Tiga tahun lalu, Caliandra Adiyaksa memilih pergi.
Bukan karena ia tak lagi mencintai Arka Wiryamanta,
tapi karena cinta mereka berdiri di atas luka dan darah masa lalu.
Kini ia kembali, bukan sebagai gadis yang rapuh.
Ia hadir sebagai wanita mandiri dengan kerajaan bisnisnya sendiri.
Arka mengira waktu akan menghapus namanya.
Nyatanya, tidak ada satu hari pun ia berhenti mencintainya.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali dalam dunia bisnis,
gengsi, dendam lama, dan seorang pria bernama Kenzy Maheswara
berdiri di antara mereka.
Arka hanya tahu satu hal,
dari semua perempuan yang datang dan pergi,
hanya satu yang mampu mengacaukan hatinya.
Still you.
Tapi kali ini…
apakah Caliandra masih memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Izinkan Aku Mencintaimu
Langit jingga menggantung di sore hari….
Cali berdiri di rooftop kantor pusatnya. Angin lembut meniup rambut panjangnya.
Kenzy berdiri di depannya.
Untuk pertama kalinya… bukan sebagai partner bisnis.
Tapi sebagai pria.
Suasana hening. Tidak ada candaan. Tidak ada sindiran.
Hanya dua orang dewasa dengan hati yang sedang jujur.
“Cali....Aku tidak pernah berniat melewati batas,” ucap Kenzy pelan.
Cali menatapnya tenang.
“Tiga tahun lalu… kita bertemu dan memulai bisnis ini sama-sama. Kamu bangkit dari masa lalu…aku membuktikan diri bahwa bisa berdiri tanpa dibayangi nama besar keluarga ku.”
“Kita berjalan Bersama..tumbuh Bersama dalam pencapaian diri”
Cali tersenyum kecil.
“Yaa…aku tahu dan aku sungguh bersyukur Tuhan mempertemukanku dengan mu.”
Kenzy menarik napas panjang.
“Aku tahu ada seseorang yang belum pernah benar-benar pergi dari hatimu.”
“Tapi izinkan aku… mencoba.”
Cali membeku.
“Aku tidak memintamu melupakan siapa pun. Aku tidak memintamu untuk memilih sekarang.”
Suara Kenzy lembut, tulus.
“Aku hanya ingin izin… untuk mencintaimu. Untuk mencoba menempati ruang di hatimu. Kalau suatu hari kamu merasa aku cukup… aku akan ada.”
Hening.
Angin sore terasa lebih berat.
Hati Cali bergetar.
Belum sempat ia menjawab,
Terdengar suara langkah tenang dari belakang.
Suara yang sangat ia kenal.
“Aku keberatan.”
Suara rendah. Tegas. Dingin.
Cali menoleh.
Arka berdiri beberapa langkah dari mereka.
Tatapannya bukan marah.
Tapi membara.
Kenzy menegang sedikit.
“Ini pembicaraan pribadi.”
Arka berjalan mendekat.
“Dan dia bukan orang yang bisa kamu minta izinnya tanpa aku tahu.”
Cali hendak berbicara,
Tapi sebelum satu kata pun keluar…
Arka sudah berdiri di sisinya.
Tangannya melingkar di pinggang Cali.
Gerakan tegas. Posesif. Tapi tidak kasar.
Cali terkejut.
Jantungnya hampir meloncat.
“Arka…”
Namun Arka tidak memberi waktu.
Tangannya yang satu naik menyentuh belakang kepala Cali dengan lembut.
Tatapannya turun ke mata Cali.
Bukan ke Kenzy.
Ke Cali.
Hanya Cali.
Suaranya rendah.
“Jawabanku tidak berubah.”
Dan detik berikutnya.
Ia mencium Cali.
Lembut.
Hangat.
Bukan ciuman tergesa.
Bukan ciuman penuh amarah.
Tapi ciuman yang tertahan tiga tahun.
Tangan Arka tetap di pinggangnya. Stabil. Melindungi.
Jari-jarinya di rambut Cali bergerak pelan, seolah memastikan ia nyata.
Dunia seperti berhenti.
Cali sempat membeku.
Namun kemudian…
Tangannya perlahan mencengkeram jas Arka.
Dan ia membalas.
Pelan.
Malu-malu.
Tapi jelas.
Kenzy memalingkan wajah menghadap ke langit sore, tersenyum tipis.
Tidak marah.
Tidak dramatis.
Hanya mengerti.
Beberapa cinta memang tidak pernah benar-benar mati.
Ketika Arka menjauh sedikit, dahinya tetap menempel di dahi Cali.
Napas mereka bercampur.
“Kalau kamu ingin menolak aku,” bisiknya pelan,
“lakukan setelah aku memastikan kamu tahu… aku tidak pernah berhenti mencintaimu.”
Cali hampir menangis.
“Arka… kamu ini…”
“Cemburu?” Arka tersenyum tipis.
“Tidak.”
“Aku hanya tidak mau kehilanganmu lagi.”
Kenzy akhirnya berbicara pelan.
“Sekarang aku tahu jawabannya.”
Cali menoleh.
Tatapannya lembut.
“Kenzy…”
Kenzy tersenyum kecil.
“Kamu tidak perlu menjelaskan. Dari cara dia memelukmu saja… aku sudah kalah.”
Arka tidak melepas pinggang Cali.
Tapi kali ini bukan posesif.
Melainkan protektif.
Setelah Kenzy pergi, suasana menjadi hening.
Cali memukul pelan dada Arka.
“Kamu selalu masuk tanpa aba-aba.”
Arka menatapnya dalam.
“Kalau aku terlambat satu detik lagi, mungkin aku akan menyesal seumur hidup.”
"Memangnya kamu tahu aku akan menjawab apa untuk Kenzy" Cali menggerutu
Cali terdiam sejenak.
Lalu dengan suara kecil,
“Aku juga belum menjawabmu.”
Arka tersenyum tipis.
“Aku tahu jawabannya.”
"Iyakah....tahu darimana?"
“Yakin jawaban versimu dan versiku sama?"
Arka menyentuh pipinya lembut.
“Karena kamu membalas.”
BOOM.
Cali memerah sampai telinga.
Ia menunduk.
Arka mengangkat dagunya pelan.
“Cali…”
Suaranya berubah lebih hangat.
“Beri aku kesempatan. Bukan sebagai masa lalu. Tapi sebagai masa depan.”
Cali menatapnya lama.
Semua luka. Semua dendam. Semua sejarah.
Dan tetap saja.
Pria ini satu-satunya yang membuat hatinya pulang.
Perlahan.
Sangat pelan.
Ia mengangguk.
Air mata tipis jatuh.
Arka tersenyum seperti pria paling bahagia di dunia.
Lalu memeluknya.
Kali ini tanpa penonton.
Tanpa rival.
Hanya dua hati yang akhirnya berhenti berpura-pura.
😭😭😭