"Kau benar-benar anak tidak tahu diuntung! Bisa-bisanya kau mengandung anak yang tak jelas siapa ayah biologisnya. Sejak saat ini kau bukan lagi bagian dari keluarga ini! Pergilah dari kehidupan kami!"
Liana Adelia, harus menelan kepahitan saat diusir oleh keluarganya sendiri. Ia tak menyangka kecerobohannya satu malam bisa mendatangkan petaka bagi dirinya sendiri. Tak ingin aibnya diketahui oleh masyarakat luas, pihak keluarga dengan tega langsung mengusirnya.
Bagaimana kehidupan Liana setelah terusir dari rumah? Mungkinkah dia masih bisa bertahan hidup dengan segala kekurangannya?
Yuk simak kisahnya hanya tersedia di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Jadilah Pacarku
Ditengah derasnya air hujan Liana berjalan menyusuri trotoar dengan menjinjing sebuah koper. Ia terusir dari rumah, kini ia melangkah tanpa tujuan yang jelas. Bahkan di dunia ini ia hanya seorang diri, keluarga yang selama ini dimilikinya kini tak sudi menampungnya, bahkan orang tuanya tidak sudi mengakuinya sebagai anak.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di pinggiran jalan. Seseorang membuka kaca dan memanggilnya. "Liana?! Kamu mau ke mana?"
Liana berhenti dan menatap ke arah mobil tersebut. Didapatinya seseorang yang memanggil namanya, namun sayangnya ia tak begitu jelas melihat wajahnya karena terhalang oleh air hujan yang sangat deras.
"Ayo kemarilah!"
Liana hanya diam di tempat. Ia tak akan melakukan kecerobohan lagi dengan menuruti keinginan seseorang tersebut.
Mendapati Liana yang hanya diam di tempat, seseorang itu langsung keluar dengan menerobos derasnya air hujan.
"Kamu mau ke mana Liana? Hujan-hujan begini kok ada di luar? Bawa koper lagi?"
Setelah cukup dekat Liana baru bisa jelas melihat sosok tersebut. Dia menangis menatap sosok pria yang berdiri basah kuyup di depannya.
"Kak Dion, aku diusir dari rumah."
"Apa? Diusir?" Dion terkejut. "Yaudah, ayo ikut bersamaku!"
"Tapi kak~~
"Tidak usah takut Liana! Aku tidak akan mencelakaimu!"
Tidak ada pilihan lain, Liana pun ikut bersama Dion, seniornya di kampus.
Sepanjang perjalanan Liana hanya diam dengan mata sembab. Dia menangis dalam diam, terngiang-ngiang celetukan keluarganya.
"Ini tujuanmu mau ke mana, Liana?" tanya Dion memecahkan keheningan.
Liana menggeleng. "Aku tidak tahu kak, aku nggak punya tujuan," jawabnya dengan menyeka air matanya yang tak berhenti jatuh berderai.
"Orang pergi itu harus memiliki tujuan yang jelas. Kalau nggak punya tujuan terus gimana?"
"Aku diusir oleh keluargaku kak, mereka bilang aku bukan lagi bagian dari keluarganya. Mereka juga bilang kalau aku ini bukan anak kandungnya. Aku bisa apa kak! Aku nggak punya siapa-siapa lagi di dunia."
Dion tercengang cukup terkejut mendengar penjelasannya. Selama ini ia melihat Liana cukup ceria, kini ia melihat sendiri betapa rapuhnya perasaan gadis itu.
"Untuk sementara waktu tinggalah bersamaku. Rumahku cukup besar, kurasa nyaman untuk kamu tempati. Daripada di luar? Memangnya kamu mau tinggal di mana? Dunia luar sangatlah tidak baik untuk gadis sepertimu!"
Liana menoleh menatapnya ragu. "Tapi bagaimana dengan keluargamu, kak? Mungkinkah mereka mengizinkanmu membawa orang asing?"
Dion terkekeh. "Orang asing? Bagiku kamu bukan orang asing, Liana! Lagipula orang tuaku saat ini masih mengurus perusahaannya di luar negeri, mungkin cukup lama mereka kembali. Sebelum menemukan tempat tinggal yang nyaman kamu bisa tinggal bersamaku."
"Baiklah, kalau kakak tidak keberatan..., aku mau tinggal sama kakak."
Sebenarnya sangatlah tak layak tinggal bersama seorang pria yang bukan keluarganya, apalagi bukan muhrimnya, tapi tak ada pilihan lain, ia tak mau mendapatkan masalah baru di luar sana.
***
Di sebuah rumah mewah di kompleks elit, Liana disambut hangat oleh beberapa asisten. Sebelum kedatangannya Dion menghubungi kepala asisten di rumahnya untuk memberikan sambutan untuk tamunya. Sudah seperti tuan putri saja dia mendapatkan perlakuan yang begitu baik dari orang-orang yang belum pernah dikenalnya, sangat berbeda sekali ketika masih tinggal di rumah orang tuanya, hampir setiap hari dia dijadikan budak oleh keluarganya.
"Selamat datang nona?"
Liana mengangguk dan membalasnya dengan senyuman. Dia menoleh pada Dion sembari berbisik. "Kak Dion, ini terlalu berlebihan. Jangan perlakukan aku seperti seorang putri kak, itu tidak pantas untukku."
"Apanya yang tak pantas. Justru kamu pantas mendapatkannya."
"Terimakasih banyak atas kebaikanmu, kak Dion. Aku harus membalasnya dengan cara apa?"
"Memangnya kamu berniat untuk membalasnya?" tanya Dion dengan satu alisnya terangkat.
"Tentu," jawab Liana.
"Hm..., kalau gitu kamu jadi pacarku. Bagaimana menurutmu?"
"A—apa?" Bola mata Liana membulat terkejut mendengar celetukan Dion. "Kakak, mana bisa begitu. Aku nggak pantas untuk menjadi pacarmu. Kamu memiliki segalanya, sedangkan aku~~
Dengan cepat Dion menyahut. "Tapi cinta itu tidak diukur dengan harta kan, Liana?"
"Memang benar cinta itu tidak diukur dengan harta, tapi kalau saja kamu tahu, mungkin ~~
Drett.... Drett....
Getaran handphone mengganggu obrolan mereka. Dion merogoh saku dan langsung mengangkatnya.
"Liana, aku terima telepon dulu ya?"
"Baik kak,"
Dion langsung menjauh untuk menerima panggilan. Dia tidak bisa menghindar kalau sudah berhadapan dengan teman kecilnya.
("Halo Reinan, ada apa?")
("Kamu lagi di mana Ion? Bisa ketemuan nggak?")
("Waduh, hari ini kayaknya aku nggak bisa keluar. Di sini hujannya deras, aku malas keluar.")
("Ada hal penting?")
("Hm..., sebenarnya aku butuh bantuanmu.")
("Bantuan apa? Kau itu baru pulang dari luar negeri sudah bermasalah aja! Kebiasaan!")
("Bisa bantu nggak? Kalau nggak bisa yaudah, aku nggak maksa!")
("Ck, iya-iya! Gitu aja udah merajuk. Ayo katakan, kau butuh bantuan apa?")
("Satu bulan yang lalu aku nggak sengaja nidurin cewek, tapi pas bangun itu cewek udah kabur, mana dia masih perawan lagi. Aku udah berusaha nyari tapi masih juga nggak ketemu.")
("Astaga!! Apa yang kau lakukan Reinan?! Kau jangan main-main sama anaknya orang! Bisa-bisanya kau ambil kesuciannya! Tanggung jawab kau!")
("Ya kan tadi aku sudah bilang! Aku nggak sengaja! Aku mabuk berat. Ya sudahlah, kalau kamu nggak bisa bantu aku nggak akan mengganggumu! Bye...!")
Dion mengumpat saat sambungannya tiba-tiba ditutup, padahal ia belum sempat memberinya nasehat.
"Gila! Bisa-bisanya itu orang nggak bisa mengendalikan diri! Memangnya wanita mana yang sudah ditidurinya? Semoga saja bukan wanita penghibur, kalau sampai salah sasaran bisa mampus dia."
Dion kembali menemui Liana yang tengah duduk di ruang keluarga. Dia mengambil tempat duduk berhadapan langsung dengan gadis itu.
"Aku meminta bibi untuk menyiapkan kamar untukmu, setelah ini kamu bisa istirahat."
"Terimakasih banyak kak, kak Dion baik sekali padaku. Apa kakak nggak takut keberadaanku di sini bakalan menciptakan masalah buat kakak?"
"Menciptakan masalah?" Dion terkekeh kecil menertawainya. "Tanpa adanya kamu hidupku cukup bermasalah, Liana! Sudah, kamu nggak perlu berpikir sejauh itu. Sekarang yang paling penting tenangkan dulu pikiranmu. Buang jauh-jauh pikiran negatif yang hanya membuatmu tak nyaman. Kalau kamu butuh bantuanku, kamu bilang saja, selama aku mampu, aku bakalan membantumu."
Liana diam, namun pikirannya tak bisa tenang. Biarpun Dion sudah berbaik hati padanya, ia tak ingin memanfaatkannya, cepat atau lambat ia harus segera pergi dari tempat itu. Ia tak ingin terlalu bergantung pada orang lain, apalagi Dion bukanlah siapa-siapa baginya.
"Oh ya..., kamu tadi belum cerita sama aku. Kira-kira apa yang membuat orang tuamu tega mengusirmu dari rumah? Apa kamu melakukan suatu kesalahan hingga membuat mereka kesal?"
Cukup lama Liana diam, akhirnya dia memberanikan diri untuk memberikan penjelasan.
"Sebenarnya aku diusir karena mereka mengetahui kehamilanku, kak!"