Elara mengira pernikahannya adalah akhir dari semua penderitaan.
Namun malam itu, ia justru menemui akhir hidupnya—dikhianati, dijebak, lalu dibunuh oleh suaminya sendiri dan wanita yang ia percayai sebagai sahabat.
Saat membuka mata, Elara kembali hidup.
Ia terlahir kembali ke masa sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Rambut putihnya menjadi saksi kelahirannya yang kedua.
Mata pink-nya menyimpan dendam yang tak lagi bisa dipadamkan.
Kali ini, Elara bukan wanita polos yang mudah diinjak.
Ia mengingat setiap pengkhianatan, setiap rencana keji, dan setiap kebohongan yang pernah merenggut nyawanya.
Bukan untuk memohon keadilan.
Bukan untuk meminta belas kasihan.
Elara kembali…
untuk membalas semuanya, satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Season 2 Eps 1 : Warisan Darah Perak
Matahari terbenam di ufuk barat Kekaisaran Aurora tidak lagi membawa ketakutan seperti delapan belas tahun yang lalu. Semburat warna jingga dan ungu yang membelah langit kini memantul pada rel-rel baja kereta uap yang membelah padang rumput, sebuah keajaiban teknologi yang lahir dari kolaborasi antara alkimia Valtaria dan sumber daya pegunungan Utara. Di bawah kepemimpinan Empress Elara Lane dan Grand Duke Alaric von Ravenhurst, benua yang dulunya hancur oleh peperangan dan sihir hitam telah berubah menjadi mercusuar kemajuan. Namun, bagi Elara, kedamaian yang terlalu sempurna sering kali terasa seperti hening sebelum badai.
Elara berdiri di balkon tertinggi istana, jemarinya yang masih lentur mengelus pinggiran marmer yang dingin. Ia mengenakan gaun sutra berwarna biru dongker yang elegan, dengan sulaman perak berbentuk bunga lili dan serigala yang menyatu di sepanjang lengannya. Rambut peraknya yang ikonik kini diikat dengan gaya yang lebih dewasa, menunjukkan wibawa seorang pemimpin yang telah melalui ribuan rintangan. Meskipun usianya telah bertambah, kecantikannya justru semakin matang, menyimpan rahasia tentang kehidupan yang telah dijalani dua kali. Di sampingnya, Alaric tetap setia seperti bayangan yang tak terpisahkan. Tubuh pria itu masih sekokoh gunung di Utara, dengan beberapa helai rambut putih di pelipisnya yang justru menambah kesan garang namun bijaksana.
"Kau terlalu sering menatap cakrawala seolah-olah musuh akan muncul dari balik awan, Elara," suara berat Alaric memecah keheningan. Pria itu melangkah mendekat, meletakkan tangannya di atas tangan Elara, memberikan kehangatan yang selalu menjadi jangkar bagi jiwa istrinya. Elara menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya di bahu bidang Alaric yang masih terasa seperti tempat paling aman di dunia. Ia memejamkan mata, menghirup aroma pinus dan kayu cendana yang selalu melekat pada diri suaminya.
"Terkadang aku merasa kedamaian ini adalah hutang yang belum sepenuhnya kubayar, Alaric. Dunia ini terlalu tenang, sementara ingatanku tentang darah dan pengkhianatan masih terasa begitu nyata, seolah baru terjadi kemarin pagi," bisik Elara. Alaric mencium pelipisnya dengan lembut, sebuah gerakan yang penuh dengan janji pengabdian yang tak pernah luntur.
"Jika badai itu datang lagi, biarkan dia datang. Kita bukan lagi dua orang asing yang terikat dendam. Kita adalah dinding yang tidak akan pernah bisa diruntuhkan. Lagipula, ada hal yang lebih penting untuk dipikirkan sekarang daripada hantu masa lalu," kata Alaric dengan sedikit nada bercanda di akhir kalimatnya. Elara mengangkat alisnya, menatap suaminya dengan rasa ingin tahu.
"Apa itu?" tanya Elara. Alaric menunjuk ke arah halaman istana di bawah sana. Dari ketinggian itu, mereka bisa melihat seorang gadis muda dengan rambut hitam legam yang diikat ekor kuda sedang melompat dari atap paviliun ke balkon perpustakaan dengan kelincahan yang luar biasa. Gadis itu mendarat tanpa suara, lalu menghilang ke dalam bayang-bayang sebelum para pengawal menyadari keberadaannya. Elara tertawa kecil, rasa cemasnya sedikit memudar melihat tingkah laku putrinya.
"Aria. Dia benar-benar mewarisi kegilaanmu dalam hal memanjat dinding, Alaric. Aku sudah menyuruhnya menggunakan pintu depan seperti putri bangsawan pada umumnya, tapi sepertinya darah Ravenhurst di nadinya jauh lebih kuat daripada protokol istana," ucap Elara. Alaric menyeringai bangga, matanya berbinar melihat ketangkasan Aria Seraphina von Ravenhurst, putri tunggal mereka yang kini telah berusia delapan belas tahun.
Aria adalah perpaduan sempurna antara kedua orang tuanya. Ia memiliki rambut hitam dan ketahanan fisik Alaric, namun matanya berwarna perak tajam dengan kecerdasan alkimia yang mengalir dari darah Elara. Di usianya yang masih muda, ia telah menguasai seni belati dan strategi militer, namun ia tumbuh dalam dunia yang tidak lagi membutuhkan pedang. Baginya, sejarah orang tuanya adalah dongeng kepahlawanan yang agung, sebuah cerita tentang kemenangan cahaya atas kegelapan yang ia pikir telah berakhir selamanya.
Malam itu, jamuan makan malam keluarga terasa sangat hangat. Aria duduk di antara kedua orang tuanya, bercerita dengan penuh semangat tentang latihannya bersama Jenderal Kael. Ia menceritakan bagaimana ia berhasil menyelinap di belakang para ksatria elit tanpa terdeteksi sedikit pun. Alaric mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali memberikan saran tentang posisi kaki saat mendarat, sementara Elara hanya tersenyum sambil menikmati sup hangatnya. Namun, suasana hangat itu mendadak retak ketika pintu ruang makan terbuka dengan kasar.
Jenderal Kael masuk dengan wajah yang pucat pasi, tangannya gemetar saat memegang sebuah kotak kayu hitam yang tampak sangat kuno. Elara segera menyadari bahwa ekspresi Kael bukan karena masalah administrasi biasa. Ini adalah ekspresi yang hanya muncul saat maut sedang mengetuk pintu. Kael berlutut di hadapan Elara dan Alaric, meletakkan kotak itu di atas meja marmer dengan sangat hati-hati, seolah benda itu bisa meledak kapan saja.
"Mohon maaf atas kelancangan saya, Yang Mulia Empress, Grand Duke. Kotak ini ditemukan di perbatasan Utara, tepat di gerbang pondok kayu lama milik klan Ravenhurst. Penjaganya ditemukan tewas dengan kondisi yang mengerikan... tidak ada luka fisik, tapi wajah mereka membeku dalam ketakutan yang luar biasa, seolah jiwa mereka telah ditarik keluar paksa," ucap Kael dengan suara bergetar.
Hening seketika mencekam ruangan itu. Elara merasakan hawa dingin yang familiar merayap di tengkuknya. Ia menatap kotak itu, dan secara perlahan, ia membukanya. Di dalam kotak tersebut terdapat sebuah cincin segel emas yang sudah berkarat, dengan ukiran matahari yang sedang ditelan oleh bayangan—simbol dari klan Solis Invicta, sekte pemuja kaisar lama yang seharusnya sudah musnah delapan belas tahun lalu bersama hancurnya Julian dan Isabella. Namun, yang membuat napas Elara tertahan adalah benda di samping cincin itu: seuntai kalung mutiara yang sudah pecah, milik ibu kandung Elara yang seharusnya hancur saat kediaman Lane dibakar di kehidupan pertamanya.
"Ini tidak mungkin," bisik Elara, tangannya gemetar saat menyentuh butiran mutiara itu. "Aku sendiri yang melihat benda ini hancur. Aku sendiri yang memastikan setiap jejak dari mereka lenyap."
Aria menatap ibunya dengan bingung. Ia belum pernah melihat Elara tampak serapuh ini. "Ibu? Apa benda ini berbahaya? Siapa Solis Invicta?" tanyanya dengan nada penuh selidik. Alaric segera memberikan isyarat pada Kael untuk membawa Aria keluar, namun putrinya itu menolak dengan tegas. Aria berdiri, matanya yang berwarna perak berkilat dengan amarah yang tertahan. "Aku bukan anak kecil lagi, Ayah! Jika ada ancaman terhadap keluarga kita, aku punya hak untuk tahu. Kalian selalu menyembunyikan sisi gelap sejarah ini dariku!"
Tiba-tiba, kotak hitam di atas meja itu mulai mengeluarkan asap tipis berwarna ungu gelap yang beraroma busuk—aroma kematian yang sangat dikenali oleh Elara dan Alaric. Asap itu membentuk sebuah proyeksi bayangan yang samar, sebuah wajah yang tersenyum sinis dengan mata yang bersinar merah penuh kebencian. Suara tawa yang melengking terdengar dari dalam asap tersebut, memenuhi setiap sudut ruangan.
"Elara Lane... apakah kau pikir waktu delapan belas tahun cukup untuk membayar hutang reinkarnasimu? Kau mencuri takdir yang bukan milikmu, dan kau pikir kau bisa hidup bahagia selamanya di atas puing-puing kami?" suara itu terdengar seperti gesekan logam yang memuakkan. Bayangan itu menoleh ke arah Aria, dan tawanya semakin keras. "Gadis kecil yang cantik. Darah perak di nadinya sangat murni... wadah yang sempurna untuk kebangkitan yang tertunda. Zandaria tidak pernah mati, Elara. Zandaria hanya sedang menunggu mangsa yang lebih muda."
Alaric langsung menghunus pedangnya, menebas asap itu dengan satu gerakan kuat, namun pedangnya hanya menembus udara kosong. Bayangan itu menghilang, meninggalkan sisa-suara tawa yang masih menggema di dinding istana. Elara terduduk lemas, wajahnya memucat. Ia tahu apa artinya ini. Kekuatan yang ia gunakan untuk bangkit kembali ke masa lalu ternyata memiliki konsekuensi gelap yang baru sekarang menagih janjinya.
"Mereka mengincar Aria," bisik Elara dengan suara yang hampir tidak terdengar. Ia menatap putrinya, dan untuk pertama kalinya dalam delapan belas tahun, ia merasakan ketakutan yang jauh lebih besar daripada saat ia menghadapi kematian di kehidupan pertamanya. Dulu, ia hanya berjuang untuk dirinya sendiri. Sekarang, ia harus berjuang untuk nyawa buah hatinya.
Aria mendekati ibunya, menggenggam tangan Elara dengan erat. Meskipun ia merasa bingung dan takut, insting ksatria di dalam dirinya mulai bekerja. "Jika mereka mengincarku, maka mereka telah membuat kesalahan besar, Ibu. Aku adalah putri dari Empress Elara Lane dan Grand Duke Alaric. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh kekaisaran ini, apa pun taruhannya."
Elara menatap mata Aria, dan ia melihat api yang sama dengan api yang pernah membakar jiwanya saat ia bersumpah untuk membalas dendam. Namun, kali ini api itu harus diarahkan untuk melindungi, bukan menghancurkan. Alaric berdiri di depan mereka berdua, pedangnya masih terhunus, menatap ke arah luar jendela di mana kegelapan malam terasa jauh lebih pekat dari biasanya.
"Persiapkan pasukan, Kael. Aktifkan kembali protokol pertahanan bayangan. Beritahu Raja Magnus di Valtaria dan para penunggang naga di Draken bahwa perjanjian darah kita sedang diuji kembali. Dan mulai malam ini, Aria tidak boleh keluar dari pengawasan tanpa pengawalan khusus," perintah Alaric dengan nada yang tak terbantahkan.
Aria tampak ingin memprotes, namun Elara memegang bahunya dengan lembut. "Dengarkan ayahmu, Aria. Musuh yang kita hadapi bukan sekadar tentara atau pemberontak. Mereka adalah sisa-sisa kegelapan yang melampaui logika manusia. Aku telah menghabiskan satu kehidupan untuk melarikan diri dari mereka, dan aku tidak akan membiarkan mereka merampas kehidupanmu."
Malam itu, Istana Aurora yang biasanya dipenuhi tawa dan musik berubah menjadi benteng yang sunyi namun penuh dengan ketegangan. Elara kembali ke ruang kerjanya, membuka catatan-catatan tua tentang alkimia terlarang yang selama ini ia kunci rapat. Ia menyadari bahwa rahasia reinkarnasinya kini bukan lagi sekadar mukjizat, melainkan kutukan yang mulai mengejarnya. Di sudut ruangan, Alaric sedang memeriksa peta perbatasan, wajahnya tampak sangat serius.
"Kau tahu kita tidak bisa menyembunyikan kebenaran ini lebih lama lagi darinya, Elara," ucap Alaric tanpa menoleh.
"Aku tahu. Tapi menceritakan padanya bahwa ibunya adalah orang yang sudah pernah mati dan bangkit kembali melalui sihir gelap... itu beban yang terlalu berat untuk gadis seusianya," balas Elara sambil membolak-balik halaman buku alkimia yang sudah berdebu.
"Aria lebih kuat dari yang kau kira. Dia anakmu. Dia akan mengerti," kata Alaric. Ia berjalan menghampiri Elara, memeluknya dari belakang untuk memberikan dukungan moral. "Kita akan menghadapinya bersama, seperti biasa. Jika Zandaria ingin kembali, maka mereka akan menemukan bahwa serigala utara dan elang perak masih memiliki taring yang sama tajamnya."
Di kamar pribadinya, Aria berdiri di balkon, menatap ke arah hutan pinus di kejauhan. Ia memegang belati obsidian pemberian ibunya, meraba setiap ukiran di gagangnya. Ia merasa dunianya yang selama ini damai dan aman hanyalah sebuah panggung sandiwara yang indah, dan sekarang tirainya baru saja disingkap. Ada sesuatu yang berdenyut di dalam nadinya setiap kali ia teringat pada asap ungu tadi—sebuah kekuatan yang terasa asing namun sangat kuat, seolah-olah ada sesuatu yang tertidur di dalam dirinya dan baru saja mulai menggeliat bangun.
Tanpa sepengetahuan orang tuanya, Aria melihat sesuatu yang janggal di taman istana. Sebuah bunga mawar putih yang biasanya mekar indah di tengah taman kini berubah menjadi hitam pekat dan hancur menjadi debu saat disentuh oleh bayangan bulan. Aria menyadari bahwa perang yang diceritakan ibunya belum benar-benar selesai. Season 2 dari kehidupan Elara Lane bukan lagi tentang penebusan dosa masa lalu, melainkan tentang mempertahankan masa depan yang telah diperjuangkan dengan susah payah.
Bulan merah yang diramalkan oleh bayangan tadi belum muncul, namun auranya sudah mulai terasa mencekik. Kekaisaran Aurora yang megah kini berada di ambang ketidakpastian sekali lagi. Elara tahu bahwa kali ini ia tidak bisa hanya mengandalkan dendam atau taktik politik. Ia harus berhadapan dengan asal-usul kekuatannya sendiri, sebuah rahasia yang terkubur jauh di bawah Samudera Kelabu, tempat di mana roh-roh Zandaria menuntut bayaran atas waktu yang telah diputar balik.
Pagi harinya, berita tentang kematian para penjaga di Utara mulai tersebar di kalangan bangsawan, menciptakan gelombang kegelisahan. Elara harus bertindak cepat sebelum kepanikan melanda rakyatnya. Ia mengenakan zirah perangnya yang sudah lama tersimpan di lemari besi—sebuah pakaian baja ringan yang diukir dengan mantra pelindung tingkat tinggi. Saat ia berjalan melewati koridor istana, para pelayan dan prajurit membungkuk dengan rasa hormat yang bercampur dengan rasa takut. Mereka melihat kembali sosok Empress yang pernah memimpin mereka di medan perang samudera kelabu belasan tahun silam.
Di gerbang istana, Alaric sudah menunggu dengan pasukan kavaleri elitnya. Aria berdiri di samping ayahnya, juga mengenakan zirah ringannya, bersikeras untuk ikut dalam misi investigasi ke Utara. Elara menatap putrinya sejenak, mencari keraguan di mata perak itu, namun yang ia temukan hanyalah tekad yang bulat.
"Jangan pernah lepaskan belatimu, Aria. Dan jangan pernah percaya pada apa pun yang terlihat terlalu indah di kegelapan," pesan Elara. Aria mengangguk mantap, memacu kudanya untuk berada di barisan depan.
Saat rombongan itu meninggalkan gerbang ibu kota, awan hitam mulai berkumpul di langit Utara, menelan sinar matahari pagi yang seharusnya hangat. Perjalanan menuju pondok kayu lama itu bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan kembali ke akar penderitaan Elara. Di sanalah, di tempat di mana semuanya dimulai, rahasia besar tentang reinkarnasi kedua dan warisan darah perak akan segera terungkap. Dan kali ini, dunia tidak akan pernah sama lagi setelah badai ini mereda.
Episode pertama ini hanyalah awal dari permainan catur yang jauh lebih besar, di mana pionnya adalah nyawa orang-orang yang dicintai Elara, dan lawannya adalah takdir itu sendiri yang menolak untuk dikalahkan. Warisan darah perak bukan hanya tentang kekuasaan, melainkan tentang pengorbanan yang harus dilakukan agar cahaya tetap bersinar di atas Kekaisaran Aurora. Perang baru telah dimulai, dan kali ini, Aria Seraphina adalah kuncinya.
qu membayangkan opa"😂
lanjuuut
ini 2024 tp msh ada kereta kuda yaa🤔