PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️
Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.
Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.
Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.
Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.
Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?
Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?
Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?
Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!
Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Keributan
Jihan tersentak hebat, jantungnya mencelos. Ia segera menegakkan duduknya, mencoba memperbaiki posisi kakinya dengan terburu-buru. Ponselnya ia letakkan di samping dengan tangan yang sedikit gemetar.
"William... kau sudah pulang?" suara Jihan terdengar goyah.
William melangkah mendekat, berdiri tepat di depan sofa, Matanya melirik sinis ke arah tumpukan kertas aturan yang terserak berantakan di atas meja, lalu kembali menatap Jihan dengan pandangan merendahkan.
Sebenarnya, William tidak peduli apakah Jihan hafal aturan itu atau tidak, namun melihat Jihan bisa bernapas lega bahkan sedetik saja, membuatnya merasa perlu untuk memberikan tekanan lebih.
"Siapa yang memberimu izin untuk meletakkan kakimu seperti itu? Di mana etiketmu sebagai istri seorang Marculles?"
William memajukan tubuhnya, memaksa Jihan untuk mendongak lebih tinggi. "Aku membayar mahal untuk aliansi ini bukan untuk membiarkan seorang wanita bersantai di kediamanku sementara tugasnya terbengkalai!"
"Aku sudah membacanya, William! Aku sudah mempelajarinya sejak siang—"
“ hahaha” William tertawa sinis, sebuah tawa kering tanpa rasa humor. Ia mengambil salah satu kertas aturan itu dan melemparkannya tepat ke pangkuan Jihan. "Mempelajari artinya menanamkannya di otakmu!!, bukan hanya melihatnya. Kau pikir aturan ini dibuat hanya untuk pajangan?"
William mencengkeram dagu Jihan dengan kasar, memaksa wanita itu menatap kemarahan di matanya yang gelap. "Kau meremehkan tempat ini!!! Kau meremehkan namaku. Baru sehari kau di sini, dan kau sudah berani melanggar perintahku untuk menyelesaikan sesi pembelajaranmu."
Jihan meringis, rasa sakit di dagunya mulai menjalar, "Aku hanya butuh istirahat, William... aku lelah."
William mendengus, lalu melepaskan cengkeramannya dengan sentakan yang menghina. "Dengar baik-baik, Dengan sikap rendah dan otak tumpul seperti ini, kau benar-benar tidak pantas menyandang nama Nyonya Marculles! Apa yang kau pelajari itu sama sekali tidak masuk ke otakmu!"
Jihan memegangi dagunya, menatap William dengan mata yang berkaca-kaca dan penuh kebencian.
"Memangnya kenapa jika tidak masuk ke otakku,!" balas Jihan dengan suara bergetar. "Bagaimana bisa aku mempelajari aturan-aturan konyol itu, kau pikir aku robot hah!!"
Rahang William mengeras mendengar bantahan itu. "Jika kau membandingkan dirimu dengan robot, jelas Robot terlalu berharga, dan simpan protesmu dan mulailah bersikap seolah kau memiliki otak."
Jihan yang tak terima, mencoba membela dirinya. “Setidaknya robot tidak perlu merasakan kehinaan karena memiliki suami sepertimu yang—“
"STOP!" bentak William, memutus kalimat Jihan dengan satu kata yang menggelegar di kamar. "Jangan kurang ajar membantahku. Aku tidak butuh opini dari alat yang sudah ku beli."
William menunjuk ke arah pintu kamar mandi dan ruang pakaian dengan telunjuknya yang tegas. “PERGI KE RUANG PAKAIAN, DAN SIAPKAN DIRIMU!!… SEKARANG!! Jangan biarkan aku menyeretmu ke sana seperti sampah," bentak William.
Jihan bangkit ia menatap sinis William. Ia melangkah melewati William tanpa menoleh sedikit pun, meskipun langkahnya masih sedikit kaku karena rasa nyeri yang belum hilang.
William menatap punggung Jihan yang menghilang di balik pintu. Ia menarik napas dalam, merasakan ketakutan dan kemarahan Jihan yang tertinggal.
"Menarik," gumam William pada dirinya sendiri. Sebuah kepuasan gelap muncul di benaknya. Menyiksa Jihan secara mental memberikan sensasi kemenangan yang lebih besar daripada sekadar transaksi bisnis.
Satu jam kemudian, tim stylist profesional bekerja dalam keheningan. Salah satu perias menelan ludah berkali-kali saat mengoleskan concealer tebal pada leher dan bahu Jihan. jejak-jejak merah keunguan hasil perbuatan William semalam terlihat jelas di area leher dan bahu.
Jihan menatap pantulan dirinya di cermin besar. Riasan wajahnya, dari kemarin memberikan kesan wanita dewasa sangat jauh dari jati diri Jihan yang sebenarnya.
"Bisakah kau mengurangi riasannya sedikit saja?" pinta Jihan pelan. "Ini terlalu berat. Aku merasa seperti orang asing."
Perias itu tampak ragu. "Maaf, Nyonya... ini sudah menjadi standar Marculles. Kami di intruksi agar penampilan Anda harus menyeimbangkan wibawa Tuan. Kami tidak berani merubahnya."
Jihan mengepalkan tangannya di bawah meja rias. Rasa kesal menyumbat tenggorokannya. Jangankan tubuhnya, bahkan wajahnya pun kini harus mengikuti aturan itu. Ia merasa seperti lukisan yang sedang lukis untuk dipamerkan dalam pameran bisnis.
"Standar Marculles," desis Jihan sinis. "Aturan yang tidak pentingnya itu"
Para staf perias hanya terdiam, tidak berani menyahut. Dan melanjutkan pekerjaannya yang hampir selesai.
—-
Di ruang tamu utama Kediaman Alvarezh yang megah, Beberapa anggota keluarga besar Alvarezh sudah berkumpul, namun di satu sudut ruangan, Rahez sedang berbicara serius dengan pamannya, Daniel.
"Paman, kau harus memastikan malam ini berjalan," ucap Rahez dengan nada rendah yang penuh otoritas. "Yakinkan William untuk memberikan dukungan penuh padamu. Dia memiliki koneksi global yang melampaui apa pun yang kita miliki di Aestrasia. Tanpa Marculles di belakangmu, jabatan kepala pemerintahan itu akan sulit diraih."
Daniel mengangguk perlahan sambil menyesap minumannya. "Aku tahu, Rahez. Aku sudah mempersiapkan proposal kerja sama global yang tidak mungkin dia tolak. Kekuatan militer kita dan jaringan finansialnya adalah kombinasi mematikan."
Rahez menyeringai tipis, namun matanya tetap dingin. "Orang-orang di luar sana mengira aku adalah penguasa Aestrasia. Itu hanyalah pencitraan yang ku pertahankan dari citra ayah, mereka tidak tau kalo aku mulai goyah."
Ia terdiam sejenak, mengingat sejarah kelam keluarganya. Faktanya, dominasi Ayah dulu di Aestrasia seharusnya jatuh sepenuhnya ke tangannya. Namun kenyataannya, setelah ayahnya tiada banyak pihak yang mencoba menjatuhkan kekuasaan nya terutama dari klan Vancortez. Dan ia harus memperluas kekuasaan nya untuk mempertahankan julukan itu.
“ dan Aku harus mempertahankan posisi ini dengan cara apa pun, termasuk melalui aliansi pernikahan Jihan ini.” Ucap rahez penuh ambisi
"Aliansi ini adalah benteng kita, Rahez," tambah Daniel. "Jika Marculles tetap berada di pihak kita, tidak akan ada yang berani menjatuhkan keluarga Alvarezh."
Tiba-tiba, suara gaduh terdengar dari arah gerbang utama. Seorang pengawal berlari masuk dengan wajah pucat dan napas terengah engah .
"Tuan! Mohon maaf, Tuan Rahez!" lapor pengawal itu dengan gemetar. "Tuan Zeiran... dia menerobos sistem keamanan depan dan membuat keributan besar. Dia menolak untuk pergi sebelum bertemu dengan Anda atau nyonya Jihan!"
Wajah Rahez seketika memerah karena murka. "Berani-beraninya dia! Apa yang penjaga lakukan, sampai seorang Zeiran bisa masuk begitu saja?!"
Daniel mendekat dan berbisik dengan nada panik di telinga Rahez. " Rahez, Sebentar lagi William dan Jihan akan tiba. Jika William sampai melihat Zeiran di sini aliansi ini bisa hancur berantakan. William bukan pria yang suka berbagi atau dikhianati."
Rahez menggeram, otot rahangnya mengetat. "Kurang ajar! Dia benar-benar ingin menguji kesabaranku."
Tanpa memedulikan keluarganya yang sedang berbincang, Rahez melangkah pergi dengan aura membunuh.
—
Dihalaman didepan kediaman alvarezh.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" bentak Rahez dengan suara menggelegar saat langkahnya sampai di hadapan Zeiran yang sudah dikepung beberapa penjaga. "Beraninya kau menerobos kediaman orang lain seperti kriminal! Berhenti berharap pada masa lalu, Zeiran. Jihan sudah dimiliki oleh pria yang jauh lebih baik dan berguna darimu!"
Zeiran mendesis, matanya berkilat penuh kebencian. Ia tidak gentar sedikit pun meski moncong senjata para pengawal mengarah padanya. "Sejak kapan kau tahu mana yang lebih baik untuknya, Rahez? Kau bahkan tidak pernah dekat dengannya! Kau hanya pengecut yang memanfaatkan kematian Alvaren, menjebaknya, lalu menjualnya pada orang lain demi ambisimu!"
"Tutup mulutmu!" Rahez maju satu langkah, napasnya memburu. "Kau juga diuntungkan, Zeiran! Jangan munafik. Kau menjadi pengganti Jenderal Alvaren di militer karena kekosongan yang dia tinggalkan. Pergi dari sini dan jangan kacaukan acara keluargaku, atau kau akan kehilangan jabatan itu detik ini juga!"
"Kau pikir aku takut?” teriak Zeiran, suaranya parau karena emosi. "Di mana William? Di mana Jihan?! Aku tahu mereka ada di sini. Aku akan membawa Jihan kembali... apa pun taruhannya.”
Bugh!
Satu tinjuan dari Rahez mendarat di rahang Zeiran, membuat pria itu terhuyung.
"Aku bersumpah, akan kupastikan kau kehilangan jabatanmu! Ingat keluargamu, ayahmu, dan perusahaanmu... semuanya tergantung pada siapa kekuasaan di negara ini berada! Aku bisa menjatuhkan gelar kebangsawananmu dalam sekejap!"
Zeiran menyeka darah di sudut bibirnya, lalu tanpa peringatan, ia membalas pukulan Rahez dengan kekuatan penuh. "Apa pun untuk Jihan! Aku akan mempertaruhkan segalanya, meskipun itu adalah jabatanku, keluargaku, atau nyawaku sendiri! Aku akan membawanya pergi!"
"Kau mengujiku di luar batas, Zeiran!" Rahez berteriak pada para pengawal. "SERET DIA! Kau akan dipecat, lihat saja nanti! "
Puluhan pengawal Alvarezh bergerak serentak mengepung Zeiran, asistennya dan beberapa pengawal yang kalah jumlah. Keributan itu pecah tepat saat lampu sorot dari gerbang utama menyala terang.
"Tuan! Mobil Marculles sudah mulai mendekat masuk!" seru salah satu penjaga panik.