Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!
Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.
Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.
Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.
Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM SEBELUM PERNIKAHAN
Setelah Dev pergi, Mayra duduk di sofa ruang tamu dengan perasaan aneh, campur antara semangat dan kesepian.
Ini pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir dia tidur sendiri tanpa Dev. Tempat tidurnya pasti akan terasa dingin malam ini.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Dina masuk dengan tas besar dan bantal.
"Aku datang dengan persediaan lengkap! Wine, cokelat, masker wajah, dan film romantis. Kita akan punya malam wanita yang sempurna!" seru Dina dengan semangat.
Mayra tertawa. "Kamu tidak perlu repot-repot, Din."
"Tentu saja tidak repot, kamu gimana sih May. Ini malam terakhir kamu sebagai wanita lajang, well, secara teknis kamu sudah menikah tapi kamu tahu maksudku. Besok kamu resmi jadi istri Dev dengan semua cara yang benar. Jadi malam ini kita harus merayakannya!" kata Dina sambil mengeluarkan botol wine dari tasnya.
"Tapi besok aku harus bangun pagi untuk persiapan. Aku tidak boleh begadang terlalu malam," protes Mura meskipun pada akhirnya dia tetetap tersenyum.
"Aku tahu, aku tahu. Kita akan tidur jam sebelas paling maksimal. Tapi sebelum itu, mari kita nikmati waktu yang berkualitas," Pungkas Dina sambil menuang wine ke dua gelas.
Mereka duduk di sofa dengan kaki dilipat, masing-masing memegang gelas wine, dan Dina memutar film romantis di televisi, tapi volume-nya dimatikan karena mereka malah lebih tertarik ngobrol. Tipikal ciwi-ciwi kalau udah ngumpul emang!
"Jadi," mulai Dina dengan senyum jahil, "gugup tidak untuk malam pertama sebagai pengantin yang resmi?"
"Dina!" Mayra melempar bantal ke sahabatnya sambil tertawa. "Kita sudah, kamu tahu, berkali-kali. Ini bukan malam pertama kami."
"Aku tahu, tapi tetap saja. Ini berbeda kan? Ini setelah kalian bertukar janji yang nyata, di depan semua orang yang kalian cintai. Pasti ada sesuatu yang spesial tentang itu," kata Dina.
Mayra merenungkan itu sambil menyesap wine-nya. "Kamu benar. Meskipun secara teknis tidak ada yang berubah, tapi rasanya pasti akan berbeda. Lebih sakral tentu saja"
"Tepat sekali!" kata Dina sambil mengangguk. "Dan Dev sepertinya tipe yang akan membuat malam pertama yang resmi ini jadi sangat romantis dan berkesan."
Mayra tersenyum membayangkan itu. "Dia memang selalu tahu bagaimana membuat sesuatu jadi spesial."
"Kamu sangat beruntung, May. Serius. Dari pernikahan balas dendam yang gila, kamu berakhir dengan cinta sejati," kata Dina dengan tulus.
"Aku tahu," jawab Mayra dengan lembut. "Kadang aku masih tidak percaya semua ini nyata. Bahwa aku bisa sebahagia ini setelah semua yang terjadi dengan Arman."
"Kamu pantas mendapat kebahagiaan ini. Setelah semua yang kamu lalui, kamu pantas mendapat pria seperti Dev yang mencintaimu dengan sepenuh hati," kata Dina sambil meraih tangan Mayra. "Dan aku sangat bersyukur bisa menyaksikan perjalananmu dari patah hati sampai menemukan cinta yang sebenarnya."
Mayra merasakan matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Din. Karena sudah selalu ada untuk ku. Kamu tidak menghakimi saat aku bilang aku mau menikahi paman dari mantan tunanganku di altar. Untuk mendukung semua keputusan gilaku."
"Ya ampun Maura kamu sudah bilang ini ribuan kali, tentu saja aku akan selalu mendukung mu, " kata Dina sambil terkekeh lalu memeluk Mayra.
Setelah momen emosional itu, mereka melanjutkan dengan aktivitas yang lebih ringan, memakao masker wajah, makan cokelat, dan berbagi gosip tentang tamu-tamu yang akan datang besok.
"Oh, aku dengar Pak Hendra akan datang besok. Bagaimana perasaan Dev tentang itu?" tanya Dina.
"Rumit sih. Tapi mereka pelan-pelan mencoba memperbaiki hubungan. Aku lihat mereka berpelukan tadi malam di makan malam latihan. Itu langkah besar," jelas Mayra.
"Penyembuhan adalah proses. Bagus bahwa mereka mau mencoba," kata Dina. "Dan bagaimana dengan pihak keluargamu? Siska dan zakia?"
"Mereka tidak diundang. Dan keamanan sudah diberi foto mereka untuk berjaga-jaga kalau mereka memcoba datang tanpa diundang," jawab Mayra.
"Keputusan yang tepat. Kamu tidak butuh drama besok," setuju Dina.
Pukul sepuluh malam, mereka sudah di kamar dengan lampu redup, berbaring di tempat tidur sambil mengobrol dengan suara pelan.
"May, boleh aku tanya sesuatu yang pribadi?" tanya Dina tiba-tiba.
"Tanya saja."
"Kamu sudah memikirkan tentang anak? Maksudku, kamu dan Dev sudah menikah beberapa bulan. Kalian sudah bahas tentang punya bayi?" tanya Dina dengan hati-hati.
Mayra tersenyum dalam kegelapan. "Kami sudah bicara tentang itu. Kami berdua tentu saja ingin seorang anak, tapi mungkin tidak sekarang. Kami ingin menikmati waktu berdua dulu, setidaknya setahun atau dua tahun. Tapi ya, di masa depan, kami pasti ingin punya keluarga kecil dengan dua anak yang lucu."
"Aku sudah bisa membayangkan Dev yang menjadi ayah. Dia akan jadi ayah yang protektif tapi juga penuh kasih," kata Dina.
"Aku juga berpikir begitu," setuju Mayra. "Meskipun dia gugup tentang itu karena hubungannya dengan ayahnya sendiri tidak baik. Tapi aku yakin dia akan jadi ayah yang luar biasa."
"Dan kamu akan jadi ibu yang luar biasa. Anak kalian akan sangat beruntung," kata Dina dengan tulus.
Mereka terdiam sejenak, lalu Dina bertanya lagi, "Kamu takut untuk besok?"
"Tidak takut tepatnya. Lebih seperti, terbawa emosi. Ini seperti puncak dari perjalanan yang sangat panjang dan rumit. Dan besok, semua itu akan mencapai akhir bahagianya," jawab Mayra.
"Ini bukan akhir, May. Ini baru awal. Awal dari kehidupanmu yang indah dengan Dev," koreksi Dina dengan lembut.
"Kamu benar," kata Mayra sambil tersenyum. "Awal yang baru."
***
Sementara itu, di suite hotel mewah, Dev duduk di balkon dengan Marco, masing-masing memegang gelas wiski.
"Jadi, besok adalah hari besar. Kamu siap?" tanya Marco.
"Lebih dari siap. Aku sudah menunggu hari ini sejak aku menyadari aku jatuh cinta pada Mayra," jawab Dev dengan yakin.
"Aku masih ingat saat kamu pertama kali cerita tentang usulan gila Mayra. Kamu terlihat sangat skeptis tapi juga tertarik," kata Marco sambil terkekeh mengingat itu.
"Karena itu memang gila. Tapi juga brilian. Dan entah bagaimana, kegilaan itu membawaku pada kebahagiaan yang tidak pernah kubayangkan," kata Dev.
"Kamu berubah banyak sejak ada Mayra, kamu tahu itu? Kamu lebih hidup. Lebih hangat. Lebih manusiawi," komentar Marco.
"Karena dia membuatku ingat bagaimana rasanya merasakan hidup yang sebenarnya. Setelah Valerie, aku menutup semua emosiku. Fokus hanya pada pekerjaan. Tapi Mayra, dia perlahan membuka semua tembok yang kubangun. Dan aku bersyukur untuk itu," kata Dev.
"Aku senang untukmu, bro. Serius. Kamu pantas mendapat ini," kata Marco sambil menepuk bahu Dev.
"Terima kasih, bro. Terimakasih kau sudah mendampingi ku dan menjadi sahabat yang selalu ada, ujar Dev dengan tulus.
Marco tergelak. " Kita sudah kenal 10 tahun Dev,bukan bocah puber yang baru bertemu di tongkrongan,"jawabnya dan Dev tertawa karena itu.
Mereka lalu duduk dalam hening, menikmati pemandangan Jakarta malam dari balkon hotel.
"Kamu gugup untuk pidato besok?" tanya Dev.
"Sedikit. Aku sudah siapkan pidato yang seimbang antara lucu dan emosional. Aku harap aku tidak akan terlalu emosional dan menangis di depan semua orang," jawab Marco sambil tertawa.
"Kalau kamu nangis, Mayra pasti akan nangis juga. Lalu Dina akan nangis. Lalu semua tamu perempuan akan nangis. Dan kita akan punya pesta tangis di pernikahan," guyon Dev.
"Yah, lebih baik menangis karena bahagia daripada menangis karena sedih," kata Marco dengan bijak.
"Benar," setuju Dev.
Pukul sebelas malam, Marco pamit untuk kembali ke kamarnya sendiri di hotel yang sama.
"Tidur yang cukup. Besok adalah hari panjang," kata Marco sebelum pergi.
"Kau juga," jawab Dev.
Setelah sendirian, Dev duduk di tepi tempat tidur dan membuka ponselnya. Ada pesan dari Mayra yang dikirim lima belas menit lalu.
"Aku tidak bisa tidur. Terlalu bersemangat untuk besok. Aku merindukanmu."
Dev tersenyum dan mengetik balasan.
"Aku juga merindukanmu. Tapi ini tradisi, kita harus berpisah malam sebelum pernikahan. Besok jam berapa kita bertemu lagi? Oh ya, saat kamu berjalan menujuku di altar, aku tidak sabar untuk momen itu."
Balasan Mayra datang cepat.
"Aku juga tidak sabar. Tidur yang nyenyak, calon suamiku. Sampai bertemu besok."
"Sampai bertemu besok, calon istriku. I love you so bad."
"I love you to, forever."
Dev menatap pesan terakhir itu dengan senyum lebar. Selamanya. Ya, selamanya terdengar sempurna.
Dia meletakkan ponselnya dan berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit dengan perasaan damai.
Besok, dia akan berdiri di altar dan menikahi wanita yang dicintainya. Dengan cara yang benar. Di depan orang-orang yang mereka sayangi. Tanpa drama, tanpa kontrak, hanya ada cinta yang tulus.
Dan dia sudah tidak sabar.
***
Kembali di penthouse, Mayra juga berbaring di tempat tidur dengan senyum setelah membaca pesan dari Dev.
Di sampingnya, Dina sudah tidur dengan dengkuran halus.
Mayra menatap cincin pertunangan di jarinya yang berkilau dalam cahaya bulan yang masuk melalui jendela.
Besok, cincin itu akan ditambah dengan cincin pernikahan baru, simbol dari komitmen yang diperbarui.
Mayra menutup mata dan membiarkan pikiran-pikiran indah tentang besok mengalir. Gaun yang indah, papa yang akan mengantarnya, dan Dev yang menunggu di altar dengan senyum. Janji yang akan mereka ucapkan, lalu ciuman sebagai suami istri yang resmi. Resepsi yang penuh dengan tawa dan kebahagiaan.
Semua itu akan jadi kenyataan dalam beberapa jam lagi.
Dan dengan pikiran itu, Mayra akhirnya tertidur dengan senyum di wajahnya.
Bermimpi tentang hari terindah dalam hidupnya yang akan segera tiba.
Dan jujur dia sangat deg- degan.
*******
BERSAMBUNG
pembelajaran juga .. komunikasi yg baik adalah solusi dr setiap masalah yg datang.
👍👍
menunggu mu update lagi