NovelToon NovelToon
After Married

After Married

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: zahra

apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bukan cemburu

 Dalam keheningan malam yang mencekam di dalam mobil Thalia terbangun. Sisa-sisa air mata masih mengering di pipinya, meninggalkan jejak rasa pedih

Di tengah kegelapan mobil yang terasa makin pengap sebuah kilatan ingatan muncul seperti bintang jatuh

ia memiliki sebuah benda ajaib pemberian Nana untuk meminta pertolongan.

"Mengapa aku baru ingat sekarang?" gumamnya lirih sembari jemarinya gemetar menyentuh layar ponselnya yang bercahaya. Ia menekan deretan angka milik sahabat

Layar itu menunjukkan waktu yang telah larut, sementara tubuh Thalia mulai menggigil hebat. "Duh, aku ingin buang air kecil..." rintihnya, menahan desakan yang menyiksa saat nada sambung mulai terdengar.

Panggilan pertama dan kedua hanya berujung pada keheningan, namun harapan Thalia tak padam. Pada percobaan berikutnya, suara yang sangat ia rindukan akhirnya menyapa.

"Halo, Nana... Thalia ingin buang air kecil," ucapnya seketika, suaranya parau menahan tangis.

"Ya ampun, Tha! Kau mengganggu waktu istirahatku saja. Jika ingin ke toilet, pergilah, mengapa harus melapor padaku?" sahut Nana dari seberang sana, suaranya serak khas orang bangun tidur.

"Thalia terjebak di dalam mobil .. Om itu tidak mau membukakan pintu. Thalia tidak bisa keluar, Nana. Thalia sudah tidak tahan lagi..."

"Astaga! Kau masih di dalam mobil sejak siang tadi? kenapa tidak menghubungi dari tadi!" pekik Nana, kantuknya sirna seketika digantikan kilat amarah dan kekhawatiran.

"itu, Thalia lupa dan baru ingat" Thalia mengangguk lemah meski tak terlihat. "Di sini sunyi, tidak ada orang satu pun yang melintas. Thalia takut sekali."

"Tunggu di sana, jangan ke mana-mana! Aku akan mencari bantuan sekarang juga!"

Sambungan terputus. Thalia kembali dirundung sepi. Perutnya mulai bernyanyi karena lapar, dan dinginnya malam mulai merasuk ke tulang-tulangnya. "Apakah Nana tersesat? Mengapa ia begitu lama?" pikirnya panik.

Saat ia mencoba menghubungi kembali, saluran itu sibuk Nana tampaknya tengah menghubungi seseorang

Thalia merebahkan tubuhnya di bangku belakang yang sempit, menatap celah kecil di jendela yang tidak tertutup sempurna oleh Cavin .

Namun, sebelum matanya terpejam sepenuhnya, suara kunci yang terbuka mengejutkannya.

 Sosok pria yang meninggalkannya tadi siang kini berdiri di sana, bayangannya memanjang di bawah lampu parkir yang remang.

"Om..." panggil Thalia lirih.

"Cepat keluar, atau kau akan ku kunci selamanya di sini," ucap Cavin dingin.

Thalia bergerak secepat kilat, bahkan kepalanya sempat terbentur atap mobil karena tergesa-gesa. "Terima kasih, Om," ucapnya tulus saat kakinya menyentuh lantai beton.

Cavin tertegun sejenak. Bagaimana mungkin wanita yang baru saja ia zalimi dengan mengurungnya berjam-jam justru mengucapkan terima kasih?

 Namun, egonya terlalu tinggi untuk peduli. Ia berbalik dan melangkah menuju lift. "Cepat masuk!" perintahnya tanpa menoleh.

Thalia mengekor di belakang suaminya seperti bayangan yang setia namun ketakutan.

Mereka memasuki sebuah ruangan luas yang kini tampak seperti medan perang sisa pesta pora.

 Botol-botol kaca berserakan, kaleng-kaleng penyok, dan aroma alkohol menyeruak tajam. Di atas sofa dan karpet bulu, beberapa tubuh pria tergeletak tak berdaya.

"Om... tempat apa ini?" bisik Thalia ngeri.

"Tempat orang mati," jawab Cavin asal, membuat Thalia seketika merapat dan mencengkeram lengan suaminya.

"Apa yang kau lakukan?! Lepaskan!" bentak Cavin seraya menepis tangan istrinya dengan kasar.

"Berisik sekali..." gumam Sardhi, salah satu sahabatnya yang terbangun karena keributan itu.

"Pulanglah kalian, hari udah mulai pagi Apa kalian tidak punya kantor untuk diurus?" usir Cavin.

 Meski mereka tampak seperti gelandangan saat mabuk, mereka semua adalah para penguasa korporasi muda yang baru saja menerima tongkat estafet dari ayah mereka.

Thalia bernapas lega saat menyadari sosok-sosok itu masih bernapas. "Om... Thalia mau ke toilet. Di mana tempatnya?" tanyanya dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Dua dari pria yang tergeletak itu membuka mata. Awalnya mereka ingin bersikap acuh, menganggap wanita di depan mereka hanyalah salah satu "pajangan "yang bisa dibeli dengan uang.

Namun, Ronald, salah satu sahabat Cavin, tiba-tiba berdiri dengan senyum menggoda.

"Ayo, Tha, biar aku yang mengantarmu. Aku juga searah ke sana," ujar Ronald mencoba meraih tangan Thalia.

Thalia terjengit, segera bersembunyi di balik punggung kokoh suaminya. "Om itu... bukan orang jahat, kan?" tanyanya polos.

"Apa wajahku setua itu?" keluh Ronald, sementara Cavin hanya mengendik kan bahu dingin.

"Masuk ke sana. Toilet ada di dalam kamarku," tunjuk Cavin ke sebuah pintu kayu yang megah.

"Ayo, Tha..." Ronald kembali mencoba mendekat. Ia tahu betul bahwa Cavin membenci istrinya dan rencana perceraian mereka yang gagal telah menjadi rahasia umum di lingkaran mereka.

"Toilet tamu di sebelah sana! Kau mau mati, hah?" bentak Cavin tiba-tiba, tanpa sadar melindungi privasi istrinya.

"Ke toilet, Bro, bukan ke akhirat. Cie, kau cemburu ya takut istrinya menempel padaku?" goda Ronald sembari tertawa kecil.

"Tidak nyambung!" kilah Cavin dengan rahang mengeras. Ada rasa tidak suka yang asing saat melihat sahabatnya mencoba menyentuh Thalia.

(Flashback)

Beberapa saat yang lalu, di tengah kesunyian di apartemen, ponsel Cavin bergetar hebat di atas meja.

"Bro, ponselmu!" panggil Sardhi sembari mengguncang bahu Cavin yang tengah terlelap. Di atas sofa

"Siapa?" gumam Cavin kesal.

"Asisten mu, Nino."

Cavin menggeser layar dengan malas. "Ada apa?"

"Maaf, Tuan. Sahabat Nona Thalia baru saja menghubungi saya

. Ia mengancam akan melaporkan Tuan ke polisi atas tuduhan KDRT jika terjadi sesuatu pada Nona Thalia. Dia tahu Nona masih terjebak di dalam mobil."

Seketika, kesadaran Cavin pulih sepenuhnya.

 "Astaga, aku benar-benar lupa," gumamnya pelan.

 Tanpa membuang waktu, ia menyambar kunci mobil, menyisakan tanya di wajah sahabat-sahabatnya.

Tepat pada saat itu, suara pintu kamar mandi berderit terbuka. Thalia melangkah keluar dengan wajah yang masih basah oleh air, tampak begitu murni dan rapuh di bawah sorotan lampu ruangan.

 Ia mengenakan pakaian yang kebesaran, membuatnya terlihat semakin mungil dan tak berdaya.

"Om..." panggil Thalia lirih, matanya yang besar menatap ke arah kerumunan pria itu dengan rasa bingung yang jujur

Ronald dan Sardhi terkesiap, memandang Thalia seolah baru saja melihat bidadari yang jatuh ke tengah-tengah sarang penyamun.

 Kontras antara kemurnian wajah Thalia

 dan bukti busuknya kelakuan Alula di layar ponsel nya yang belum sempat ia beri tahu pada Cavin .

" ada apa" tanya Cavin

" itu,em aku boleh pinjam toilet lagi" gumamnya pelan, padahal dia keluar lagi karena tidak tahu cara mengunakan toilet duduk tapi ia memilih tidak memberi tahu alasan nya ,ia akan melihat tutorial melalui hp nya saja seperti yang di pelajari dari sahabatnya itu.

 yang di jawab anggukan kepala oleh Cavin

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!