NovelToon NovelToon
Greta Hildegard

Greta Hildegard

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Bullying dan Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: spill.gils

Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mahluk Kecil Yang Sekarat

Angin di atap sekolah itu bertiup lebih kencang, membawa aroma aspal basah dan dingin yang mulai menggigit. Suara deru kota Toronto di bawah sana terasa begitu jauh, seolah mereka sedang berada di sebuah pulau terpencil yang terapung di atas awan. Clara melangkah perlahan menuju pagar kawat pembatas atap, membiarkan rambutnya berantakan dimainkan angin, sementara Greta mengikuti di belakangnya dengan langkah yang masih terasa goyah.

​"Maaf hari pertamamu harus berakhir seperti itu," ucap Clara pelan, matanya menatap lurus ke arah cakrawala.

​Greta berdiri di sampingnya, jemarinya yang pucat mencengkeram erat kawat pagar yang dingin. "Siapa mereka?" tanyanya dengan suara kecil yang hampir hilang ditelan angin.

​Clara menghela napas panjang, tatapannya berubah menjadi serius. "Gadis yang rambutnya dikuncir itu, namanya Revelyn Raquell. Dia pemain utama tim basket putri di sekolah ini. Dia lincah, tapi sayangnya dia menggunakan kecepatannya untuk mengejar orang yang tidak disukai Norah."

​Ia terdiam sejenak, membayangkan sosok pria yang hampir saja mencium Greta tadi. "Lalu pria tinggi yang menyebalkan itu, Zev Benedict. Dia juga di tim basket putra. Dia tipe orang yang merasa bisa memiliki apa pun yang dia sentuh hanya karena dia punya tubuh yang kuat."

​Clara berhenti, bahunya tampak merosot sedikit saat ia menyebut nama terakhir. "Dan..." ia menghela napas sesaat, seolah nama itu memiliki beban yang berat. "Satu lagi, Norah Vanderbilt. Dia adalah ratu di sekolah ini, atau mungkin lebih tepatnya penguasa. Ayahnya adalah pejabat tinggi di kota ini, dan keluarganya memiliki saham paling besar di Jarvis Collegiate. Tidak ada guru yang berani menyentuhnya."

​Clara menoleh ke arah Greta, keningnya berkerut penuh keheranan. "Jujur saja, aku tidak tahu kenapa mereka begitu tertarik kepadamu. Biasanya mereka hanya menindas adik kelas yang lemah atau orang yang mencari masalah. Tapi kau..."

​Greta tidak menyahut. Ia terdiam, membiarkan ucapan Clara meresap ke dalam pikirannya yang sudah kacau. Ia menatap ke arah pemandangan kota Toronto yang megah dengan raut wajah yang muram. Gedung-gedung tinggi itu kini tampak seperti jeruji besi raksasa yang mengurungnya. Di matanya, keindahan kota itu telah lenyap, digantikan oleh bayangan kelam tentang masa depan yang menantinya di sekolah ini.

​Ia merenung, menyadari bahwa identitasnya sebagai "orang asing" telah menjadi target di papan panah yang dipegang oleh seorang gadis yang memiliki segalanya.

Clara menoleh ke arah Greta, senyum manisnya kembali terukir, mencoba mengusir sisa-sisa ketegangan yang masih menggantung di udara. "Bagaimana denganmu?" tanyanya lembut. "Maksudku, tentang kepindahanmu."

​Greta membalas tatapan Clara sejenak, namun segera menunduk, memperhatikan ujung rambutnya yang masih menyisakan sedikit bekas air dari perlakuan Norah tadi. "Aku? Aku baru saja tinggal di sini setelah seminggu yang lalu..." jawab Greta pelan.

​"Kenapa kamu bisa pindah ke sini?" Clara memiringkan kepalanya sedikit, lalu terkekeh pelan. "Maaf, sebenarnya akulah yang ingin menginterogasimu tentang kepindahanmu ke sini, bukan kepala sekolah. Hahaha!"

​Tawa Clara yang renyah berhasil mencairkan suasana yang kaku. Greta merasakan beban di pundaknya sedikit terangkat, dan sebuah senyum kecil—sangat tipis namun tulus muncul di wajahnya.

​"Aku berasal dari Seoul, Korea Selatan," jawab Greta. "Namun yayasan di sana memindahkanku ke sini. Mereka mengatakan bahwa aku mendapatkan beasiswa."

​Mata Clara membulat cerah. "Beasiswa? Wah, kamu berarti sangat pintar ya!"

​Greta mengernyitkan kening, rona kebingungan tampak jelas di wajahnya. "Tapi... aku merasa tidak pernah mengikuti tes beasiswa apa pun," jawabnya dengan nada yang sedikit tidak jelas, seolah ia sendiri masih mencoba merangkai potongan teka-teki itu di kepalanya.

​"Hmm, aneh ya. Mungkin orang tuamu yang mengaturnya agar kamu bisa sekolah di luar negeri?" Clara bertanya, mencoba mencari logika di balik cerita itu.

​Mendengar kata 'orang tua', ekspresi Greta langsung berubah. Sinar di matanya meredup, digantikan oleh awan kesedihan yang pekat. Ia terdiam cukup lama, menatap kawat pagar dengan pandangan kosong. "Ibu dan ayahku telah meninggal beberapa tahun yang lalu... dalam sebuah kecelakaan."

​Suasana di atap itu seketika menjadi sunyi. Suara angin yang tadinya terdengar bebas kini terasa seperti bisikan duka. Clara tertegun, tangannya yang tadi bersandar di pagar kini bergerak menutup mulutnya sendiri. Ia menatap dalam-dalam ke mata cokelat gelap Greta, menemukan luka yang jauh lebih dalam daripada sekadar perundungan di halaman sekolah.

​"Maafkan aku..." Clara berbisik dengan nada penuh sesal. "Aku... aku benar-benar tidak tahu."

​Greta mengangkat wajahnya, mencoba mengumpulkan sisa kekuatannya untuk tersenyum tipis. "Tidak apa-apa," ucapnya lembut sambil menatap Clara dengan tulus.

Lonceng sekolah berdentang nyaring, memecah kesunyian di atap gedung dan menggema di seluruh penjuru Jarvis Collegiate. Suaranya yang melengking seolah menarik Greta kembali ke realita yang pahit.

​"Yah, tidak seru! Kok cepat sekali ya?" Clara mengeluh sambil mengerucutkan bibirnya, namun ia segera menarik napas dalam dan kembali bersikap protektif. "Ayo, kita harus kembali ke kelas."

​Clara kembali menggandeng tangan Greta, kali ini dengan genggaman yang lebih memberikan semangat. Mereka menuruni tangga beton yang remang-remang, melewati koridor-koridor panjang yang kini mulai dipenuhi oleh murid-murid yang berlarian masuk ke kelas. Selama perjalanan, Clara sesekali melirik ke arah Greta, memastikan gadis itu tidak terlihat terlalu tertekan. Greta sendiri berjalan dengan kepala sedikit tertunduk, namun genggaman tangan Clara terasa seperti perisai yang melindunginya dari tatapan-tatapan asing di sepanjang jalan.

​Setibanya di ambang pintu kelas sejarah, suasana mendadak hening sejenak saat mereka masuk. Greta bisa merasakan tatapan tajam Norah dan seringai tipis Revelyn dari sudut ruangan, namun Clara tidak memedulikannya.

​"Sampai di sini dulu ya, bangkuku di depan," bisik Clara sambil memberikan remasan kecil di tangan Greta sebelum melepaskannya. Clara berjalan menuju barisan paling depan dengan penuh percaya diri.

​Greta melangkah sendirian menuju mejanya di barisan tengah. Jantungnya berdegup kencang saat ia mendekati kursinya. Matanya langsung tertuju pada kotak makan kayu yang tadi ia tinggalkan begitu saja demi mengikuti Revelyn.

Greta menarik kursi kayunya dengan gerakan kaku, mencoba mengabaikan hawa dingin yang masih menyelimuti hatinya. Matanya tertuju pada kotak bekal di atas meja. Ia tertegun sejenak, alisnya bertaut.

​Sepertinya tadi kutinggalkan terbuka, batinnya heran. Kotak itu kini tertutup rapat, seolah-olah tidak pernah disentuh oleh siapa pun.

​Greta menggelengkan kepalanya pelan, mencoba mengusir kecurigaan yang dianggapnya hanya sekadar paranoid. Ia mengulurkan tangan untuk mengambil kotak itu, berniat menyembunyikannya kembali ke dalam tas sebelum guru masuk. Namun, saat jemarinya menyentuh permukaan kayu kotak tersebut, sebuah sensasi aneh menjalar ke telapak tangannya.

​Ada getaran. Sebuah gerakan pelan, patah-patah, dan tak beraturan dari dalam kotak.

​Greta tersentak, refleks melepaskan genggamannya hingga kotak itu bergeser sedikit di atas meja. Ia mematung, napasnya tertahan di tenggorokan. Matanya segera melirik ke arah bangku Norah dan Revelyn di pojok kelas. Mereka tampak sangat sibuk, asyik mengobrol sambil memulas lip gloss dan menata riasan di depan cermin kecil, seolah-olah dunia di sekitar mereka tidak ada.

​Keheningan di dalam kotak itu terasa lebih mengerikan daripada suara tawa mereka.

​Dengan keberanian yang dipaksakan dan tangan yang gemetar hebat, Greta kembali mengulurkan tangannya. Ia menjepit pinggiran tutup kotak itu, lalu membukanya sedikit demi sedikit.

​Crak.

​Tutup itu terbuka sepenuhnya, dan jantung Greta seolah berhenti berdetak. Di dalam kotak yang seharusnya berisi nasi hangat buatannya, kini tergeletak seekor tikus selokan berukuran besar. Hewan itu tidak mati, namun kondisinya jauh lebih mengerikan: ia sedang sekarat. Tubuhnya berlumuran cairan hitam pekat yang berbau amis menyengat, kaki-kakinya yang kecil mengais udara dengan gerakan kejang yang lambat, dan matanya yang hitam meredup menatap kosong ke arah Greta.

​"AAAAAAKKKKHHHH!!!"

​Teriakan Greta pecah, menyayat keheningan kelas. Ia melempar kotak itu hingga isinya tumpah ke atas meja. Dengan wajah pucat pasi dan air mata yang mulai tumpah, Greta kehilangan keseimbangan. Ia jatuh terjengkang dari kursinya, suaranya berdebam keras di lantai.

​Rasa jijik dan trauma meledak di dadanya. Tanpa memedulikan tatapan semua orang, Greta merangkak mundur dengan liar, menggunakan tangan dan kakinya untuk menjauh secepat mungkin. Ia terus bergerak mundur hingga punggungnya menabrak lemari buku di pojok belakang kelas, meringkuk di sana dengan tubuh yang bergetar hebat.

​Di depan sana, keheningan kelas hanya bertahan sedetik sebelum akhirnya meledak oleh tawa Norah yang melengking.

​"Oh, lihatlah! Siapa yang menyangka dia membawa peliharaan baru ke sekolah?" Norah menutup cermin riasnya dengan bunyi klik yang tajam, matanya berkilat penuh kemenangan melihat Greta yang hancur di pojok ruangan.

1
watno antonio
ayo lanjut thor
spill.gils: terimakasih atas dukungannya, mohon di tunggu 🙏
total 1 replies
claire
ayo Leon ungkapkan identitasmu yang sebenarnya
claire
hahaha situasi yang bisa dibayangkan
claire
sejauh ini Ravelyn masih memegang karakter paling menyebalkan no 1
claire: atur se-ngeselin mungkin thor
total 2 replies
Mbu'y Fahmi
apa itu suruhannya ibu norah, tapi gak mungkin sih.. aah penasaran banget..
Mbu'y Fahmi
apa itu obat yang selalu diminum greta... ah masih banyak teka teki... lanjut thor
spill.gils: terimakasih sudah meluangkan membaca, saya harap Kamu suka dengan ceritanya.
total 1 replies
claire
bab yang sangat baguss
claire
hoooo akhirnya
claire
Ceritanya bagus, membuat penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Setiap bagian disajikan dengan sangat baik, dan tentu saja tata bahasanya sangat nyaman untuk dibaca.
spill.gils: terimakasih 🙏
total 1 replies
claire
oh my weak heart
claire
kompor banget kocag
Mbu'y Fahmi
greta ... masih menjadi misteri..
oke lanjut thor.. seru ceita nya
spill.gils: terimakasih🙏 semoga suka ya
total 1 replies
ninoy
wahh gaya penulisannya apik, seperti baca novel luar.. keren thor, semangat sampai selesai yaa. Saya baru mampir, sudah mau kebut aja bacanya.
spill.gils: terimakasih sudah mau coba Baca, kebetulan memang bikin nya di luar,.. rumah. hehe
total 1 replies
claire
hey Luca, teman mana yang seperti itu
claire
wkwk sesingkat itu
claire
sependapat dengan Eleanor, semakin menarik
claire
inilah saatnya
claire
yaelah keduluan leon😌
claire
wkwkwk kannn batu sih
claire
alamak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!