NovelToon NovelToon
Cinta Yang Terjebak Dalam Jerat

Cinta Yang Terjebak Dalam Jerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:371
Nilai: 5
Nama Author: Gitagracia Gea

Genre: Romance Drama


"Cinta seharusnya membuatmu merasa bahagia dan dihargai... bukan merasa terkurung dan tak berdaya."

Nara, gadis berusia 19 tahun yang penuh semangat dalam mengejar impian jadi desainer, merasa telah menemukan cinta sejatinya saat bertemu Reza – pria tampan dan cerdas yang selalu bisa membuatnya merasa spesial. Awalnya, hubungan mereka seperti dongeng yang indah: pelukan hangat, ucapan manis, dan janji-janji tentang masa depan yang indah.

Namun perlahan-lahan, warna indah itu mulai memudar. Reza mulai menunjukkan sisi lain yang tak pernah dilihat Nara: dia melarangnya bertemu teman-teman lama, mengontrol setiap langkah yang dia lakukan, bahkan menyalahkan Nara setiap kali ada hal yang tidak berjalan sesuai keinginannya. Setiap kali Nara merasa ingin menyerah, Reza akan datang dengan wajah menyesal dan meminta maaf, membuatnya berpikir bahwa semuanya akan baik2 saja.

Hingga saatnya Dito – teman masa kecil yang baru kembali setelah lama pergi – muncul dal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gitagracia Gea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjembatani Kesenjangan Di Karo

Udara pegunungan Karo yang segar menyapa wajah mereka saat turun dari mobil. Pusat pendidikan kreatif cabang yang dulunya ramai dan penuh warna kini terlihat sepi dengan beberapa tembok yang masih ada bekas tulisan kebencian. Beberapa orang masyarakat berdiri berjajar di depan pintu, dengan wajah yang menunjukkan keraguan dan sedikit kemarahan.

Malik berdiri di depan barisan masyarakat, mengenakan baju tradisional Karo dengan selempang yang penuh dengan motif khas daerahnya. Dia melihat Nara dan timnya dengan tatapan yang tegas namun tidak penuh kebencian – seolah dia juga sedang mencari jalan keluar dari masalah ini.

"Kalian benar-benar datang ya," ucap Malik dengan suara yang jelas terdengar di tengah keheningan. "Saya kira kalian akan memilih untuk menyerah dan pergi saja."

"Nama saya Nara Safitri – pendiri Bumi Kreatif Indonesia," jawab Nara dengan tenang, mengeluarkan kartu identitasnya dan menghampiri Malik dengan langkah yang hati-hati. "Kami tidak akan pernah menyerah pada anak-anak yang membutuhkan bantuan, terutama setelah kami melihat betapa banyak bakat yang ada di daerah ini."

Dia melihat ke arah beberapa anak yang berdiri di belakang masyarakat – mereka sedang menyembunyikan karya seni yang mereka buat di balik punggung mereka, dengan wajah yang penuh harap.

"Kita bisa bicara dengan tenang bukan?" ajak Nara. "Saya ingin mendengar keluhan dan harapan kalian dengan sungguh-sungguh. Dan juga ingin menjelaskan apa yang sebenarnya kami lakukan di sini."

Setelah beberapa saat berpikir, Malik mengangguk dan mengajak mereka masuk ke dalam pusat pendidikan kreatif. Masyarakat masih tetap berdiri di luar, tapi sudah tidak lagi menunjukkan sikap yang agresif.

DI DALAM RUANGAN UTAMA PUSAT PENDIDIKAN KREATIF

Ruangannya penuh dengan karya seni yang dibuat oleh anak-anak dan masyarakat lokal – lukisan tentang kehidupan di pegunungan, anyaman bambu dengan motif tradisional Karo, serta patung tanah liat yang menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat petani kopi. Beberapa karya memang terlihat rusak, tapi masih bisa dikenali keindahannya.

"Kalian melihat ini kan?" ucap Malik sambil menunjukkan salah satu lukisan yang tergores kasar. "Karya ini dibuat oleh adik saya yang berusia 12 tahun. Dia sangat senang belajar melukis di sini, tapi beberapa orang mengatakan bahwa dia hanya membuang waktu dan seharusnya membantu orang tua bekerja di kebun kopi."

Nara mendekati lukisan tersebut dengan hati-hati. Lukisan itu menggambarkan pemandangan Gunung Sinabung dengan awan yang indah dan petani kopi yang sedang bekerja dengan bahagia. Warna-warnanya sangat hidup dan penuh dengan emosi.

"Ini karya yang sangat indah," ucap Nara dengan penuh penghargaan. "Adikmu memiliki bakat yang luar biasa. Apakah dia ada di sini sekarang?"

Malik mengangguk dan memanggil seorang anak perempuan kecil bernama Sari yang segera berlari masuk dengan wajah yang sedikit takut namun penuh semangat. Dia memegang sebuah buku gambar yang penuh dengan lukisan-lukisan kecil yang dibuatnya.

"Kakak mau melihat buku gambar saya?" tanya Sari dengan suara lembut.

Nara dengan senang hati menerima buku itu dan melihat setiap halamannya dengan penuh perhatian. Setiap lukisan memiliki cerita sendiri – tentang kehidupan di desa, tentang keluarga, dan tentang harapan mereka untuk masa depan yang lebih baik.

"Sari, karya kamu sangat luar biasa," puji Nara dengan tulus. "Kamu bisa menjadi seniman yang hebat suatu hari nanti jika kamu terus belajar dan berlatih."

Sari tersenyum bahagia, tapi kemudian wajahnya menjadi sedih. "Tapi Pak Haji mengatakan bahwa seni tidak bisa memberi makan keluarga. Dia bilang saya harus berhenti melukis dan membantu orang tua saya."

Pada saat itu juga, seorang pria tua dengan janggut putih panjang masuk ke ruangan dengan wajah yang serius. Dia adalah Pak Haji Dahlan, pemuka masyarakat yang dihormati di daerah tersebut.

"Aku adalah yang bilang itu," ucapnya dengan suara yang kuat. "Di daerah kita yang terkena dampak erupsi Gunung Sinabung, banyak keluarga yang kesulitan makan sehari-hari. Kita butuhkan pekerjaan yang bisa memberi penghasilan stabil, bukan pelajaran melukis yang tidak berguna!"

Rendra yang telah mendengar semua pembicaraan kemudian mengambil langkah maju. "Pak Haji, mungkin saya bisa menjelaskan. Program pendidikan kreatif yang kami jalankan tidak hanya tentang melukis atau membuat kerajinan tangan semata. Kami juga mengajarkan bagaimana mengembangkan produk kreatif yang bisa dijual dan menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat."

Dia menunjukkan beberapa contoh produk yang dibuat oleh mahasiswa dan masyarakat di pusat cabang lain – tas dengan motif tradisional yang dijual ke kota besar, buku cerita bergambar tentang budaya lokal yang menjadi hits di kalangan anak-anak, serta kerajinan tangan yang diekspor ke luar negeri.

"Lihat ini, Pak Haji," tambah Rendra sambil mengambil sebuah tas dengan motif batik Karo yang modern. "Produk ini dibuat oleh masyarakat di pusat cabang kita di Solo. Sekarang mereka bisa menghasilkan penghasilan yang cukup untuk menyekolahkan anak-anak dan memperbaiki rumah mereka."

Pak Haji terdiam sejenak saat melihat contoh produk tersebut. Dia memang khawatir dengan kehidupan masyarakat, tapi juga tidak bisa menolak bahwa karya seni yang dibuat oleh anak-anak memiliki nilai yang tinggi.

Sementara itu, Dito sedang berbicara dengan beberapa pemuda lokal di luar ruangan. Dia menjelaskan bahwa kampus bisa membantu mereka mengembangkan usaha kreatif lokal, seperti membuat produk turis berbasis budaya Karo atau membuat konten digital tentang keindahan alam dan budaya daerah mereka.

"Kita bisa mengajarkan kalian cara membuat video promosi daerah yang bisa diposting di media sosial," ucap Dito. "Dengan begitu, lebih banyak orang akan tahu tentang keindahan Karo dan datang berkunjung, yang akhirnya akan membantu perekonomian lokal."

Beberapa pemuda mulai menunjukkan minat. Mereka memang ingin membantu daerah mereka maju, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.

DI RUANGAN KECIL – BELAKANG PUSAT PENDIDIKAN KREATIF

Reza sedang mengecek beberapa peralatan yang rusak akibat tindakan yang tidak bertanggung jawab. Saat dia sedang memperbaiki mesin jahit yang digunakan untuk membuat produk kreatif, seseorang menghampirinya dari belakang.

"Kelihatannya kamu butuh bantuan ya," ucap suara yang akrab.

Reza berbalik dan melihat wajah Rio Pratama yang sedang berdiri di depannya dengan senyum sinis. Dia segera menjadi waspada dan berdiri tegak.

"Apa yang kamu lakukan di sini, Rio?" tanya Reza dengan suara yang tegas.

"Kamu berpikir aku akan tinggal diam saja setelah keluar dari penjara?" tanya Rio dengan nada yang menyakitkan hati. "Kalian telah menghancurkan karir dan masa depanku. Sekarang giliran aku untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa kalian tidak lebih dari sekelompok penipu yang menggunakan anak-anak untuk mendapatkan uang!"

Reza mendekatinya dengan hati-hati. "Kamu salah besar, Rio. Semua yang kami lakukan adalah untuk membantu anak-anak yang membutuhkan. Dan kamu tahu sendiri bahwa kamu yang salah dulu – kamu yang mencoba mencuri dana dan memalsukan dokumen."

"Yang salah adalah kalian yang tidak mau melihat bahwa dunia ini tidak sesederhana itu!" teriak Rio dengan marah. "Ada banyak cara untuk mendapatkan uang dan kekuasaan, tapi kalian memilih jalan yang salah dengan membantu orang-orang yang tidak bisa membantu diri mereka sendiri!"

Saat mereka sedang berdebat, Nara dan Malik yang sedang mencari Reza datang ke ruangan tersebut. Nara melihat Rio dengan wajah yang tidak terkejut tapi tetap tegas.

"Aku tahu kamu akan kembali, Rio," ucap Nara dengan tenang. "Tapi kamu tidak akan berhasil menghancurkan program kami lagi. Kami memiliki bukti yang kuat tentang semua yang kamu lakukan, dan kami tidak akan ragu untuk melaporkanmu ke pihak berwenang jika kamu terus mengganggu kami."

Rio melihat mereka dengan wajah yang penuh kemarahan, tapi kemudian dia melihat Sari yang sedang berdiri di kejauhan dengan membawa lukisannya. Anak kecil itu melihatnya dengan mata yang penuh kebingungan dan sedikit ketakutan. Seolah ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya, Rio kemudian berbalik dan pergi dengan cepat dari ruangan tersebut.

MALAM HARI – DI DEPAN RUMAH MALIK

Setelah hari yang panjang dengan berbagai pembicaraan dan diskusi, Nara dan Malik duduk di teras rumah Malik dengan secangkir kopi panas yang dibuat dari biji kopi lokal Karo yang berkualitas tinggi.

"Aku tidak bisa menyangkal bahwa program kalian memiliki potensi besar untuk membantu masyarakat," ucap Malik dengan suara yang lebih lembut. "Tapi kami sudah terluka banyak kali oleh orang-orang yang datang dengan janji manis tapi kemudian pergi begitu saja setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan."

Nara mengangguk dengan memahami. "Aku mengerti kekhawatiranmu, Malik. Kami tidak akan datang dan memaksakan kehendak kami kepada masyarakat. Kami hanya ingin membantu mengembangkan bakat yang sudah ada di sini dan membuatnya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi semua orang."

Dia mengambil selembar kertas dan mulai menggambar sketsa program kerja sama yang bisa mereka jalankan:

- Program Pelatihan Kewirausahaan Kreatif – mengajarkan masyarakat cara membuat dan memasarkan produk kreatif berbasis budaya Karo

- Program Dokumentasi Budaya – melatih pemuda lokal untuk membuat konten digital tentang budaya dan alam Karo

- Program Pariwisata Kreatif – mengembangkan paket wisata yang menggabungkan keindahan alam dengan karya seni lokal

- Program Beasiswa untuk Anak Berbakat – memberikan kesempatan bagi anak-anak lokal untuk belajar di kampus utama Bumi Kreatif Indonesia

"Kita akan melibatkan masyarakat dalam setiap langkah prosesnya," ucap Nara dengan tulus. "Kalian akan menjadi pemimpinnya, kami hanya akan memberikan dukungan dan pembelajaran yang dibutuhkan."

Malik terdiam sejenak saat melihat sketsa program tersebut. Dia merasakan bahwa Nara benar-benar memiliki niat baik dan tidak ingin mengambil keuntungan dari masyarakat.

"Aku akan membicarakan ini dengan masyarakat dan pemuka lokal besok pagi," ucap Malik dengan suara yang penuh tekad. "Aku tidak bisa menjamin apa-apa, tapi aku akan mencoba membuat mereka memahami bahwa program ini bisa menjadi harapan baru bagi daerah kita."

Pada saat yang sama, di luar daerah Karo, Rio sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon:

"Ya, aku sudah mencoba mengganggu program mereka tapi tidak berhasil. Mereka terlalu kuat dan memiliki dukungan dari masyarakat. Tapi jangan khawatir, aku punya rencana lain yang akan membuat mereka jatuh... dan kali ini tidak akan ada yang bisa menyelamatkan mereka."

Pada pagi hari berikutnya, Nara dan timnya berkumpul dengan seluruh masyarakat Karo di lapangan desa yang luas. Malik berdiri di depan dengan wajah yang penuh semangat, siap untuk mempresentasikan program kerja sama yang telah mereka buat bersama Nara.

Banyak masyarakat yang mulai menunjukkan minat setelah melihat contoh produk kreatif dan mendengar penjelasan yang jelas tentang manfaat program tersebut. Pak Haji Dahlan bahkan mengangkat tangan untuk mendukung program tersebut, dengan catatan bahwa seluruh proses harus transparan dan melibatkan masyarakat secara penuh.

Namun saat mereka akan menandatangani perjanjian kerja sama, seorang wartawan dari koran lokal datang dengan membawa berita mengejutkan. Dia menunjukkan koran yang baru saja dicetak dengan judul besar:

"BUMI KREATIF INDONESIA TERLIBAT DALAM KORUPSI DANA BEASISWA – RATUSAN JUTA RUPIAH HILANG!"

Berita tersebut menyatakan bahwa beberapa dana beasiswa yang seharusnya diberikan kepada anak-anak kurang mampu ternyata disalahgunakan oleh pihak kampus untuk keperluan pribadi. Dokumen yang dilampirkan bahkan menunjukkan tanda tangan yang mirip dengan tanda tangan Nara dan Rendra.

Masyarakat Karo yang baru saja mulai mempercayai mereka kini kembali menjadi marah dan curiga. Malik melihat Nara dengan wajah yang penuh kebingungan dan rasa sakit – dia tidak tahu harus mempercayai siapa lagi.

Apakah ini lagi-lagi kerjaan Rio? Atau ada orang lain di dalam kampus yang melakukan hal ini? Dan bagaimana cara Nara dan timnya membuktikan kebenaran mereka di tengah masyarakat yang sudah mulai tidak mempercayai mereka?

Selain itu, Nara menerima pesan dari Clara yang mengatakan bahwa yayasan juga sedang menghadapi masalah serupa di Jakarta – beberapa dokumen penting hilang dan ada laporan tentang penyalahgunaan dana yang sama sekali tidak mereka ketahui....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!