NovelToon NovelToon
GERBANG YANG SAMA

GERBANG YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 - Turnamen Lembar Baru

Awal tahun 2009 dibuka, lembar semester genap dimulai dengan pengumuman besar di papan tulis kelas. Selebaran berwarna kuning mencolok tertempel di sana: "STUDY TOUR BALI-JOGJA: MEI 2009". Di bawahnya tertera rincian biaya yang membuat sebagian besar siswa menarik napas panjang, termasuk Gery.

Namun, sebelum euforia Bali benar-benar dimulai, ada agenda lain yang tak kalah penting. HUT sekolah sudah dekat, dan turnamen futsal antar kelas akan segera digelar.

"Ger, gue butuh bantuan lo," ucap Dion, sang ketua kelas, sambil menghampiri meja paling belakang. Di sampingnya berdiri Reno, cowok bertubuh atletis yang selalu membawa majalah olahraga di tasnya.

Gery mendongak dari buku catatannya. "Bantuan apa, Yon?"

"Anak-anak sepakat mau bikin tim futsal PH2. Nama kelas kita harus mentereng," Dion menepuk bahu Gery. "Gue tahu lo jago gambar dan desain. Tolong buatkan logo buat tim kita. Nanti logonya bakal kita sablon di kaos tim."

Reno langsung mengeluarkan beberapa sobekan gambar dari majalah. "Gue punya beberapa referensi model logo klub Eropa, Ger. Ada yang bentuk perisai, ada yang minimalis. Gue pengennya yang kelihatan garang tapi tetep ada unsur 'Perhotelan'-nya. Biar mereka tahu anak perhotelan nggak cuma bisa bawa baki, tapi bisa cetak gol juga!"

Vanya, yang duduk di samping Gery, ikut nimbrung. "Wah, seru tuh! Ger, bikin yang keren ya. Biar kalau kalian tanding, kita yang cewek-cewek semangat dukungnya."

Gery tersenyum dan menerima referensi dari Reno. "Oke, kasih gue waktu beberapa hari. Gue coba satuin ide-ide ini."

Maka, meja belakang itu kini punya fungsi tambahan: studio desain dadakan. Saat jam istirahat atau pelajaran kosong, Gery sibuk dengan pensil dan penghapusnya. Vanya sering kali menjadi kritikus pertama.

"Kekecilan nggak sih lambangnya, Ger?" komentar Vanya sambil memperhatikan sketsa Gery.

"Ini namanya minimalis, Van. Kalau kegedean nanti dikira logo perusahaan katering," canda Gery.

Reno sering datang berkunjung ke meja mereka untuk mengecek progres. Interaksi ini membuat Gery semakin akrab dengan teman-teman laki-laki lainnya. Dia bukan lagi sekadar "cowok pendiam yang duduk di belakang", tapi mulai dikenal sebagai otak kreatif kelas.

Di sela-sela mendesain, Gery sesekali melirik ke arah Nadia. Nadia tampak ikut memberikan semangat dari kejauhan, terkadang memberikan jempol saat Gery menunjukkan progres sketsanya kepada Dion. Dukungan kecil itu sudah lebih dari cukup untuk membuat semangat Gery terbakar.

"Beres!" seru Gery tiga hari kemudian.

Sebuah logo berbentuk perisai dengan perpaduan elemen kunci hotel dan bola yang melesat kencang terpampang di kertas gambarnya. Di bawahnya tertulis dengan tipografi yang gagah: PH2 WARRIORS.

"Gila! Ini keren banget, Ger!" puji Reno antusias. "Fix, ini bakal jadi logo paling rapi di turnamen nanti."

Dion langsung membawa desain itu untuk diproses ke tempat sablon. Kebanggaan mulai tumbuh di dada setiap penghuni kelas PH2. Namun bagi Gery, kepuasan terbesarnya adalah melihat bagaimana Vanya dan teman-temannya begitu antusias mendiskusikan seragam yang akan mereka pakai nanti untuk mendukung tim.

Turnamen HUT sekolah akan menjadi ujian kekompakan mereka sebelum akhirnya berangkat menyeberangi selat Bali. Gery merasa, tahun 2009 ini akan menjadi tahun yang tidak akan pernah ia lupakan.

Kaos tim PH2 Warriors berwarna biru tua dengan logo buatan Gery akhirnya resmi "melantai". Reno dan Dion tampak lincah di tengah lapangan, sementara Gery duduk di bangku cadangan bersama beberapa teman lainnya.

Meskipun desain logonya sangat gagah, Gery sadar diri bahwa kemampuannya mengolah si kulit bundar tidak segarang tampilannya. Gery lebih terbiasa dengan pantulan bola basket daripada harus menggiring bola di kaki.

"Woi, Ger! Lo di situ mau tanding apa mau jaga loket?" teriak sebuah suara melengking yang sangat Gery kenal.

Gery menoleh ke belakang. Di tribun kecil tepat di belakang bangku cadangan, Vanya, Nadia, dan gerombolan siswi PH2 sedang berdiri heboh. Vanya mengenakan bando bertuliskan nama kelas mereka, wajahnya tampak penuh semangat sekaligus jahil.

"Ger, sayang banget tuh logo keren di dada, tapi orangnya malah duduk manis! Kapan mainnya? Keburu turnamen tahun depan nih!" ledek Vanya sambil tertawa lebar.

Gery tidak kesal sedikit pun. Ia justru memutar badannya ke belakang, menyandarkan siku di sandaran bangku cadangan agar bisa menatap teman-temannya lebih dekat. "Gue ini senjata rahasia, Van. Keluar cuma kalau tim udah bener-bener butuh keajaiban. Sekarang mah biarin Reno sama Dion dulu yang nyari keringat," balas Gery tenang, membuat teman-teman laki-laki di sampingnya ikut tertawa dan menimpali.

"Bener tuh, Vanya! Gery mah kalau main sekarang, kasihan lawannya langsung kena mental liat kegantengannya!" sahut salah satu teman cadangan lainnya.

"Halah, alasan aja lo semua! Bilang aja takut keseleo!" timpal Nadia sambil tersenyum malu-malu di samping Vanya. Melihat Nadia ikut tertawa karena candaannya, ada rasa hangat yang menjalar di dada Gery.

Pertandingan berlangsung sengit. Sebagai kelas 1 PH2 Warriors harus berhadapan dengan tembok besar: para senior kelas 3. Pengalaman dan fisik kelas 3 memang jauh di atas mereka. Gery sempat diturunkan di lima menit terakhir babak kedua. Meski hanya melakukan beberapa kali operan pendek dan satu kali hampir jatuh karena bertabrakan dengan pemain kelas 3 Restoran 2, Gery tetap merasa puas.

Akhir cerita, PH2 Warriors harus puas menempati posisi ketiga setelah mengalahkan kelas busana di perebutan juara tiga. Juara pertama diraih oleh kakak kelas mereka sendiri, kelas 1 PH2, dan juara dua diraih oleh kelas 3 Restoran 2.

"Juara tiga juga udah hebat buat anak kelas 1!" seru Dion saat mereka berkumpul di pinggir lapangan setelah penyerahan piala plastik kecil.

Vanya menghampiri Gery yang sedang mengelap keringat dengan handuk kecil. Ia menyodorkan sebotol air mineral yang masih dingin. "Nih, buat 'pemain rahasia' yang cuma main lima menit tapi gayanya kayak udah main dua babak penuh."

Gery menerima botol itu. "Makasih, Van. Juara tiga nggak apa-apa lah ya? Yang penting logonya paling keren di lapangan tadi."

"Iya deh, si paling desainer," Vanya menyenggol bahu Gery. "Tapi serius Ger, tadi pas lo masuk lapangan, teriakan kita yang paling kenceng lho. Kedengeran nggak?"

"Kedengeran banget. Sampai gue hampir salah oper gara-gara kaget denger suara lo," canda Gery.

Di tengah keringat dan sisa-sisa teriakan suporter, mereka berfoto bersama. Gery berdiri di antara Dion dan Reno, sementara Vanya dan Nadia ada di barisan depan. Foto itu menjadi bukti nyata kekompakan mereka.

Kekalahan dari para senior tidak membuat mereka sedih. Justru, semangat ini menjadi bahan bakar untuk perjalanan besar yang sudah di depan mata. Bali dan Yogyakarta sudah memanggil, dan Gery tahu, perjalanan itu akan jauh lebih seru daripada sekadar turnamen futsal.

1
Shintara
iya 👍
only siskaa
pertama Thor jngn lupa mmpir ke karya aku juga yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!