Sinopsis Bab
Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang Merah di Antara Kita
Malam harinya, di balkon penthouse Alexey duduk di kursi besi rendah. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jaket lalu menekan tombol panggil ke nomor Thomas Liebert.
“Ada yang perlu kau lakukan,” ujar Alexey dingin begitu sambungan tersambung.
“Apa yang Tuan Muda inginkan?” tanya Thomas dari seberang telepon.
“Aku sudah mengirimkan sebuah foto bros ke emailmu,” jelas Alexey dengan nada perintah.
“Selidiki foto itu. Cari tahu semua informasi tentang lambang tersebut, siapa yang memakainya, dan untuk apa. Dan satu lagi, cari tahu tentang seorang wanita bernama Kang Mira. Sedetail mungkin.”
“Saya akan segera menyelidikinya, Tuan Muda,” jawab Thomas dengan nada tegas dan penuh keyakinan. “Informasi tentang bros dan Kang Mira akan saya berikan secepat mungkin.”
Alexey memutuskan sambungan telepon tanpa basa-basi, lalu berjalan masuk ke ruang dalam apartemen, gelap. Di salah satu sudut ruangan, investigator board menempel di dinding: papan besar penuh foto, dokumen scan, catatan tulisan tangan, dan benang merah yang menghubungkan semuanya seperti jaring laba-laba. Ia mengambil foto Kang Mira yang baru saja ia cetak, menempelkannya di bagian kosong.
“Semoga saja bukan keluargamu yang terlibat,” gumamnya pelan, suaranya terdengar lelah dan penuh harapan. “Jangan sampai mereka…”
Alexey mengalihkan pandangannya ke deretan foto di sebelah kiri papan, wajah-wajah dingin Kim Jinhwa, Kim Taesung, dan Kim Yura terpampang rapi di sana.
“Kalian… orang-orang yang menentang keras pernikahan Mama,” gumamnya dingin. “Tapi apa kalian cukup tega membunuh darah daging sendiri?”
Ketiga nama tersebut adalah anak-anak dari Kim Hwaran, nenek Alexey dari pihak ibu, yang dulu menentang keras pernikahan Seoyon dengan Thomas Liebert, ayah Alexey yang berasal dari dunia bayangan.
Sementara itu, di rumah keluarga Kang yang megah, Haerim berguling-guling gelisah di atas kasur king-size-nya. Pikirannya terus memutar ulang kejadian kemarin bersama Alexey.
“Kenapa sekarang Alexey udah mulai nanya tentang aku, ya?” gumamnya sambil meluk bantal erat-erat. “Biasanya dia cuek banget, tapi kemarin dia sempet nanya soal Paman Minsook sama keluargaku. Apa dia… mulai peduli?”
Haerim tiba-tiba terdiam, matanya melebar seperti baru menyadari sesuatu yang aneh.
“Tunggu bentar…” gumamnya pelan, alisnya mengerut. “Setiap kali Alexey nanya soal keluargaku, mukanya selalu keliatan sedih. Bukan kayak orang penasaran biasa… Kenapa ya?”
Namun di sela kebingungannya, pintu kamar terbuka pelan, dan Kang Mira masuk dengan langkah lembut.
“Haerim sayang, kenapa kamu belum tidur?” tanya Kang Mira sambil mendekati ranjang putrinya. “Sudah larut malam, besok kamu ada kuliah kan?”
“Iya, besok aku ada kuliah pagi, Mom,” jawab Haerim sambil menatap ibunya. “Tapi… tumben banget Mommy masuk ke kamarku. Biasanya langsung tidur begitu nyampe rumah. Ada apa?”
“Mommy kangen putri Mommy,” ucap Kang Mira lembut sambil duduk di tepi ranjang Haerim.
“Bukankah tadi kamu bilang Mommy terlalu sibuk bekerja? Jadi sekarang Mommy sempatkan waktu. Boleh kan Mommy duduk di sini sebentar?”
Haerim langsung melempar bantalnya ke samping, lalu memeluk erat Kang Mira, menyembunyikan wajahnya di pelukan ibunya.
“Dari dulu aku kangen banget momen kayak gini, Mom,” ucapnya pelan. “Cuma duduk bareng, ngobrol, dipeluk… Rasanya udah lama banget kita nggak kayak gini…”
“Maaf ya, sayang,” ucap Kang Mira sambil mengelus lembut rambut Haerim. “Mommy janji akan lebih sering begini.”
Ia kemudian tersenyum jahil, tangan kirinya mengangkat dagu Haerim pelan agar mata mereka bertemu. “Kamu… belum tidur karena memikirkan pria tampan yang tadi mengantarmu pulang ya?” godanya dengan nada main-main.
“Alexey namanya kan? Mommy lihat wajahmu merah tadi siang lho…”
“Mom!!!!, kita baru kenalan kok,” rengek Haerim malu sambil menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua tangan. “Jangan lebay gitu…”
Ia kemudian menatap ibunya dengan tatapan penasaran. “Tapi kenapa Mommy tadi buru-buru pergi sih? Apa Mommy nggak nyaman ngobrol sama Alexey?” tanyanya pelan, nadanya agak khawatir.
Kang Mira terdiam sejenak, tatapannya menerawang jauh seolah mengingat sesuatu dari masa lalu. Ekspresinya berubah sendu.
“Bukan tidak nyaman, sayang,” ucapnya pelan dengan nada sedih. “Saat melihat Alexey tadi, Mommy langsung terbayang sahabat Mommy dulu. Mereka sangat mirip.”
“Siapa temen Mommy yang mirip sama Alexey?” tanya Haerim penasaran. “Apa dia… bibi cantik yang dulu sering main ke rumah? Yang rambutnya panjang itu? Aku masih inget dikit waktu kecil…”
“Benar, sayang,” jawab Kang Mira dengan senyum getir sambil mengelus pipi Haerim pelan. “Dia adalah Bibi Seoyon. Sahabat terbaik Mommy dulu. Tapi sekarang… dia sudah bahagia di surga. Sudah lama sekali dia pergi…”
“Dia udah meninggal, Mom?” tanya Haerim dengan nada terkejut. “Kapan? Kenapa aku nggak pernah tahu soal ini?”
“Kapan-kapan Mommy akan cerita, sayang,” ujar Kang Mira, nada bicaranya menghindar, mata menghindari kontak langsung.
“Sekarang sudah malam, kamu harus tidur. Besok kuliah kan? Mommy tidak mau kamu terlambat gara-gara begadang.”
Kang Mira mencium kening Haerim sebelum beranjak dari tempat tidur.
“Tidur yang nyenyak ya, Mommy sayang kamu,” tambahnya lembut sambil menarik selimut hingga menutupi tubuh putrinya.
Setelah Kang Mira keluar dari kamar, pintu tertutup pelan di belakangnya, Haerim menatap pintu itu dengan tatapan penuh tanya, tubuhnya kembali rebah ke kasur.
“Raut wajah Mommy tadi… persis seperti Alexey yang terlihat sedih saat bertanya tentang keluargaku,” gumamnya pelan sambil membenamkan wajahnya ke bantal. “Ah mungkin cuma perasaanku saja, tidur lah Haerim, jangan berpikir yang aneh-aneh.”
Ia memejamkan mata, tapi pikiran tak mau diam. Seoyon, Alexey, mimpi Haerim penuh bayang-bayang wajah dingin yang mulai melunak, sementara di apartemennya, Alexey masih berdiri di depan papan investigator, menunggu laporan Thomas yang akan mengubah segalanya.
Seminggu sudah berlalu sejak terakhir kali Alexey berkunjung ke rumah keluarga Kang. Pagi itu, saat ia baru saja ingin masuk ke mobilnya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Haerim muncul di layar.
"Alexey, maaf ganggu pagi-pagi. Boleh minta tolong jemput aku lagi? Mobilku belum sempat diambil dari tempat perbaikan. Kalau kamu sibuk, nggak apa-apa kok."
Alexey menatap layar ponselnya dengan ekspresi datar, namun jari-jarinya bergerak mengetik balasan.
"Bukankah di rumahmu ada banyak mobil? Dan supir juga. Kenapa harus aku?"
Ia menekan tombol kirim, lalu kembali menatap layar menunggu respons Haerim.
Haerim segera mengetik balasan dengan nada ngotot.
"Alexey, please... Jemput aku. Jangan buat aku harus terlihat memohon gini. Aku serius butuh bantuanmu."
Alexey menghela napas pelan melihat pesan itu, lalu mengetik balasan singkat.
"Tunggu di depan gerbang. Aku tidak punya banyak waktu."
Ia memasukkan ponselnya ke saku dan masuk ke dalam mobil dengan wajah tanpa ekspresi.
Haerim sudah berdiri di depan gerbang dengan tas selempang di bahunya, menunggu mobil Alexey datang. Ia tersenyum geli sendiri sambil mengingat chat barusan.
"Cowok dingin emang harus direngek dulu baru mau nurut," gumamnya dengan nada geli sambil terkekeh pelan. "Padahal ujung-ujungnya tetap jemput juga kan..."
Lima belas menit kemudian, mobil Alexey berhenti tepat di depan gerbang. Haerim langsung menghampiri dengan senyum jahil di wajahnya.
"Apa kamu nggak mau bukain pintu buat aku?" candanya sambil mengetuk kaca jendela mobil dengan nada main-main. "Katanya cowok gentleman zaman sekarang harus gitu..."
"Masuk sekarang," perintah Alexey datar dari dalam mobil, tanpa bergeming sedikit pun untuk membukakan pintu. "Aku sudah bilang tidak punya banyak waktu."
"Hahaha, yaudah yaudah," tawa Haerim riang sambil membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. "Nggak usah galak-galak gitu dong. Aku cuma bercanda kok, Alexey. Santai dikit lah..."
Mobil Alexey pun berangkat menuju kampus. Sesampainya di sana, mereka berdua turun dan berjalan berdampingan menuju gedung perkuliahan.
"Kamu udah sarapan belum?" tanya Haerim sambil melirik ke arah Alexey yang berjalan dengan langkah tegap di sampingnya. "Pagi-pagi gini perut kosong nanti susah konsen lho di kelas..."
"Sudah," jawab Alexey singkat tanpa mengalihkan pandangan dari depan. "Aku sarapan di apartemen sebelum berangkat."
Dari depan kelas, Junhwan menatap tajam ke arah Alexey dan Haerim yang berjalan berdampingan.
"Kayaknya Alexey sama Haerim keliatan akrab banget beberapa hari terakhir," ucap Yubin sambil menyikut lengan Junhwan pelan, nada bicaranya penuh selidik. "Mereka bahkan dateng bareng lagi pagi ini. Kamu liat kan?"
"Aku akan memberi Alexey pelajaran," ucap Junhwan dengan nada dingin dan penuh perhitungan. "Hari ini Papaku akan datang ke kampus. Dia akan tahu siapa yang seharusnya berkuasa di sini."
Junhwan lalu berbalik dan masuk ke kelas dengan langkah percaya diri, meninggalkan Yubin yang menatapnya bingung.
"Kayaknya Junhwan beneran suka sama Haerim," gumam Taejun pelan sambil ngeliatin Junhwan yang masuk kelas dengan wajah kesal. "Tapi Haerim selalu cuekin dia. Kasian juga sih, tapi ya... cinta emang nggak bisa dipaksain."