Transmigrasi Alea : Kehidupan Kedua Sang Ratu Mafia
“Alea, lo yakin mau ikut balapan?” tanya seorang pria muda pada Alea. Dia adalah sahabatnya, orang yang selalu ada di sisinya.
“Tentu aja gue yakin. Cuma balapan doang kok. Santai saja Mian,” jawab Alea ringan sambil menoleh ke arah Damian.
Damian mengerutkan kening. Sikap Alea yang terlalu santai justru bikin dadanya nggak enak. Dia tahu betul, musuh Alea malam ini juga ada di sini. Bagaimana kalau sampai mereka merencanakan sesuatu untuk mencelakakan Alea?
“Lea, mending lo jangan ikut,” ucap Damian akhirnya. Suaranya tetap lembut, tapi nadanya jelas tegas. “Alister juga ada di sini. Gue takut lo kenapa-napa.”
Alea tersenyum tipis. Tangannya terangkat, menepuk bahu Damian pelan, seolah ingin menenangkan.
“Tenang aja. Gue nggak bakal kenapa-napa,” katanya. “Selama lo ada di sini.”
Damian terdiam. Perasaan nggak enak itu tetap ada, tapi dia nggak bisa menahan Alea.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Alea melangkah ke arah motor sport miliknya yang terparkir tak jauh dari arena. Dia menaikinya dengan santai, seperti biasa, seolah balapan ini bukan apa-apa baginya.
Di sekeliling, penonton sudah memadati lokasi. Sorak-sorai memenuhi udara malam. Malam ini, pertarungan memperebutkan kekuasaan King Racing atau Queen Racing yang akan memenangkan pertarungan malam ini.
“Semua siap!” teriak pria yang menggelar balapan.
Tiga.
Dua.
Satu.
Go!
Alea memutar gas penuh. Motornya melesat cepat, sejajar dengan lawan di sampingnya yang terus mencoba menyalip dengan gaya tarik-ulur.
Di balik helm full facenya, Alea tersenyum miring. Matanya mengintip lawannya lewat kaca spion miliknya.
“Selalu aja pakai trik murahan,” gumamnya.
Kakinya menginjak gas menambahkan kecepatan motor itu. Namun saat memasuki persimpangan, motor Alea tiba-tiba oleng. Dia berusaha mengendalikan motornya tapi tidak bisa.Remnya blong.
“Sial, kenapa remnya?” napas Alea mulai berat. “Siapa yang nyabotase motor gue?”
Dia mencoba mengendalikan setang, tapi sia-sia.
“Sialan!” umpatnya.
Dalam hitungan detik, tubuh Alea terhempas. Motornya terlempar ke sisi lintasan, sementara tubuhnya terpental jauh, berguling beberapa meter sebelum akhirnya jatuh ke dalam jurang.Angin malam menghantam wajahnya.
Dalam kesadarannya yang mulai menghilang, satu nama terlintas di kepalanya.
“Damian, maafin gue. Gue nggak bisa nemenin lo lagi.”
Setelah mengatakan itu mata Alea benar-benar terpejam.Tubuh Alea terus jatuh, tenggelam ke dasar jurang yang gelap.
♧♧♧♧
Di SMA Pelita Abadi, Ara Bella saat ini berada di gudang belakang sekolah—tempat kumuh yang jarang disentuh siapa pun.Bau debu dan kayu lapuk bercampur di udara, membuat dadanya terasa sesak.
“Jangan, Vania aku mohon, jangan,” ucap Ara dengan suara bergetar sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Di depannya, Vania—adik angkatnya berdiri bersama Lila. Tatapan mereka sama sekali tak menunjukkan rasa kasihan.Hanya senyum meremehkan yang membuat lutut Ara semakin lemas.
Vania melangkah mendekat, tangannya menarik kasar kerah seragam Ara. Lila sudah siap dengan ponselnya, kamera mengarah lurus ke Ara.
“Awas, buka bajunya,” bentak Vania dingin.
Ara menggeleng kuat. Air mata mengalir tanpa bisa ditahan. “Tidak. Aku nggak mau. Aku nggak sudi nurutin keinginan kamu lagi, Vania!”
Untuk pertama kalinya, Ara membentaknya. Meski suaranya gemetar, ada perlawanan kecil yang akhirnya keluar. Dulu, setiap dibully, dia hanya diam menerima semua perlakukan adik angkatnya itu. Apalagi kedua kakaknya lebih memilih membela Vania daripada dirinya adik kandungnya sendiri.
Vania terdiam sesaat. Lalu bibirnya melengkung membentuk senyum miring.
“Oke, kalau gitu,” katanya pelan, tapi penuh ancaman.
Tangannya dilepaskan dari tubuh Ara. Dia berbalik menatap Lila dengan tatapan yang hanya di mengerti mereka berdua.
“Kayaknya dia pengen kita paksa.”
Vania mengambil balok kayu yang bersandar di sudut tembok. Suara gesekannya membuat Ara tersentak. Rasa takutnya kini berubah jadi panik.
Ara bangkit, berjalan mundur mendekati pintu gudang.
“Jangan, Vania aku mohon,” suaranya bergetar hebat.
Dia tahu betul seperti apa sikap Vania, dia itu kejam dan tidak berperasaan. Hanya karena Ara adalah anak perempuan satu-satunya membuat Vania iri kepada Ara. Dia selalu berkata bahwa apa yang Ara miliki itu semuanya miliknya, termasuk semua keluarganya.
“Memohonlah terus, Ara,” ejek Lila sambil tertawa kecil.
Vania tak menghiraukan permohonan itu. Dia melangkah semakin dekat, balok kayu terangkat di tangannya.
“Mati kau, sialan,” ucapnya penuh kebencian.
Saat punggung Ara menyentuh pintu, refleks ia memutar gagang dan mendorongnya sekuat tenaga sampai pintu itu terbuka.
Tanpa berpikir lagi, Ara berlari. Keluar dari gudang, keluar dari area sekolah, dengan napas terengah dan tubuh gemetar ketakutan.
“Sialan, dia kabur!” teriak Vania.
“Kejar!” sambungnya.
Langkah kaki mengejar dari belakang membuat Ara semakin panik. Dia berlari sekuat yang dia bisa.
“Vania, stop! Jangan kejar aku!” teriak Ara sambil menoleh ke belakang, air mata bercampur keringat membasahi wajahnya.
Jarak mereka semakin dekat.
Ara menutup matanya sejenak. Dadanya terasa hancur, tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang, untuk saat ini tidak mungkin Ara menyerah begitu saja dan di bully kembali oleh Vania.
Sungguh Ara sudah sangat lelah berpura-pura kuat di hadapan mereka semua.
"Daripada aku terus direndahkan seperti ini,lebih baik aku mati."
Dengan tekad putus asa, Ara berlari ke tengah jalan, berharap bisa menjauh dari mereka.Namun dari kejauhan, sebuah mobil sport hitam melaju kencang, terlalu cepat untuk dihentikan.
“Awas!” teriak seseorang dari balik kemudi.
Ara membuka matanya.
“Aaaaaa!” jeritnya.
Brak!
Tubuh Ara terpental jauh, berguling beberapa meter di aspal. Darah mengalir dari kepalanya, hangat dan terus bertambah.Vania dan Lila menghentikan langkah mereka. Wajah keduanya pucat saat melihat Ara berbaring tidak berdaya di jalan. Tangan Vania gemetar menutup mulutnya tidak percaya.
“Bukan gue, bukan gue yang ngelakuin ini,” gumamnya ketakutan.
Tanpa menoleh lagi, Vania mundur, lalu berlari pergi meninggalkan Ara diikuti oleh Lila di belakangnya.
Ara terbaring diam.Pandangannya mulai kabur.Dengan sisa kesadarannya, dia tersenyum tipis—senyum paling lelah yang pernah ia miliki.
“Setelah kepergianku nanti, aku harap kalian hidup bahagia,” gumamnya lirih. “Tanpa bayangan aku si cupu ini.”
Setelah mengatakan itu, dunia serasa berputar dan pandangan Ara menjadi gelap sepenuhnya.
"Ara lelah, terlalu lelah untuk bertahan, jadi... Selamat tinggal semunya."
Di saat yang sama, di mansion Kalandra, Helena Kalandra tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Dadanya terasa sesak. Nyeri tajam menjalar di area jantungnya, begitu kuat sampai membuat napasnya tercekat.Tangannya refleks menekan dada, wajahnya memucat.
“Apa… apa yang terjadi denganku?” gumamnya pelan.
Rasa sakit itu bukan sekadar nyeri biasa. Ada perasaan kosong yang tiba-tiba menghantam, seolah sesuatu yang sangat penting baru saja hilang dari hidupnya.
“Kenapa sakit sekali.” Suaranya bergetar. “Seperti, aku kehilangan seseorang.”
Helena terdiam.Tanpa ia sadari, di detik yang sama, napas Arabella Kalandra telah berhenti untuk selamanya.
"Arabella," gumamnya tanpa sadar.
" Kenapa aku tiba-tiba ingat anak sialan itu?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
chataleya
berusaha mempertahankan harga diri apapun yang terjadi,👍
2026-05-26
0
Murni Dewita
👣
2026-06-13
0
Dewiendahsetiowati
hadir thor
2026-01-27
3