Katanya sakit hati seseorang itu adalah ketika dia diam dan pergi tanpa banyak bicara. Itu yang di lakukan Anjas, dia sakit hati pada istrinya yang selingkuh, tapi bukan pergi untuk menata hati yang hancur, dia justru pergi ke dukun untuk membalas sakit hati.
"Saya ingin dia mati Mbah"
"Ada penyiksaan yang lebih mematikan dari kematian"
"Apa itu Mbah?"
"Rasa cinta yang tak berbalas"
"Bagaimana saya melakukannya?"
"Teluh... Pelet mati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teringat kembali
"Mas Anjas, aku mau sama mas Anjas!" bentak Triana terus berusaha kabur dari cengkraman dukun bernama Kunto.
"Pasti si Anjas memberikan guna guna pada Triana Mbah, tidak mungkin Triana tiba tiba jadi seperti orang kena pelet begini" ucap Hengki
"Hmm... memang Triana kena guna guna, tapi aku juga tidak tahu guna guna apa yang dia gunakan karena aku tidak menemukan celah untuk melepaskan guna guna Pelet itu dari tubuh Triana" jawab Kunto
"Lalu apa yang sebaiknya saya lakukan Mbah, saya tidak bisa membiarkan Triana seperti ini terus, dia sedang hamil sekarang" ucap Hengki
"Satu satunya cara adalah kamu harus menemui Anjas, minta dia untuk melepaskan Triana dari jerat Pelet ini, karena aku sendiri tidak bisa melakukan itu, bahkan teluh yang kita tujukan pada Anjas sudah hilang sepenuhnya dari tubuh Anjas" ucap Kunto
"Bagaimana mbah tahu kalau teluh itu sudah hilang?" tanya Hengki
"Itu karena semua jin yang aku kirimkan padanya dulu sudah kembali, mereka mengatakan kalau tubuh Anjas sekarang sudah di pagari dukun sakti" jawab Kunto
"Dukun sakti, setahuku satu minggu yang lalu Anjas pernah ke luar kota untuk urusan bisnis, apa mungkin sebenarnya dia mencari dukun karena kita terus membuat tubuhnya menjadi lemah?" tanya Hengki
"Mungkin saja, semuanya bisa terjadi" jawab Kunto
"Mas... aku rindu sekali sama kamu mas, aku ingin peluk kamu" rengek Triana
"Apa yang harus saya lakukan Mbah? saya tidak mau Triana kembali pada Anjas, kalau sampai mereka bersama lagi, saya yang rugi karena pertemanan saya dengan Anjas sudah hancur" ungkap Hengki
"Tahan dia di sini saja, kamu temui Anjas besok karena ini sudah larut malam" jawab Kunto
"Baik Mbah"
Hengki membawa Triana ke kamarnya di rumah Kunto, Hengki memang adalah murid Kunto dan punya kamar sendiri di rumah Kunto. Bukan tanpa alasan Hengki menjadi murid Kunto, dia sejak dulu sudah terobsesi ingin lebih sukses dari Anjas, bahkan dia menggunakan guna guna supaya Anjas celaka tapi Hengki selalu gagal.
××××××××
Di rumah Anjas.
"Kak, bagaimana bisa perempuan itu datang ke kantor dan mengemis untuk kembali sama kamu?" tanya Juno
"Kakak juga tidak tahu, tiba tiba saja dia minta balikan dan bilang kalau dia minta maaf" jawab Anjas
"Dia pasti menyesal karena tidak bisa menghabiskan uang kamu untuk foya foya lagi, sekarang kan hidupnya sederhana" cibir Juno
"Kakak malas membicarakan dia, lebih baik kita bahas yang lain" ucap Anjas
"Bagaimana dengan Adisti?"
"Maksudnya?"
"Adisti mengira ibunya sudah meninggal, dia nanti pasti akan tahu setelah dewasa, apa kakak tidak takut kalau Adisti merasa kecewa pada kakak?" tanya Juno
"Mungkin dia akan kecewa, tapi setelah tahu alasan di balik kebohongan itu, dia akan mengerti Juno" jawab Anjas
Flashback on
Malam saat Anjas pulang dari luar kota, dia membawa banyak hadiah untuk Triana dan juga Adisti, Anjas sengaja tidak mengatakan kalau dia akan pulang malam itu karena ingin membuat kejutan untuk Triana.
"Bi, apa Triana sudah tidur?" tanya Anjas
Tari tidak menjawab, dia hanya menatap takut pada Anjas yang menatapnya heran, bahkan mulai terdengar suara tangisan samar dari kamar Anjas.
"Itu Adis, kemana Triana" ucap Anjas segera naik ke lantai dua rumahnya.
Kamar miliknya kedap suara, tapi kalau ada suara terdengar keluar, itu artinya pintunya tidak tertutup sempurna atau memang terbuka. Dan alangkah terkejutnya saat Anjas sampai di lantai dua, dia melihat Triana sedang berada di atas Hengki yang memegangi pinggangnya dengan wajah penuh nafsu dan tangan satunya yang bertengger di dua gunung kembar Triana, juga Adisti yang tak mereka pedulikan, menangis sendirian di sudut ruangan itu.
"Sstt.... aahhk.. terus sayang sebentar lagi aku sampai" racau Hengki
"Aku lemas sayang, kamu selalu menggempur ku dengan kasar, tapi aku sukaaahhhh"
Brak.
Pintu kamar yang memang tidak tertutup sempurna itu segera di tendang Anjas. keduanya nampak terkejut dengan wajah pucat, bahkan Triana segera turun dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Ma...mas Anjas!" kaget Triana
"An... Anjas, gue bisa jelasin ini Jas" ucap Hengki berusaha untuk mengambil pakaiannya tapi langsung di hajar oleh Anjas yang terlihat marah.
Bugh. Bugh. Bugh.
"Gue tahu gue sering berbagi sama Lo tentang makanan ataupun uang Hengki, tapi tidak berarti gue juga mau berbagi istri" bentak Anjas terus memukuli Hengki tanpa ampun.
"Mas... mas aku mohon maafkan aku mas" ucap Triana.
Plak. Plak.
"Najis! aku haramkan tanganmu untuk menyentuh anakku Triana! mulai sekarang aku jatuhkan talak tiga padamu dan kita sudah tidak punya hubungan apapun lagi, jangan harap kamu bisa hidup bebas setelah membuat masalah dalam hidupku!" bentak Anjas menampar Triana
"Mas... aku... aku melakukan ini karena kamu terlalu kaku, kamu..."
"Ya aku terlalu kaku dan kamu terlalu murahan, kamu terlalu mirip jablay yang bahkan tertarik dengan lelaki manapun asalkan bisa membelai kamu!" bentak Anjas menjambak rambut Triana yang meringis kesakitan.
Dia menarik keduanya lalu menjatuhkan mereka dari tangga rumah lama Anjas. Tak ada belas kasihan apalagi keduanya yang masih belum sempurna berpakaian, Anjas lalu menggendong Adisti yang sudah lemas karena kehausan dan kelaparan untuk dia bawa pergi, dia meminta para asisten rumah tangga untuk keluar rumah, meminta para penjaga yang dulu hanya beberapa orang untuk membeli bensin dan membakar rumahnya tanpa membawa apapun selain pakaian yang mereka pakai.
"Anjas...gue mohon jas, biarkan gue ambil pakaian gue dulu" mohon Hengki yang sudah babak belur dan keningnya berdarah karena terjatuh dari tangga, begitupun Triana yang hanya bisa bersembunyi di tempat gelap karena malu.
"Berikan mereka taplak meja makan di rumah ini bi, minta mereka pergi sekarang juga!" perintah Anjas yang sedang duduk di halaman rumahnya sambil menenangkan Adisti yang saat itu masih berusia kurang dari satu tahun dan masih belajar berjalan.
"Baik pak"
Hengki benar benar pergi hanya memakai taplak meja, dia membagi dua taplak itu dengan Triana yang masih meringis kesakitan dan segera menggendong Triana ke dalam mobilnya untuk pergi.
"Bakar rumah ini sampai habis,. hancurkan bangunannya besok dan jual tanah ini, tapi sebelumnya ambil rekaman CCTV untuk saya jadikan bukti di pengadilan" perintah Anjas
"Baik pak" jawab satpam dan tukang kebun Anjas.
"Maafkan saya pak, saya tidak bermaksud untuk menutupi kebohongan ibu" ungkap Tari
"Sudah berapa lama bi?" tanya Anjas
"Su.. sudah enam bulan yang lalu pak" jawab Tari semakin membuat Anjas marah karena dia sudah di bodohi Triana selama itu.
Flashback off
"Tidak ada yang ingin aku kenang dari perempuan itu Juno, rasa sakitnya masih sangat terasa di hati kakak" ungkap Anjas