Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Pertemuan Keluarga yang Canggung
Mansion megah milik keluarga Abraham berdiri tegak di kawasan elite Jakarta Selatan, dikelilingi taman luas yang asri. Jordan menghentikan mobilnya tepat di depan teras besar. Ia melirik Airin yang sejak tadi meremas tali tasnya dengan wajah pucat.
"Jangan tegang begitu. Kakakku tidak akan menggigitmu, Airin," goda Jordan sambil melepaskan sabuk pengamannya.
"Tapi... Pak Jehan itu dosen wali saya, Pak. Saya malu sekali jika beliau tahu hubungan kita ini," bisik Airin lembut. Baginya, bertemu dosen wali dalam konteks "perkenalan pacar" adalah sebuah bencana sosial.
"Berhenti memanggilku Pak," koreksi Jordan sebelum turun dan membukakan pintu untuk Airin.
Begitu mereka melangkah masuk ke dalam ruang keluarga yang luas, aroma masakan rumah yang lezat langsung menyambut. Di sana, duduklah Jehan Abraham, pria berusia 43 tahun yang tampak jauh lebih santai dibandingkan adiknya, ditemani istrinya, Sarah, yang cantik dan anggun.
"Astaga, Jordan! Akhirnya kamu membawa seseorang ke rumah ini!" seru Sarah sambil bangkit berdiri dengan antusias.
Jehan, yang sedang membaca tablet, mendongak. Matanya membelalak saat melihat sosok yang berdiri di samping adiknya. "Airin? Airin Rodriguez? Mahasiswi saya?"
Airin menunduk dalam, wajahnya sudah semerah tomat. "Selamat siang, Pak Jehan."
Jehan tertawa lepas, menggelengkan kepalanya tak percaya. "Jordan, kamu benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya kamu memangsa mahasiswi bimbinganku sendiri. Pantas saja kamu semangat sekali menggantikan aku mengajar."
"Dia bukan mangsa, Kak. Dia masa depanku," jawab Jordan datar, namun tangannya posesif merangkul pinggang Airin, menariknya lebih dekat.
"Duh, dingin-dingin begini ternyata bisa puitis juga ya," goda Sarah sambil tertawa, ia menghampiri Airin dan merangkulnya ramah. "Jangan panggil Pak Jehan di sini ya, Airin. Panggil Kak Jehan saja. Dan aku Kak Sarah. Selamat datang di keluarga gila ini."
Tak lama kemudian, dua anak perempuan Jehan yang masih kecil, berusia 6 dan 8 tahun, berlari menuruni tangga. Mereka langsung menyerbu Jordan yang mereka panggil 'Om Jo'. Jordan, yang biasanya dingin dan sangar di depan karyawan perusahaannya yang bergerak di bidang Real Estate dan Konstruksi, mendadak melunak. Ia menggendong salah satu keponakannya dengan penuh kasih.
"Om Jo, ini siapa? Cantik banget kayak putri bunga," tanya si bungsu, Luna, sambil menunjuk Airin.
"Ini pacar Om Jo," jawab Jordan singkat namun tegas.
Luna menatap Airin dengan mata bulat yang polos, lalu beralih menatap perut Airin yang rata di balik dress bunganya. "Apa sekarang Aunty Airin sedang hamil? Karena Mama bilang kalau sudah jadi pacar nanti punya bayi."
Uhuk! Uhukk!
Seketika, Jehan dan Sarah yang sedang meminum teh langsung terbatuk-batuk bersamaan. Suasana ruang tamu yang tadi ramai mendadak senyap sesaat.
Airin merasa dunianya seolah runtuh. Ia hanya bisa diam mematung, menunduk sangat dalam hingga rambut panjangnya menutupi wajahnya yang panas luar biasa. Ia ingin sekali menghilang dari tempat itu sekarang juga.
"Luna! Bicara apa sih kamu," Sarah berusaha mengontrol tawa sekaligus rasa malunya sambil menarik anaknya.
Jordan, meskipun sempat terkejut, justru menunjukkan senyum miring yang nakal. Ia melirik Airin yang tampak ingin menangis karena malu, lalu berbisik pelan, "Belum sekarang, sayang. Tapi mungkin nanti."
"Jordan! Jangan mengajari anak-anak hal yang aneh-aneh!" tegur Jehan sambil tertawa geli. "Duduklah, Airin. Abaikan ucapan bocah itu. Ayo kita makan siang dulu."
Selama makan siang, Sarah terus menggoda Jordan dan Airin. Ia bercerita bagaimana Jordan selama ini sangat menutup diri dari wanita dan lebih memilih berkencan dengan laporan keuangan perusahaan konstruksinya.
"Kamu tahu, Airin? Jordan ini dulu pernah bilang kalau dia tidak punya waktu untuk cinta. Tapi lihat sekarang, dia bahkan tidak mau melepaskan tangannya dari bawah meja, kan?" goda Sarah.
Airin hanya bisa tersenyum simpul, merasakan tangan Jordan yang memang sedang menggenggam erat tangannya di bawah meja, seolah takut Airin akan lari. Di tengah rasa malunya yang luar biasa, Airin merasakan kehangatan keluarga yang tulus, sesuatu yang jarang ia dapatkan di rumahnya sendiri yang penuh dengan rahasia dan protokol keluarga konglomerat.