"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga puluh Dua
Meira terlihat merenung di dalam kamarnya malam itu. Entah kenapa pikirannya sekarang tertuju pada Ilham. Tingkah dari cowok itu membuatnya menaruh rasa penasaran. Sebenarnya apa yang sedang Ilham sembunyikan? Kenapa sikapnya selalu berubah setiap kali menerima telepon atau mendapat sebuah pesan?
Pikiran Meira kemudian beralih pada Rey. Cowok itu juga tak kalah misteriusnya. Meira teringat kembali pada percakapan singkatnya dengan Manajer Kafe beberapa waktu lalu. Kata-kata sang manajer terus terngiang, seolah menjadi kepingan puzzle yang belum menemukan tempatnya.
"Dulu Mama kamu itu sahabat dekat sama Ibu Hera, istrinya pemilik tempat ini."
Bukankah Hera adalah Ibu Rey? Meira merasa ada sesuatu yang ironis, jika Mama mereka dahulu bersahabat, mengapa sekarang Hera tampak begitu antipati terhadapnya? Dan kenapa Rey terlihat sangat tertekan setiap kali ia bertemu Ibunya di sekolah?
Suara hairdryer yang tiba-tiba berhenti menyadarkan Meira dari lamunannya. Ayara, yang baru saja selesai mandi, sedang berdiri di depan cermin sambil mengamati Meira lewat pantulan kaca. Ia melihat Meira hanya duduk mematung dengan tatapan kosong menghadap meja belajar.
"Woi. Ngelamun aja, kesambet baru tahu rasa lo." suara cempreng Ayara memecah keheningan kamar.
Meira tersentak. Belum sempat ia merespons, sebuah bantal kecil melayang dan mendarat tepat di wajahnya.
"Aduh. Apa sih, Ra? Main lempar-lempar aja!" gerutu Meira, lalu mendekap bantal itu erat-erat.
Ayara berjalan mendekat, lalu duduk di pinggir kasur dengan gaya santainya. "Muka lo tuh kayak orang lagi ngerjain soal kalkulus sepuluh halaman tapi nggak ketemu jawabannya. Kenapa lagi? Ada masalah sama kelompok lo? Atau lo dapet pesan misterius lagi?"
Meira menghela napas panjang, ia memilih untuk tidak membalas ejekan Ayara. "Ra, kamu ingat nggak waktu aku cerita soal Manajer Kafe yang bilang kalau Mama dulu sahabat dekatnya Bu Hera?"
Raut wajah Ayara sedikit berubah, ia terdiam sejenak. "Iya, gue inget. Emang kenapa?"
"Kamu tau nggak, kalau ternyata Bu Hera itu ibunya Rey?" tanya Meira.
Ayara menunjukkan wajah terkejutnya. "Serius lo?" ia menghentikan aktivitas mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ayara kini menatap Meira dengan saksama. "Ibu Hera guru Matematika itu? Dia ibunya Rey? Lo tahu dari mana, Mei. Perasaan anak-anak gak pernah bahas soal itu deh."
"Aku gak sengaja denger obrolan Rey sama Bu Hera di ruangannya waktu nyari informasi soal Mama ke Bu Resma. Disitu Rey manggil Bu Hera 'Mama'. Tapi kalau dia beneran anak Bu Hera, masa anak-anak gak tau sih? Apa mereka sengaja gak mau publikasi hubungan anak dan ibu itu? Tapi kenapa?"
Ayara mendengus pelan, raut wajahnya berubah menjadi sangat serius.
"Menurut gue sih, kayaknya mereka emang sembunyiin itu. Secara, lo bisa lihat sendiri kan Bu Hera orangnya kayak gimana. Dia punya reputasi sebagai pendidik yang sempurna. Orang kayak dia nggak akan mau ada cela di hidupnya. Pantes aja sikap tuh cowok dingin banget ngalahin kutub es, ternyata emang 11-12 sama ibunya."
Ayara menjeda, menatap Meira dengan tatapan memperingatkan. "Dan soal kenapa nggak ada yang tahu? Lo lihat Rey deh. Dia itu dingin, tertutup dan nggak banyak bicara. Dia bukan tipe yang bakal pamer kalau ibunya adalah orang penting di sekolah. Mereka mungkin punya kesepakatan atau mungkin itu jadi salah satu cara Rey buat melindungi dirinya sendiri dari ekspektasi orang-orang."
"Tapi kenapa Bu Hera kayak yang gak suka ya sama aku? Bahkan hukuman yang kepsek kasih waktu aku ngaku nyuri gelang, itu saran dari Bu Hera. Padahal dia sama Mama dulunya sahabat." suara Meira nyaris berbisik. "Atau Bu Hera gak tau kalau aku anak dari sahabatnya?"
"Lo bilang Bu Resma juga pernah temanan kan sama Mama lo dan Bu Hera. Masa iya dia nggak kasih tau kalau lo anaknya Mama Arini sih? Bu Resma aja bisa langsung tau kan waktu pertama kali lo dateng buat tanyain soal Mama lo?" jawab Ayara.
"Itu dia yang aku pikirin, Ra. Kalau emang Bu Hera tau, kenapa dia kelihatan seolah benci sama aku yang adalah anak dari sahabatnya?"
"Persahabatan yang berubah jadi kebencian itu biasanya lebih ngeri daripada musuh sejak awal. Ada rasa pengkhianatan di sana. Dan kalau Bu Hera benci Mama Arini, otomatis dia bakal ngelihat lo sebagai ancaman yang sama. Atau bahkan, sebagai pengingat akan luka lama yang nggak mau dia lihat lagi."
Meira terdiam, merenungkan setiap kata-kata dari Ayara. Pikirannya kembali melayang ke pesan dari No Name. Jika salah satu temannya menyembunyikan sesuatu dan Rey adalah anak dari wanita yang membenci ibunya, bukankah Rey adalah tersangka utama? Tapi jaket yang masih tersampir di kursi kamar Meira itu seolah membantah segala prasangka buruknya. Kehangatan itu tidak terasa seperti kepalsuan.
"Udahlah, jangan terlalu dipikirin sampe lo nggak tidur. Gue bakal cari tahu besok ke Abil. Lo tenang aja, Mei. Gue bakal selalu ada buat bantu lo." Ayara berdiri dan menepuk bahu Meira. "Btw, gak ada PR buat besok, kan? Gue udah mager banget kalau harus ngerjain tugas." tanyanya sebelum merebahkan tubuhnya dan akan menarik selimut.
"Nggak ada, Ra. Udah sana tidur ah."
"Oke, yank. Sweet dream." ucap Ayara sambil mencubit pipi Meira pelan, kemudian menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Namun, bagi Meira, tidur adalah hal mustahil malam itu. Ia mematikan lampu kamar, tapi matanya tetap terjaga, menatap langit-langit yang kini hanya diterangi cahaya remang dari lampu jalan di luar. Kata-kata Ayara tentang pengkhianatan dan luka lama terus berputar di benaknya. Ia merasa seperti sedang berjalan di atas lapisan es tipis yang bisa pecah kapan saja.
...\~\~\~...
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰