Mei Lin yang seorang agen mata mata terpaksa harus bunuh diri ketika tertangkap oleh Wang Yu, seorang Jenderal polisi negara x.
Namun , bukan nya mati, Mei Lin justru terperangkap ke dalam tubuh milik Bai Hua. Bai Hua adalah gadis lemah yang membutuhkan kursi roda untuk berjalan. Ia diejek oleh seluruh keluarga nya karena menjadi sampah. Bai Hua juga harus menikah dengan Pangeran Idiot!
Bagaimana jika jiwa Mei Lin yang mengambil alih tubuh Bai Hua untuk menikah dengan Pangeran itu? Dan bagaimana jika jiwa pangeran itu juga telah dirasuki entitas dari abad 21?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 : Lembah
Setelah kekacauan, suasana di ruang bawah tanah Paviliun Pangeran Pertama terasa sangat mencekam. Han dirantai pada dinding batu yang lembap. Di depannya, Wan Long masih mengenakan sebagian zirahnya, sementara Bai Hua duduk dengan tenang, jemarinya mengetuk-ngetuk berkas logistik yang menjadi pangkal masalah.
"Kau punya waktu tiga menit sebelum aku membiarkan istriku menggunakan koleksi racun barunya padamu," ujar Wan Long, suaranya rendah dan mengancam. "Jelaskan tentang kode logistik perbatasan itu. Kenapa ada pengalihan jalur ke arah Lembah Hitam?"
Han meludah, darah menetes dari sudut bibirnya. "Kalian pikir kalian sudah menang? Dokumen itu... itu hanya puncak gunung es. Logistik itu bukan berisi makanan atau senjata untuk prajurit."
Kudengar pangeran pertama idiot. Kenapa dia berubah dengan cepat!
Bai Hua menyipitkan mata, ia membalik lembaran kertas dengan cepat. "Lembah Hitam adalah jalur penyelundupan. Jika bukan senjata, lalu apa? Emas? Atau bubuk mesiu?"
"Lebih berharga dari itu," desis Han. "Itu adalah pasokan untuk Suku Bayangan di Utara. Menteri Bai tidak mencuri uang negara untuk dirinya sendiri, dia mendanai pasukan tentara bayaran untuk Permaisuri!"
Jangan-jangan mahar besar yang didapat keluarga Bai dari pernikahan ini, sebenar nya adalah uang negara! Bukan harta pribadi ! Ini adalah taktik untuk menyokong faksi permaisuri tanpa harus terang-terangan. Uang mahar itu sebagian digunakan untuk membiayai tentara bayaran Permaisuri, lalu sebagian lagi untuk foya foya. Sungguh cerdik.
Mata Wan Long dan Bai Hua bertemu. Jika Permaisuri memiliki tentara bayaran di luar kendali militer resmi, maka kudeta yang direncanakan jauh lebih besar dari sekadar perebutan tahta internal. Ini adalah ancaman perang saudara.
"Katakan padaku," Bai Hua mendekatkan kursi rodanya, "siapa yang memberikan instruksi pengubahan kode tiga hari lalu?"
Han baru saja hendak membuka mulut ketika tiba-tiba tubuhnya menegang. Matanya melotot, dan busa hitam mulai keluar dari mulutnya.
"Sial!" Wan Long melompat maju, mencoba menahan rahang Han, tapi terlambat. Han tewas seketika dalam kejang yang mengerikan.
Bai Hua segera menutup hidungnya. "Jangan sentuh dia, Wang Yu! Itu racun Lidah Hitam. Dia sudah dipasangi kapsul racun di giginya sejak awal. Dia bukan hanya pengkhianat, dia adalah agen bunuh diri." ujar Bai Hua yang sudah berpengalaman.
Kematian Han membuktikan bahwa faksi Permaisuri telah menyusup sangat dalam. Mereka tidak bisa lagi mempercayai siapa pun kecuali Bibu Pong, Choi, dan segelintir pengawal yang tersisa. Namun, ada satu masalah mendesak. Logistik yang membawa "pasokan rahasia" itu akan melintasi gerbang barat ibu kota dalam waktu enam jam.
"Kita harus menghentikan konvoi itu," tegas Wan Long. "Jika tentara bayaran itu mendapatkan pasokannya, mereka akan bergerak menuju istana saat bulan purnama lusa."
"Tapi kita tidak bisa pergi jauh-jauh, ingat?" Bai Hua mengingatkan sambil menunjuk dadanya sendiri. "Racun Lian-Xin. Sepuluh meter. Bagaimana kau bisa bertarung di lapangan sambil menyeret kursi rodaku?"
Wan Long menatap kursi roda Bai Hua, lalu menatap Bai Hua dengan pandangan yang sulit diartikan. "Aku punya ide. Tapi kau pasti akan membencinya."
"Apa?"
"Kita akan menunggang kuda yang sama lagi."
Bai Hua terbelalak. "Dalam mimpimu, Jenderal! Aku tidak sudi duduk di depanmu seperti tawanan!"
"Ini bukan soal gengsi, Mei Lin! Ini soal jarak!" bentak Wan Long. "Kau bisa memegang kendali kuda sementara aku menangani musuh, atau kita duduk diam di sini dan membiarkan istana ini terbakar lusa nanti. Pilih mana?"
Bai Hua menggeram, tangannya mencengkeram pegangan kursi roda hingga bergetar. "Baik. Tapi jika kau berani macam-macam, aku akan menusukkan jarum ke lehermu."
"Cih, kau juga bukan seleraku." Ungkap Wan Long yang entah mengapa membuat hati Bai Hua menjadi semakin kesal.
***
Tengah malam, di sebuah jalan setapak yang sunyi menuju Gerbang Barat, sebuah konvoi gerobak yang dijaga ketat oleh prajurit tak berseragam melaju perlahan. Tiba-tiba, dari kegelapan, meluncur dua sosok di atas satu kuda hitam besar.
Wan Long memacu kudanya dengan kecepatan penuh. Bai Hua duduk di depan, tangan kecilnya memegang kendali dengan sangat mahir, sementara Wan Long di belakangnya berdiri sedikit di sanggurdi, menghunus pedang panjangnya.
"Sekarang!" teriak Bai Hua.
Ia menarik tuas tersembunyi yang ia bawa dari kursi rodanya---sebuah peluncur panah otomatis portable. Crat! Crat! Crat! Anak panah kecil melesat dari kedua sisi kuda, menjatuhkan para penjaga terdepan.
Wan Long melompat dari punggung kuda saat jarak mereka sangat dekat dengan gerobak utama, namun ia membawa seutas tali sutra yang terikat di pinggang Bai Hua. Seutas "tali pusar" sepanjang delapan meter yang memastikan mereka tidak akan pernah melampaui batas maut.
Wan Long bertarung seperti iblis. Setiap tebasan pedangnya membelah kegelapan. Sementara itu, Bai Hua memutar kuda dalam radius kecil, memastikan ia selalu berada di dekat Wan Long. Setiap kali ada musuh yang mencoba menyerang Wan Long dari belakang, Bai Hua melepaskan jarum pelumpuh dari balik lengan bajunya.
"Kerja bagus, Lumpuh!" teriak Wan Long sambil menebas komandan konvoi.
"Urus saja musuhmu, Bodoh!" balas Bai Hua, meski napasnya mulai tersengal karena tarikan racun di dadanya setiap kali Wan Long melompat terlalu jauh.
Setelah semua penjaga lumpuh, Wan Long membuka paksa salah satu peti di gerobak. Matanya membelalak. Isinya bukan emas dan bukan makanan.
Peti itu penuh dengan Bunga Teratai Merah yang sudah dikeringkan---bahan dasar utama untuk membuat racun pelumpuh massal yang bisa disebarkan melalui udara atau sumber air.
"Mereka tidak ingin menyerang dengan pedang," bisik Bai Hua yang sudah mendekat dengan kudanya. "Mereka ingin meracuni seluruh penghuni istana saat jamuan bulan purnama."
Tiba-tiba, dari arah hutan di samping jalan, terdengar suara tepuk tangan pelan. Sosok Wan Jin muncul dengan pasukan pemanah yang sudah membidik ke arah mereka berdua.
"Kakak Pertama, Kakak Ipar... kalian benar-benar rajin ya," ujar Wan Jin dengan senyum licik. "Sayangnya, konvoi ini hanyalah umpan. Dan kalian baru saja masuk ke dalam jebakan yang sebenarnya."
Wan Long mengeratkan tali di pinggangnya, menarik Bai Hua lebih dekat ke arahnya. "Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang, Mei Lin."
"Ck, kapan ini akan berakhir." Bai Hua berdecak.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih
definisi sebel tapi rindu
benci tapi butuh🤣🤣
ya elah mati aja ga mau ngalah lu bang
ok Leh yuk lah bareng "🫣🤣
jadi bayangin visual merekanya bertarung
anak kan cuman niru orang tuannya yaa
jgn salahin kalau jadi anak durhaka
tih punya orang tua durhaka
mang disini pada ngeluh masalah retensinya
banyak othor yg juga akhirnya nyerah dan banyak pindah ke berbagai platform 🥹🥹.
semangat ya Thor...
aku mah dukung aja
karena terkadang penghargaan itu ga butuh cuman pengakuan,tapi cuan yg menentukan 🤣🤣
lu pikir bisa mengendalikan seluruh permainan
hei..masa depan itu lebih menakutkan dr yg dilihat
dimana ga ada binatang buas di hutan belantara
tapi manusia yg punya nafsu buas di antara hutan sesungguhnya.
beginilah realita di masa depan.
sebenarnya siapa yg jebak siapa.🫣
hayooo kau berhadapan dengan polisi dan mata mata dr masa depan lu bang
siap siap aja yaa