(Bukan Novel yang awalnya benci jadi cinta ya, alur sesuai imajinasi Mimin)
Rania, seorang perantau dari Indonesia, datang ke negeri asing hanya untuk bertahan hidup. Ia tidak pernah menyangka langkah nekatnya akan mempertemukannya dengan Marco seorang mafia besar, dingin, berbahaya, dan bucin tingkat dewa.
Pertemuan mereka menyeret Rania ke dunia gelap penuh kekuasaan, obsesi, dan perlindungan berlebihan. Cinta yang salah, pria yang salah... tapi terlalu sulit untuk ditolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Garis.
Hari sudah berubah menjadi jingga, matahari perlahan mulai turun, Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang.
Sesampainya dirumah, langkah Rania perlahan melambat saat melihat mobil asing terparkir di halaman depan rumah nya, ia menoleh menatap Marco, terlihat rahang suaminya mengeras.
Mereka akhirnya berjalan masuk kedalam Marry menghampiri kami dengan wajah khawatir lalu membawa anak-anak kekamar mereka. Diruang tamu seorang wanita cantik sangat cantik duduk bersilang kaki dengan anggun. Wanita itu menoleh dan tersenyum melihat Marco, ia berdiri dan berlari kecil kearah Marco dan langsung memeluk Marco erat.
"Honey i Miss you so much!" ujar Wanita itu manja. Rania mematung melihat suaminya dipeluk wanita lain.
Marco tanpa perasaan mendorong Catrin menjauh dari nya hingga Catrin jatuh terduduk.
"Jangan sembarang Catrin, aku sudah menikah, istriku akan cemburu" ujar Marco dingin sambil merangkul pinggang Rania posesif.
Catrin menggertakkan giginya melihat bagaimana posesif nya Marco merangkul pinggang Rania.
Catrin berdiri dan mendekat. "Istri? terus aku ini apa? bukankah kita sudah bertunangan sejak kecil? Ah atau kau marah karna aku dulu selalu menolak pertunangan ini karna karir ku?"
"kalau memang begitu kamu tenang saja, aku tidak peduli lagi dengan karir ku, aku akan memperhatikan mu" ujar Catrin dengan mata berkaca-kaca.
Marco menatap nya dingin. "Dengar Catrin aku tidak peduli mau kau menolak atau menerima, aku tetap menolak pertunangan itu sejak lama, tapi pria tua itu yang terus memaksa ku bertahan dan sekarang aku sudah memiliki istri" ujar Marco dingin.
Airmata menetes di pipi nya ia menggeleng pelan, lalu menatap Rania.
"Bukan kah kau juga seorang wanita? Teganya kau merebut kekasih orang lain" ujar Catrin menatap Rania.
"Apa benar suamimu yang berselingkuh? Atau mungkin sebenarnya kaulah tukang selingkuh itu! "ujar Catrin tajam.
Rania menggeleng pelan napas nya mulai pendek dan putus-putus, seketika ingatan orang-orang akan perceraian nya dulu terlintas, bagaimana keluarga sebelah mantan suaminya yang menghakimi nya tanpa tau kebenaran sebenarnya.
"Cukup!" bentak Marco pada Catrin.
Marco menatap Rania dengan khawatir.
"Sayang? Kau baik-baik saja? Ada apa?" Tanya Marco khawatir.
Bruk!
Marco dan Rania refleks menatap kedepan dimana Catrin pingsan. Rania langsung mendekat meski nafasnya masih terputus-putus.
"D-dia kenapa?" tanya Rania gemetar karna nafas nya sendiri.
Marco menatap Catrin dingin lalu melangkah mendekat. "Biarkan saja sayang, aku akan telpon keluarga nya" ujar Marco dingin.
Rania menggeleng pelan. "jangan, cepat bawa dia kerumah sakit" ujar Rania.
Marco hendak menolak namun urung saat Rania.
Marco mendesah pelan, rahangnya kembali mengeras. Namun tatapan Rania rapuh tapi tegas membuatnya mengalah.
“Baik,” ucapnya singkat.
Tanpa banyak kata, Marco mengangkat tubuh Catrin. Rania meraih tasnya dengan tangan gemetar. Napasnya masih tidak teratur, dadanya terasa sesak, tapi ia memaksa dirinya tetap sadar.
Mobil melaju membelah jalanan senja yang kini berubah gelap.
Sepanjang perjalanan, Rania hanya diam. Tangannya saling menggenggam erat di pangkuan. Marco beberapa kali meliriknya.
“Sayang, tarik napas perlahan… ikut aku,” ujar Marco lebih lembut.
Rania mencoba. Satu… dua… tiga… tapi bayangan masa lalu kembali menghantam.
Tuduhan. Tatapan sinis. Kata “Perebut” yang dulu menempel seperti luka terbuka.
“Sayang,” suara Marco kini lebih tegas. Tangannya menggenggam tangan istrinya.
“Lihat aku.” Rania menoleh.
“Kau tidak pernah merebut siapa pun. Kau tidak pernah menjadi orang ketiga. Jangan biarkan omongan siapa pun membuatmu meragukan dirimu sendiri. Aku yang memilihmu. Aku yang mengejarmu. Mengerti?”
Airmata Rania jatuh tanpa suara. Ia mengangguk pelan.
Mobil berhenti di depan IGD. Marco segera turun dan membawa Catrin masuk. Beberapa perawat datang dengan brankar.
Rania berdiri beberapa langkah di belakang, tubuhnya terasa ringan namun kosong.
Setelah beberapa saat, dokter keluar.
“Kondisi jantung pasien memburuk, pasien tidak boleh setres dan terlalu beraktivitas berlebihan, tolong usahakan untuk tidak membuat nya sedih atau setres” jelas dokter, Marco mengangguk singkat.
“Hubungi keluarganya,” katanya pada perawat.
Tak lama kemudian, keluarga Catrin datang. Seorang pria paruh baya dengan wajah tegas berjalan cepat menghampiri Marco.
“Apa yang terjadi?” tanyanya tajam.
Marco berdiri tegak. “Ia datang ke rumah saya tanpa pemberitahuan. Terjadi sedikit perdebatan. Itu saja.”
Pria itu mendengus pelan, lalu melirik Rania sekilas sebelum masuk ke ruang perawatan.
Rania menunduk, tapi kali ini ia tidak gemetar.
Marco mendekat, memegang kedua bahunya.
“Kita pulang,” ucapnya lembut
Di dalam mobil, suasana hening. Namun bukan lagi hening yang menyesakkan.
“Maaf,” bisik Rania tiba-tiba.
Marco langsung menoleh. “Untuk apa?”
“Aku… hampir percaya pada kata-katanya.”
Marco tersenyum tipis, lalu mengangkat tangan Rania dan mengecupnya lembut.
“Kalau kau goyah, bersandar padaku. Itu gunanya suami.”
Rania menatapnya lama. Untuk pertama kalinya sejak kejadian tadi, dadanya terasa sedikit lega.
Namun di sisi lain rumah sakit, di balik pintu kamar perawatan, Catrin membuka matanya perlahan. Tangannya mengepal di atas selimut.
“Aku tidak akan menyerah, Marco,” gumamnya pelan, sorot matanya berubah dingin.
Senja telah benar-benar hilang.
Dan malam itu, bukan hanya langit yang menggelap tetapi juga awal dari badai yang baru saja dimulai.
Marco menghentikan mobilnya tiba-tiba saat Rania tiba-tiba menepuk kuat bahu nya, Rania membuka pintu mobil dengan cepat lalu segera keluar dan saat itulah Rania muntah bukan makanan hanya muntah bening, hanya air yang keluar.
Marco keluar dari mobil dengan khawatir. "Sayang ada apa?" tanya Marco khawatir.
Rania menggeleng pelan lalu berjalan masuk ke mobil, ia bersandar di sandaran kursi mobil. Marco masuk kembali kedalam mobil..
"Nanti singgah dulu ke apotik terdekat" ujar Rania pelan.
Marco langsung memegang leher Rania lalu ke dahinya.
"Kamu sakit sayang? Tidak kita harus kerumah sakit" ujar Marco namun Rania menggeleng pelan.
"tidak perlu, kita ke apotik saja, aku ingin memastikan sesuatu" ujar Rania. Marco mengeraskan rahangnya namun tetap menurut.
Mereka akhirnya tiba di apotik Rania masuk sendiri dan keluar setelah beberapa menit kemudian.
Marco menatap bingung benda yang di pegang Rania.
"Apa itu sayang?" tanya Marco.
Rania menatap Marco. "ayo pulang nanti juga tau" ujar Rania.
Mereka akhirnya pulang, Rania menyandarkan kepalanya di bahu Marco.
Marco yang fokus menyetir teralihkan, ia mencium kening istrinya dan terus menyetir.
Mereka akhirnya sampai dirumah, Rania dan Marco masuk kekamar, Rania langsung menuju kamar mandi masuk dan mengunci pintu.
Marco menatap lama pintu kamar mandi itu lalu duduk ditepi ranjang menunggu Rania keluar setelah beberapa menit Rania keluar. Memegang benda kecil ditangan nya.
"Tadi di apotik aku beli test peck" ujar Rania, Marco menegang.
Rania meraih tangan Marco dan meletakkan benda kecil itu di telapak tangan Marco. bedan putih kecil itu menunjukkan garis dua.
"Aku hamil" ujar Rania.
Tangan Marco gemetar memegang benda kecil itu, itu bukan hanya sekedar benda mati itu adalah bukti bahwa ada setengah jiwa nya ditubuh istrinya.
Marco menatap Rania lalu memeluknya erat.
"Sayang aku akan jadi Daddy lagi? Vano dan Cantika akan punya adik?" ujar Marco antusias.
Rania tersenyum lalu mengangguk pelan, Rania mengusap perutnya, baru juga ia mendapatkan lagi berat badan nya, tapi sepertinya takdir berkata lain, meski begitu Rania tetap bersyukur atas sekali lagi kepercayaan yang dititipkan pada rahim nya.