menerpa rambutnya yang terurai. Matanya kosong menatap lampu kota yang berkelip seperti bintang jatuh yang tak pernah sampai ke langit.
Tangannya mencengkeram pagar besi jembatan erat.Sampai buku jarinya memutih.
"Konyol," gumamnya lirih.
Dia pikir setelah mati semuanya akan selesai. Semua luka, semua darah, semua kenangan akan hilang begitu saja.Tapi ternyata tidak.
Takdir malah menyeretnya kembali.Mempertemukannya lagi dengan orang yang paling ingin dia hindari.
" Damian." Nama itu saja sudah cukup membuat dadanya sesak.
Ara memejamkan matanya kuat.
Bayangan itu kembali muncul.
Malam bersalju di Italia. Bau mesiu di udara. Tubuhnya yang mulai melemah. Darah hangat mengalir dari dada dan kepalanya juga Damian yang memeluknya.
Untuk pertama kalinya pria itu hancur sehancur- hancurnya.
"Alea jangan tidur jangan berani tinggalin gue." Suara itu masih jelas di telinganya sampai dia menutup mata.
Ara menggigit bibirnya keras. Sampai terasa asin darah di lidahnya.
"Berhenti," bisiknya serak.
Dia membuka mata cepat, napasnya memburu.
"Itu bukan hidup gue lagi."
Dia bukan Alea. Dia Arabella Kalandra.Gadis yang dibenci keluarganya sendiri, gadis yang dianggap aib, gadis yang tidak pernah diinginkan. Namun, ironisnya hidup yang sekarang justru terasa lebih menyakitkan dari kematian.
Ara tertawa kecil tawa yang begitu hampa dan getir.
"Hidup gue emang bercanda ya," gumamnya pelan.
Tapi kemudian…
Tatapan Damian tadi muncul lagi di kepalanya.Tatapan yang sama seperti dulu. Tajam dan insting yang kuat membuat Ara mengepalkan tangannya.
"Jangan bilang...." napasnya tercekat.
Entah kenapa Ara merasa begitu sangat takut sekarang bukan karena musuh atau keluarga Kalandra tapi, Ara takut Damian masih mengingat semuanya.
" Jika dia masih ingat gue, gue yakin sekarang hatinya pasti sangat hancur."
♧♧♧
Sementara itu, di dalam mobil hitam yang melaju membelah malam, Damian menyandarkan kepalanya ke jok.Lampu jalan melintas cepat di wajahnya, menciptakan bayangan gelap terang yang bergerak pelan.
Matanya terpejam.Tapi pikirannya tidak.Satu nama terus berputar di kepalanya.
"Alea."
Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Lo boleh pura-pura lupa," gumamnya pelan.
Matanya terbuka perlahan, begitu gelap dan tegap tapi penuh kepastian.
"Tapi gue nggak akan pernah lupa sama Lo Lea."
Tatapan Damian berubah menjadi dingin yang mematikan.
Seperti pria yang siap membakar dunia demi satu orang.
"Dan kali ini." Suaranya rendah, nyaris seperti janji.
"Gue nggak bakal kehilangan lo lagi."