NovelToon NovelToon
The Silent Muse: Gilded Chains

The Silent Muse: Gilded Chains

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Duniahiburan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Model
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. The Sweetest Solitude

Masa pengasingan itu dimulai di sebuah pondok kayu modern yang terletak jauh di perbukitan hijau, jauh dari jangkauan sinyal internet dan kilatan lampu blitz. Di tempat inilah, Julian Reed akhirnya menanggalkan topeng bintang dunianya dan sepenuhnya menjadi seorang suami bagi Alice Vane.

Malam pertama mereka sebagai suami istri diawali dengan keheningan yang syahdu. Julian tidak lagi membutuhkan alkohol untuk menenangkan sarafnya. Ia hanya membutuhkan Alice. Saat mereka masuk ke kamar pengantin yang sederhana namun harum aromaterapi lavender, Julian langsung merengkuh pinggang Alice dari belakang.

"Julian... aku sedang mencoba mengganti pakaian," protes Alice sambil tertawa kecil, meski ia membiarkan tangan Julian melingkar erat di perutnya.

"Jangan," gumam Julian, suaranya berat dan serak. "Biarkan seperti ini sebentar. Aku sudah menunggu bertahun-tahun untuk ini. Aku ingin menebus semua waktu yang hilang saat aku harus pura-pura tidak mengenalmu."

Julian memutar tubuh Alice agar menghadapnya. Ia menatap mata Alice dengan binar yang begitu tulus. Namun, di balik binar itu, Julian melihat ada sedikit kegugupan yang terpancar dari wajah istrinya.

"Al, ada apa? Kau gemetar?" tanya Julian lembut sembari mengusap pipi Alice.

Alice menunduk, wajahnya merona merah hingga ke telinga. "Ini... ini yang pertama bagiku, Julian. Aku tidak pernah melakukan ini dengan siapa pun sebelumnya. Bahkan dengan Sean, aku selalu menjaga batasan itu karena janjiku pada Papa Samuel."

Julian terpaku. Ia menatap Alice dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara rasa tidak percaya, haru, dan rasa hormat yang mendalam. Sebagai pria yang tumbuh di industri musik yang liar, Julian tahu betapa langkanya hal ini.

"Kau menjaganya untukku?" bisik Julian, suaranya bergetar. "Bahkan saat aku bersikap brengsek dan bersama wanita lain, kau tetap menjaga kesucianmu untuk pria sepertiku?"

Alice mengangguk pelan. "Karena aku tahu, hatiku hanya untukmu. Aku ingin memberikan yang terbaik hanya untuk suamiku."

Julian menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca. Ia merasa sangat tidak pantas, namun sekaligus merasa menjadi pria paling beruntung di alam semesta. Ia membimbing Alice ke tempat tidur dengan sangat perlahan, seolah-olah Alice adalah porselen yang bisa retak hanya dengan satu sentuhan kasar.

Malam itu, di bawah temaram lampu kamar, Julian menunjukkan sisi dirinya yang paling lembut. Ia tidak terburu-buru. Ia memastikan setiap sentuhannya adalah bentuk ibadah dan rasa terima kasih.

Namun, saat keintiman itu memuncak, Alice tiba-tiba menjerit kecil. Tubuhnya menegang, dan ia mencengkeram bahu Julian dengan kencang. "Ah! Sakit, Julian... sakit sekali," rintih Alice dengan air mata yang mulai menetes.

Julian segera berhenti. Ia menatap wajah Alice yang meringis menahan nyeri. Saat ia melihat ke bawah, noda merah terang di atas sprei putih itu menyambut matanya. Darah perawan itu adalah segel dari sebuah kesetiaan yang luar biasa.

"Maafkan aku, Sayang... maafkan aku," bisik Julian penuh sesal, ia mengecup dahi Alice yang berkeringat. Ia menyeka air mata di sudut mata istrinya dengan jempolnya.

Rasa haru yang luar biasa menghantam dada Julian. Melihat bukti kesucian Alice, ia merasa harga dirinya sebagai pria dipulihkan. Ia merasa sangat dihargai. Darah itu bukan sekadar tanda biologis, bagi Julian itu adalah bukti bahwa Alice mencintainya melampaui logika.

"Terima kasih, Al," bisik Julian di telinga istrinya saat rasa sakit itu perlahan berubah menjadi kehangatan. "Terima kasih sudah menjaganya untukku. Aku berjanji, demi Tuhan, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan pengorbananmu ini. Kau adalah hal paling berharga yang pernah kumiliki."

Keesokan paginya, Julian bangun lebih awal. Ia tidak langsung beranjak, melainkan hanya berbaring sambil menatap wajah Alice yang masih terlelap. Ia melihat sprei itu, lalu tersenyum tipis. Ia merasa seperti pria baru.

Julian benar-benar menjadi seperti "permen karet". Saat Alice akhirnya terbangun, Julian langsung menghujani wajahnya dengan kecupan.

"Julian, lepaskan... aku harus mandi," rengek Alice malu-malu, teringat kejadian semalam.

"Tidak mau," Julian justru menarik Alice kembali ke pelukannya, membungkus tubuh mereka dengan selimut. "Aku ingin seperti ini selamanya. Kau tahu? Semalam adalah momen paling sakral dalam hidupku. Lebih besar dari panggung mana pun."

"Kau berlebihan," Alice menyembunyikan wajahnya di dada Julian.

"Tidak, aku serius. Kau membuatku merasa berharga kembali, Al. Kau memberiku sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang atau popularitas," Julian mengecup puncak kepala Alice. "Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh atau menghinamu. Kau adalah ratuku yang sesungguhnya."

Sepanjang hari itu, Julian tidak mau lepas dari Alice. Saat Alice memasak di dapur kecil mereka, Julian berdiri di belakangnya, melingkarkan tangan di pinggang Alice dan menumpukan dagu di bahunya.

"Julian, aku sedang memotong bawang, nanti tanganmu kena pisau!"

"Biarkan saja. Aku lebih suka kena pisau daripada harus jauh darimu sejauh satu meter," goda Julian.

Kemesraan mereka di masa pengasingan ini benar-benar intens. Julian seolah ingin menghirup setiap detik keberadaan Alice untuk menutupi tahun-tahun yang hilang. Namun, di balik kebahagiaan itu, Julian tetap berdoa agar masa vacuum ini benar-benar bisa menjaga kesucian pernikahan mereka dari gangguan luar.

Sore harinya, Julian mulai mencoba aktivitas baru. Ia mengenakan kaos oblong dan celana jeans usang—penampilan yang tak akan pernah dikenali oleh paparazzi mana pun. Ia membantu Alice menanam beberapa bibit bunga di halaman depan.

Namun, Julian tetaplah Julian "permen karet". Saat Alice sedang berjongkok menanam bibit, Julian ikut berjongkok di belakangnya, memeluk bahunya dan memberikan kecupan-kecupan kecil di pipinya.

"Julian! Tanganmu penuh tanah!" Alice berseru sambil menghindar.

"Tanah ini bersih, Al. Sama seperti hatiku sekarang," goda Julian dengan tawa lepas yang belum pernah ia keluarkan sebelumnya.

Kehidupan "rakyat jelata" ini ternyata memberikan kebahagiaan yang jauh lebih mewah daripada jet pribadi. Di sela-sela kegiatannya, Julian sering kali berhenti sejenak hanya untuk menatap Alice dari jauh, lalu berbisik, "Terima kasih, Tuhan."

Namun, di tengah kemesraan yang tak berujung itu, Julian menyadari satu hal. Masa vacuum ini bukan hanya tentang istirahat, tapi tentang mempersiapkan diri menghadapi badai yang lebih besar saat mereka kembali ke New York nanti.

"Al," panggil Julian saat mereka duduk di teras sambil menatap matahari terbenam. "Apapun yang terjadi setahun lagi, saat dunia kembali menagih sosok 'Julian Reed' yang lama, janji padaku kita tidak akan pernah melepaskan genggaman ini?"

Alice menggenggam erat tangan Julian, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Selama kau tetap menjadi Julian yang sekarang, yang selalu ingat pada rumah dan Tuhan, aku tidak akan pernah pergi."

1
Ariska Kamisa
/Coffee//Coffee//Coffee/
umie chaby_ba
Ellena kepedean amat sih lo/Panic/
umie chaby_ba
Perkara gelang geh Jule Jule ..
cemburu bilang /CoolGuy/
umie chaby_ba
Julian nih... ngeselin ! /Speechless/
umie chaby_ba
Mulai merambah ke internasional nih ceritanya.../Doubt//Doubt//Doubt/
umie chaby_ba
wow internasional latarnya nih...
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!