PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️
Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.
Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.
Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.
Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.
Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?
Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?
Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?
Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!
Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Sandiwara
Kediaman Marculles
Pada Malam hari nya, dikamar utama tepat di depan cermin besar, Jihan menatap pantulannya dengan rasa benci yang meluap.
Riasan wajahnya membuatnya terlihat jauh lebih dewasa dari usiany. Namun, yang paling membuatnya ingin berteriak adalah gaun yang dikenakan di tubuhnya.
Gaun yang terlalu terbuka. Potongan di bagian dadanya sangat rendah, mengekspos lekuk tubuhnya dengan cara yang sangat vulgar. Jihan sempat berdebat keras dengan stylist, namun jawaban yang ia terima selalu sama, Ini adalah standar Marculles. Anda harus menyeimbangkan wibawa Tuan William.
Tok tok tok.
Pintu terbuka dan may masuk menunduk.
"Nyonya, Tuan sudah bersiap di bawah, Tuan tidak ingin menunggu lebih lama lagi," ucap may dengan penuh khawatir.
May memberikan kode pada stylist untuk segera menyudahi pekerjaan mereka.
Jihan menghela napas panjang, memejamkan mata sejenak untuk menekan rasa muak. Saat hendak melangkah keluar, ia melihat sebuah kain penutup, syal sutra tipis yang tergeletak di sofa. Tanpa pikir panjang, ia menyambarnya dan melilitkannya untuk menutupi bagian dadanya yang terbuka, lalu melangkah turun diikuti oleh May.
Di ruang tengah, William sudah berdiri menghadap jendela. Saat mendengar langkah kaki, ia membalikkan badan dengan wajah yang mengeras.
"Kau lama sekali, membuatku menunggu..." kalimat William terhenti.
Niat awalnya adalah memaki Gaun terbuka Jihan yang telah direncanakan, sialnya gaun bagian atasnya ditutupi syal yang melilit leher dan dada istrinya. Sorot matanya berubah menjadi kilatan amarah.
"Dan apa ini? Kau memakai benda jelek ini ke acaraku?" Tanpa peringatan, William maju dan mengambil kain itu dari tubuh Jihan, membuangnya jauh ke lantai. Jihan sempat ingin mencegahnya, namun tangan William jauh lebih cepat.
Gaun Jihan yang terbuka memamerkan lekuk tubuh Jihan membuat William sempat tertegun sesaat, gairah gelap kembali membayang di matanya melihat betapa menggoda istrinya malam ini. Namun, egonya untuk mengontrol Jihan jauh lebih besar. Ia justru memilih untuk menyerang mental istrinya.
"Apa-apaan ini, JIHAN! Kau pergi ke acaraku, bukan ke bar untuk melacur! Gaunmu... ahhhk…sialan!" bentak William.
William maju selangkah, menekan jari telunjuknya ke dahi Jihan dengan kasar. "Kau tidak menggunakan otakmu untuk berpikir, hah? Kau tidak mengaca? Kau sengaja memakai ini karena ingin mempermalukanku di depan temanku?"
Jihan menepis tangan William dengan kemarahan yang sudah di ubun-ubun. "Aku tidak memilih gaun ini! Aku tidak nyaman memakainya! Mereka bilang kau yang—"
"STOP!" William memotong dengan teriakan yang membuat suasana ruangan membeku. Ia tahu persis apa yang ingin dikatakan Jihan, karena ia sendiri yang memerintahkan agar Jihan didandani seperti itu untuk menguji mentalnya. "Sekarang kau menyalahkan orang lain atas seleramu yang menjijikkan ini?"
"Tidak! Kau bisa bertanya pada stylist mu jika kau tidak percaya!" Jihan membela diri, suaranya bergetar karena emosi.
"Oh, benarkah ?" William menyeringai dingin. Ia menoleh ke arah May yang berdiri di kejauhan dengan ekspresi cemas. "May! Kemari!"
May menghampiri dengan langkah gemetar dan kepala menunduk. " Tuan..."
"Panggil stylist Jihan yang telah meriasnya, Sekarang juga!" perintah William dengan nada yang tidak bisa dibantah.
May melirik Jihan dengan tatapan penuh rasa kasihan, namun ia tidak punya pilihan. "Baik, Tuan," jawabnya lirih sebelum bergegas pergi.
Jihan berdiri mematung, merasa terhina di bawah tatapan William yang terus menelusuri lekuk dadanya yang terekspos.
Beberapa menit kemudian, stylist datang dengan langkah terburu-buru. Wajahnya pucat pasi, keringat nya bercucuran di pelipisnya seolah ia sudah tahu bahwa ini akan terjadi.
"Tu-tuan... Nyonya..." ucapnya dengan suara gemetar, menunduk dalam tak berani menatap mata William yang berkilat tajam.
William berdiri dengan angkuh, tangannya masuk ke saku celana saat ia memberikan tatapan intimidasi yang mematikan. "Katakan padaku sekarang," desis William perlahan namun penuh penekanan. "Kenapa wanita ini memakai gaun sampah seperti ini? Kau yang memilihnya karena perintahku, atau dia sendiri yang bersikeras memakainya?! Katakan dengan jelas!"
Jihan berdiri tegak dengan penuh keyakinan. Ia menatap sang stylist, menunggu kejujuran keluar dari mulut stylist itu. Ia tahu persis stylist itu berulang kali mengatakan bahwa gaun terbuka ini adalah standar Marculles yang harus ia patuhi.
Stylist menelan ludah dengan susah payah. Ia melirik William sekilas, lalu menunduk semakin dalam. "Tuan... maafkan saya. Sebenarnya saya sudah menawarkan beberapa opsi yang lebih tertutup, tapi... Nyonya sendiri yang memilih gaun ini dan bersikeras memakainya."
Jihan membulatkan matanya, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat karena syok. "Apa katamu?! Kau gila?! Jelas-jelas kau yang bilang padaku tadi bahwa ini adalah aturan Marculles!" teriak Jihan, suaranya melengking karena merasa dikhianati secara terang-terangan.
William tidak tampak terkejut. Sebaliknya, sebuah seringai licik muncul di sudut bibirnyaseolah semua ini memang sudah masuk dalam skenarionya untuk menyudutkan Jihan.
"CUKUP!!!" bentak William, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.
Ia mengangkat tangannya, menunjuk dengan kasar ke arah lift di sudut ruangan. "Kau, Jihan!! Pergi dan ganti gaunmu sekarang juga! Kau ingin memamerkan tubuhmu di depan teman-temanku untuk merayu mereka, hah?!"
"Tidak, tunggu! William, dengarkan aku! Sungguh, bukan aku yang memilih gaun ini, dia berbohong—"
"PERGI JIHAN!!! KAU MEMBUANG WAKTUKU!" teriak William lagi, kali ini dengan nada yang jauh lebih mengerikan.
Teriakan itu membuat Jihan, sang stylist, dan May tersentak hebat. Tubuh Jihan bergetar karena amarah dan rasa tidak adil yang menyesakkan dadanya. Ia menatap sang stylist dengan pandangan tidak percaya.
Jihan berjalan dengan bahu gemetar, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya saat ia membelakangi pria kejam itu. Langkahnya terasa berat, Ia merasa dipermainkan, dikhianati oleh orang-orang di tempat itu, dan dijadikan sasaran amarah William tanpa diberi kesempatan untuk membela diri.
—-
The Azure Restoran Bintang Tujuh
Setibanya di restoran The Azure, William keluar dari mobil dan melangkah dengan sangat cepat, seolah-olah ia tidak sedang membawa seorang istri bersamanya. Jihan, dengan gaun barunya yang lebih tertutup yang elegan, terpaksa setengah berlari kecil untuk menyeimbangkan langkah lebar William agar tidak tertinggal terlalu jauh di koridor.
Tiba-tiba, dari arah koridor samping, muncul seorang wanita cantik dengan penampilan yang sangat stylish dan penuh percaya diri. Dialah Olivia, seorang influencer dan model ternama yang rupanya memang sudah menunggu kedatangan pria itu.
"William!" panggilnya dengan suara riang yang manja.
Langkah William terhenti mendadak, membuat Jihan yang berada tepat di belakangnya hampir saja menabrak punggung pria itu.
Tanpa ragu dan tanpa memedulikan keberadaan Jihan, Olivia langsung menghampiri William. Ia meraih leher William, menjinjitkan kakinya, dan mendaratkan ciuman di pipi pria itu. Tangannya melingkar di leher William seolah mereka sudah sangat terbiasa dengan kontak fisik seperti itu.
"Aku sangat merindukanmu, William," bisik Olivia dengan nada menggoda.