Cerita ini adalah season dua dari karya "Cinta Masa Kecil Ustadz Athar"
***
"Abid... Kamu gak perlu merasa bertanggung jawab karna kemarin kita udah dalam posisi yang tak pantas, kita gak perlu menikah. Kita bisa menolak dan mengatakan itu pada kakek kamu dan semua orang. Kita gak harr-"
"Harus." Athar memotong ucapan Azzura cepat. "Kamu harus tanggung jawab."
"Loh kok aku? Dimana-mana yang dimintai pertanggungjawaban itu laki-laki, masa perempuan!" Azzura makin sewot.
"Ya udah ayo kita nikah kalau gitu. Aku mau tanggung jawab kok, meski kamu yang kemarin cium aku duluan."
"Ya itu karna gak sengaja, Abid. Kamu yang narik aku."
"Maka dari itu aku tanggung jawab."
Itu semua berawal dari Azzura yang berniat untuk mengagetkan Ayza tapi ia tidak tau bahwa itu Abidzar terjadilah mereka jatuh bersamaan dengan posisi tak pantas.
***
"aku kaya orang udah gak waras mau setuju aja nikah sama kamu!"
***
"Jadi kamu sudah tau apa tugas istri yang sesungguhnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang Keputusan
Setelah malam perayaan Maulid Nabi Muhammad usai dan lantunan sholawat perlahan mereda, suasana pesantren masih tetap riuh. Para santri sibuk membereskan perlengkapan acara, sebagian lainnya masih bercengkerama dengan wajah berbinar.
Namun keadaan itu berbanding terbalik dengan suasana di dalam ndalem.
Hening. Mencekam.
Ruang tamu besar yang biasanya digunakan untuk menerima tamu-tamu penting kini berubah fungsi. Malam itu, ruangan itu seolah menjadi ruang sidang—tempat Abidzar dan Azzura duduk berhadapan dengan kenyataan pahit.
Di ujung meja, Kyai Abdul Hamid duduk dengan punggung tegak, sorot matanya tajam namun sarat kekecewaan. Di sampingnya, Gus Alif dan istrinya, Hafiza, tampak diam dengan wajah berat. Di sisi lain, Ustadz Athar dan Arsyila duduk berdampingan, sementara Azzam berada sedikit di belakang, memilih menjadi pendengar.
Ayzara dan Ayesha sama sekali tidak diizinkan masuk. Meski begitu, rasa penasaran membuat keduanya mengintip dari balik pintu—karena tak biasanya kakek mereka mengadakan musyawarah larut malam seperti ini.
Azzura dan Abidzar duduk saling berseberangan. Keduanya tertunduk. Tidak ada yang berani membuka suara.
Kecuali Kyai Abdul Hamid.
“Nak…” suara lelaki sepuh itu berat. “Sekarang jawab pertanyaan saya. Kenapa kalian bisa—”
Ucapannya terhenti.
Kyai Abdul Hamid menutup mata sejenak, seolah sedang menahan sesuatu di dadanya. Kekecewaan jelas tergambar di wajahnya. Ia tak pernah menyangka cucu kebanggaannya akan berada dalam situasi seperti ini.
“Abidzar,” lanjutnya pelan namun tegas. “Kamu tau apa yang sudah kamu lakukan malam ini?”
Abidzar mengangkat wajahnya. Tatapannya lurus, penuh keyakinan. “Kakek… demi Allah, Abidzar tidak melakukan apa pun seperti yang kalian pikirkan. Abidzar berani bersumpah.”
“Lalu apa yang Abah dan Umi kamu lihat tadi?” potong Kyai Abdul Hamid.
“Tidak mungkin dua pasang mata keliru melihat. Jika hanya satu orang, mungkin masih bisa disebut salah paham. Tapi ini kedua orang tua kamu, Bid.”
Azzura tak sanggup diam. “Yang Abidzar katakan benar, Kyai,” ucapnya dengan suara bergetar. “Zura juga berani bersumpah.”
Ia menoleh pada Athar dan Arsyila. Dadanya sesak melihat raut kecewa di wajah keduanya—raut yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
“Abi…” suaranya melemah.
“Demi Allah, Zura tadi gak sengaja. Tolong Abi… percaya sama Zura.”
Azzura menggenggam ujung gamisnya, menatap Athar penuh harap.
Lalu beralih ke Arsyila. “Umma…”
Namun Arsyila tetap menunduk, menahan air mata.
Kyai Abdul Hamid menarik napas panjang. “Kalau begitu, jelaskan. Kenapa kalian bisa jatuh bersama dengan posisi yang tidak pantas. Dan kenapa bibirmu sampai menyentuh pipi Abidzar.”
Azzura mengangguk pelan, lalu mulai menceritakan semuanya. “Jadi sebelum Zura naik, Zura sempat tanya ke Umi Hafiza… apakah Ayza ada di kamarnya. Umi bilang ada.”
“Benar begitu, Fiza?” tanya Kyai Abdul Hamid.
“Benar, Abah,” jawab Hafiza lirih.
“Lanjutkan, Nak.”
Azzura menelan ludah. “Zura ke atas, ke depan kamar Ayza. Zura cuma iseng mau ngagetin dan kasih surprise. Tapi Zura gak tau kalau yang keluar itu Abidzar. Kami sama-sama kaget. Abidzar reflek mundur, dan saat itu tangannya gak sengaja menarik gamis Zura. Kami jatuh bersamaan.”
Setelah Azzura selesai, semua mata kini tertuju pada Abidzar.
“Sekarang giliranmu,” ujar Kyai Abdul Hamid.
Abidzar mengangguk.
“Abidzar ke kamar Ayza untuk ambil charger yang dia pinjam. Tapi ternyata Ayza gak ada di kamar. Abid pikir dia di dalam. Saat Abid keluar, Azzura berdiri di depan pintu dan membuat Abidzar kaget. Kami jatuh tanpa disengaja. Sungguh, Kek… itu semua murni kecelakaan. Dan tidak disengaja."
Hening kembali menyelimuti ruangan.
Kyai Abdul Hamid terdiam lama. Terlalu lama.
Azzura dan Abidzar hanya bisa saling melirik, harap-harap cemas menunggu keputusan.
Lalu suara itu akhirnya terdengar. “Apa kalian siap menikah?”
Semua orang serentak menoleh.
Kyai Abdul Hamid melanjutkan dengan nada tenang namun tegas. “Kakek tidak ingin memaksakan apa pun. Tapi kejadian ini—meski tidak disengaja—tetap membawa mudarat. Terutama bagi Azzura.”
Ia menoleh ke Athar.
“Sebagai kakek Abidzar, saya melamar Azzura untuk cucu saya. Ini tanggung jawab kami. Ustadz Athar, mohon maaf… hanya ini jalan yang paling menjaga kehormatan semua pihak.”
“Tapi—” Azzura refleks berdiri. “Zura tidak harus menikah dengan Abidzar, Abah Yai.”
“Zura!” suara Athar menegur, membuat Azzura terdiam seketika.
Kyai Abdul Hamid tersenyum tipis. “Sudah malam. Kita semua sedang lelah. Besok pagi setelah Subuh, keputusan akan diambil. Malam ini, Azzura boleh salat istikharah. Mintalah petunjuk pada Allah.”
Satu per satu mereka berdiri.
Azzura menjadi orang terakhir yang meninggalkan ruangan. Lalu menyusul keluarganya.
Di dalam mobil, suasana sunyi menusuk. Tak satu pun berbicara. Raut kecewa Athar dan Arsyila terasa begitu nyata.
Azzam yang duduk di samping Azzura akhirnya menggenggam tangan adiknya. “Ada abang,” bisiknya.
Azzura menoleh, tersenyum tipis meski matanya basah.
Setibanya di rumah, Athar menatap Azzura sebentar. “Zura, lebih baik istirahat sekarang.”
“Abi—”
Namun Athar sudah beranjak pergi, menggenggam tangan Arsyila menuju kamar.
Tangis Azzura pun pecah.
“Abang…” suaranya parau.
Azzam langsung memeluk adiknya. “Sudah, dek. Jangan dulu dipikirkan. Besok kita cari jalan terbaik.”
“Abang…” Azzura terisak. “Gimana kalau aku benar-benar dinikahkan sama Abidzar?”
Azzam terdiam sesaat. “Kalau itu yang terjadi, berarti kalian memang berjodoh. Dan itu mungkin yang terbaik. Abidzar itu orang baik, Zura. Abang tau.”
Azzura mendongak, menatap Azzam kesal di tengah tangisnya. “Huh! Abang itu namanya bukan solusi!”
Azzam tersenyum kecil, mengusap kepala adiknya. “Kadang, solusi datang bukan dari apa yang kita mau… tapi dari apa yang Allah pilihkan.”
Azzura terdiam.
Dan malam itu, hatinya diliputi ketakutan—bukan karena Abidzar… melainkan karena kemungkinan takdir yang tak bisa ia tolak.
***
Arsyila duduk di tepi ranjang, jemarinya saling bertaut. Wajahnya tidak tenang sejak tadi. Athar yang baru saja mengenakan peci menghentikan gerakannya ketika menyadari tatapan istrinya yang penuh kegelisahan.
“Abang…” suara Arsyila lirih, “kalau Zura dan Abidzar benar-benar menikah… bagaimana menurut abang?”
Athar menoleh, menatap istrinya dengan sorot mata yang teduh. “Berarti memang sudah takdir dan jodoh mereka, sayang.”
“Tapi kan gak harus seperti ini, bang,” suara Arsyila bergetar. “Bisa saja jalannya lebih lembut… lebih siap.”
Athar mendekat, duduk di sampingnya. “Kita doakan saja yang terbaik. Tidak semua jalan jodoh datang sesuai rencana manusia.”
“Zura masih sangat muda, bang…”
Athar tersenyum kecil. “Adek dulu bagaimana?” katanya pelan. “Bahkan kamu lebih muda dari umur Zura sekarang.”
Arsyila terdiam sesaat, lalu menghela napas. “Terus kuliahnya Zura?”
“Kamu juga menikah sambil sekolah, dek,” jawab Athar lembut, tanpa nada menggurui.
“Ya Allah, abang…” Arsyila menutup wajahnya sesaat. “Aku itu paham… aku mengerti bagaimana rasanya menikah bukan dari pilihan sendiri. Walaupun akhirnya kita bahagia, tapi… abang ngerti kan maksud aku?”
Athar meraih tangan istrinya, menggenggamnya erat. “Abang sangat mengerti,” ucapnya pelan namun mantap. “Justru karena abang pernah ada di posisi itu, abang tidak akan gegabah.”
Arsyila menatap suaminya. “Terus kenapa abang terlihat begitu tenang?”
Athar menarik napas dalam. “Karena abang melihat satu hal yang tidak semua orang bisa lihat.”
“Apa itu?”
“Abang sudah lama merasa… Abidzar menyimpan perasaan pada putri kita.”
Arsyila terkejut. “Sejak kapan?”
“Sejak lama. Dari caranya menjaga adab, dari caranya menahan diri, dari caranya memandang Zura tanpa pernah melewati batas.”
Arsyila terdiam, lalu tersenyum kecil getir.
"kamu sendiri yang sering bilang kan… Abidzar itu laki-laki saleh, pintar, dan… iya, ganteng.”
Arsyila ikut tersenyum. “Iya sih. Rasanya seperti mengulang cerita kita dulu, ya?”
“Kurang lebih sama,” jawab Athar pelan. “Bedanya, kita sudah tau akhirnya.”
Arsyila menunduk. “Jadi keputusan abang bagaimana?”
Athar menggenggam tangan istrinya lebih erat, menatapnya dengan keyakinan penuh.
“Keputusan abang,” katanya tegas namun hangat,
“adalah memastikan Zura tidak sendirian dalam pernikahan ini.”
“Abang tidak akan memaksa Zura mencintai Abidzar,” lanjutnya. “Tapi abang yakin, Abidzar adalah laki-laki yang bisa menjaga, menghormati, dan bersabar.”
Athar mengusap punggung tangan Arsyila. “Dan jika suatu hari Zura menangis… Abidzar tidak akan menjadi sebabnya, melainkan orang pertama yang menghapus air matanya.”
Arsyila menitikkan air mata. “Abang yakin?”
“Insyaa Allah,” jawab Athar mantap. “Kalau Abidzar menyakiti putri kita, abang sendiri yang akan berdiri paling depan.”
Arsyila mengangguk pelan. “Baiklah, bang… kita pasrahkan pada Allah.”
Athar tersenyum. “Kita bukan sedang menyerahkan Zura pada Abidzar,” ucapnya bijak. “Namun sedang menitipkannya pada takdir yang Allah pilihkan.”
***
Athar berdiri sendiri di sudut kamar, tepat di hadapan jendela yang masih basah oleh embun subuh. Suara burung belum sepenuhnya ramai. Waktu terasa menggantung, seolah ikut menahan napas bersamanya.
Ia mengenakan peci hitamnya perlahan, lalu duduk di atas sajadah. Kedua tangannya terangkat, tidak tinggi—hanya setinggi dada, seperti orang yang tidak menuntut, melainkan memohon.
“Ya Allah…”
Suara Athar nyaris tak terdengar, namun sarat makna.
“Engkau Maha Mengetahui apa yang tidak kami ketahui. Engkau Maha Mengatur jalan hidup hamba-hamba-Mu.”
Ia menghela napas panjang, menunduk.
“Ya Rabb… aku titipkan putriku pada-Mu. Anak yang lahir dari doaku, tumbuh dari air mataku, dan hidup dari amanah yang Kau titipkan padaku.”
Athar menelan ludah. Dadanya mengencang.
“Jika peristiwa ini adalah ujian, kuatkanlah kami. Jika ini adalah jalan-Mu, lapangkanlah hati anakku.”
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih lirih.
“Jangan Kau biarkan ia merasa sendirian dalam pernikahan yang belum ia minta. Jangan Kau jadikan pernikahan ini sebagai beban, tapi jadikan ia tempat pulang.”
Kening Athar menyentuh sajadah. “Ya Allah, jika Abidzar adalah jodoh terbaik baginya, maka tanamkanlah dalam diri laki-laki itu rasa takut kepada-Mu sebelum rasa memiliki pada istrinya. Jadikan dia pelindung, bukan penguasa. Penjaga, bukan penuntut.”
Air mata Athar jatuh tanpa suara. “Dan jika hati putriku masih bergetar, tenangkanlah. Jangan Kau hukum ia dengan kesedihan karena ketaatannya pada orang tua.”
Ia mengusap wajahnya perlahan.
“Ya Allah… aku datang pada para ulama-Mu bukan dengan kesombongan seorang ayah, tapi dengan kerendahan seorang hamba.”
Athar menutup doanya dengan napas panjang. “Cukupkan aku dengan rida-Mu. Jangan Engkau cabut keberkahan dari keluarga kami.”
Ia bangkit perlahan, melangkah keluar kamar.
Dengan satu keyakinan yang ia genggam erat:
Apa pun keputusan hari ini,
Allah tidak pernah salah menempatkan hamba-Nya.
ckckck mau cari gr"🤭
apa lgi nggak ksh kabar,,,,
maaf kmungkinan coklat kamu nggak mempan ya abidz
awas kamu abidz bilang telat🤭
mereka yg cerita,aku yang masyallah dag dig dug