NovelToon NovelToon
Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Poligami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Weny Hida

Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.

Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.

Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Tokyo

Keesokan harinya ....

Dirga melirik Amira yang sejak tadi hanya menatap keluar jendela pesawat. Awan putih yang berlapis-lapis terlihat seperti hamparan kapas di bawah mereka.

Namun wajah Amira terlihat tegang, dan Dirga menyadarinya. Dia sedikit memiringkan kepala, lalu bertanya pelan,

“Ada apa?”

Amira tersentak kecil, seolah baru tersadar bahwa dirinya sedang diperhatikan. Dia pun buru-buru menggeleng.

“Nggak apa-apa.”

Beberapa detik Amira terdiam, lalu menambahkan dengan jujur,

“Cuma, ini pertama kalinya aku naik pesawat.”

Nada suaranya terdengar sedikit canggung, bahkan ada rasa malu di sana.

Dirga menatapnya sesaat. Wajah Amira terlihat benar-benar gugup, tangannya bahkan menggenggam ujung sabuk pengaman.

Entah kenapa hal itu membuat Dirga merasa sedikit geli. Namun dia tidak menertawakan, hanya berkata singkat,

“Kalau gitu tidur aja.”

Amira menoleh.

“Hah?”

Dirga bersandar santai di kursinya.

“Perjalanannya lama. Kalau kamu tidur, nanti tahu-tahu udah sampai.”

Jawaban itu sederhana. Namun anehnya membuat Amira merasa sedikit lebih tenang. Dia pun mengangguk kecil.

“Iya .…”

Beberapa saat kemudian Amira benar-benar mencoba memejamkan mata. Tubuhnya sedikit miring ke arah jendela, selimut tipis yang diberikan pramugari menutupi tubuhnya.

Awalnya dia hanya berniat memejamkan mata sebentar. Namun karena semalaman dia sulit tidur karena terlalu gugup memikirkan perjalanan ini, rasa kantuk akhirnya benar-benar datang.

Napasnya mulai teratur. Tanpa sadar kepalanya perlahan miring ke samping, dan beberapa menit kemudian, kepalanya justru jatuh bersandar di bahu Dirga.

Dirga yang sedang membaca majalah, tiba-tiba merasakan beban ringan di bahunya. Sontak, dia pun menoleh, dan Amira sudah tertidur pulas.

Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan biasanya. Bulu matanya yang panjang bergerak pelan setiap kali pesawat sedikit bergetar.

Dirga menatapnya cukup lama. Ada sesuatu yang terasa aneh di dalam dadanya.

Wanita ini, awalnya hanyalah orang asing baginya. Lalu tiba-tiba menjadi asisten istrinya. Kemudian, menjadi wanita yang tidur bersamanya, dan sekarang menjadi istrinya.

Dirga menghela napas pelan. Dia lalu menggeser sedikit bahunya agar posisi kepala Amira lebih nyaman. Tanpa sadar, Dirga juga menarik selimut Amira sedikit lebih rapat.

Pesawat terus melaju membelah langit menuju Tokyo. Sementara itu Amira tetap tertidur pulas, sama sekali tidak menyadari bahwa sejak beberapa menit tadi Dirga justru sesekali menatap wajahnya.

Beberapa jam kemudian, Dirga menepuk pelan bahu Amira.

“Amira, bangun.”

Amira mengerjapkan mata perlahan. Pandangannya masih sedikit kosong karena baru terbangun dari tidur yang cukup lama.

“Hmm …?” gumamnya lirih.

Dirga menunjuk ke arah jendela pesawat.

“Kita sebentar lagi mendarat.”

Amira langsung duduk lebih tegak. Dia mengusap wajahnya pelan, mencoba menghilangkan rasa kantuk yang masih tersisa. Dari jendela pesawat, dia melihat lampu-lampu kota yang tampak seperti bintang-bintang kecil di daratan.

Dadanya tiba-tiba berdebar. Amira benar-benar berada di luar negeri sekarang.

Beberapa menit kemudian pesawat akhirnya mendarat di Narita International Airport.

Saat sabuk pengaman dilepas, Amira mengikuti Dirga keluar dari pesawat bersama penumpang lainnya.

Begitu mereka keluar dari pintu bandara menuju area penjemputan, hembusan udara dingin langsung menyergap wajah Amira.

“Ah ....”

Amira spontan memeluk lengannya sendiri. Matanya membesar kaget. Udara yang menusuk kulit itu benar-benar berbeda dengan udara hangat yang biasa dia rasakan di Indonesia.

“Ngg, dingin banget …,” gumamnya sambil menggigil kecil.

Dirga yang berjalan di sampingnya menoleh sekilas. Dia melihat Amira yang tampak sedikit meringkuk sambil menahan dingin.

“Pakai jaketmu,” ujar Dirga singkat.

Amira buru-buru membuka koper kecil yang dia tarik. Tangannya sedikit kaku karena udara yang begitu dingin. Dia akhirnya mengambil jaket tebal yang kemarin dibelikan Dirga di mall.

Setelah memakainya, Amira menghembuskan napas lega.

“Lebih enak .…”

Namun uap napasnya yang keluar di udara membuatnya kembali terkejut, dan seketika matanya membulat.

“Mas, lihat!” katanya spontan.

Dirga menoleh malas.

“Apa?”

Amira meniupkan napas lagi ke udara dingin. Uap putih kecil keluar dari mulutnya.

“Napasku keluar asap .…”

Dirga menatapnya beberapa detik. Ekspresi Amira benar-benar seperti anak kecil yang baru melihat sesuatu yang menakjubkan, sungguh sangat berbeda dengan sosok Celine yang berwibawa, dan serius.

Tanpa sadar sudut bibir Dirga sedikit terangkat. Namun dia segera menutupinya dengan ekspresi datar.

“Itu normal di negara empat musim,” katanya singkat.

Amira mengangguk-angguk, meskipun matanya masih penuh rasa kagum. Di dalam hatinya, dia tidak bisa berhenti berpikir. Beberapa bulan lalu hidupnya hampir hancur, bahkan kesulitan membayar pengobatan ibunya. Namun sekarang, dia justru berdiri di bandara kota Tokyo bersama Dirga.

Tak berapa lama, mereka sudah masuk ke dalam mobil jemputan dari hotel yang saat ini sudah menyusuri jalanan malam kota Tokyo yang dipenuhi lampu-lampu terang.

Dari balik kaca mobil, Amira menatap pemandangan itu dengan mata tak berkedip. Gedung-gedung tinggi berdiri rapi. Lampu jalan berderet seperti garis cahaya yang tak ada ujungnya.

Semua terasa begitu berbeda dari kehidupan yang biasa dia jalani.

Beberapa puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah hotel besar di dekat kawasan Shinjuku. Dirga turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Amira. Begitu keluar dari mobil, udara dingin kembali menyergap.

“Dingin,” gumam Amira sambil merapatkan jaketnya. Dirga hanya melirik sekilas, lalu berjalan masuk ke dalam lobi hotel yang hangat.

Setelah proses check-in selesai, mereka naik lift menuju kamar. Begitu pintu kamar terbuka, Amira langsung menghela napas panjang.

Kamar itu luas, dengan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Tokyo dari ketinggian. Namun tubuhnya masih menggigil.

Amira berjalan pelan lalu duduk di sofa dekat jendela. Tangannya dia gosok-gosok sendiri.

“Masih dingin?” tanya Dirga yang baru saja meletakkan koper.

Amira mengangguk kecil.

“Iya, mungkin belum terbiasa.”

Dirga tidak menjawab. Dia mengambil selimut tebal dari atas ranjang lalu berjalan ke arah Amira. Tanpa banyak bicara, dia menyelimuti tubuh Amira. Selimut itu langsung menutup bahu hingga kaki Amira.

“Pakai ini dulu,” katanya.

Namun Amira masih tampak menggigil kecil. Melihat itu, Dirga terdiam beberapa detik. Lalu tanpa banyak kata, dia duduk di samping Amira.

Tangannya menarik Amira sedikit mendekat. Tubuh Amira tersentak kecil ketika tiba-tiba Dirga mendekapnya dari samping, rasanya hangat. Tubuh pria itu jauh lebih hangat daripada selimut.

Amira menegang beberapa detik. Jantungnya berdetak sangat cepat. Dirga sendiri tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mendekap Amira dengan satu tangan, seolah mencoba menghangatkan tubuhnya.

“Begini lebih hangat,” katanya pelan.

Amira menunduk. Pipinya perlahan memerah, dia tidak tahu harus berkata apa. Dalam hati, Amira tahu, bagi Dirga mungkin ini hanya sekadar membantu. Namun bagi Amira, pelukan itu terasa terlalu berharga. Tanpa Amira sadari, dia menggenggam jemari Dirga yang memeluknya.

"Mas ...."

1
falea sezi
siap siap. gigit jari lu celine. saumi. di. kasih ke madu siap2 gigit jari. lu
Airene Roseanne
yp
falea sezi
honeymoon ma amira aja Dirga biar cpet dapetin bayi tp awas lu nyakitin amira
falea sezi
awas aja klo. suami. mu oleng km. ngamuk dih
falea sezi
bini kayak celine di cerai aja aneh bgt malah fokus krja g fokus suami jangan jangan dia mandul
falea sezi
celine egois lu g mau layanin suami malah nyalahin Amira istri. tolol ya elu ini nanti suami lebih cinta istri muda kapok deh lu gigit jari
falea sezi
kasian amat amira
Susi Ermayana
kamu waras celine..?
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..
Aniza
lanjut thooor,klo lebih mntingin karir tuk apa kmu nikah celin?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!