Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Dilemma
MALAM SETELAH PERTENGKARAN ARSA DAN ASHA
Raya duduk di pinggir kasurnya dengan wajah yang murung. Ia menatap hp-nya yang menampilkan chat dari Arsa.
Arsa:
"Lea, makasih ya udah dengerin gw hari ini. Lo emang temen yang baik."
Raya tersenyum tipis membaca chat itu. Tapi senyuman itu tidak sampai ke matanya. Ia meletakkan hp-nya dan menatap foto yang terpajang di meja belajarnya.
Foto ayahnya yang tersenyum lebar. Ayah yang sangat ia sayangi. Ayah yang selalu mendukungnya.
Raya bangkit dan berjalan menuju meja belajarnya. Ia mengambil foto itu dan memeluknya dengan erat.
"Pa... Raya bingung..." bisik Raya dengan suara yang bergetar.
Air matanya mulai jatuh. "Raya... Raya akhirnya bisa ketemu Arsa lagi. Tapi... Tapi dia udah punya pacar, Pa..."
Raya duduk di kursi belajarnya sembari terus memeluk foto ayahnya.
"Waktu Raya dapet kabar itu... Waktu Raya nelpon temen di sekolah ini dan dia bilang Arsa udah punya pacar..."
"Raya... Raya shock banget, Pa. Rasanya kayak dunia Raya runtuh."
Air matanya semakin deras. "Raya kecewa... Raya sedih... Raya ngerasa... Kenapa Arsa gak nunggu Raya?"
"Raya udah berusaha keras buat bisa balik ke sini. Raya kerja paruh waktu. Raya nabung. Raya belajar keras supaya bisa diterima di sekolah ini."
"Semua itu Raya lakuin buat Arsa, Pa... Buat bisa ketemu dia lagi... Buat bisa deket sama dia lagi..."
Raya menangis semakin keras. "Tapi ternyata... Ternyata dia udah punya orang lain. Dia udah bahagia sama orang lain."
"Dan sekarang... Sekarang Raya malah jadi orang ketiga. Jadi orang yang... Yang ngerebutin pacar orang."
Raya menatap foto ayahnya dengan tatapan yang penuh kesedihan.
"Pa, Raya bingung... Apa yang Raya rasain ini salah? Apa cinta Raya ini salah?"
"Raya udah suka sama Arsa dari kita masih SD. Udah bertahun-tahun Raya menyimpan perasaan ini."
"Waktu Raya harus pindah... Raya sedih banget, Pa. Tapi Raya tetep pertahanin perasaan ini. Raya gak pernah suka sama cowok lain. Cuma Arsa."
"Selama tiga tahun di SMP, Raya terus mikirin Arsa. Terus kangen sama Arsa. Terus berharap suatu hari bisa ketemu Arsa lagi."
Raya menghapus air matanya dengan kasar. "Tapi apa itu artinya Raya boleh ngerebutin dia dari pacarnya?"
"Apa itu artinya Raya boleh manfaatin situasi dia yang kehilangan ingatan?"
"Apa... Apa Raya adalah orang jahat, Pa?"
Raya menangis sejadi-jadinya sembari memeluk foto ayahnya dengan erat.
"Tapi Raya sayang sama dia, Pa... Raya sayang banget sama Arsa..."
"Dan sekarang... Sekarang Arsa dan Asha udah putus. Arsa udah gak inget Asha lagi."
"Apa... Apa ini kesempatan Raya? Atau... Atau ini adalah dosa Raya?"
Raya menatap foto ayahnya dengan tatapan yang penuh kebingungan dan kesedihan.
"Pa... Tolong kasih tau Raya... Apa yang harus Raya lakuin..."
Tapi foto itu hanya diam. Tidak ada jawaban. Hanya senyuman ayahnya yang terpatri di sana.
Raya memeluk foto itu dengan semakin erat. "Raya kangen Papa... Raya kangen banget..."
🌷🌷🌷🌷
FLASHBACK - 10 TAHUN YANG LALU (SUDUT PANDANG RAYA)
PERTEMUAN PERTAMA
Raya kecil menangis sendirian di balik semak-semak taman. Seragamnya kotor. Bukunya basah dan kotor di pinggir got.
Ia baru saja di-bully oleh anak-anak dari kelas sebelah. Mereka bilang ia jelek. Bilang ia miskin. Bilang ia tidak pantas sekolah di sana.
Mereka mendorongnya. Merebut tasnya. Membuang buku-bukunya ke got.
Dan tidak ada yang menolong. Tidak ada yang peduli.
"Kenapa... Kenapa mereka jahat banget sama aku..." isak Raya kecil sendirian.
Tiba-tiba, ia mendengar suara.
"Hei... Lo... Lo kenapa nangis?"
Raya kecil mendongak dan melihat seorang anak laki-laki seumurannya yang menatapnya dengan tatapan yang... Sedih?
Anak laki-laki itu tidak tersenyum. Wajahnya terlihat murung. Tapi tatapannya... Tatapannya terlihat begitu lembut.
"Gak... Gak ada apa-apa..." jawab Raya kecil sembari menghapus air matanya.
Anak laki-laki itu melihat seragamnya yang kotor dan robek. "Lo... Lo di-bully ya?"
Raya kecil tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia mengangguk sembari menangis.
Dan kemudian... Kemudian anak laki-laki itu melakukan sesuatu yang tidak pernah Raya kecil sangka.
Ia pergi ke got dan mengambil buku-bukunya yang kotor. Ia membersihkannya dengan seragamnya sendiri.
"Ini... Ini buku lo kan? Lo butuh buat belajar" ucap anak laki-laki itu sembari menyerahkan buku-buku itu.
Raya kecil menatap anak laki-laki itu dengan mata yang terbelalak. "Tapi... Tapi seragam lo jadi kotor..."
"Gapapa. Buku lo lebih penting."
Di saat itu... Di saat itulah Raya kecil merasakan sesuatu yang hangat di dadanya.
Ada seseorang yang peduli padanya. Ada seseorang yang menolong tanpa pamrih.
"Makasih... Makasih banyak..." ucap Raya kecil dengan suara yang bergetar.
Anak laki-laki itu duduk di sampingnya. "Siapa yang nge-bully lo?"
Dan mereka pun berbicara. Untuk pertama kalinya, Raya kecil merasa ada yang benar-benar mendengarkan.
"Namaku Alea Raya. Tapi panggil aku Raya aja" ucap Raya kecil sembari mengulurkan tangannya.
"Arsa. Kian Arsa."
Nama itu... Nama itu terpatri di hati Raya kecil sejak saat itu.
🌷🌷🌷🌷
HARI-HARI BERSAMA ARSA
Sejak pertemuan itu, Arsa kecil selalu melindungi Raya kecil. Setiap kali ada yang mau nge-bully Raya, Arsa selalu datang dan mengusir mereka.
"Arsa itu kayak pahlawan buat aku tau gak" ucap Raya kecil suatu hari dengan senyuman lebar.
Arsa kecil tertawa kecil. Dan itu adalah pertama kalinya Raya kecil melihat Arsa tertawa.
'Ternyata Arsa bisa tertawa juga... Bagus deh...' batin Raya kecil dengan bahagia.
Hari demi hari mereka lewati bersama. Pulang sekolah bersama. Main di taman bersama. Bahkan belajar bersama.
Raya kecil merasa sangat bahagia. Untuk pertama kalinya, ia punya teman. Punya seseorang yang peduli padanya.
"Arsa, lo tau gak... Aku seneng banget bisa ketemu sama lo" ucap Raya kecil suatu sore saat mereka bermain di taman.
Arsa kecil menatap Raya dengan tatapan bingung. "Kenapa?"
"Karena... Karena selama ini aku selalu sendirian. Gak ada yang mau temenan sama aku. Tapi sekarang ada lo" jawab Raya kecil dengan senyuman tulus.
Arsa kecil tersenyum tipis. "Gw juga seneng kok kenal sama lo, Lea."
"Gw juga dulu sendirian. Gak ada temen. Tapi sekarang ada lo."
Raya kecil merasakan pipinya yang menghangat mendengar ucapan Arsa. "Kalau gitu kita harus selalu temenan ya! Sampai tua!"
Arsa kecil tertawa dan mengangguk. "Iya! Sampai tua!"
Mereka mengaitkan kelingking mereka. Sebuah janji kecil antara dua anak yang kesepian.
🌷🌷🌷🌷
SAAT IBU RAYA SAKIT
Hari itu Raya kecil sangat sedih. Ibunya sakit dan harus dirawat di rumah sakit.
Ia menangis di pelukan Arsa kecil. "Aku takut kehilangan ibu aku, Arsa..."
"Lo harus kuat, Lea. Ibu lo pasti sembuh" ucap Arsa kecil sembari memeluk Raya dengan erat.
Dan kemudian Arsa kecil bercerita tentang ibunya yang sudah meninggal.
Raya kecil menangis mendengar cerita itu. Ia tidak menyangka Arsa pernah mengalami hal yang begitu menyakitkan.
"Maafin aku, Arsa... Aku gak tau..." isak Raya kecil.
"Gapapa. Makanya... Makanya gw gak mau lo ngerasain hal yang sama."
Dan kemudian Arsa kecil berkata sesuatu yang membuat hati Raya kecil bergetar.
"Lea, dengerin gw. Gw... Gw berjanji sama lo. Suatu hari nanti... Gw bakal jadi dokter."
"Gw bakal jadi dokter yang baik. Dokter yang bisa selamatin orang-orang yang sakit."
"Gw gak mau ada lagi orang yang ngerasain apa yang gw rasain."
Raya kecil menatap Arsa dengan mata yang berkaca-kaca. Di saat itulah... Di saat itulah ia menyadari sesuatu.
Ia tidak hanya menganggap Arsa sebagai teman. Ia... Ia menyukai Arsa.
Ia menyukai anak laki-laki yang selalu melindunginya. Anak laki-laki yang pernah terluka tapi masih mau menolong orang lain. Anak laki-laki yang punya tekad yang kuat.
'Aku... Aku suka sama Arsa...' batin Raya kecil dengan pipi yang memerah.
Tapi ia tidak berani mengatakannya. Ia terlalu malu. Terlalu takut.
🌷🌷🌷🌷
HARI-HARI INDAH BERSAMA
Sejak hari itu, Raya kecil selalu memperhatikan Arsa kecil dengan lebih seksama. Cara Arsa tersenyum. Cara Arsa tertawa. Cara Arsa menatapnya dengan lembut.
Semuanya membuat hati Raya kecil berdegup kencang.
"Arsa, mau es krim gak? Aku traktir!" tawar Raya kecil suatu sore dengan ceria.
"Serius? Boleh dong!" ucap Arsa kecil dengan mata yang berbinar.
Mereka pergi ke warung es krim dan membeli es krim rasa cokelat favorit mereka.
"Arsa, lo tau gak... Lo itu orang yang paling penting buat aku" ucap Raya kecil tiba-tiba dengan pipi yang memerah.
Arsa kecil menatap Raya dengan bingung. "Emang kenapa?"
"Karena... Karena lo yang selalu ada buat aku. Lo yang selalu lindungin aku. Lo yang... Lo yang bikin aku bahagia" jawab Raya kecil dengan suara yang pelan.
Arsa kecil tersenyum lebar. "Lo juga orang yang penting buat gw kok, Lea. Lo yang bikin gw gak ngerasa sendirian lagi."
Raya kecil merasakan hatinya yang semakin bergetar. 'Aku penting buat Arsa... Arsa bilang aku penting...'
Ia tersenyum bahagia. Meskipun Arsa tidak tau perasaannya yang sebenarnya, tapi mendengar ucapan itu sudah cukup membuatnya bahagia.
🌷🌷🌷🌷
BERMAIN BASKET BERSAMA
Suatu hari mereka bermain basket di taman kompleks.
"Ayo Arsa! Oper ke aku!" teriak Raya kecil dengan semangat.
Arsa kecil mengoper bola basket ke Raya. Tapi operannya terlalu keras hingga Raya tidak bisa menangkap.
"Aduh! Arsa, operannya pelan dong!" protes Raya kecil dengan cemberut.
Arsa kecil tertawa. "Lo yang gak bisa nangkep! Lemah amat!"
"Arsa jahat!" ucap Raya kecil sembari memukul lengan Arsa dengan pelan.
Mereka berdua tertawa bersama. Moment sederhana yang begitu indah.
Setelah bermain, mereka duduk di pinggir lapangan sembari minum air.
"Arsa, kita harus sering-sering main basket ya! Aku mau jadi jago kayak lo!" ucap Raya kecil dengan antusias.
Arsa kecil mengangguk. "Boleh! Nanti gw ajarin lo!"
Raya kecil tersenyum lebar. 'Aku seneng banget bisa main bareng Arsa... Aku harap moment kayak gini gak akan pernah berakhir...'
🌷🌷🌷🌷
BELAJAR BERSAMA
Mereka juga sering belajar bersama di perpustakaan sekolah.
"Arsa, ini soal matematikanya susah banget! Aku gak ngerti!" keluh Raya kecil dengan frustrasi.
Arsa kecil melihat soal yang Raya kerjakan. "Oh ini gampang kok. Gini loh caranya..."
Arsa kecil menjelaskan dengan sabar. Dan Raya kecil mendengarkan dengan seksama meskipun sebagian perhatiannya tertuju pada wajah Arsa yang serius saat menjelaskan.
'Arsa tampan banget kalau lagi serius gini...' batin Raya kecil dengan pipi yang memerah.
"Lea, lo dengerin gak sih?" tanya Arsa kecil dengan nada sedikit kesal.
Raya kecil tersentak. "Eh? Dengerin kok! Tadi lo bilang... Ehm..."
Arsa kecil menghela nafas dan tertawa kecil. "Lo melamun ya. Udah, gw jelasin lagi deh."
Raya kecil tersenyum malu. "Makasih ya, Arsa. Lo sabar banget ngajarin aku."
"Iya dong. Siapa lagi yang mau ngajarin lo kalau bukan gw" ucap Arsa kecil dengan senyuman lebar.
Raya kecil merasakan hatinya yang semakin hangat. 'Aku... Aku bener-bener suka sama Arsa...'
🌷🌷🌷🌷
MOMENT DI TAMAN
Suatu sore, mereka duduk di ayunan taman sembari mengobrol.
"Arsa, lo inget gak waktu pertama kali kita ketemu?" tanya Raya kecil dengan senyuman.
Arsa kecil mengangguk. "Inget dong. Lo lagi nangis sendirian. Terus gw bantuin lo."
"Iya... Waktu itu aku bener-bener takut dan sendirian. Tapi terus Arsa dateng. Kayak malaikat yang dikirim Tuhan buat aku" ucap Raya kecil dengan mata yang berbinar.
Arsa kecil tertawa kecil. "Malaikat? Lebay deh."
"Bukan lebay! Beneran kok! Buat aku, Arsa itu kayak malaikat" ucap Raya kecil dengan serius.
Arsa kecil menatap Raya dengan tatapan yang lembut. "Kalau gitu, lo juga malaikat buat gw. Karena lo yang bikin gw bisa tersenyum lagi setelah ibu gw meninggal."
Raya kecil merasakan air matanya yang hampir jatuh mendengar ucapan Arsa. "Arsa..."
"Makasih ya, Lea. Makasih udah jadi temen gw. Makasih udah ada buat gw" ucap Arsa kecil dengan tulus.
Raya kecil tersenyum meskipun air matanya jatuh. "Aku yang harusnya makasih. Makasih Arsa udah jadi pahlawan aku."
Mereka saling menatap dengan senyuman. Moment yang begitu indah dan tulus.
'Aku... Aku gak mau moment ini berakhir. Aku mau selalu bareng Arsa. Selalu...' batin Raya kecil dengan perasaan yang begitu hangat.
🌷🌷🌷🌷
KEMBALI KE TIMELINE SEKARANG
Raya membuka matanya yang basah oleh air mata. Kenangan-kenangan indah itu terasa begitu nyata.
Ia memeluk foto ayahnya dengan semakin erat.
"Pa... Raya sayang banget sama Arsa. Dari dulu. Dari kita masih kecil."
"Arsa yang pertama kali peduli sama Raya. Arsa yang selalu lindungin Raya. Arsa yang bikin Raya tau apa itu perasaan sayang."
"Selama bertahun-tahun Raya menyimpan perasaan ini. Meskipun harus jauh dari Arsa. Meskipun harus melewati SMP tanpa Arsa."
"Raya gak pernah suka sama cowok lain. Cuma Arsa. Selalu Arsa."
Air matanya semakin deras. "Tapi... Tapi sekarang Raya bingung, Pa..."
"Apa yang Raya rasain ini benar? Atau salah?"
"Apa Raya boleh memperjuangkan cinta ini? Atau Raya harus mengalah?"
"Raya udah berusaha keras buat bisa ketemu Arsa lagi. Tapi ternyata... Ternyata dia udah punya Asha."
"Dan sekarang... Sekarang mereka udah putus karena Arsa kehilangan ingatan tentang Asha."
"Apa... Apa ini kesempatan Raya? Atau... Atau ini dosa Raya?"
Raya menangis sejadi-jadinya di kamarnya yang sepi. "Raya gak tau harus gimana, Pa... Raya bingung..."
"Tapi yang Raya tau... Raya sayang banget sama Arsa. Dan Raya... Raya gak mau nyerah begitu aja."
"Raya udah nunggu terlalu lama. Raya udah berjuang terlalu keras."
"Maafin Raya kalau Raya egois, Pa... Tapi Raya... Raya cuma pengen bahagia sama Arsa..."
Raya memeluk foto ayahnya dengan sangat erat. Menangis dalam kegelapan kamarnya.
Menangis untuk cinta yang sudah ia simpan bertahun-tahun. Cinta yang begitu tulus tapi mungkin... Mungkin tidak akan pernah terbalas.
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷🌷
SEDIH BANGET! 😭💔 Bab ini ngasih kita sudut pandang Raya yang sebenarnya!
Raya curhat ke foto ayahnya, nangis karena bingung apakah cintanya ini salah atau benar. Dia bertanya "Apa yang Raya rasain ini salah? Apa cinta Raya ini salah?"
Flashback masa kecil mereka tuh MANIS BANGET! Arsa yang jadi pahlawan Raya, mereka main basket bareng, belajar bareng, main di taman bareng... Moment-moment yang bikin Raya jatuh cinta sama Arsa 💕
Raya sayang sama Arsa sejak SD. Udah BERTAHUN-TAHUN dia menyimpan perasaan ini. Bahkan waktu jauh dari Arsa selama SMP, dia TETEP PERTAHANIN perasaan ini!
Dan sekarang... Sekarang dia bingung. Apa dia boleh memperjuangkan cinta ini? Atau dia harus mengalah?
Tapi satu hal yang pasti... Raya gak mau nyerah begitu aja. Dia udah nunggu terlalu lama. Dia udah berjuang terlalu keras...
Siapa yang salah? Siapa yang benar? Semua pihak punya alasan mereka masing-masing 💔
Penasaran kan kelanjutannya? Yuk stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!
@Jaaparr
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku