NovelToon NovelToon
Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Pernikahan rahasia / Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.

Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.

Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sup Hangat di Tengah Badai

Suara intercom yang memekik itu terasa seperti alarm kematian di telinga Arash. Ia masih menggenggam ponsel di telinga kirinya, sementara matanya terpaku pada monitor. Di sana, Paman Isa—pria dengan senyum licin yang selalu mengincar posisinya sebagai CEO—berdiri dengan setelan jas rapi, melambaikan tangan ke arah kamera dengan gestur yang dibuat-buat ramah.

"Arash? Kau masih di sana?" Suara Kakek di telepon membuyarkan lamunan Arash. "Kakek baru ingat, Paman Isamu kebetulan sedang berada di daerah apartemenmu. Kakek menyuruhnya mampir untuk memastikan kau benar-benar sedang memeriksa 'dokumen' itu, atau kau hanya sedang bersembunyi dari tanggung jawab bisnis."

Rahang Arash mengeras. Ini bukan sekadar kunjungan; ini adalah inspeksi mendadak. "Kek, ini sudah malam—"

"Buka pintunya, Arash. Kecuali kau menyembunyikan sesuatu," potong Kakek sebelum memutus sambungan.

Arash mengumpat tertahan. Ia segera berlari kembali ke kamar utama. Raisa sedang bersandar lemas pada bantal, matanya setengah tertutup. Panas tubuhnya mungkin sudah turun, tapi wajahnya masih sepucat kapas.

"Raisa, dengarkan aku," Arash mencengkeram bahu Raisa, memaksa wanita itu fokus. "Paman Isa ada di depan pintu. Dia datang untuk memata-matai kita. Jika dia melihatmu terkapar seperti ini, dia akan melapor pada Kakek bahwa pernikahan kita hanya kedok dan kau tidak cukup kuat untuk berada di sampingku. Kau harus bangun. Sekarang."

"Tapi ... kepalaku sangat berat, Arash ..." bisik Raisa, suaranya gemetar.

"Hanya sepuluh menit! Aku mohon," ujar Arash, dan untuk pertama kalinya, ada nada memohon di matanya yang biasanya sedingin es. Ia menarik Raisa berdiri, membiarkan wanita itu bertumpu sepenuhnya pada tubuhnya. Arash membantu Raisa mengenakan cardigan panjang untuk menutupi daster tidurnya, lalu mengoleskan sedikit blush on yang ia temukan di meja rias ke pipi Raisa agar tidak terlihat seperti mayat hidup.

Arash menempatkan Raisa di sofa ruang tamu, menyalakan televisi, dan meletakkan beberapa map di depannya. "Jangan banyak bicara. Cukup tersenyum dan biarkan aku yang menangani sisanya."

Arash menarik napas panjang, memasang topeng angkuhnya, lalu membuka pintu.

"Paman Isa. Kejutan yang sangat ... tidak perlu," ujar Arash dengan nada datar.

Paman Isa melangkah masuk dengan gaya flamboyan, matanya langsung menyapu seluruh ruangan. "Ah, Arash. Kakek sangat cemas kau kehilangan fokus gara-gara 'dokumen' rahasia. Jadi, di mana berkas yang lebih penting daripada investasi Mr. Tan itu?"

Pandangan Paman Isa terjatuh pada Raisa yang duduk kaku di sofa. Raisa mencoba tersenyum, meski tangannya di bawah meja meremas kain cardigan-nya untuk menahan rasa pening yang luar biasa. "Selamat malam, Paman," suara Raisa terdengar sangat lemah.

Paman Isa menyipitkan mata. Ia berjalan mendekat, seolah bisa mencium bau sakit di udara. "Nona Raisa? Wajahmu ... kau terlihat tidak sehat. Apakah suamimu ini terlalu keras mempekerjakanmu?"

"Saya hanya ... sedikit mengantuk, Paman. Kami sedang meninjau audit terakhir," kilat Raisa, namun tepat saat ia hendak mengambil salah satu map, tangannya gemetar hebat. Map itu terjatuh, dan Raisa kehilangan keseimbangan. Ia hampir tersungkur ke depan jika Arash tidak dengan sigap menangkapnya.

Tangan Arash menyentuh leher Raisa saat menopangnya, dan ia tahu ini sudah berakhir. Kulit Raisa membara lagi.

"Dia sakit, bukan?" Paman Isa tersenyum penuh kemenangan. Ia langsung mengeluarkan ponselnya. "Kakek harus tahu ini. Kau membatalkan pertemuan lima puluh juta dolar bukan karena dokumen, tapi karena istrimu demam? Ini benar-benar tidak profesional, Arash."

Paman Isa langsung menghubungi Kakek di depan mereka, melaporkan dengan nada dramatis bahwa Raisa terkapar sakit dan Arash telah berbohong demi menutupi "ketidakmampuan" istrinya menjaga kesehatan.

Arash hanya diam, memeluk Raisa lebih erat. Ia tidak lagi peduli pada ocehan pamannya. Ia bisa merasakan napas Raisa yang panas di dadanya. Namun, saat Paman Isa memberikan ponselnya pada Arash—karena Kakek ingin bicara—hasilnya di luar dugaan.

"Arash!" Suara Kakek menggelegar dari loudspeaker. "Kenapa kau tidak bilang kalau Raisa sakit parah?"

Paman Isa tersenyum puas, mengira Kakek akan memarahi Arash. Namun, kalimat selanjutnya membuat senyum itu luntur.

"Pantas saja kau ingin pulang cepat! Dasar bodoh, kenapa kau biarkan dia bekerja lembur sampai ambruk begitu? Kakek tahu kau ingin segera punya keturunan, tapi jangan paksa istrimu sampai sakit!" Kakek justru mengomeli Arash. "Isa! Berhenti mengganggu mereka! Keluar dari sana sekarang! Arash, Kakek sendiri yang akan bicara pada Mr. Tan. Kakek akan bilang ada urusan darurat keluarga yang jauh lebih penting daripada uangnya. Dia juga punya istri, dia pasti mengerti."

Paman Isa terbelalak. "Tapi Ayah, ini investasi besar—"

"Diam, Isa! Pulang!" bentak Kakek.

Setelah Paman Isa pergi dengan wajah merah padam karena malu, suasana apartemen kembali sunyi. Arash menggendong Raisa kembali ke meja makan, mendudukkannya dengan sangat hati-hati. Ia mengambil semangkuk sup hangat yang tadi sempat ia pesan dari restoran bubur terbaik sebelum ia pulang.

Kini, tidak ada lagi sandiwara. Hanya ada mereka berdua di bawah cahaya redup lampu gantung dapur. Arash menyendokkan sup itu ke mulut Raisa. Kali ini, tangannya tidak lagi gemetar kaku, melainkan mantap dan tenang.

"Kenapa?" tanya Raisa setelah beberapa suapan. Suaranya sudah sedikit lebih jelas. "Kenapa kau tidak membiarkan Paman Isa menang? Kau bisa saja bilang aku yang memaksamu pulang, dan kau tetap menjadi cucu emas Kakek."

Arash terdiam sejenak, menatap uap yang mengepul dari sup. "Aku tidak ingin dicap sebagai pembunuh istri kontrak," jawabnya dengan alasan pragmatis yang sama seperti biasanya. "Jika terjadi sesuatu padamu di bawah pengawasanku, reputasiku akan hancur."

Raisa menatap Arash dalam-dalam. "Hanya itu? Hanya karena reputasi?"

Arash tidak menjawab. Ia berdiri, mengambil selimut wol kecil yang ada di kursi santai, lalu berlutut di depan Raisa. Dengan gerakan yang sangat telaten, ia menyelimuti kaki Raisa yang telanjang, menyelipkan ujung kainnya di bawah betis wanita itu agar tidak ada udara dingin yang masuk.

Sentuhan Arash pada kakinya terasa begitu nyata, begitu lembut, hingga Raisa merasa matanya memanas. Itu bukan tindakan seorang pria yang peduli pada "reputasi". Itu adalah tindakan seorang pria yang ketakutan setengah mati jika wanitanya merasa kedinginan.

"Makan supmu, Raisa. Dan berhenti mencoba membaca pikiranku," ujar Arash tanpa mendongak, namun jemarinya sempat terhenti sejenak di pergelangan kaki Raisa sebelum ia menarik diri.

Di luar, badai mulai turun dengan deras, menghantam kaca jendela apartemen yang tebal. Namun di dalam ruang makan itu, keheningan yang tercipta bukan lagi keheningan yang mencekam, melainkan keheningan yang penuh dengan sesuatu yang belum berani mereka beri nama.

Raisa memperhatikan Arash yang kini sibuk merapikan meja, menyadari bahwa meski pria itu bicara dengan bahasa es, tindakannya selalu terbakar oleh api yang berusaha ia padamkan sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!