NovelToon NovelToon
Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Terbangun Menjadi Istri Sang Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Time Travel / Reinkarnasi / Harem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah

"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.

Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!

"Tidak mau."

Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.

Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.

"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kilas Balik: Tekad kuat dan sentuhan yang menghina

“Apa?!”

Suara ayah tirinya meledak begitu keras hingga gema bentakannya memantul di dinding aula utama. Pagi bahkan belum sepenuhnya terang, namun suasana rumah sudah seperti medan perang yang baru saja meledak. Para pelayan yang sedang bersiap membersihkan halaman terhenti, saling berpandangan dengan wajah pucat, sebelum satu di antara mereka didorong maju untuk melapor.

“I-iya, Tuan… kamar nona kosong. Tempat tidurnya tidak terpakai sejak semalam… dan beberapa pakaian hilang…” suara pelayan itu bergetar tak terkendali, kedua tangannya saling mencengkeram kuat untuk menahan gemetar.

Wajah lelaki itu menggelap perlahan, seperti awan hitam yang menutup matahari. Rahangnya mengeras, urat di lehernya menonjol jelas. Ia bukan terlihat seperti ayah yang khawatir putrinya hilang—ia terlihat seperti pedagang yang barang dagangannya dicuri sebelum transaksi.

“Sialan!” bentaknya, telapak tangannya menghantam meja hingga cangkir teh terjungkal dan pecah berderai di lantai. “Tutup gerbang! Periksa hutan di belakang paviliun! Jika ia berani kabur, aku akan memastikan ia menyesal telah dilahirkan!”

Para pelayan berhamburan pergi, menunduk dalam-dalam, tak satu pun berani mengangkat kepala.

Di sampingnya, bibinya mendekat dengan langkah lembut. Tangannya menyentuh dada lelaki itu, pura-pura menenangkan, padahal sorot matanya menyiratkan kegusaran yang berbeda—bukan karena Ruoxue hilang, melainkan karena rencana mereka terancam gagal.

“Tenanglah, Sayang,” bisiknya pelan. “Ia gadis yang dibesarkan dalam pagar. Ia tidak akan tahu bagaimana bertahan di luar. Cepat atau lambat, ia akan ditemukan.”

Sementara itu, di jalur hutan yang lembap dan dipenuhi akar liar, Bai Ruoxue berjalan dengan napas yang mulai terasa berat di dadanya. Embun pagi membasahi ujung roknya, tanah yang tak rata beberapa kali hampir membuatnya terjatuh. Ia sudah berjalan cukup jauh dari paviliun; dari titik ini, atap rumah itu bahkan tak lagi terlihat.

Udara di hutan terasa lebih jujur daripada udara di rumah itu.

Setidaknya pohon-pohon tidak berpura-pura mencintai lalu menikam dari belakang.

Ia menggenggam erat tas kain sederhana yang berisi beberapa pakaian dan sertifikat gurunya. Kertas itu terlipat rapi di dalamnya, menjadi satu-satunya simbol masa depan yang benar-benar ia miliki.

Perutnya kosong. Tenggorokannya kering. Kakinya mulai nyeri.

Namun setiap kali rasa lelah hampir membuatnya berhenti, ia teringat wajah ibunya yang pucat di dalam peti. Terlintas pula suara tawa kotor yang ia dengar semalam.

Tidak.

Ia tidak akan kembali.

Langkahnya semakin cepat.

Tempat yang ia tuju adalah sebuah kota kecil di perbatasan wilayah kekaisaran. Ia pernah mendengar bahwa di sana banyak guru dibutuhkan, dan pejabat pusat jarang mencampuri urusan mereka. Itu cukup jauh untuk menghilang. Cukup jauh untuk memulai ulang.

Namun langkahnya terhenti ketika suara yang tak seharusnya ada di tempat sunyi itu mengoyak keheningan. Nafas berat. Desahan. Suara kecupan yang basah dan menjijikkan, terdengar jelas di antara batang-batang pohon.

Kakinya tanpa sengaja menginjak ranting kering.

Krek.

Suara kecil itu seperti petir di tengah sunyi.

“Siapa itu?” suara laki-laki terdengar waspada, disusul gerakan cepat.

Bai Ruoxue menoleh—dan jantungnya seperti jatuh ke dasar perutnya.

Kakak tirinya.

Ia berdiri tak jauh darinya, pakaiannya sedikit terbuka, rambutnya acak, dan di belakangnya seorang dayang buru-buru merapikan diri dengan wajah merah padam. Pemandangan itu begitu menjijikkan hingga membuat perutnya mual.

“Ah,” pria itu tersenyum perlahan, senyum yang membuat bulu kuduknya berdiri. “Ternyata kau.”

Isyarat kecil diberikan pada dayang itu, dan perempuan itu segera pergi tanpa berani melihat wajah Ruoxue. Kini hanya mereka berdua, terpisah oleh jarak beberapa langkah dan ketegangan yang mengental.

“Kau mau ke mana dengan bawaan itu?” tanyanya santai, seolah mereka hanya bertemu kebetulan dalam perjalanan pagi.

Bai Ruoxue mundur satu langkah, berusaha menjaga jarak. “Tidak ada urusan denganmu.”

Namun pria itu bergerak cepat. Tangannya mencengkeram pergelangan tangannya dengan kasar, cengkeramannya kuat hingga terasa seperti besi panas yang melingkar di kulitnya.

“Kabur?” bisiknya pelan, mendekatkan wajahnya. “Kau tahu ayah mencarimu?”

Nafasnya bau dan hangat, membuat Ruoxue menahan diri untuk tidak muntah.

“Aku tahu kau akan dijual pada Gu Wanxiu,” lanjutnya, suaranya berubah lebih rendah dan licik. “Pria tua itu memang kaya, tapi… sayang sekali kau masih muda.”

Tangannya yang bebas mulai menyentuh lengan Ruoxue, bergerak naik perlahan tanpa izin.

Saat jari pria itu menyentuh lengannya, Bai Ruoxue merasa seolah ada sesuatu yang kotor merayap di atas kulitnya. Bukan sekadar sentuhan manusia—melainkan seperti ular berlendir yang meluncur perlahan, meninggalkan jejak dingin yang membuat bulu kuduknya berdiri. Kulitnya terasa panas sekaligus membeku dalam waktu yang bersamaan, seolah tubuhnya sendiri menolak keberadaan sentuhan itu namun tak mampu menghindar.

“Aku punya tawaran,” katanya sambil menyentuh pipi Ruoxue dengan jari yang terasa kotor. “Bagaimana kalau kau memuaskanku dulu? Aku bisa pura-pura tak melihatmu kabur.”

Kata-kata itu seperti lumpur yang dilempar ke wajahnya.

Ketika jari itu berani menyentuh pipinya, rasa jijik itu berubah menjadi kemarahan yang membakar. Pipinya terasa seolah ternoda, bukan hanya disentuh. Ia ingin mengusapnya keras-keras hingga kulitnya memerah, ingin menghapus bekas yang bahkan belum terlihat namun terasa begitu nyata. Dalam benaknya terlintas satu pikiran yang membuat dadanya sesak—kesadaran bahwa pria itu tidak melihatnya sebagai manusia.

Plak!

Tamparan pertama mendarat keras. Kepala pria itu terhuyung sedikit.

Namun sebelum ia sempat sepenuhnya sadar, tamparan kedua menyusul dengan tenaga yang lebih besar.

Wajahnya berubah gelap. Dalam satu gerakan kasar, tangannya menjambak rambut Ruoxue begitu keras hingga kulit kepalanya terasa seperti tercabut.

“Aku akan menyeretmu kembali!” geramnya, matanya memerah oleh amarah dan harga diri yang terluka. “Kau pikir kau bisa menolakku?”

Rasa sakit menjalar hingga membuat matanya berair, tetapi Ruoxue tidak berteriak. Ia menggigit bibirnya hingga hampir berdarah, menolak memberi pria itu kepuasan melihatnya menangis.

“Kau akan menikah dan membusuk di sisi pria tua itu,” lanjutnya dingin. “Dan kau akan menyesal telah menamparku!”

Ia mencoba meronta, mencoba menghantam dadanya dengan tangan bebasnya, tetapi cekalan itu terlalu kuat. Dalam satu hentakan kasar, pria itu menariknya hingga ia hampir terjatuh ke tanah.

Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari kejauhan—para pelayan dan pengawal yang mencari.

“Kakak Muda!” salah satu dari mereka berseru saat melihat pemandangan itu.

Pria itu tersenyum puas, masih mencengkeram rambut Ruoxue. “Kau lihat?” bisiknya pelan di telinganya. “Kau tidak akan pernah bisa lari.”

Beberapa pengawal segera mendekat dan memegang kedua lengan Ruoxue. Cengkeraman mereka tak kalah kuat. Tas kainnya jatuh ke tanah, isinya sedikit keluar—ujung sertifikatnya terlihat, namun tak seorang pun peduli.

“Bawa dia pulang,” perintah kakak tirinya dengan nada dingin yang sudah kembali tenang, seolah tak terjadi apa-apa.

1
aleena
apa kau yakin ingin menyingkirkan bay rouxue,,
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi
Enah Siti
Gak bisa bladrikah klau lmah bisa bisa selir jhat akan mnang thor ksih bldri yg kuat 💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏🙏
Azia_da: Iya juga nih, ya🥹
Nantikan terus kelanjutannya, ya! 🥰
Terima kasih sudah membaca✨
total 1 replies
Putri Amalia
kak author apakah cerita ini bakalan smpe end? truama bgt dpt crta bgs entar hiatusss
Azia_da: Pasti end dan Author jamin, Kak✨
Terima kasih dukungannya dan nantikan terus, ya! 🥰
total 1 replies
Anonymous
Iya dia itu suamimu jadi kamu harus patuh ya🤭
aleena: patuh yg seperti apa😔
total 2 replies
Anonymous
Karya baru nih thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!