"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Rayuan Sang Imam
Di Bawah Langit yang Berbeda
Malu itu masih bertahta di pipimu yang merona,
Menjadi perhiasan indah bagi cinta yang sempurna.
Kau ingin lari, menutup tabir yang tersingkap,
Namun aku di sini, ingin memandangmu tanpa sekejap.Jangan kau tutup cahaya yang baru saja kutemukan,sebab bagiku, kaulah pelabuhan dari segala kerinduan.Biar jarak tetap ada, biar malam terus berjaga,Asalkan wajahmu tetap menjadi nyata di pelupuk mata.
Di kamar asramanya yang sunyi, Bungah merasa seolah suhu di Kairo mendadak naik drastis. Ia masih memegangi ponsel dengan tangan yang sedikit gemetar. Hanya separuh wajahnya yang terlihat di layar, menampakkan pipinya yang memerah seperti buah delima yang ranum.
"Mas... matikan saja ya videonya? Aku benar-benar malu. Rasanya aneh bicara begini tanpa cadar," bisik Bungah dengan suara yang nyaris hilang. Ia berusaha menutupi bagian lehernya dengan menarik kerah dasternya tinggi-tinggi.
Di seberang sana, Zidan membetulkan posisi tidurnya. Ia menyangga kepalanya dengan satu tangan, menatap layar dengan tatapan yang begitu dalam dan teduh—tatapan yang kini sepenuhnya menjadi milik Bungah.
"Jangan dong, sayang..." jawab Zidan lembut. Kata 'sayang' itu meluncur begitu saja dari bibirnya, terdengar sangat pas dan alami, namun sukses membuat Bungah hampir menjatuhkan ponselnya karena kaget.
"Mas Zidan! Jangan panggil begitu, aku... aku tambah malu!" seru Bungah sambil menutup wajahnya dengan sebelah tangan yang bebas.
Zidan tertawa rendah, suara yang terdengar begitu maskulin dan menenangkan. "Kenapa? Itu kan hak Mas. Lagipula, Mas ini sedang mengumpulkan kekuatan, Dek. Kamu tahu tidak, betapa beratnya akad nikah jarak jauh begini? Mas ingin memelukmu, tapi hanya bisa menyentuh layar kaca. Jadi, setidaknya biarkan Mas melihat wajah istri Mas sendiri sebagai pengobat rindu."
Bungah perlahan membuka celah di antara jemarinya, mengintip ke layar. Ia melihat Zidan yang nampak begitu santai namun penuh kasih. "Tapi rambutku berantakan, Mas. Belum mandi lagi..."
"Di mata Mas, kamu yang seperti ini jauh lebih indah daripada apa pun di Al-Azhar," sahut Zidan jujur. "Bungah, dengerin Mas ya. Mulai detik ini, kamu tidak perlu merasa harus tampil sempurna di depan Mas. Mas mencintaimu karena kamu adalah kamu. Baik saat bercadar di depan orang lain, maupun saat menjadi dirimu sendiri di depan suamimu."
Bungah terdiam. Kata-kata Zidan meresap ke dalam hatinya, menghancurkan rasa canggung yang tadi membenteng. Ia perlahan menggeser ponselnya hingga seluruh wajahnya terlihat di layar. Ia memberanikan diri menatap mata Zidan.
"Mas... terima kasih ya. Terima kasih sudah memilihku, padahal Mas bisa mendapatkan mahasiswi yang jauh lebih pintar dan cantik di Jawa," ucap Bungah tulus.
Zidan tersenyum manis, senyum yang biasanya sangat mahal ia berikan pada orang lain. "Pintar bisa dipelajari, cantik itu relatif. Tapi kenyamanan hati? Itu hanya Allah yang kasih, dan Allah titipkan itu pada kamu. Sekarang, coba senyum sedikit untuk Mas. Mas mau ambil gambar layar (screenshot) buat jadi wallpaper ponsel Mas, biar setiap kali Mas bangun, Mas ingat ada istri hebat yang sedang berjuang di Mesir."
Bungah akhirnya tersenyum—senyum paling manis yang pernah ia miliki. Ia tidak lagi mencari cadar atau kerudungnya. Di sepertiga malam itu, mereka menghabiskan waktu dengan bercerita tentang rencana masa depan, tentang bagaimana Zidan akan menjemputnya di bandara, dan tentang rindu yang kini sudah memiliki alamat yang pasti untuk pulang.