"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."
Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.
Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.
Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.
Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Iblis Yang Terluka
SUARA pecahan kaca terdengar lagi, kali ini diikuti oleh hantaman benda berat ke dinding. Aria tidak berhenti. Ia mengabaikan peringatan pelayan tua itu dan terus melangkah di koridor yang remang-remang. Setiap langkahnya terasa seperti mendekati kandang singa yang sedang terluka.
Saat ia sampai di depan pintu kamar utama yang terbuka sedikit, ia membeku.
Kamar yang tadinya rapi dan dingin kini seperti medan perang. Lampu meja hancur, kursi terguling, dan pecahan botol wiski berserakan di lantai, menguapkan aroma alkohol yang menyengat.
Di tengah kekacauan itu, Dante Moretti berlutut di lantai.
Punggungnya yang lebar tampak naik turun dengan napas yang memburu. Ia tidak mengenakan baju, hanya celana hitamnya, memperlihatkan jaringan parut yang mengerikan di punggungnya—bekas cambukan tua yang berjejer seperti peringatan masa lalu yang kelam.
"Keluar..." suara Dante parau, rendah, dan penuh dengan ancaman yang gemetar.
Aria menelan ludah, tapi kakinya tidak bergerak mundur. "Kau menghancurkan rumahmu sendiri, Dante."
Dante berbalik dengan kecepatan kilat. Matanya merah, bukan karena menangis, tapi karena amarah dan rasa sakit yang murni. Di tangannya, ia memegang sebuah pecahan kaca yang besar, ujungnya yang tajam telah mengiris telapak tangannya sendiri hingga darah menetes ke lantai marmer.
"Kubilang KELUAR!" teriaknya. Suaranya menggelegar, membuat Aria tersentak.
Aria menatap mata itu—mata yang biasanya seperti badai es, kini terlihat seperti anak kecil yang sedang tenggelam dalam mimpi buruk. Ia teringat foto yang ia temukan di perpustakaan. Pria di foto itu, ayah Dante, pasti yang memberikan bekas luka di punggungnya.
Bukannya lari, Aria justru melangkah masuk ke dalam pecahan kaca itu.
"Hentikan, Dante. Kau menyakiti dirimu sendiri," ucap Aria lembut, meskipun jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa bisa pingsan.
Dante berdiri, langkahnya goyah namun tetap mengancam. Ia mendekati Aria, menempelkan ujung pecahan kaca yang berdarah itu tepat di bawah dagu Aria.
"Kau pikir kau siapa? Kau pikir karena aku menikahimu, kau punya hak untuk melihatku seperti ini? Kau hanyalah barang milikku, Aria. Dan barang tidak seharusnya punya rasa kasihan."
Aria tidak memalingkan wajah. Ia merasakan dinginnya kaca dan tetesan darah Dante yang hangat menyentuh lehernya.
"Aku tidak kasihan padamu. Aku hanya tidak suka melihat sekutuku kehilangan akal sehatnya sebelum perang kita dimulai."
Dante terdiam. Napasnya yang panas menerpa wajah Aria. Cengkeramannya pada kaca itu mengendur sedikit demi sedikit hingga akhirnya benda itu jatuh dan berdenting di lantai.
Tiba-tiba, Dante menyandarkan kepalanya di bahu Aria. Tubuhnya yang besar dan berat itu seolah kehilangan seluruh kekuatannya. Aria membeku, tangannya menggantung di udara, tidak tahu harus berbuat apa. Namun, saat ia mendengar napas Dante yang terputus-putus, ia memberanikan diri untuk melingkarkan tangannya di bahu pria itu.
Untuk beberapa menit, tidak ada suara selain detak jam dinding dan napas mereka. Di kamar yang hancur itu, sang penjagal dari Milan membiarkan musuhnya memegangnya agar tidak jatuh.
"Mereka tidak pernah berhenti berteriak, Aria," bisik Dante, suaranya nyaris tidak terdengar.
"Siapa?"
"Orang-orang yang harus kubunuh agar aku bisa tetap hidup. Dan wanita di foto itu..."
Dante menarik diri sedikit, menatap Aria dengan pandangan kosong. "Ibuku. Dia mati untuk melindungiku dari pria yang seharusnya melindunginya."
Aria merasakan sesak di dadanya. Ia menyentuh pipi Dante, menghapus noda darah di sana dengan ibu jarinya.
"Ayahmu?"
Dante tertawa pahit, sebuah suara yang kering dan hampa.
"Dia bukan ayah. Dia adalah setan yang memberikan tahtanya padaku setelah dia memastikan aku tidak lagi punya jiwa yang tersisa. Dan sekarang, Julian Vane ingin menjadi seperti dia."
Aria menyadari bahwa mereka berdua adalah korban dari monster yang sama, hanya saja mereka bereaksi dengan cara yang berbeda. Aria memilih hukum dan kebenaran, sementara Dante memilih menjadi monster yang lebih besar agar tidak ada lagi yang bisa menyakitinya.
"Kita akan menghancurkan mereka, Dante," ucap Aria dengan keyakinan yang baru. "Bukan karena kita baik, tapi karena mereka pantas mendapatkannya."
Dante menatap Aria, dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu selain kegelapan di matanya. Ada sebuah pengakuan. Sebuah koneksi yang berbahaya.
Dua Jam Kemudian.
Setelah kekacauan mereda, Aria membantu membalut tangan Dante. Mereka duduk di tepi tempat tidur yang masih utuh.
Suasananya sunyi, tapi tidak lagi mencekam.
"Besok malam di pelabuhan," Dante memulai, suaranya kembali ke nada dingin yang biasa, meskipun ada sedikit sisa kelelahan di sana.
"Ini bukan sekadar pemeriksaan logistik. Aku mendapat info bahwa ayahmu akan mencoba menyelundupkan kiriman besar bahan baku narkoba tanpa sepengetahuan keluarga Moretti."
Aria mengencangkan perban di tangan Dante. "Dia menggunakan jalur pribadiku. Jalur yang dulunya kusiapkan untuk yayasan sosialku."
Dante mendengus. "Dia licik. Dia tahu para penjaga pelabuhan tidak akan memeriksa kargo dengan nama yayasanmu. Dia ingin menggunakannya satu kali terakhir sebelum jalur itu sepenuhnya jatuh ke tanganku."
"Apa rencanamu?"
"Kita akan membiarkannya mengirim barang itu," jawab Dante, matanya berkilat jahat. "Lalu kita akan menyitanya di depan polisi yang sudah kubayar. Kita akan membuat Julian Vane kehilangan jutaan dolar dalam satu malam, dan yang paling penting, kita akan merusak reputasinya di depan sindikat internasional."
Aria mengangguk. "Aku punya dokumen legalitas untuk jalur itu. Aku bisa membuktikan bahwa pengiriman itu ilegal bahkan tanpa harus menggunakan kekerasan."
Dante menoleh ke arahnya, sebuah senyum tipis—hampir seperti senyum bangga—muncul di wajahnya. "Gunakan otakmu, Aria. Aku akan menggunakan senjataku. Kita lihat apakah kombinasi ini bisa meruntuhkan kerajaan Vane."
Pelabuhan Utara, Pukul 02.00 Dini Hari
Angin laut bertiup kencang, membawa aroma garam dan karat. Aria berdiri di samping Dante di atas dek pengamatan yang gelap, menghadap ke deretan kontainer raksasa. Ia mengenakan mantel hitam panjang, tangannya tersembunyi di saku, memegang pisau lipat yang diberikan Dante.
Di bawah sana, beberapa pria dengan jaket kulit tampak sibuk menurunkan kotak-kotak dari sebuah kapal kargo kecil. Salah satu dari mereka adalah orang kepercayaan ayah Aria.
"Itu mereka," bisik Aria.
Dante memberi isyarat melalui radio kecil di telinganya. "Masuk."
Tiba-tiba, lampu sorot raksasa menyala, menyilaukan orang-orang di bawah. Belasan pria bersenjata Moretti muncul dari balik kontainer, mengepung kelompok kecil itu.
"Jangan bergerak! Keluarga Moretti mengambil alih kargo ini!" teriak Marco, pria yang semalam dihina Dante, kini tampak ingin membuktikan loyalitasnya.
Aria dan Dante turun dari dek pengamatan. Langkah kaki mereka bergema di atas beton. Saat mereka sampai di depan kelompok penyelundup, pria kepercayaan Julian Vane, seorang pria bernama Enzo, tampak pucat pasi.
"Nona Aria? Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Enzo gemetar.
"Melakukan apa yang seharusnya kulakukan sejak dulu, Enzo," jawab Aria dingin. Ia mengeluarkan map plastik berisi dokumen.
"Kontainer ini tercatat atas nama yayasan 'Bright Future'.
Di dalamnya seharusnya berisi buku dan alat medis. Jika aku membuka satu saja dan menemukan heroin... maka kau dan ayahku telah melakukan pelanggaran kontrak berat dengan Moretti."
Aria melangkah maju, mengambil sebuah linggis dari lantai dan memberikannya kepada Dante. "Buka."
Dante tidak perlu diminta dua kali. Dengan satu gerakan kuat, ia mencongkel tutup kotak kayu teratas. Saat tutupnya terbuka, ribuan paket plastik berisi bubuk putih tumpah ke lantai.
"Sepertinya buku-bukumu punya efek samping yang sangat kuat, Aria," sindir Dante.
Dante berbalik ke arah Enzo, menodongkan pistol tepat ke keningnya.
"Telepon Julian. Sekarang. Katakan padanya bahwa putrinya baru saja membakar semua investasinya."
Enzo gemetar saat ia menekan nomor di ponselnya. Suara Julian Vane terdengar dari speaker telepon, terdengar sangat percaya diri.
"Enzo? Apakah barangnya sudah bergerak?"
"Ayah," Aria memotong, suaranya tenang namun penuh racun. "Barangnya tidak bergerak ke mana-mana. Barangnya ada di tanganku. Dan Dante sedang berdiri di sampingku."
Keheningan yang mematikan terjadi di seberang telepon.
"Aria... apa yang kau lakukan?" suara Julian kini terdengar rendah dan penuh amarah.
"Kau tidak tahu apa yang kau pertaruhkan."
"Aku tahu persis apa yang kupertaruhkan, Ayah. Aku mempertaruhkan nyawaku untuk melihatmu membusuk di penjara atau di lubang tanah. Pilih salah satu," jawab Aria.
Dante merebut ponsel itu dari tangan Enzo. "Julian, terima kasih atas kirimannya. Aku akan menganggap ini sebagai mahar pernikahan yang telat. Jangan coba-coba mengirim orang untuk mengambilnya kembali, atau aku akan mengirimkan potongan tubuh Enzo ke kantormu besok pagi."
Dante mematikan telepon dan menghancurkannya dengan tumit sepatunya.
"Kerja bagus, Istriku," ucap Dante. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Aria di depan semua anak buahnya, sebuah pernyataan dominasi sekaligus perlindungan.
"Sekarang, mari kita buat api unggun terbesar yang pernah dilihat pelabuhan ini."
Dante memerintahkan anak buahnya untuk menyiram kargo itu dengan bensin. Saat api mulai berkobar menjilat langit malam, Aria berdiri di samping Dante. Cahaya api itu memantul di mata mereka berdua—dua jiwa yang rusak, bersatu dalam kehancuran yang mereka ciptakan sendiri.
Tiba-tiba, sebuah peluru melesat dari kegelapan, mengenai bahu Marco yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Penyergapan!" teriak seseorang.
Dante bereaksi dalam hitungan detik. Ia menarik Aria ke belakang sebuah kontainer baja tepat saat rentetan peluru menghujam tempat mereka berdiri tadi.
"Tunggu di sini! Jangan keluar!" perintah Dante, matanya kembali ke mode predator.
"Dante, tunggu!" Aria menarik kaos Dante.
"Ada penembak jitu di atas derek nomor empat!"
Dante menoleh ke arah yang ditunjuk Aria. Ia tersenyum miring, sebuah senyum yang haus darah. "Tetap merunduk, Aria. Saatnya melihat bagaimana 'The Butcher' bekerja."
Aria memperhatikan Dante yang bergerak dengan kelincahan yang mustahil bagi pria sebesar itu, menghilang di balik bayang-bayang pelabuhan. Di tengah desingan peluru dan kobaran api, Aria menyadari satu hal yang menakutkan.
Ia tidak lagi merasa jijik pada kekerasan ini. Ia justru merasa... hidup.