Nella sudah jadi istri, ini ajaib.
Tidak terima dan kecewa adalah kesan pertama tapi, karena ini keputusan keluarganya ia harus terima dengan terpaksa dan siapa suaminya sekarang Nella sama sekali tak kenal.
Kehidupannya berubah drastis saat memilih menerima suaminya menjadi sah untuk dirinya bersamaan dengan rasa kecewa itu.
Selama waktu berjalan Nella akhirnya tahu suami yang menikahi dirinya bahkan seluruh kekurangannya adalah orang yang sama sekali tak pernah Nella bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marahnya
Setelah kalimat itu keluar Javier berjalan menjauh dari Nella bahkan sama sekali tidak mengatakan apapun Nella diam saja ia cih ia pikir ini tidak akan lama tapi, Nella salah ini sudah hari ketiga Javier acuh padanya bahkan Nella tidur di kamarnya sendirian Shinta bahkan tidak menyapanya sama sekali tidak seperti sebelumnya.
Nella ingin sibuk melakukan apapun dan bekerja tapi, setiap ada pekerjaan yang mau ia urus Javier marah dan membuatnya juga kesal.
"Bunga yang bagus." Melihat sebatang bunga kecil mekar dengan rumput liar di sekelilingnya Nella segera bergegas mengambil alat berkebun dan memindahkannya ke sisi lain agar berkembang biak lebih indah. Bukannya indah itu malah membuat Nella kesal.
"Buang semua alat berkebun dan biarkan taman hanya rumput dan semakin hijau."
"Kamu kenapa sih, aku suka aku mau mengurusnya kenapa kau selalu saja merusaknya."
"Kamu urus saja urusanmu yang terlalu sibuk lagi pula aku tidak memintamu bertahan denganku, untuk apa juga kamu mempertahankanku."
Javier maju meremas bahu Nella.
"Kau kira aku mau bicara denganmu, kau mengajakku berdebat seolah aku dan kau mengenal, Kau bercanda dasar anak pungut." Nella terdiam ia tidak pernah mendengar Javier berkata kasar padanya sebelum kalimat itu keluar dari mulutnya tiga hari yang lalu dan ini, anak pungut dia bilang, dadanya sesak tiba-tiba.
Sepertinya memang hanya Javier harapannya tapi, Javier sudah membuangnya sekarang, kenapa harus sedih harusnya ia senang jika Javier menjauh darinya kan.
"Kau mulai membuat masalah ya, aku sudah bilang aku mau cerai!"
Tamparan keras di wajah Nella membuat semuanya diam bahkan Shinta sampai menutup mata Daman karena ini adegan kekerasan Daman malah jengkel menepis tangan sembarangan di wajahnya.
"Kau yang harusnya menutup mata bodoh!" Bisiknya.
"Oh iyaa lupa."
Di tampar? Selama ini Nella tak pernah di tampar dengan keras selain tamparan mamanya, kini Javier menamparnya.
Sepertinya batas sudah Nella lewati dengan cara yang tidak sadar sama sekali.
"Kau pikir aku akan melepaskanmu, tidak! Kau milikku aku milikku siapapun yang mau memiliki mu lebih baik mati."
Pergi begitu saja tanpa bilang apapun bahkan Seam Shinta Daman menunduk di ujung saja karena takut ikut campur.
Nella berbalik badan ia pergi ke belakang dekat kolam ikan.
"Dia pikir selalu dia yang baik-baik saja aku juga baik-baik saja kalo aku tidak menikah dengan dia, aku pun tidak ada hak buat menolak bertanya berpendapat semuanya harus di paksa... Apa aku yang pura-pura kuat ini masih kurang kuat."
Javier berdiri di belakangnya.
"Memangnya aku mau seperti ini enggak! Sama sekali enggak mau!"
"Kecelakaan itu buat aku takut aku sepertinya akan trauma, yaa berarti kalo trauma harus di obatin sendiri."
"Jahat semaunya... Trauma ngobatin sendirian cuman bisanya nampar maksa nampar maksa emangnya aku gaboleh apa nolak.... Hiks hiks ..."
"Ibu... Harusnya pas meninggal bawa Nella aja Bu jangan biarin Nella tinggal ama mama papa, bawa Nella Bu, mereka semua jahat... Suami Nella juga udah gak kenal sok baik trus sekarang jahat... "
Menangis sambil bicara sendiri menatap wajah jelek nya yang menangis dari pantulan cahaya kolam.
"Nyonya..." Shinta datang mendekat seketika Nella buru-buru menghapus air matanya.
"Iya... Kenapa Shinta.."
"Aku beli dua Nyonya mau gak, ini kalo kemakan semua mual rasanya."
Tersenyum dengan bekas air mata Javier bisa lihat itu dengan kedua matanya. Ia merasa bersalah karena menamparnya tapi, situasinya sulit untuk mengabulkan permohonannya, semakin Javier sayang dan melembut permintaannya semakin gila, bahkan minta di bunuh dengan kedua tangannya.
Nella sebenarnya berperasaan tidak sih apa ia tidak memikirkan perasaan Javier yang sudah sangat cinta padanya dan membuatnya hidup dengan baik hanya saja keluarganya benar-benar gila dan menentang terus menerus.
"Seam!" Panggil Javier saat sudah di ruang tengah menjauh dari Shinta dan Nella yang asik menikmati eskrim di tepi kolam.
"Kau sudah dapat?" Seam mengangguk memberikan data dimana semua kecelakaan itu terjadi bahkan mereka sudah berkumpul di tempat mereka harus di hadapkan kemarahan Javier.
"Sudah seminggu sejak kecelakaan itu kan..." Seam mengangguk.
Suara mobil terdengar sampai belakang dekat kolam. Nella yang masih memakan eskrim bersama Shinta mendengarnya.
"Kemana dia?" Nella tidak sadar ia juga perhatian pada Javier tapi, ia tak mengakui kalo itu perhatian.
"Urusan mendadak biasanya ada masalah di bisnis... orang kaya itu bisnisnya gak kenal waktu." Shinta sengaja mengecoh dengan cara berbasa-basi ala gosip.
"Iyaa gak kayak pengangguran numpang hidup di rumahnya yaa." Murung wajah Nella seketika.
Salah bicara Shinta.
"Shinta... Kamu ada kenalan yang bekerja di rumah sakit aku mau melamarnya."
"Ah itu... Ada nyonya coba aku tanya langsung ke mereka."
Huft, berbohong demi menghindari banyak pertanyaan ini baik kan.
Shinta sebenarnya kasihan waktu Nella di tampar tapi, bagaimanapun setiap perdebatan minta pisah terus dan sepertinya Tuannya juga cinta sekali ya tidak akan pernah terjadi.
****
Suara tetesan air dari pipa bocor dan suara besi yang beradu dengan lantai penuh kerikil dan pasir.
"Mereka? Semuanya?" Tanya Javier dengan tatapan girangnya.
"Kalian semua di minta ayahku menghabisi siapa?" Pertanyaan yang terasa seperti pisau yang kalo mereka bergerak akan menusuk tenggorokannya sampai tembus kebelakang.
"Jawab!" Bentaknya menghentakkan pipa besi besar dilantai.
"Tidak ada suara?" Tanya Javier lagi.
Seam diam di belakangnya dengan wajah menatap mereka semua.
"Nyo-nyonya dan Tu-tuan," salah satu menjawabnya dengan gagap membuat semua temannya langsung mengatai dan menatapnya tajam.
"Lepaskan dia..." Perintah pada Seam.
Satu orang yang bicara jujur itu di pisah.
"Kalian yang mengemudikan truk menembak kaca spion dan kalian yang hampir membunuhnya."
Dokter dan perawat itu langsung tertunduk.
"Kamu hanya menjalani tugas kami di minta oleh nya melakukan semua itu, maafkan kami Tuan."
Javier sudah gatal ingin menghabisi mereka tapi, ia ingat jika ia melakukannya Nella akan tahu ia kembali dengan berdarah-darah di pakaiannya.
Tiba-tiba salahs atu dari mereka sudah melepaskan diri dari talinya berdiri dan langsung mengarahkan pisau ke dada Javier.
"Kau pikir karen kau putranya kau bisa seenaknya, kau bahkan hanya anak selir yang meninggal setelah melahirkan mu. Mati saja!"
Sampai sini Javier sudah cukup menahannya ia akan habisi mereka semua.
Mereka ternyata melawan tanpa takut dan ini lebih baik dan satu orang di pisahkan menyerang Seam sangat brutal.
Memukul kepala Javier keras dengan balok kayu tapi, menghindar sebelum kena di balasnya pukulan kencang dengan pipa di kepala belakangnya.
Semuanya tumbang.
Membuang pipanya kelantai dan tatapannya sayu menatap semuanya tergeletak pingsan dengan luka-luka hasil perkelahian Javier yang tidak kenal ampun.
"Bereskan."
Javier pergi menaiki mobilnya sendiri dan Daman disana mengurus mereka semua yang sudah tak berdaya.
Nella belum tidur ia masih di luar berdiri sendirian. Javier mau masuk melewatinya tapi darah di bajunya ini mengganggunya.
Setelah Nella masuk Javier masuk bersama dengan mobilnya.