Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita Perlu Bicara
Pagi harinya, di kediaman Agus tidak pernah diawali dengan ketenangan, aroma kopi yang diseduh Karina biasanya menjadi penanda bahwa rutinitas pelayanan telah dimulai. Namun pagi ini, tangan Karina sedikit gemetar saat meletakkan cangkir porselen di depan ibu mertuanya, Ibu Ratmi.
Ibu Ratmi menyesap kopinya lalu segera meletakkannya kembali dengan bunyi yang cukup keras.
"Terlalu manis! Kamu ini niat membunuhku dengan glukosa? Sudah kubilang berkali-kali, aku ini punya riwayat gula darah!" bentak Ibu Ratmi.
Karina menarik napas panjang, "Maaf, Bu. Tadi saya pikir Ibu butuh energi karena mengeluh lemas semalam," ucap Karina.
"Alasan!" sahut Ratmi ketis.
Matanya yang sipit menatap daster Karina dengan jijik, "Pantas saja Agus tidak betah di rumah, istrinya seperti pelayan pasar begini. Coba lihat Sabrina, sekretarisnya itu. Kemarin dia datang ke sini membawakan obat herbal dari Singapura untuk Ibu. Dia Cantik, wangi dan bicaranya sopan. Tidak seperti kamu yang setiap hari mukanya ditekuk seperti baju belum disetrika," ucap Ibu Ratmi dengan melancarkan hinaan demi hinaan pada Karina.
Hati Karina berdenyut nyeri, "Sabrina? Bukannya itu sekretarisnya Mas Agus, kenapa dia sampai ke rumah?" tanya Karina.
"Dia datang membawakan Ibu obat, dia sangat perhatian dan bauk. Nggak kayak kamu," ucap Ibu Ratmi.
"Agus itu pria sukses sekarang, Karina. Wajar kalau dia butuh pendamping yang bisa mengimbangi statusnya, kamu seharusnya tahu diri. Kalau kamu tidak bisa jadi istri yang cantik, setidaknya jangan jadi istri yang cerewet," lanjut Ibu Ratmi.
"Bu, Mas Agus sudah menikah dan nggak mungkin juga Mas Agus menikah lagi, karena aku nggak izinin itu," jawab Karina.
Tepat saat itu, Agus turun dari lantai atas. Agus sudah rapi dengan setelan jas custom made seharga puluhan juta rupiah, dia bahkan tidak melihat ke arah Karina dan hanya mencium kening ibunya.
"Agus, nanti malam jangan lupa ya. Sabrina bilang ada reservasi di restoran Prancis itu," ujar Ratmi dengan nada manis yang tidak pernah dia gunakan pada Karina.
Agus tersenyum tipis, "Iya, Bu. Aku akan menjemputnya langsung," jawab Agus.
"Mas, hari ini Ella dan Aisha ada rapat wali murid untuk persiapan kelulusan, kan kamu udah janji mau datang," ucap Karina mencoba mengingatkan sang suami.
Agus menghentikan langkahnya dan menoleh sebentar dengan tatapan tidak sabar, "Rapat wali murid? Kamu kan bisa sendiri, aku sibuk dan ada pertemuan penting dengan investor, sudahlah jangan membuang-buang waktuku untuk hal-hal sepele seperti itu," jawab Agus yang sangat kontras dengan jawabannya pada Ibu Ratmi tadi.
"Sepele? Ini masa depan anak-anakmu, Mas!" ucap Karina yang tidak terima jika hal yang menyangkut tentang anak-anaknya dianggap sepele.
"Masa depan mereka sudah terjamin karena uangku! Sudah, jangan membantah!" bentak Agus sebelum melangkah keluar menuju mobil Mercedes Benz miliknya.
Siang harinya, Karina pergi ke sekolah si kembar. Namun, di gerbang sekolah, dia melihat sebuah pemandangan yang membuat darahnya mendidih. Sebuah mobil sport merah terparkir di sana dan seorang wanita muda dengan gaun ketat dan kacamata hitam besar sedang berdiri di samping mobil itu dengan memegang buket bunga besar.
Ella dan Aisha keluar dari gerbang dengan wajah muram, begitu melihat perempuan itu, mereka mencoba menghindar, namun perempuan itu justru menghalangi jalan mereka.
"Hai, sayang! Ayah kalian minta aku menjemput kalian dan kita pergi makan siang mewah," ucap perempuan bernama Sabrina itu dengan suara yang dibuat manis.
"Kami punya Mama dan kami tidak mau ikut wanita sepertimu," jawab Ella ketus.
Dia menarik tangan Aisha untuk menjauh dan membuat Sabrina tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti gesekan pisau di atas piring.
"Mama kalian? Oh, maksudmu wanita yang lebih mirip asisten rumah tangga itu," ucap Sabrina.
"Apa maksudmu?" tanya Karina dengan tudak bersahabat.
Sabrina terkejut sejenak, namun segera memulihkan rasa percaya dirinya dan menatap Karina dari atas ke bawah lalu tersenyum ramah.
"Ah, Mbak Karina. Perkenalkan nama saya Sabrina, saya sekretarisnya Mas Agus dan saya disuruh Mas Agus untuk menjemput Ella dan Aisha," jawab Sabrina dengan begitu manis.
"Jadi, kamu yang namanya Sabrina. Lebih baik kamu jaga jarak dengan Mas Agus, karena Mas Agus sudah punya istri dan anak. Kamu itu hanya sekretaris, jangan berlagak jadi Ibunya Ella dan Aisha," ucap Karina.
"Saya disuruh Mas Agus buat jemput Ella dan Aisha," ucap Sabrina lagi.
"Saya nggak peduli, saya sudah datang. jadi, saya yang akan menjemput anak saya," ucap Karina.
Setelah itu, tanpa mengatakan apapun, Sabrina masuk ke mobilnya dan melesat pergi dengan meninggalkan kepulan debu.
"Mama," panggil Ella.
"Sudah, tidak perlu dipikirkan lagi, ayo pulang," ajak Karina.
Malam harinya, saat rumah sudah sepi, Karina duduk di meja riasnya yang sudah tua dan menatap pantulan dirinya di cermin yang sedikit buram di bagian sudutnya. Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, Karina menyentuh garis-garis halus di sekitar matanya, wajahnya kini tampak kusam dan letih.
Dua puluh tahun, Karina mengubur identitasnya sebagai putri mahkota Grup Wijaya demi menjadi istri yang baik bagi Agus. Karina melihat tangannya yang kasar dan jauh berbeda dengan tangan Sabrina yang halus dengan kuku-kuku yang dipoles cantik.
Suara deru mesin mobil mewah di halaman menyentakkan Karina dari lamunannya dan menyadari jika itu adalah Agus, ia melirik jam dinding; pukul sebelas malam dan bangkit mencoba menekan rasa sakit di dadanya lalu berjalan menuju pintu depan.
Agus masuk dengan aroma alkohol dan parfum wanita yang menyengat dan Karina tahu jika itu bukanlah parfum milik Karina.
"Mas, kita perlu bicara," ujar Karina dengan suara yang ia usahakan tetap tenang.
Agus mendengus dan melepaskan dasinya lalu melemparnya sembarang ke atas sofa beludru, "Aku lelah, Karina. Kalau mau bahas soal rapat sekolah lagi, lupakan saja," ucap Agus.
"Ini bukan soal sekolah, ini soal Sabrina. Kenapa dia berani datang ke sekolah menjemput anak-anak? Kenapa dia datang ke rumah membawakan obat untuk Ibu?" tanya Karina.
Agus menghentikan gerakannya dan berbalik menatap Karina dengan mata yang dingin, tatapan yang lebih menyakitkan daripada sebuah tamparan.
"Sabrina hanya membantuku, dia cekatan, perhatian dan tahu apa yang aku butuhkan tanpa aku harus memintanya. Tidak seperti kamu, yang setiap kali aku pulang hanya bisa menyambutku dengan daftar keluhan dan wajah kusam," ucap Agus.
"Wajahku begini karena aku mengurus rumahmu, anak-anakmu dan ibumu, Mas! Aku tidak punya waktu ke salon karena aku sibuk memastikan rumah tanggamu berjalan lancar agar kamu bisa fokus bekerja," ucap Karina.
.
.
.
Bersambung.....