NovelToon NovelToon
27 Hari Setelah Melahirkan

27 Hari Setelah Melahirkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cerai / Selingkuh / Ibu susu
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.

Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.

Sudah cukup!

Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Hana cukup bergeming. Ia mengerjab beberapa kali sedikit berpikir. Tapi, dirinya sudah terlanjut tanda tangan kontrak dengan rumah sakit waktu lalu.

"Pak Danish, saya-"

Dengan gamblang namun cukup kuat, Danish menjawab. "Kamu jangan menghawatirkan soal masalah gaji. Karena saya akan menggaji kamu lebih besar!"

Hana melipat dalam bibirnya. "Tapi, saya sudah terlanjur menandatangani kontrak di Rumah Sakit Budi Kasih, Pak Danish...."

Tanpa ekspresi apapun itu, Danish menjawab. "Kamu tenang saja... Rumah sakit itu milik keluarga saya. Nanti biar saya yang urus untuk masalah itu. Yang terpenting, kamu mau 'kan jadi Ibu susunya Keira?"

"Bismillah... Saya bersedia, Pak Danish! Terimakasih sudah memberikan saya kerjaan," ucap Hana merasa bersyukur.

Mungkin memang benar Danish menganggapnya sebuah kerjaan, tapi Hana menganggap itu sebuah anugrah dari Tuhan, sebagai pengganti atas kehilangan bayinya.

Danish langsung saja bangkit. Wajahnya masih sama, datar. Namun, ada getaran syukur dan lega dalam batinya. Setidaknya ia tak perlu lagi cari Asi yang cocok untuk putrinya.

Hana mengangguk. "Maaf, bekerjanya mulai hari apa ya, Pak?" tanyanya sembari bangkit juga.

"Hari ini!" jawab Danish dengan tegas. "Oh, maksud saya... Kalau kamu bisa hari ini, ayo kita langsung ke rumah sakit!"

"Saya bisa, Pak! Cuma... Kalau besuk, untuk setengah hari saya ijin, karena saya harus menghadiri sidang perceraian saya. Nggak papa 'kan, Pak?" ucap Hana meminta ijin terlebih dulu.

Danish mengangguk, "Iya, nggak papa! Ya udah, ayo kita ke rumah sakit sekarang."

Melihat Danish mulai melangkah, Hana menyeletuk, "Pak, motor saya bagaimana?"

"Nanti biar dibawa sopir saya. Udah, ayo!"

Hana mengangguk mantab, lalu segera menuju tempat mobil Danish disebrang.

Selama perjalanan menuju Rumah Sakit, baik Hana maupun Danish, mereka saling diam, larut dalam pikiranya masing-masing.

"O ya... Nanti sebelum kita ke rumah sakit, ikut saya ke kantor sebentar, biar nanti saya nggak bolak balik. Ada laporan yang harus saya tanda tangani," kata Danish menoleh sekilas.

Hana menoleh, mengangguk kecil.

Selang beberapa menit membelah jalanan Yogja, mobil Danish akhirnya memasuki sebuah bangunan megah menjulang tinggi.

Disisi atas gedung, terdapat tulisan besar ~Morez Compeny Group~

Karena wanita disampingnya itu masih dalam masa nifas, jadi sebagai sosok yang pernah juga memiliki Istri melahirkan, Danish berkesiap turun terlebih dulu untuk membukakan pintu Hana. Meskipun wajah pria itu sama sekali tidak menunjukan sikap hangat.

"Terimakasih, Pak... Anda tidak perlu berlebihan seperti ini," ucap Hana segan.

Danish mengendikan acuh bahunya. "Bukan masalah besar. Ayo masuk, nanti kamu tunggu saya di lobi nggak papa."

Selepas itu, Hana langsung saja mengikuti langkah lebar Danish, bak anak ayam yang mengikuti induknya dari belakang.

Begitu duduk di ruang tunggu, kedatangan Hana bersama Danish tadi sempat menimbulkan pro dan kontra bagi para pasang mata yang menatapnya. Pasalnya, selama ini perusahaan sudah tahu jika Bosnya itu sudah memiliki Istri dan anak.

Tapi, kenapa malah membawa wanita cantik lainnya? Apalagi, kali ini wanita itu masih muda dan terlihat segar. Memakai celana kerja, atasan blouse bewarna pastel. Rambut dipita belakang begitu rapi. Sungguh, penampilan itu membuat banyak pasang mata melihatnya kurang suka.

Salah seorang karyawan datang menghampiri Hana. Jika dilihat dari penampilanya, cukup modis dan elegan. Rambutnya sebahu lurus, memakai id card pada sisi kemejanya.

Tertera nama Melinda pada id card tadi.

"Eh, Mbak... Sini deh, saya mau tanya," katanya sambil menepuk sekilas bahu Hana.

Hana langsung bangkit, sedikit mengernyit. "Ada apa ya, Mbak?"

"Mbaknya siapa, ya? Kok dateng bareng sama Pak Danish? Mbak tau 'kan kalau Pak Danish sudah punya istri dan anak? Atau jangan-jangan.... Upsttt!" Wanita bernama Melinda tadi menutup mulut dengan ujung tanganya, seolah tengah mendapati hal mengejutkan.

Hana menarik napas dalam, lagi-lagi bertemu modelan wanita spek keluaran rumah sakit jiwa.

"Mbak hati-hati ya kalau bicara! Takut aja nanti jatuhnya fitnah! Saya ini hanya pekerjanya Pak Danish saja!" Hana menatap kesal wanita didepanya itu.

Wanita bernama Melinda tadi masih tetap menjawab. Namun matanya bebas menelisik penampilan Hana dari atas sampai bawah. "Ya lagian, masak pekerja penampilanya modis kaya gini? Ya siapa yang nggak curiga."

"Mbaknya juga karyawan, bekerja juga 'kan? Penampilan Mbaknya aja kaya gitu... Nggak ngaca sebelum berangkat? Itu, kancing Mbaknya aja sampai kebuka rendah. Buru-buru ya Mbak, tadi?!" Hana melipat tanganya ke dada, lalu tersenyum miring.

Hah!

Wanita tadi mendesah kasar, merasa kesal, lalu segera melenggang pergi, dari pada Danish tahu ulahnya.

Hana yang sudah merasa tak nyaman di dalam lobi, lalu segera keluar sambil menetralkan napasnya.

Namun sialnya, habis bertemu anakan musang, ini Hana harus menghadapi indukan musang yang sudah merampas kebahagiaanya.

"Hana... Kamu juga ada disini? Ngapain?" Mona yang baru saja tiba, agak terheran melihat sahabatnya itu keluar dari dalam. Ia datang untuk menunggu Dzaki selesai meting.

Hana membuang muka sekilas. Lalu kembali menegakan wajahnya. Kali ini suaranya lebih dingin, seolah dirinya sangat asing dengan wanita didepanya itu.

"Aku peringatkan sama kamu, Mona... Aku sudah memutuskan apapun itu yang menyangkut persahabatan kita. Jadi, untuk selamanya, kamu akan menjadi orang asing bagiku!" tekan Hana. Kalimatnya sangat tersusun rapi, sama sekali tidak ada tuntutan atau kemarahan disana.

Mona berdiri kaku. Ia bingung harus bersikap seperti apa lagi.

Sementara Hana, ia masih menunggu jawaban mantan sahabatnya itu. Meskipun agak cemas mendapat tatapan intimidasi seperti itu, tapi Mona mencoba tersenyum paksa.

"Han, aku juga sebenarnya tidak ingin berada di posisi seperti ini. Tapi... Aku nggak bisa pungkiri, kalau sebenernya aku sangat mencintai Mas Dzaki! Maafkan aku....." Mona mencoba menggapai tangan Hana, namun seketika ditepis oleh sahabatnya itu.

"Singkirkan tanganmu! Aku begitu jijik tersentuh langsung oleh wanita yang nggak tahu diri modelan kamu!" tandasnya. Hana menatap tenang, meskipun dadanya bergemuruh. Ia rasa wanita didepanya itu sudah tidak punya rasa malu. "Kamu itu bukan hanya PICIK! Tapi sikapmu lebih murah daripada JALANG di pinggir jalan! Aku menyesal mempercayaimu selama ini, Mon!" tudingnya pada bahu Mona.

Air mata Mona sudah menggumpal di sudut mata. "Han... Aku sudah bicara sama Mas Dzaki, aku ikhlas menjadi madumu! Aku... Aku nggak papa-"

"Sudah, cukup Mona! Aku lebih baik kehilangan Mas Dzaki, dari pada satu atap sama kamu! Dan ku peringatkan sama kamu... Kelak, jika pun kamu tidak mendapatkan karma, maka aku bersumpah... Anakmu lah yang akan menanggung rasa sakitku ini! Camkan itu!" sumpah serapah Hana.

Deg!

Mona tercekat. Hatinya bak terhantam benda berat. Air matanya mengalir, seolah dirinya lah yang paling tersakiti.

Dari dalam, Dzaki yang baru selesai meting dengan Perusahaan Morez, tampak memicing ketika melihat Mona menangis, tampak bersitegang dengan sosok wanita cantik.

Dzaki segera menghampiri gundiknya itu.

"Sayang... Kamu kenapa menangis-" kalimat Dzaki menggantung, kala Hana menoleh kearahnya.

Kening Dzaki tambah berlipat-lipat dalam. Bingung, bagaimana bisa Istrinya datang ke Perusahaan Morez.

1
Ma Em
Danish kalau kamu suka sama Hana jgn jual mahal sok tdk butuh padahal hatinya mau , awas saja nanti ditikung Lukman baru Danish gigit jari wanita kesukaan nya diambil adiknya .
Anonymous
BUNUH RISMA BUNUH,, BUNUH BUNUH BUNUH... TATAKAE TATAKAE SHINZOU SASAGEYO SHINZOU SASAGEYO SHINZOU SASAGEYO
Anonymous
resign Cok resign
Dew666
🍡🍡🍡🍡🍡
Arin
Kasih bukti tuh orang tua Rani.... biar melek matanya. Jangan asal nuduh orang lain sebagai pelakor. Sedangkan anaknya sendiri yang lari dari rumah, masih ingin bebas celap celup dengan laki-laki lain ckckck😡😡😡😡
Hr sasuwe
👍
Titien Prawiro
Ada ya lelaki seperti itu, istri baru melahirkan, jahitan belum kering sdh diceraikan. kasihan kamu Hana. jgn ditangisi lelaki bejad, gk pantas air matamu kamu keluarkan.
Arin
Dzaki mengada-ada..... ya jelas dia buat tuntutan itu semua. Karena waktu itu dia sudah sibuk dengan Mona.... Dia gak perduli lagi sama Hana.
Ig:@septi.sari21: iya kak, jang jelas semua itu nggak bener. dia memalsukan semuanya.
total 1 replies
Dew666
💎💎💎💎
Dew666
💎💎💎💎💎
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 😍
Ig:@septi.sari21: kak herlina macihhh❤❤❤🙏
total 1 replies
Arin
Uuh..... kelakuan Mona-Dzaki.... Cepet banget udah hamil aja si Mona???
Ig:@septi.sari21: udah lama banget yang selingkuh🔥
total 1 replies
Dew666
🍒🍒🍒🍒🍒
Ig:@septi.sari21: hai kak deww jumpa lagi. makasih dukunganya🙏🙏❤❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!