Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"
Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?
Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMNB 3
Cahaya matahari mulai redup dan tak terlihat siang ini, karena hujan turun rintik-rintik. Udara terasa lebih dingin, tetapi tetap tak mampu mendinginkan hati Mutiara yang panas.
Sudah satu bulan sejak posisinya sebagai sekretaris CEO dicopot dan ia dilempar ke divisi pemasaran. Posisinya kini dirasa tak berarti, karena sudah ada Rena, wanita yang selalu menatapnya dengan pandangan merendahkan.
"Lama-lama aku merasa tidak betah bekerja di sini, terlebih lagi Fajar sekarang begitu jauh denganku. Sudah satu bulan kami bahkan tidak ada waktu untuk mengobrol bersama, bahkan pesan chat pun tak pernah dia kirimkan, telepon apa lagi."
Dia mengusap layar ponselnya, di sana terlihat foto dirinya bersama dengan neneknya dan juga Fajar. Akhir-akhir ini kondisi kesehatan neneknya sudah membaik, dulu memang neneknya itu terkena kanker perut stadium 1.
Beruntung Fajar selalu mau membiayai pengobatan neneknya tersebut, alhasil kini keadaan neneknya sudah semakin baik wajahnya sudah terlihat lebih segar dan kini sudah pulang ke rumah.
Bahkan neneknya sudah bisa berkegiatan, walaupun hanya menanam sayur di belakang rumah sederhana mereka.
"Apa aku putus saja ya? Toh keadaan kami juga memang jauh berbeda, sudah seperti langit dan juga bumi. Aku memang tidak pantas bersama dengannya, Rena lebih pantas."
Di saat Mutiara sedang asik berperang dengan batinnya, Rena berjalan mendekat ke meja Mutiara dengan langkah angkuh. Dia menjatuhkan setumpuk berkas hingga menimbulkan suara dentuman keras.
"Mutiara, ini laporan promosi bulanan. Kerjakan ulang. Datanya berantakan, persis seperti penampilanmu hari ini."
Mutiara mencoba tetap tenang, karena walaupun melawan percuma saja. Fajar tetap akan membela wanita itu, bukan membela dirinya yang berstatus sebagai kekasihnya.
"Tapi, Nona Rena. Data ini sudah divalidasi oleh tim keuangan. Mana mungkin ada bagian yang salah?"
"Jangan membantah. Aku sekretaris mas Fajar sekarang. Apa yang aku katakan adalah perintah dari dia. Satu lagi, jangan coba-coba datang ke ruangan Fajar tanpa izin aku. Tidak perlu mengadu apa-apa sama dia. Dia sedang sibuk, tidak punya waktu untuk urusan tidak penting."
Belum juga Mutiara menyahuti apa yang dikatakan oleh Rena, wanita itu dengan angkuh kembali ke ruangan Fajar.
Mutiara melirik ke arah ruangan kaca di ujung lorong. Di sana, ia bisa melihat Fajar tertawa lebar sambil membantu Rena merapikan rambutnya. Ruang kerja yang dulu tirainya selalu tertutup itu, kini terbuka lebar semenjak Rena menjadi sekretaris pria itu.
Padahal, selama tiga tahun ini Mutiara adalah wanita yang selalu ada di samping Fajar, mendukungnya dari nol, meski status hubungan mereka harus disembunyikan rapat-rapat dengan alasan "profesionalitas".
"Sepertinya Fajar memang sudah nyaman dengan Rena, aku harus tahu diri. Aku lebih baik mundur daripada terus-terusan seperti ini. Tapi----"
Mutiara Dilema rasa cintanya terhadap Fajar begitu besar dia tidak ingin berpisah dari pria itu Tetapi dia juga tidak bisa kalau terus seperti ini.
Merasa dadanya terus sesak, Mutiara memutuskan untuk pergi ke sebuah kafe setelah jam kantor usai. Ia butuh ketenangan. Namun, saat melangkah masuk, ia justru melihat sosok yang sangat ia kenali duduk di sofa pojok kafe itu bersama sekumpulan pria berjas.
Itu Fajar dan teman-teman sosialitanya. Mutiara sebenarnya ingin segera pergi dari sana, karena dia tidak ingin bertemu dengan Fajar saat gundah seperti ini.
Namun, dia malah berdiri mematung di balik pilar kayu, karena dia tak sengaja mendengar percakapan mereka yang penuh tawa remeh.
"Bagaimana dengan si Mutiara itu, Jar? Kudengar dia turun jabatan. Bukannya dia pacarmu?"
Fajar terkekeh sambil menyesap rokok yang terselip di antara jari manis dan juga jari tengahnya.
"Pacar? Ayolah, kalian tahu aku. Mutiara itu cuma alat. Dia cerdas, dia yang membangun sistem pemasaran perusahaan ini sampai besar. Aku cuma butuh otaknya, makanya aku 'berakting' mencintainya agar dia setia bekerja untukku."
Mutiara baru sadar kalau perlakuan pria itu terhadap dirinya adalah palsu, semuanya hanya untuk kepentingan perusahaan semata.
"Serius? Tapi, aku pernah melihat beberapa kali kamu saat bersama dengan Mutiara, kamu itu seperti pria yang begitu bucin. Bahkan terkesan seperti anak kucing yang begitu menurut kepada majikannya. "
"Ck! Aku bilang itu hanya akting, mana mungkin aku bucin kepada wanita rendahan seperti itu. Kalau aku tidak berlaku seperti itu, mana mungkin dia percaya kalau aku begitu mencintainya. "
Air mata mengucur deras di kedua pipi Mutiara, dia tidak menyangka kalau Fajar ternyata begitu menganggap dirinya rendah.
Pria itu hanya pura-pura saja, wanita itu hanya dijadikan lelucon saja oleh pria yang selama ini dia anggap malaikat di dalam hidupnya.
Seorang teman Fajar mendekat ke arah pria itu. Dia menepuk pundak Fajar sambil menaik turunkan alisnya.
"Lalu, apa kamu pernah tidur dengan dia?"
"Najis, mana mungkin aku tidur sama dia. Kalau dia hamil bagaimana? Nggak pantas tahu orang rendah kaya gitu hamil anak aku."
Semua orang tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Fajar, sedangkan Mutiara menutup mulutnya sambil menangis. Dia takut kalau Isak tangisnya terdengar oleh Fajar.
"Lalu si Rena? Katanya dia calon istrimu?"
"Rena itu setara denganku. Dia kaya, terpelajar, dan dari keluarga terpandang. Istri seorang CEO haruslah wanita yang punya kelas, bukan wanita dari keluarga miskin yang cuma modal otak seperti Mutiara. Kalau aku benar-benar mencintainya, tidak mungkin aku menyembunyikan dia selama tiga tahun, kan?"
"Anjiiir, aku baru tahu kamu seperti ini, Jar."
Fajar tertawa, "Kalian tahu? Perjodohan itu hanya akal-akalan aku saja, sebenarnya aku dan Rena sudah menjalin kasih selama satu tahun, dia sangat menarik dan energik."
Dunia Mutiara seakan runtuh mendengar semua penghinaan dan kebohongan yang keluar dari mulut Fajar. Tiga tahun pengabdian, cinta yang tulus dan kerja kerasnya untuk membantu Fajar dalam mendirikan perusahaannya hanya lelucon saja.
"Kurang ajar kamu, Fajar. Jadi seperti itu arti aku di mata kamu? Oke," ujar Mutiara dalam bisikan.
Air mata mengalir tanpa henti. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju bar. Dadanya begitu sesak kepalanya terasa ingin meledak, dia butuh sesuatu untuk membuat dirinya bahagia saat ini.
"Beri aku minuman beralkohol terkuat, apa saja. Berikan satu botol!"
"Nggak salah, Nona? Nanti anda bisa pingsan loh," ujar Pelayan.
"Nggak usah banyak omong, yang penting aku bayar."
Pelayan itu akhirnya memberikan sebotol minuman kepada Mutiara, dengan cepat dia membayar minuman itu dan ia meminum cairan beralkohol itu seolah-olah itu adalah air putih.
Gelas demi gelas membasahi tenggorokannya, hingga kesadarannya mulai menguap. Kepalanya berputar dan pandangannya mulai kabur.
Saat ia mencoba berdiri untuk pergi dari sana, keseimbangannya hilang. Ia hampir tersungkur ke lantai sebelum sebuah tangan kekar menangkap lengannya.
"Hati-hati. Kamu terlalu mabuk untuk berjalan sendirian, Nona."