Dicampakkan demi masa depan! Arya tidak menyangka hubungan tiga tahunnya dengan Tiara berakhir tepat di gerbang kampus. Namun, saat Arya tenggelam dalam luka, ia tidak sadar bahwa selama ini ada sepasang mata yang terus mengawasinya dengan penuh gairah.
Arini Wijaya, CEO cantik berusia 36 tahun sekaligus ibu dari Tiara, telah memendam rasa selama sepuluh tahun pada pemuda yang pernah menyelamatkan nyawanya itu. Baginya, kegagalan cinta putrinya adalah kesempatan emas yang sudah lama ia nantikan.
"Jika putriku tidak bisa menghargaimu, maka biarkan 'Mbak' yang memilikimu seutuhnya."
Mampukah Arya menerima cinta dari wanita yang seharusnya ia panggil 'Ibu'? Dan apa yang terjadi saat Tiara menyadari bahwa mantan kekasihnya kini menjadi calon ayah tirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Kamar VVIP.
Arya Wiratama dan Indah Atmajaya telah menyelesaikan makan siang mereka. Pramusaji yang datang bersama tadi segera membereskan peralatan makan, memasukkannya ke dalam kotak makanan, membungkuk sedikit, lalu berjalan keluar ruangan.
Seketika ruangan itu menjadi sunyi senyap.
Arya menatap Indah yang menundukkan kepala seolah sedang menunggu vonis pengadilan, lalu membuka suara: "Indah."
Mendengar Arya memanggilnya, ia menjawab dengan perasaan waswas: "Mas Arya, katakanlah?"
"Indah, usiamu seharusnya baru 24 tahun, kan?"
"Emm."
"Kamu masih sangat muda, memiliki wajah yang sangat cantik. Meskipun aku tidak tahu latar belakang keluargamu, aku perkirakan kamu berasal dari keluarga papan atas. Di luar sana pasti banyak pemuda tampan, berbakat, dan berasal dari keluarga baik-baik yang mengejarmu. Mengapa harus merendahkan diri demi aku?"
"Mas Arya, sejujurnya, ayahku adalah seorang Gubernur, ibuku adalah Direktur Utama Grup Mahardika, dan aku sendiri adalah CEO di sana. Aku juga mengakui banyak pria hebat yang mengejarku, tapi aku hanya mencintaimu! Menyuruhku melepaskanmu adalah hal yang mustahil, karena hatiku tidak bisa lagi menerima pria lain."
Indah Atmajaya berhenti sejenak lalu melanjutkan: "Aku juga sudah membuat pilihan; entah mengikutimu seumur hidup, atau melajang selamanya."
"Hah..."
Arya sebenarnya ingin setuju, tapi di dalam hatinya masih ada ganjalan, yaitu Arini Wijaya. Ia merasa sedikit bersalah padanya.
"Ting, sistem menyarankan Tuan Rumah untuk setuju, jika tidak hadiah akan ditarik kembali dan diberikan hukuman berlipat ganda. Sistem ini juga mengingatkan Tuan Rumah bahwa Arini Wijaya pasti akan setuju, harap percaya pada sistem."
"Aku rasa Sistem Pilihan ini sebaiknya ganti nama saja jadi Sistem Bajingan, dasar tukang tipu," umpat Arya dalam hati.
Melihat Arya terdiam membisu, hati Indah Atmajaya terasa pedih. Ia mengira hari ini Mas Arya-nya masih belum bisa menerimanya, sehingga air mata pun mengalir tanpa kendali.
"Mas Arya, terlepas dari kamu setuju atau tidak, aku akan terus menunggumu!"
Melihat Indah Atmajaya bersedih, dan setelah adanya jaminan dari sistem, Arya tidak lagi menahan diri.
"Indah, aku menerimamu."
"Aku tahu itu hanya... Tunggu, Mas Arya setuju?!"
Indah Atmajaya mendongak dengan tatapan tidak percaya dan bertanya pada Arya: "Mas Arya, apa yang baru saja kamu katakan?"
"Aku bilang aku setuju."
"Benarkah?"
Arya mengangguk.
Indah Atmajaya tertegun sejenak, lalu tiba-tiba menerjang ke dalam pelukan Arya dan menangis keras.
"Huwaaa... Mas jahat, apa kamu tahu betapa sedihnya aku tadi?"
Arya memeluk Indah Atmajaya yang masuk ke dekapannya, menepuk punggungnya perlahan dan berkata: "Sudahlah Indah, jangan menangis lagi, bukankah seharusnya ini kabar gembira?"
"Ini tangisan bahagia, karena terlalu terkejut."
"Kalau menangis terus nanti jadi kucing belepotan lho."
Indah Atmajaya segera melepaskan pelukan Arya dan terisak: "Apakah sekarang aku terlihat sangat buruk?"
"Tidak buruk, cantik sekali."
"Hmph, pembohong."
Setelah berkata demikian, ia bangkit dan lari ke kamar mandi untuk merapikan riasannya.
Setelah merapikan diri, Indah Atmajaya keluar dari kamar mandi dan duduk di samping Arya. Ia merangkul lengan kiri Arya dengan tangan kirinya dan menyandarkan kepala di bahu pria itu, merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Mas Arya, mulai sekarang aku adalah istri kecilmu. Aku tidak menuntutmu menemaniku setiap hari, asalkan kamu punya waktu luang untuk menemani Indah, aku sudah sangat puas. Aku juga tidak akan berebut dirimu dengan Mbak Arini."
"Baiklah, aku janji padamu." Arya merasa sedikit tidak enak hati; gadis sebaik ini, kenapa malah harus aku "bajingani".
Indah Atmajaya mendongak, menggunakan tangannya untuk memposisikan wajah Arya agar menghadapnya, lalu menciumnya dengan canggung.
Keduanya berciuman panas selama empat atau lima menit. Saat bibir mereka terpisah, masih ada benang saliva yang tersisa.
Indah Atmajaya menatap bibir Arya yang sedikit lecet, lalu bertanya malu-malu: "Mas Arya, apakah aku sangat bodoh? Bahkan berciuman saja tidak bisa dengan benar."
"Tidak kok, yang pertama kali memang belum mahir, sering-sering berciuman nanti juga lancar sendiri."
"Ih benci deh, Mas Arya mengejekku." Sambil berkata demikian, ia memukul pelan dada Arya dengan kepalan tangan kecilnya.
"Mana berani aku."
"Lalu, kapan Mas Arya akan memilikiku sepenuhnya?"
"Eh, Indah, bukankah ini agak terlalu cepat?"
Mendengar Arya menolak penyerahan dirinya, Indah Atmajaya sedikit khawatir dan bertanya: "Apakah Mas Arya masih belum sepenuhnya menerimaku?"
"Bukan begitu, hanya saja rasanya perkembangannya terlalu cepat."
"Indah hanya ingin menjadi wanita Mas Arya. Hanya dengan menjadi wanita Mas Arya, barulah aku bisa merasa tenang."
"Sekarang tidak bisa, Arini tidak tahu kapan akan datang."
Meskipun Arini Wijaya bilang akan datang sekitar jam lima, tapi siapa yang tahu jika dia datang lebih awal.
"Mbak Arini mau datang? Kenapa tidak bilang dari tadi!"
Indah Atmajaya segera bangkit dan merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.
"Apakah Mbak Arini akan menjagamu lagi malam ini?"
"Dia ada urusan malam ini, hanya akan datang menjenguk lalu pergi."
"Emm, aku mengerti. Mas Arya, aku akan datang menemanimu malam ini."
Setelah berkata begitu, ia memutar tubuhnya dengan malu-malu dan hendak lari keluar bangsal.
Arya teringat akan hadiah Pil Panjang Umur dari sistem, segera memanggil Indah Atmajaya yang hampir keluar.
"Indah, tunggu sebentar!"
Mendengar Arya memanggilnya, ia menghentikan langkah, berbalik dan bertanya dengan rasa ingin tahu: "Apakah Mas Arya masih ada urusan?"
Arya mengeluarkan botol obat, menuangkan satu butir Pil Panjang Umur, berjalan maju dan menyerahkannya kepada Indah Atmajaya.
Indah Atmajaya menatap butiran pil hitam pekat di telapak tangannya dengan heran dan bertanya: "Obat apa ini? Kelihatannya mencurigakan."
"Tenang saja, ini bukan racun. Ini adalah Pil Panjang Umur yang susah payah kudapatkan. Tidak hanya memperpanjang usia dan membuang racun dalam tubuh, tapi juga bisa membuat awet muda dan kulit jadi glowing."
"Benarkah? Obat sehebat ini pasti sangat berharga, lebih baik Mas Arya saja yang memakannya."
"Tenang saja, aku punya tiga butir. Aku sudah makan satu, coba lihat kulitku sekarang bukankah sangat bagus? Dan apakah aku jadi jauh lebih tampan?"
Indah Atmajaya mengulurkan tangan menyentuh kulit Arya dan terkagum-kagum: "Wah benar, rasanya halus sekali."
Tadi ia hanya fokus memikirkan bagaimana agar Arya menerimanya, sehingga tidak memperhatikan perubahan fisik pada Arya.
"Satu butir untuk Arini, dan satu butir ini untukmu. Cepat kembali ke bangsalmu dan makanlah. Ingat, harus dimakan di dalam kamar mandi, dan sebaiknya jangan memakai pakaian."
Mendengar instruksi tidak memakai pakaian, Indah Atmajaya menjawab dengan wajah memerah.
"Aku mengerti."
Arya menatap Indah Atmajaya yang berjalan keluar, lalu berbaring kembali di tempat tidur dengan perasaan penuh gejolak.
"Kringgg..."
Suara nada dering ponsel memutus lamunan Arya. Melihat itu telepon dari kakaknya, ia segera mengangkatnya.
"Halo! Mbak!"
"Bocah nakal, sudah kecelakaan tapi tidak bilang pada Mbak. Kalau Mbak tidak meneleponmu, apa kamu akan terus merahasiakannya?"
"Mana mungkin, ini kan cuma karena belum sempat bilang saja."
"Sudah lebih baik? Di rumah sakit mana? Mbak akan menjengukmu setelah pulang kerja. Mau makan apa? Biar Mbak masakkan."
"Aku di RSUD Kota Semarang, bangsal VVIP nomor 288. Aku ingin makan sup iga buatan Mbak Ayu."
"Baiklah, nanti setelah pulang kerja Mbak buatkan dan bawa ke sana."
"Terima kasih, Mbak."
"Sama Mbak sendiri pakai sungkan segala. Mbak lanjut kerja dulu ya, sampai jumpa nanti malam."
"Dah, Mbak."
Setelah menutup telepon, Arya merasa sedikit lelah dan perlahan-lahan tertidur lelap.