Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Yang Buruk
Pagi yang seharusnya tenang di tengah laut itu berubah menjadi neraka dalam sekejap.
Julius terbangun dengan kepala yang terasa seberat timah. Pandangannya kabur saat ia menyadari dirinya terkapar di lantai kamar Henry. Di sampingnya, Clark mendengkur tak sadar diri, dan Lucia tertidur di sofa dengan posisi yang sangat tidak alami.
Ada yang salah, batin Julius. Ia adalah pria yang sangat toleran terhadap alkohol. Tidak mungkin satu gelas sampanye semalam bisa membuatnya pingsan hingga kehilangan ingatan.
"Henry! Clark! Bangun!" teriak Julius sambil menendang kaki Henry. Begitu kesadarannya pulih 100%, jantungnya seolah berhenti berdetak. "Jane... di mana Jane?!"
Julius berlari keluar kamar dengan langkah goyah. Ia menuju kabin VVIP miliknya, namun ranjang itu kosong dan masih rapi, seolah tidak pernah ditiduri. Kepanikan mulai menjalar ke seluruh sarafnya.
"JULIUS! TOLONG!"
Suara jeritan Jane pecah dari arah kabin di ujung lorong. Julius berlari secepat kilat, diikuti Henry, Clark, dan Lucia yang masih setengah sadar namun ikut panik karena teriakan itu.
Julius menendang pintu kabin itu hingga terbuka lebar.
BRAK!
Dunia Julius runtuh seketika. Di depan matanya, di dalam kamar Patrick, pemandangan yang paling mengerikan tersaji.
Jane meringkuk di pojok ranjang, memeluk selimut dengan erat sambil menangis histeris. Tubuhnya gemetar hebat, matanya kosong penuh trauma. Pakaiannya, gaun yang ia kenakan semalam, robek dan berhamburan di lantai, bercampur dengan kemeja dan celana milik Patrick.
Di sisi lain ranjang, Patrick baru saja terduduk dengan wajah yang sangat bingung dan pucat pasi. Ia bahkan tidak mengenakan atasan, tampak linglung seolah baru saja jatuh dari langit.
"Jane..." suara Julius tercekat. Amarah yang begitu besar meledak di dadanya hingga matanya memerah.
"JULES! SUMPAH, JULES! GUE NGGAK TAHU APA-APA!" teriak Patrick dengan suara bergetar saat melihat Julius melangkah mendekat dengan tangan terkepal. "Gue bangun... Jane udah ada di sini! Gue nggak nyentuh dia, Jules! Gue bersumpah demi nyawa gue!"
Lucia langsung berlari melewati Julius. Ia menyambar jubah mandi di gantungan dan membalut tubuh Jane yang syok. "Jane, ini aku... Lucia. Tenang, sayang. Kau aman sekarang," bisik Lucia sambil mendekap Jane yang terus meracau memanggil nama Julius.
Julius tidak berkata-kata. Ia berjalan mendekati Patrick, menarik kerah bajunya, dan menghantamkan tinjunya ke wajah Patrick hingga pria itu jatuh tersungkur.
"JULES, BERHENTI! ADA YANG NGGAK BERES!" teriak Clark sambil menahan tangan Julius. "Liat pelayannya! Tidak ada satupun pelayan di dek ini! Kita semua dijebak!"
Henry memungut sebuah gelas di atas nakas kamar Patrick dan mencium aromanya. "Obat tidur dosis tinggi. Sialan... ini rencana siapa? Grace atau bokap lo, Jules!"
Jane masih terisak di pelukan Lucia, menatap Julius dengan tatapan hancur. "Julius... aku tidak tahu kenapa aku bisa di sini... aku takut..."
Suasana di kapal pesiar yang tadinya penuh tawa kini berubah menjadi kuburan yang dingin. Ayah Julius benar-benar melakukan langkah paling kotor dalam sejarah keluarga Randle, menghancurkan kehormatan seorang gadis hanya untuk memisahkan anaknya.
Para pelayan wanita suruhan Tuan Randle telah bekerja dengan sangat rapi. Mereka memastikan Jane dipindahkan ke kamar Patrick tanpa satu pun sidik jari tertinggal, mengatur pakaian yang berserakan sedemikian rupa agar terlihat seperti adegan pasca-persetubuhan yang panas.
Di dalam kabin utama, Julius dan Jane duduk saling membelakangi di tepi ranjang. Keheningan di antara mereka terasa lebih menyakitkan daripada teriakan Grace.
Jane memeluk lututnya, matanya sembab karena terus menangis. Ia melirik punggung Julius yang kaku. Kenapa dia diam? Apa dia jijik padaku? Apa dia percaya pada apa yang dia lihat tadi pagi? batin Jane hancur. Ia merasa kotor, bukan karena ia melakukannya, tapi karena pria yang paling ia cintai mendiamkannya seolah ia adalah sebuah kesalahan.
Sementara itu, otak Julius sedang berputar di titik beku. Ia bukan tidak percaya pada Jane, ia tahu Jane adalah miliknya, tapi ia muak pada dirinya sendiri. Ia merasa gagal sebagai pria. Bagaimana bisa ia, sang pewaris Randle yang jenius, tertidur seperti orang bodoh karena obat tidur sementara wanitanya diseret ke kamar pria lain?
Julius merasa tidak pantas menyentuh Jane saat ini karena dialah penyebab semua penderitaan ini. Namun, sikap diamnya justru menjadi pisau bagi hati Jane.
Di luar kabin, suasana tidak kalah tegang. Patrick duduk di lantai lorong dengan wajah babak belur akibat bogem mentah Julius tadi. Ia menunduk, gemetar setiap kali mendengar langkah kaki, takut Julius keluar dan menghajarnya lagi.
"Gue nggak ngelakuin itu, Lucia... Sumpah," bisik Patrick dengan suara serak.
Lucia menatapnya tajam namun penuh empati. "Gue tahu, Rick. Julius juga tahu. Dia cuma lagi gila karena nggak bisa jaga Jane."
Clark sedang duduk di depan laptopnya di ruang kendali kapal, jarinya menari dengan kecepatan luar biasa. "Gue dapet! Semua rekaman CCTV di dek malam itu dihapus secara profesional dari pusat, TAPI..." Clark tersenyum miring, "Mereka lupa satu hal. Jam tangan pintar yang gue kasih ke Jane punya sensor gerak dan perekam suara otomatis jika ada detak jantung yang melonjak drastis."
Henry mendekat dengan wajah serius yang jarang terlihat. "Lo bisa denger apa yang terjadi di kamar Patrick semalam?"
"Bisa," jawab Clark. "Dan suaranya membuktikan kalau Jane pingsan total. Tidak ada desahan, tidak ada gerakan, hanya suara para pelayan yang sedang berbisik-bisik memindahkan tubuh Jane."
Kembali ke kamar, Jane akhirnya tidak tahan. Dengan suara parau, ia membuka suara. "Kalau kau ingin aku pergi karena merasa aku sudah kotor... katakan saja, Julius. Jangan diam seperti ini."
Julius tersentak. Ia berbalik dan melihat Jane yang sudah gemetar hebat. Ia menyadari kebodohannya, diamnya telah disalahartikan sebagai ketidakpercayaan.
"Sayang, bukan begitu..."
Tepat saat itu, pintu kamar didobrak oleh Henry dan Clark.
"JULES! JANGAN JADI BEGO!" teriak Henry. "Clark dapet buktinya! Jane pingsan, lo pingsan, kita semua dipreteli kayak ayam sayur sama orang suruhan bokap lo!"
Clark memutar rekaman suara dari jam tangan Jane. Di sana terdengar suara dua orang wanita berbisik:
"Cepat, taruh dia di samping Tuan Patrick. Lepaskan pakaiannya. Tuan Randle ingin Tuan Julius melihat ini saat bangun nanti agar dia muak pada gadis tekstil ini."
Mendengar rekaman itu, amarah Julius yang tadinya dingin meledak menjadi api yang sangat panas. Ia menarik Jane ke dalam pelukannya, mendekapnya begitu erat hingga Jane bisa merasakan detak jantung Julius yang mengamuk.
"Maafkan aku, Jane... Maafkan aku," bisik Julius di telinga Jane. "Aku tidak pernah meragukanmu. Aku hanya membenci diriku sendiri karena membiarkan bajingan-bajingan itu menyentuhmu."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍😍