Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan tidak terduga
Hana menghela napas panjang sembari menatap pemandangan kota dari balkon kamarnya yang mewah. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, ia merasa beban berat yang menghimpit dadanya sedikit terangkat. Di bawah sana, ia bisa melihat El sedang asyik bermain bola di tepi kolam renang bersama Pak Sutoyo, sementara Tama berdiri tak jauh dari mereka, mengawasi dengan tatapan tajam yang waspada namun protektif.
'Aku tidak lagi sendiri, batin Hana.'
Ia memiliki Ayah yang berkuasa dan Mas Tama yang siap menjadi tamengnya. Keamanan berlapis di hunian ini membuatnya merasa benar-benar bisa bernapas lega.
.
.
Di sudut lain Jakarta, suasana justru berbanding terbalik. Kantor pusat Ardiwinata Group terasa mencekam. Cakra mondar-mandir seperti singa yang terluka di dalam kandang emasnya.
"Aku tidak mau tahu, pokoknya cepat kalian temukan istri dan putraku! Kerahkan semua informasi di Jawa Tengah, cari sampai ke pelosok Kalimantan dan Sulawesi! Jangan ada satu pun pelabuhan atau bandara yang luput dari pengawasan!" teriak Cakra ke arah telepon genggamnya sebelum membantingnya ke meja.
Tepat saat itu, pintu ruang kerja terbuka dengan dentuman keras. Tuan Ardiwinata menerobos masuk dengan napas memburu.
"Apa yang barusan kamu bilang itu benar, Cakra? Barusan kau sebut putraku? Apakah Hana telah melahirkan seorang anak laki-laki, pewaris keluarga Ardiwinata?" tanya Tuan Ardi dengan suara bergetar, antara marah dan tak percaya.
Cakra terdiam sejenak. Bahunya yang tegap kini merosot. Sambil menahan tangis yang menyesakkan dada, dengan bibir yang bergetar hebat, ia menjawab, "Iya, Pah... El-Barack. Namanya El-Barack Ardiwinata. Dia sangat mirip denganku."
Air mata akhirnya jatuh membasahi pipi pria tangguh itu. "Tapi... tapi Hana seolah menghindari ku, Pah. Ia belum cukup menyiksaku selama enam tahun ini? Ia seperti sudah tahu kalau aku akan datang untuk menjemputnya. Rumah itu kosong... dia menghilang lagi."
Tuan Ardi mendekat, rasa iba mengalahkan amarahnya. Ia memeluk putra tunggalnya yang terlihat begitu rapuh dan hancur. "Kamu yang sabar, Cakra. Jika Tuhan sudah berkehendak, pasti kau akan bertemu dengan putramu dan juga Hana. Papah akan turun tangan langsung, Papah akan ikut mencari keberadaan mereka!"
Cakra membalas pelukan ayahnya dengan erat, seperti anak kecil yang mencari perlindungan. "Terima kasih, Pah. Hanya Papah yang aku miliki di dunia ini dan sangat mengerti keadaanku."
Paris, Prancis
Sementara itu, ribuan kilometer dari Jakarta, di sebuah apartemen mewah di Paris, Nyonya Inggit duduk dengan wajah muram. Hukuman pengasingan yang diberikan Cakra terasa seperti penjara baginya. Ia merindukan kemewahan Mansion Ardiwinata dan kekuasaan yang dulu ia genggam.
"Aku harus mencari cara agar Cakra dan Mas Ardi mau menerimaku kembali di Mansion!" gumamnya penuh ambisi.
Jessica, wanita yang sejak dulu terobsesi pada Cakra, menyesap champagne-nya dengan elegan lalu tersenyum licik. "Tante tenang saja, aku memiliki sebuah rencana besar agar Tante bisa kembali lagi ke keluarga Ardiwinata."
"Oh ya? Cepat katakan Jesi, aku sudah tidak sabar dengan rencanamu itu?" tanya Inggit dengan mata berbinar.
Jessica mendekat, membisikkan serangkaian rencana kotor ke telinga Inggit. Senyum di wajah Inggit perlahan melebar, memancarkan aura jahat yang sama kuatnya dengan Jessica.
"Wah, rencanamu sungguh luar biasa! Baiklah, kali ini aku yakin kita akan berhasil!" jawab Inggit penuh percaya diri. "Hana mungkin sudah pergi, tapi jika anak itu memang benar ada, dia adalah tiket masuk ku untuk kembali berkuasa."
.
.
Pagi yang cerah di kediaman Pak Sutoyo terasa begitu hangat. El-Barack sudah rapi dengan pakaian kasualnya, melompat-lompat kecil di samping kakeknya yang tampak gagah meski sudah tidak lagi muda.
"Bunda benar-benar tidak ikut?" tanya El, sedikit mengerucutkan bibirnya.
Hana berjongkok, merapikan kerah baju putranya. "Maaf sayang, Bunda agak kurang enak badan. El pergi sama Kakek saja ya? Harus jadi anak pintar, jangan jauh-jauh dari Kakek."
Pak Sutoyo mengusap kepala putrinya dengan penuh pengertian. Ia tahu, di balik alasan 'kurang enak badan', ada ketakutan besar yang menghantui Hana akan sosok Cakra.
"Baiklah kalau begitu, kamu di rumah saja Hana. Nanti siang Tama pulang setelah ia piket tadi malam, jadi di rumah ada yang menemanimu. Kau tidak usah sungkan dengan kakakmu itu, dia pria yang sangat baik!" ucap Pak Sutoyo menenangkan.
"Yah, aku pikir Bunda ikut... Tapi ya sudahlah, pergi berdua dengan Kakek juga sepertinya seru!" sahut El dengan cepat, kembali ceria.
Setelah kepergian El dan ayahnya, rumah mewah itu terasa lengang. Hana yang terbiasa bekerja keras di desa kini merasa canggung hanya berdiam diri. Ia akhirnya melangkah ke dapur luas yang memiliki peralatan sangat lengkap.
"Mungkin membuat sesuatu bisa mengurangi rasa cemas ini," gumamnya.
Satu jam kemudian, aroma mentega dan susu yang harum menyerbak ke seluruh penjuru lantai bawah. Tepat saat Hana mengeluarkan loyang dari oven, pintu depan terbuka. Tama melangkah masuk dengan wajah lelah. Ia mengenakan jaket kulit dan kaos hitam, setelan preman khas anggota kepolisian yang sedang menangani kasus besar.
Langkah Tama terhenti. Matanya yang biasanya dingin kini melembut melihat sosok Hana di dapur. Baginya, pemandangan ini adalah sesuatu yang baru sekaligus menenangkan.
"Wah, bau apa ini Han?" tanya Tama sambil mendekat.
Hana menoleh dan tersenyum tulus. "Kebetulan aku baru selesai membuat kue pie dengan topping mango milk."
Tama menatap kue itu, lalu beralih menatap Hana. Cahaya matahari dari jendela dapur memantul di wajah Hana yang kemerahan karena suhu oven. "Ternyata selain cantik, kau pandai sekali memasak," puji Tama tanpa sadar.
Hana tersentak. Ia menunduk malu, menyembunyikan pipinya yang kian merona. "Sebaiknya Mas Tama segera cicipi kue buatanku."
Tama berdehem, mencoba menetralkan suasana yang tiba-tiba terasa intim baginya. "Kebetulan perutku sudah lapar, Han. Yasudah kita makan sama-sama. Oh iya, El sama Papah kemana? Kok rumah sepi?"
"El diajak sama Papah pergi ke Mall, katanya Papah mau membelikan El mainan," jawab Hana sembari menyiapkan piring.
Tama tersenyum lebar, membayangkan betapa manjanya ayahnya pada cucu barunya itu. "Pasti El senang sekali, Han!"
Mall Cendrawasih
Di sebuah Mall kelas atas, pemandangan mencolok terjadi. Pak Sutoyo berjalan dengan wibawa, diikuti oleh El yang memegang es krim cokelat, serta tiga orang pengawal bertubuh tegap yang membawa belasan kantong belanjaan bermerek.
"Wah, mainannya banyak sekali Kek! Terima kasih Kakek!" ucap El riang sambil mencium pipi kanan dan kiri kakeknya.
Namun, di lantai yang sama, di sebuah restoran mewah yang hanya dibatasi dinding kaca, Tuan Ardiwinata sedang berbincang dengan rekan bisnisnya, Sony. Perhatian Tuan Ardi teralih ketika melihat kerumunan orang yang menepi memberikan jalan bagi seorang pria tua.
"Kau sedang melihat apa, Ardy?" tanya Sony.
"Pria itu... rasanya sudah tidak asing," tunjuk Ardy ke arah Pak Sutoyo yang kini sedang duduk di bangku taman mal, membantu El menyeka noda es krim di bibirnya.
Sony menoleh dan matanya membelalak. "Ya ampun, itu Pak Sutoyo! Orang kepercayaannya orang nomor satu di negeri ini. Dia salah satu petinggi dari kepolisian!"
"Kau mengenalnya, Son?" tanya Ardy tertarik.
"Tentu saja! Kami sempat bekerja sama dalam bisnis energi, Pak Sutoyo memiliki beberapa saham di dalamnya. Aku sudah sering bertemu dengannya. Tapi setahuku, dia sangat tertutup soal keluarga."
Pandangan Tuan Ardi beralih. Bukan pada Pak Sutoyo, melainkan pada bocah laki-laki yang sedang tertawa lebar di samping sang jenderal.
DEG!
Jantung Tuan Ardi seolah berhenti berdetak. Ia meletakkan cangkir kopinya dengan tangan gemetar. Struktur wajah itu, kerlingan matanya, bahkan cara bocah itu tertawa...
'Kenapa bocah laki-laki itu sangat mirip dengan Cakra sewaktu kecil?' batinnya tak percaya.
Bayangan Cakra saat berusia lima tahun mendadak tumpang tindih dengan sosok El-Barack di depannya.
Tuan Ardi segera berdiri dari kursinya. "Son, maaf, aku harus memastikan sesuatu."
Bersambung...