Nabila Zahra Kusuma gadis cantik yang hidup dengan keluarga yang sangat berantakan. Saat ibunya Siti Nurhaliza pergi meninggalkan dia dan ayahnya untuk memilih hidup dengan pria lain yang memiliki banyak harta. Sedangkan Hariyanto Kusuma ayahnya suka dengan dunia malam, minuman dan perjudian.
Nabila yang masih bersekolah kini harus berjuang untuk hidupnya sendiri, apalagi dia tidak ingin putus sekolah.
Setiap pulang sekolah, Nabila selalu menyempatkan diri kerja paruh waktu untuk mengumpulkan uang buat membiayai hidupnya.
Hidupnya sangat sulit. Terkadang dia harus menahan air mata agar tidak dianggap lemah oleh orang lain. Nabila juga sering mendapatkan perundungan dari teman sekelas yang menganggap dia rendah.
Semua itu dia hadapi dengan menjadi perempuan yang sangat kuat. Sifat lembut dalam dirinya dia sembunyikan hanya untuk mempertahankan diri.
Setiap hari Nabila harus menyaksikan ayahnya bersama perempuan lain dengan tubuh terbuka di ruang tamu rumah mereka. Pakaian mere
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mar Dani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Setelah perjalanan hampir 14 jam, kini pilot memberikan aba-aba mereka akan segera mendarat di Bandar Udara Internasional Incheon.
Nabila yang sangat mengantuk dan lelah akibat tiga jam sebelum mendarat ternyata Nabila mengalami mabuk udara, membuatnya harus berulang kali muntah di kamar mandi. Antara mabuk udara dan salah makan, jelas kejadian itu membuat Reynaldo panik, sehingga membiarkan Nabila beristirahat dari aksi muntah-muntahnya, bahkan es krim dan semua yang tadi masuk ke dalam perutnya harus keluar.
Nabila kini sedang bergelayutan manja di samping Reynaldo. Nabila merasa tubuhnya sangat sulit untuk diajak melakukan apapun.
"Kamu hanya menambah beban saja monyet kecil!!" ujar Reynaldo sambil memijit pelan kepala Nabila yang berdenyut kencang.
"Heheh yah maaf.." ucap Nabila cengengesan yang masih setia memeluk tubuh Reynaldo.
"Bilang saja kamu memang ingin dekat-dekat denganku, dasar Monyet Mesum!"
"Aku lagi malas berdebat denganmu Kadal air! Pusing ini, kamu gak kasihan semua yang aku makan tadi keluar!"
"Siapa suruh makan melulu, kekenyangan pasti ini"
"Iya iya kalau gak niat mijitin kepala yaudah sana..!" ucap Nabila melepas pelukannya.
"Yaudah sini, gak usah ngambeklah, lagipula dibilangin susah sih! Makanya jadi monyet itu dengar-dengaran kalau dibilangin.."
"Iya iyaa Kamu selalu benar, jadi diamlah aku pusing" cetus Nabila kini membenamkan wajahnya di dada bidang Reynaldo.
Setelah perdebatan panjang itu, akhirnya jet yang mereka naiki kini telah sampai di Bandar Udara Internasional Incheon.
"Kamu bisa berjalan?" ucap Reynaldo datar.
"Boleh aku menunggu sebentar lagi, aku masih merasa pusing.."
"Jauh lebih baik kamu istirahat di hotel.."
"Aku tidak kuat berjalan, kepalaku sangat pusing"
"Yaudah sini aku gendong.."
"Jangan cari kesempatan Kadal Air! Aku tahu kamu mesum!"
"Heii Monyet kecil sadar diri dong...! Sudah tahunya menodai gak mau tanggung jawab, sekarang malah nuduh, aku akan segera rapat, kamu mau sendiri di sini..!"
"Baiklah baikkk aku akan jalan.."
Saat hendak berdiri, Nabila hampir terhuyung jatuh, untung Reynaldo dengan cepat menangkap tubuh Nabila.
"Sudah jika kamu buru-buru, aku akan menunggumu" ucap Nabila pelan.
Reynaldo langsung mengangkat tubuh Nabila ala koala. Nabila yang terkejut dengan cepat mengalungkan tangannya di leher Reynaldo membenamkan wajahnya di ceruk leher Reynaldo.
"Kamu berat sekali Nabila.." ucap Reynaldo berjalan sambil menjahili Nabila.
"Benarkah? Berarti aku akan menguruskan badan mulai nanti"
"Tidakkk jangan..! Kamu akan seperti tulang kering nantinya.."
"Kamu terlalu banyak berkomentar Kadal airrr!! Aku pusing!" ucap Nabila semakin mengeratkan pelukannya.
Reynaldo yang melihat itu tersenyum senang. Senyum yang tidak pernah dia berikan kepada siapapun, terlebih lagi aroma parfum dan tubuh Nabila sangat membuatnya candu.
"Takkan ku biarkan kamu pergi dariku Nabila! Kamu selamanya akan tetap menjadi Nyonya Mahkota.." gumam Reynaldo dalam hati.
Reynaldo mengangkat tubuh Nabila sampai menuju parkiran mobilnya. Seluruh mata tertuju kepada mereka berdua, melihat pergerakan mereka yang sangat membuat semua iri, terlebih lagi penulis kejang-kejang iri melihatnya.
Nabila yang masih setia dengan memeluk Reynaldo kini melihat sekelilingnya.
"Reynaldo apa aku sudah mati??" ucap Nabila kelewat absurd.
"Hah??" Reynaldo terkejut.
"Mengapa kamu membawaku ke surga, banyak sekali Oppa-Oppa Tampan, astagaa aku ingin tinggal di Korea saja.." ucap Nabila yang masih dengan suara lemahnya.
"Ayo pulang ke Kota Perak..!" cetus Reynaldo menatap Nabila yang masih dalam gendongannya.
"Kenapa?? Kamu tidak jadi peresmian..!"
"Batal!"
"Yaudah kalau batal, kita jalan-jalan saja. Aku ingin melihat Oppa-Oppa Korea, kamu tidak ingin membawaku bertemu, Lee Jong-suk, Lee Min-ho, Kim Woo-bin, dan Oppa-Oppa lainnya?"
"Shitttt! Kamu tak lihat aku masih lebih tampan dari mereka.."
Nabila yang mendengar itu dengan cepat mendengus kesal.
"Mohon maaf anda bukan Oppa-Oppa, tapi Opa-Opa hahahahah"
"Turun gakk! Turunn!!" ucap Reynaldo melepaskan pegangannya pada Nabila, namun Nabila malah semakin mengeratkan pelukannya kepada Reynaldo, iya persis seperti monyet yang sedang menopang badannya pada sebuah pohon.
"Tidak mau! Aku mau digendong.. kalau kamu melepaskan aku, aku akan minta Oppa security itu menggendongku, Sialll! Bagaimana mungkin security setampan ituu.. Oppaaa Saranghaeyo.." ucap Nabila terkekeh melihat yang tampan-tampan.
Saat Nabila mengatakan jika Reynaldo melepaskan pelukannya maka Nabila akan meminta security itu menggendongnya, jelas membuat Reynaldo langsung membulatkan matanya, bagaimanapun Nabila memiliki wajah yang cantik, tidak akan mungkin ada orang yang menolak untuk menggendong wanita itu, dengan arti good-looking selalu di depan. Reynaldo mengeratkan gendongannya dan menutup mata Nabila dengan satu tangannya.
"Tanganmu woiii! Awass aku ingin melihat yang segar-segar" teriak Nabila menepis tangan itu, namun lagi dan lagi Reynaldo menutup mata Nabila dan berjalan cepat berharap mereka langsung masuk mobil.
"Diamlah matamu akan iritasi jika melihat mereka" ujar Reynaldo kesal.
"Iritasi bagaimana.. yang ada aku jadi sembuh ini, lepas gak atau ku gigit tanganmu!"
"Tidakk Nabila, menurut penelitian bencana alam cuaca di Korea mampu membuat matamu iritasi!"
"Tapi bagaimana denganmu, bahkan kamu tak menutup matamu!"
"Jika aku menutup mataku, bagaimana kita akan jalan bodoh!"
"Tidak, Brammm apa betul cuaca sedang buruk!" teriak Nabila kepada Bram yang sedari tadi berjalan di depan Reynaldo.
Bram yang ingin mengatakan tidak, akhirnya memilih diam saat Reynaldo menatap tajam ke arahnya.
"Sepertinya begitu Nyonya.."
"Aku tahu kamu diancam kadal air kan, percayalah kadal air ini tahunya hanya mengancam, dan membodohiku pastinya.." ujar Nabila kesal.
"Oppa maafkan aku yang tak bisa melihat wajah tampanmu, pria kadal air ini menutup mataku, lihatlah betapa kejamnya dirinya padaku.." ujar Nabila dengan dramanya yang membuat Bram tidak mampu menahan tawanya. Sedangkan Reynaldo bergidik kesal, sangat kesal dengan tingkah wanitanya itu.
"Permisi tuan, ini jadwal pertemuan tuan dengan beberapa orang penting di Kota Perak, namun ada satu meminta mengulurkan waktu karena dia harus ke Korea, menurut informasi dia hanya pergi selama empat hari namun karena istrinya ingin keliling Korea sehingga asisten pribadinya mengatakan menunda waktu sepuluh hari.." ucap Asisten pribadi Ryan.
"Dia pria yang sayang pastinya dengan istrinya..." ucap Ryan yang menatap sendu foto masa kecilnya dengan Nabila.
"Tuan, aku yakin kita akan menemukan Nona Nabila.."
"Aku harap seperti itu, Nabila juga dulu pernah bermimpi ingin pergi ke Korea, menikmati seluruh makanan Korea, bertemu dengan beberapa artis favoritnya.." ucap Ryan mengingat semua ocehan Nabila saat dia bermimpi akan pergi ke Korea bersama dengannya.
"Nona Nabila pasti mengalami banyak hal sulit dalam hidupnya tuan, aku berharap kita segera menemukan Nona Nabila"
"Iyaa kamu betul.." ucap Ryan yang frustasi dengan pikirannya disaat dia ingin menjemput Nabila, Nabila hilang entah ke mana.
Kini Reynaldo dan semua rombongan telah sampai di penthouse milik Reynaldo. Penthouse yang sangat mewah. Reynaldo membawa Nabila yang sudah tertidur sejak perjalanan menuju penthouse.
"Untunglah monyet kecil ini tidur, jika tidak dia akan terus berbicara" gumam Reynaldo dalam hati.
Waktu meeting untuk peresmian masih ada 5 jam lagi, Reynaldo memutuskan untuk beristirahat sebab waktunya tersita karena khawatir akan "monyet kecil" yang mengalami mabuk udara.
Reynaldo di sebelah Nabila. Reynaldo membuka jas Nabila yang tadi dia gunakan untuk menutupi bagian tubuh Nabila yang terekspos akibat gaunnya yang ditarik oleh pramugari tadi.
Kemudian Reynaldo memilih ikut berbaring di sebelah Nabila. Memeluk gadis itu dengan membenamkan wajahnya di ceruk leher Nabila. Rasa nyaman dan membuat Reynaldo tenang hanya ketika berada di dekat dengan monyet kecilnya.
"Mommy aku sudah menemukan wanita yang tepat untuk menemaniku.." gumam Reynaldo dalam hati kemudian dia tertidur.
Waktu terus berlalu hampir tiga jam Nabila tertidur setelah sampai di penthouse. Nabila melihat Reynaldo yang kini memeluk tubuhnya. Jelas terlihat wajah tampan yang telah mengisi waktunya, kesendirian dan rasa nyaman yang dia temui telah dia dapatkan dari suami kontraknya.
Nabila melihat wajah Reynaldo yang begitu tenang ketika tidur, tanpa disadari Nabila, tangannya kini mengusap lembut kepala Reynaldo. Bagaimanapun setiap kali mereka bertengkar ataupun Nabila marah, Reynaldo selalu membujuknya meskipun terkesan cuek, namun Nabila tahu semua yang dilakukan pelayan untuknya adalah perintah dari Reynaldo.
Nabila memegang hidung dan jakun Reynaldo yang menjadi pusat perhatiannya, bagaimana mungkin mata Nabila terfokus kepada dua bagian tubuh Reynaldo itu.
"Terima kasih.." cicit Nabila pelan kemudian dia semakin mengeratkan pelukannya kepada Reynaldo.
Reynaldo yang menyadari itu, berpura-pura tidur, terlebih ketika Nabila mengatakan terima kasih membuat ada perasaan yang melayang timbul dari hati Reynaldo. Ingin rasanya dia melompat kegirangan kala Nabila mengatakan itu dengan lembut, terutama sentuhan Nabila membuat dia begitu semakin bahagia.
"Monyet kecil ini ternyata bisa juga bertindak seperti ini" gumam Reynaldo dalam hati sambil mencium puncak kepala Nabila. Pertama kalinya mereka terlihat seperti seorang suami istri yang saling menyayangi, tanpa ada ikatan kontrak.
"Apaa kamu akan tidur terus, aku ingin segera rapat.. kamu ingin tetap di penthouse atau akan pergi keluar??" ucap Reynaldo kini berbicara lembut saat Nabila yang masih nyaman berada di pelukan Reynaldo.
"Apa kamu akan lama rapatnya?" ucap Nabila manja.
"Sekitar dua sampai tiga jam.."
"Itu terlalu lama.."
"Aku ke sini untuk kerja Nabila bukan jalan-jalan."
"Kalau bisa sambil jalan-jalan kenapa enggak! Orang kaya kan bebas.." ucap Nabila kini dengan mode tengilnya.
"Kamu ingin ke mana?"
"Namsan Seoul Tower.." ucap Nabila berbinar menatap Reynaldo.
"Baiklah kita akan ke sana setelah aku meeting bagaimana?"
"Are you serious??"
"Hemm.. lepaskan pelukanmu aku ingin mandi.. Atau kamu ingin mandi bersamaku.." goda Reynaldo kini menaik-turunkan alis matanya.
"PLAKKKKKKK" Nabila memukul lengan Reynaldo.
"Dasarrr Kadal air mesummm!!!" teriak Nabila langsung melepaskan pelukannya.
"Ganti pakaianmu, atau kamu akan memancing Vano Junior lagi.."
"Kamu menyuruhku mengganti pakaian, sedangkan aku ke sini tidak membawa baju apapun.. dan lagi mengapa kamu mesum sekali, pantas saja kamu menyuruh pramugari itu berpakaian seperti itu..!" cetus Nabila.
"Vano Junior hanya akan bangun ketika bersamamu saja Sayang, lagipula jangan seperti orang miskin, makanya jangan tidur teruss, pergilah berkeliling penthouse ini, nanti kita akan berkeliling" ucap Reynaldo lembut.
"Kamu seperti pedofil!!.. Kamu tidak akan lama kan?"
"Aku akan usahakan secepat mungkin, ingat jangan makan makanan yang membuatmu seperti tadi.." ucap Reynaldo menasihati Nabila sambil mengusap kepala Nabila, kemudian Reynaldo pergi masuk ke kamar mandi.
Nabila langsung lari ke ruangan yang Reynaldo katakan, benar di sana banyak baju wanita yang terpampang di lemari, tas dan semua kebutuhan Nabila terpampang rapi.
"Kadal airku memang the best lah..." ucap Nabila bahagia.
Nabila memakai pakaian yang tersedia, seperti biasa dia akan selalu memakai pakaian oversize, tapi kali ini pakaian itu tidak ada, maka Nabila mengambil kemeja milik Reynaldo, kemeja itu terlihat kebesaran padanya sehingga dia memadukan dengan hot pants-nya.
"Bajumu begitu banyak mengapa kamu memakai milik orang lain.." suara bariton Reynaldo mengagetkan Nabila.
"Heheh aku lebih suka memakai pakaian seperti ini saat di rumah, sedang di luar baru aku memakai seperti itu hahaha biar semua orang menatapku..!" ucap Nabila dengan tengilnya.
"Dasar anehh! Lagipula kamu tak boleh berpakaian yang menarik perhatian pria lain!" ucap Reynaldo sambil mengambil pakaiannya.
"Yahh terserah saya dong bapakkkkk Kadal air yang terhormat, muka cantik gini gak jadi pusat perhatian kan sayanggg everybodehhh?" ucap Nabila dengan absurdnya.
"Yah yahh yahh.. setelah mereka melihatmu, mereka akan kehilangan matanya.." ucap Reynaldo dengan santainya dia memakai pakaian di depan Nabila.
"Woiii sialan!! Bisa gak kalau mau pakai pakaian itu ngomong!! Dasar mesum tingkat kadal air!" ucap Nabila dengan kesal.
"Kamu istriku, untuk apa aku harus meminta izin padamu.." ucap Reynaldo mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambutnya.
"Susah kalau yang diajak ngomong orangnya mesum!" cetus Nabila.
"Hahahah kamu yang memulai semua Nabila..."
Nabila mengambil satu set jas dan kemeja.
"Ganti pakaianmu, kamu sangat tidak cocok memakai itu, pakai ini saja.." ucap Nabila memberikan pakaian itu.
"Sebenarnya aku sangat tidak membutuhkan saranmu, tapi kali ini aku akan mengikutinya.."
"Yaudahh sini jangan dipakai.. pergilah sana!!" ucap Nabila kesal karena Reynaldo selalu membuat dia kesal.
Reynaldo merampas pakaian itu kemudian pergi ke kamar mandi untuk memakainya.
Nabila yang melihat itu tersenyum senang karena Reynaldo memakai pilihannya.
Sedangkan Reynaldo terus menatap dirinya dengan pakaian yang dipilih oleh Nabila.
"Pakaian ini akan ikut kembali ke Kota Perak" gumam Reynaldo dalam hati.
Kini Reynaldo keluar dari kamar mandi, melihat Nabila yang duduk di meja rias kamar itu, hairdryer yang Reynaldo ambil tadi kini ada di tangan Nabila.
"Sini aku bantu.." ucap Nabila tersenyum manis.
"Ada apa denganmu, mengapa kamu mendadak baik hati ini??" ucap Reynaldo bingung dengan tingkah Nabila.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin membantumu" ucap Nabila menarik lengan Reynaldo kemudian mendudukkan pria itu di kursi meja rias itu. Dengan lembut Nabila mengeringkan rambut Reynaldo, mendadak Nabila menjadi hairstylist Reynaldo hari ini. Nabila memberikan pelembab wajahnya untuk Reynaldo, bahkan memberikan sedikit pelembab bibir miliknya agar bibir Reynaldo terlihat segar.
"Nahh gini baru suami kadal airku.." ucap Nabila gemas dengan Reynaldo.
Reynaldo yang melihat hasil hiasan Nabila dengan cepat menarik pinggang Nabila, Nabila yang mendapat serangan itu dia terduduk tepat di pangkuan suaminya.
"Kauuu!! Ada apa..?" ucap Nabila terkejut.
"Tidak apa-apa.. aku hanya ingin melihat wajahmu.." ucap Reynaldo terus memandang wajah Nabila.
"Jangan dilihat, nanti kamu jatuh cinta"
"Jatuh cinta sama monyet kecil maksudmu?? Sepertinya tidak.." ucap Reynaldo mencubit hidung Nabila.
"Yakinn?? Kamu yakin takkan jatuh cinta dengan seorang Nabila Evelyn Patra, Tuan Reynaldo.." ucap Nabila kini mengalungkan tangannya ke leher Reynaldo.
"Apa kamu sedang menggodaku Nyonya Evelyn.."
"Sepertinya iyaa, tapi saat ini anda akan pergi untuk meeting penting Tuan, dan setelah itu kamu harus mengantarkan istri cantikmuu ini untuk keliling Namsan Tower, jadi pergilah sebelum aku menendangmu" ucap Nabila mencubit pipi Reynaldo kemudian berdiri dan meninggalkan Reynaldo di kamar.
"Dasarr Monyet mesumm!" teriak Reynaldo namun terukir senyum yang indah dari bibirnya.