Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.
"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"
[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Ujian Evaluasi dan Sabotase Pertama
Arena Utama Sekte Qingyun dipenuhi aroma dupa yang menyengat dan ketegangan yang mengendap di udara. Ratusan murid luar berbaris rapi, membentuk formasi persegi di bawah pengawasan ketat para instruktur. Di bagian tengahnya, sebuah pilar batu hitam berdiri tegak, itu adalah Alat Penguji Qi yang akan merekam setiap inci kemajuan kultivasi mereka bulan ini. Bagi banyak orang, ini adalah hari pembuktian. Bagi Ji Zhen, ini adalah medan perang pertama.
Ia berdiri di barisan tengah, membiarkan jubahnya tertiup angin kencang. Matanya fokus, mengabaikan lirikan-lirikan tajam dari murid di sekelilingnya. Namun, sebelum namanya sempat dipanggil oleh wasit, seorang murid penegak hukum mendekat dengan wajah kaku.
“Ji Zhen. Ikut kami. Patriark dan Tetua Ma menunggumu di ruang pemeriksaan,” ucap murid itu tanpa ekspresi.
Bisikan demi bisikan seketika menjalar di antara barisan murid. Ji Zhen menarik nafas dalam, merasakan qi naga yang masih terasa asing di pusat energinya. Ia tidak punya pilihan selain melangkah mengikuti mereka menuju bangunan megah di sisi utara arena.
Di dalam ruangan yang luas itu, suasananya terasa sangat menekan. Patriark Fei Wang duduk di kursi utama, sementara di sampingnya berdiri Tetua Ma atau ayah dari Ma Yingjie yang menatap Ji Zhen dengan mata menyipit penuh kecurigaan.
“Ji Zhen,” suara Patriark Fei Wang memecah keheningan. “Kembalinya kau dari Gunung Bingfeng masih menjadi bahan perdebatan di antara para tetua. Jelaskan padaku sekali lagi, bagaimana seseorang dengan bakat sepertimu bisa bertahan hidup di puncak yang mematikan itu?”
Ji Zhen menundukkan kepala, namun bahunya tetap tegak. Ia sudah menyiapkan jawaban ini berkali-kali di kepalanya. “Saya hanya beruntung, Patriark. Saat badai salju menghantam, saya menemukan sebuah gua tersembunyi. Di dalamnya, qi terasa sedikit lebih tebal dan terlindung dari angin luar. Saya bertahan di sana, berlatih dengan seluruh sisa tenaga saya hingga badai mereda. Latihan keras selama bertahun-tahun di sekte ini akhirnya membuahkan hasil saat nyawa saya berada di ujung tanduk.”
Tetua Ma yang merasa gelisah akhirnya melangkah maju, auranya yang kuat menekan lantai kayu hingga berderit. “Hanya keberuntungan? Kau membawa Bunga Hanling yang bahkan sulit didapatkan oleh murid inti. Apa kau menggunakan metode terlarang? Obat-obatan iblis atau teknik yang menyimpang dari ajaran sekte?”
“Saya tidak berani melakukan hal sehina itu, Tetua Ma,” jawab Ji Zhen tenang, meski ia merasakan qi di dalam tubuhnya mulai bergolak merespon tekanan tersebut. “Saya hanya seorang murid yang ingin membuktikan diri. Tidak lebih.”
Patriark Fei Wang terdiam, matanya menembus langsung ke arah Ji Zhen, mencari jejak kebohongan. Namun, Ji Zhen telah mengunci rapat rahasia tentang Zulong di balik dinding kesadarannya yang paling dalam. Tapi lagi-lagi tidak ada bukti fisik, tidak ada aroma qi iblis. Hanya hawa dingin yang wajar didapatkan dari pegunungan es.
“Baiklah,” Patriark akhirnya bersuara. “Kau boleh kembali ke arena. Tapi ingat, Ji Zhen, gunakanlah kekuatanmu di jalan yang benar. Sekte ini punya aturan yang sangat ketat bagi siapa saja yang berani mencemari kemurnian kultivasi dengan cara-cara kotor.”
Ji Zhen memberi hormat dan segera keluar. Ia tahu mereka tidak percaya, namun setidaknya untuk saat ini, ia masih aman.
Saat Ji Zhen kembali ke arena, suasana sudah semakin panas. Tiba gilirannya untuk maju ke depan pilar penguji. Ia melangkah mantap, mengabaikan seringai Ma Yingjie yang berdiri di antara kerumunan murid unggulan. Ji Zhen ingin menunjukkan bahwa ia telah menembus Penghimpunan Qi Lapis Lima atau Puncak yang berarti setara dengan sang jenius.
Ia berdiri di depan pilar hitam itu, mengatur aliran qi di dalam meridian, lalu mengangkat telapak tangannya, menempelkannya pada permukaan batu yang dingin.
Kini Ji Zhen mulai menyalurkan qi naga ke dalam alat tersebut. Ia bisa merasakan batu itu mulai merespon, menyerap energinya untuk dikonversi menjadi angka. Namun, tepat saat ia akan mengerahkan kekuatannya secara penuh, ia merasakan getaran aneh dari dalam pilar.
BZZZT!
Simbol-simbol di permukaan pilar mendadak berkedip merah terang. Ji Zhen merasakan aliran energinya terhambat oleh sirkuit qi tersembunyi yang sengaja ditanam di dalam alat tersebut.
“Tunggu, ini—”
DUAR!
Ledakan energi terjadi tepat di permukaan pilar. Kekuatan ledakan itu melempar tubuh Ji Zhen beberapa langkah ke belakang. Asap hitam mengepul, dan bau logam terbakar memenuhi udara. Tangan kanan Ji Zhen pun gemetar, kulitnya memerah dan melepuh akibat panas mendadak yang keluar dari alat tersebut.
“Ji Zhen, gagal!” teriak wasit dengan suara lantang. “Ketidakmampuan mengendalikan aliran energi secara stabil mengakibatkan arus balik pada pilar penguji. Kau membahayakan peralatan sekte. Silakan coba lagi bulan depan!”
Gelak tawa meledak seketika, jauh lebih keras dari biasanya.
“Hahaha! Sudah kubilang, sampah tetaplah sampah!”
“Mau pamer kekuatan malah meledakkan alat. Benar-benar memalukan!”
Ji Zhen berdiri perlahan, memegangi pergelangan tangan kanannya yang terasa perih. Ia menatap pilar yang kini retak di bagian tengahnya. Matanya kemudian beralih ke arah Ma Yingjie. Pemuda genius itu tidak tertawa keras, ia hanya memberikan senyum tipis yang penuh kemenangan. Sudah jelas ini sabotase yang sangat halus. Hanya seseorang dengan akses ke departemen peralatan atau dukungan tetua yang bisa melakukan hal seperti ini.
“Kau sudah tahu siapa yang melakukannya, kan?” suara Zulong berbisik di dalam benaknya, dingin dan penuh ejekan.
“Aku tahu,” jawab Ji Zhen dalam hati. Rahangnya mengeras, namun ia memaksa dirinya untuk tetap tenang. Ia tidak akan memberikan mereka kepuasan dengan meledakkan amarah di sini.
“Lalu apa yang akan kau lakukan? Merengek pada Patriark?” lanjut Zulong.
Ji Zhen tidak menjawab secara langsung. Ia hanya menatap Ma Yingjie dengan intensitas yang sangat tajam, seolah-olah sedang menandai mangsanya. “Aku akan membuatnya menyesal. Tapi bukan sekarang. Belum waktunya bagi cacing untuk melawan elang di depan umum.”
Malam harinya, di dalam kamarnya yang sunyi, Ji Zhen duduk bersila. Tangan kanannya sudah dibalut kain setelah diolesi tanaman obat seadanya. Rasa perihnya masih terasa, namun itu justru menjadi pengingat yang bagus tentang betapa kotornya permainan di dalam sekte ini.
Ia segera menarik qi, memaksa energinya mengalir melalui meridian yang terluka. Rasa sakitnya luar biasa, membuat keringat dingin bercucuran di dahinya. Darah segar merembes dari sudut bibirnya, menandakan beban berat yang diterima tubuhnya.
“Jangan memaksakan tubuhmu, Bocah,” Zulong memperingatkan, kali ini suaranya tidak terlalu tajam. “Jika meridian di tanganmu itu hancur total, kau tidak akan pernah bisa menggunakan teknik tempur naga seumur hidupmu.”
“Aku tahu batasku!” kilah Ji Zhen dengan nada yang sangat tajam. “Tapi aku juga tahu… jika aku tidak cukup kuat dengan cepat, mereka akan terus menginjakku sampai aku benar-benar terkubur. Sabotase hari ini hanya permulaan. Mereka ingin menyingkirkanku secara perlahan.”
Zulong terdiam. Untuk pertama kalinya, sang naga merasakan sesuatu yang menyerupai simpati, atau mungkin hanya ketertarikan yang semakin besar pada ambisi gila yang dimiliki oleh wadahnya ini. Ji Zhen tidak pernah mengeluh, tidak pernah menyalahkan keadaan. Ia hanya terus melaju, meski tubuhnya penuh dengan luka.
“Baiklah. Jika kau ingin kekuatan, maka telanlah rasa sakit itu,” ucap Zulong. “Stabilkan qi-mu di Lapis Puncak. Jangan biarkan sisa ledakan tadi merusak jalur energimu. Es sejati tidak akan pernah retak hanya karena sedikit hawa panas.”
Menerima masukan itu, Ji Zhen memejamkan mata, membiarkan hawa dingin naga menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia sadar sepenuhnya bahwa kejujuran dan kerja keras tidak akan pernah cukup di dunia yang penuh tipu daya ini. Ia harus menjadi lebih licik, lebih cepat, dan jauh lebih kuat daripada siapa pun yang mencoba menghalangi jalannya.