Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Harga Sebuah Tanda Tangan
Pintu kaca otomatis Sagara Tower tertutup di belakang punggung Alana, memisahkan udara dingin beraroma sitrus di lobi dengan panas terik Jakarta yang berdebu. Alana berdiri diam sejenak di trotoar, membiarkan kebisingan lalu lintas Sudirman menghantam telinganya. Kakinya gemetar. Bukan karena takut, tapi karena sisa adrenalin setelah negosiasi paling nekat dalam hidupnya.
Dia baru saja menjual ayahnya sendiri kepada musuh bebuyutannya.
Ponsel retak di tangannya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
*"Tim hukum saya sudah bergerak. Somasi ayahmu akan ditahan per sore ini. Jangan kecewakan saya. - EP"*
Alana menghembuskan napas panjang, seolah beban beton baru saja diangkat dari dadanya. Elang Pradipta menepati janji lebih cepat dari dugaan. Alana memasukkan ponsel ke dalam tas lusuhnya, lalu berjalan menuju halte TransJakarta. Tidak ada sopir pribadi, tidak ada taksi premium. Hanya ada Alana Wardhana—atau sekarang hanya Alana—yang harus berdesakan dengan ratusan pekerja lain untuk pulang ke Petamburan.
***
Di lantai 45 Penthouse Wardhana, suasana sangat kontras. Kesunyian dipecahkan oleh suara hak tinggi yang mengetuk lantai marmer dengan irama otoriter.
Siska berdiri di tengah ruang tamu, menunjuk sebuah guci keramik setinggi pinggang. Itu adalah koleksi antik yang dibeli ibu Alana di Kyoto sepuluh tahun lalu.
"Pindahkan itu ke gudang," perintah Siska pada asisten rumah tangga yang menunduk takut.
"Tapi, Non... itu kesayangan Bapak..."
"Bapak tidak akan peduli," potong Siska tajam. "Ruangan ini butuh napas baru. Konsepnya terlalu kuno, terlalu suram. Ganti dengan vas kristal yang saya beli kemarin."
Siska mengamati pelayan itu menyeret guci berat tersebut dengan susah payah. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Satu per satu, jejak masa lalu di rumah ini ia hapus. Bukan dengan kasar, tapi perlahan, atas nama 'renovasi' dan 'penyegaran'.
Pintu depan terbuka. Hendra masuk dengan wajah kusut. Dasinya sudah longgar, dan kemejanya yang biasanya licin kini tampak lecek di bagian lengan. Ia melempar tas kerjanya ke sofa.
"Brengsek!" umpat Hendra.
Siska segera mengubah raut wajahnya. Ia memberi isyarat pada pelayan untuk menghilang, lalu menghampiri Hendra dengan segelas air dingin yang sudah ia siapkan—seolah ia tahu persis kapan prianya pulang.
"Kenapa, Mas? Proyek di Bekasi lagi?" tanya Siska lembut, tangannya memijat bahu Hendra yang kaku.
Hendra meneguk air itu sampai habis. "Izin AMDAL ditolak lagi. Padahal orang dinas sudah kita 'pegang'. Ada yang main belakang. Aku curiga Sagara Group ikut campur. Mereka seperti tahu celah dokumen kita."
Siska terdiam sejenak. Tangannya tidak berhenti memijat, tapi matanya menatap tajam ke arah dinding kaca yang menampilkan cakrawala kota. Ia tahu Alana pasti sudah bergerak. Gadis manja itu ternyata punya taring.
"Mas sudah cek tim internal?" Siska membisikkan racunnya dengan nada polos. "Mungkin bukan orang luar. Mungkin ada orang dalam yang masih... bersimpati pada pihak lain?"
Hendra menoleh, menatap Siska. "Maksudmu?"
"Ya, aku cuma berpikir. Rini kan sudah dipecat, tapi dia pegang banyak rahasia dulu. Dan Alana... siapa yang tahu apa yang dia bawa sebelum pergi?"
Hendra mendengus, tapi keraguan mulai tumbuh di matanya. "Alana tidak secerdas itu. Dia cuma anak bodoh yang tidak tahu cara cari uang."
"Justru itu, Mas. Orang yang terdesak uang bisa melakukan apa saja," Siska mengecup pipi Hendra, lalu berjalan menuju meja kerja di sudut ruangan. Ia mengambil sebuah map. "Ngomong-ngomong, soal vendor interior untuk unit apartemen baru. Aku sudah cek vendor lama Mas. Harganya terlalu mahal. Aku punya rekomendasi teman, kualitas sama, harga bisa miring 20 persen. Selisihnya bisa masuk ke kas operasional... atau kas pribadi Mas."
Hendra mengambil map itu, membacanya sekilas, lalu mengangguk setuju tanpa memeriksa latar belakang perusahaan tersebut. Ia terlalu lelah untuk peduli detail remeh.
"Atur saja, Sayang. Aku percaya seleramu."
Siska tersenyum lebar di balik punggung Hendra. PT. Berkah Abadi, vendor 'teman' yang ia ajukan, adalah perusahaan yang baru ia daftarkan atas nama sepupunya di kampung minggu lalu. Aliran dana Wardhana Group kini memiliki keran bocor baru, dan kali ini keran itu mengalir langsung ke kantong Siska.
***
Dua minggu berlalu sejak kesepakatan di Sagara Tower.
Rutinitas Alana berubah drastis. Pukul tujuh pagi, ia sudah berada di kantor CV. Bangun Jaya, sebuah ruko tiga lantai di daerah Fatmawati yang bau rokok dan debu kertas. Tugasnya bukan lagi mendesain gedung pencakar langit, melainkan menggambar detail toilet ruko atau menghitung jumlah keramik untuk renovasi rumah subsidi.
"Alana, gambar potongan untuk Proyek Ciledug sudah siap?" Pak Dodi, bosnya yang berperut buncit dan selalu memakai kemeja batik yang kekecilan, berteriak dari lantai dua.
"Sudah saya kirim ke email Bapak sepuluh menit lalu," jawab Alana tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer tabung yang lambat.
Pak Dodi turun, menatap layar Alana. "Hmm. Bagus. Cepat juga kerjamu. Oh ya, klien Bu Ratna minta revisi lagi. Dia mau kamar mandinya digeser ke timur, katanya biar fengshui-nya bagus."
"Kalau digeser ke timur, kita harus bongkar jalur pipa utama, Pak. Biayanya nambah lima juta," jelas Alana teknis.
"Ya kamu atur lah gimana caranya biar nggak nambah biaya tapi klien senang! Kamu kan lulusan luar negeri!" Pak Dodi menepuk meja, lalu pergi begitu saja.
Alana menahan napas, menelan harga dirinya yang terasa pahit di tenggorokan. Dulu, ia tinggal menunjuk, dan kontraktor akan melaksanakannya. Sekarang, ia adalah kuli bergaji UMR yang harus memutar otak demi menghemat pipa PVC.
Jam makan siang tiba. Alana membuka kotak bekalnya: nasi putih dan telur dadar yang ia masak subuh tadi di dapur kontrakan Rini. Di sekelilingnya, rekan-rekan kerja pria merokok sambil membicarakan togel dan cicilan motor. Alana memasang earphone, bukan untuk mendengar musik, tapi untuk mendengarkan rekaman rapat ayahnya yang dulu pernah ia sadap secara tidak sengaja di ponsel lamanya, mencari celah lain.
Tiba-tiba, suasana kantor yang ribut mendadak senyap. Alana mendongak. Di depan pintu kaca ruko yang buram, berdiri seorang pria berjas rapi, sangat kontras dengan lingkungan sekitar. Itu bukan Elang, tapi asisten pribadinya yang Alana lihat di Sagara Tower.
"Mbak Alana Wardhana?" tanya pria itu sopan namun tegas.
Pak Dodi melongo. Rekan kerja Alana saling sikut.
Alana berdiri, merapikan rok kerjanya yang sederhana. "Saya."
"Pak Elang menunggu di mobil. Ada dokumen yang perlu ditanda tangan."
Alana mengangguk. Ia meraih tasnya dan berjalan keluar, mengabaikan tatapan penuh tanya dari bos dan rekan kerjanya. Di depan ruko, sebuah sedan hitam mengkilap parkir dengan mesin menyala.
Alana masuk ke kursi belakang. Dingin AC mobil mewah itu menyapa kulitnya, mengingatkannya pada kehidupan yang direnggut darinya.
Elang duduk di sebelahnya, sibuk dengan tablet. Ia tidak menoleh saat Alana masuk.
"Jalan," perintah Elang pada sopir.
"Kita mau ke mana?" tanya Alana. Jantungnya berdebar. Apakah ini jebakan?
Elang akhirnya meletakkan tabletnya. Ia menatap Alana dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tatapannya analitis, seperti sedang menilai aset investasi.
"Bajumu bau asap rokok," komentar Elang datar.
"Ini lingkungan kerjaku sekarang. Tidak semua orang punya kantor dengan pengharum ruangan otomatis," balas Alana defensif.
Elang tidak tersinggung. Ia justru menyodorkan sebuah map kulit hitam. "Gugatan balik ayahmu sudah resmi dicabut. Pengacaraku menemukan cacat administrasi dalam klaim kepemilikan aset yang dia ajukan. Untuk sementara, kau aman dari penjara. Tapi dia memblokir aksesmu ke perbankan nasional lewat koneksi teman-temannya."
"Aku tahu. Kartu debitku ditolak saat mau beli pulsa kemarin," kata Alana pahit.
"Buka mapnya."
Alana membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah kunci kartu apartemen, sebuah kartu debit platinum tanpa nama, dan sebuah dokumen pendirian perusahaan baru: *PT. Arsitek Muda Indonesia*.
"Apa ini?" tanya Alana, suaranya tercekat.
"Aku tidak butuh informan yang tinggal di daerah kumuh dan bekerja di ruko busuk. Itu tidak efisien," kata Elang dingin. "Apartemen itu di Setiabudi. Kecil, tapi aman dan internetnya cepat. Kartu itu ada saldonya, cukup untuk operasional tiga bulan. Dan perusahaan itu... itu kendaraanmu."
Alana menatap Elang tak percaya. "Kau memberiku modal?"
"Pinjaman," koreksi Elang cepat. Tajam. "Bunga 15 persen per tahun. Jatuh tempo dua tahun lagi. Jika kau gagal, aku akan sita semua asetmu, termasuk ide-ide di kepalamu."
Alana terdiam. Ini bukan kebaikan hati. Ini murni bisnis. Elang sedang memperlengkapi prajuritnya sebelum dikirim ke medan perang.
"Kenapa kau melakukan ini? Bukti suap kemarin belum cukup?"
"Bukti suap itu hanya peluru kecil. Aku butuh bom," Elang mencondongkan tubuhnya sedikit. "Ayahmu berencana membangun resor di Bali bulan depan. Proyek triliunan. Aku ingin kau yang memenangkan tendernya. Kalahkan dia dalam permainannya sendiri."
"Melawan Wardhana Group? Dengan perusahaan yang baru lahir hari ini? Kau gila," Alana tertawa sinis.
"Aku tidak menyuruhmu menang dengan cara jujur," Elang menatap mata Alana dalam-dalam. "Kau tahu gaya desain ayahmu. Kau tahu di mana dia memotong biaya. Kau tahu kelemahannya. Gunakan itu."
Mobil berhenti di sebuah lobi apartemen kelas menengah-atas. Bukan penthouse, tapi jauh lebih baik dari kontrakan Rini.
"Turun," perintah Elang.
Alana menggenggam map itu erat-erat. Ia menatap Elang sekilas. "Terima kasih."
"Jangan berterima kasih. Hasilkan uang," jawab Elang sambil kembali menatap tabletnya.
Alana turun dari mobil. Saat ia berdiri di lobi yang bersih dan terang, ia menyadari sesuatu. Hari ini, Alana yang manja benar-benar sudah mati. Yang berdiri di sini adalah Alana yang memiliki hutang, memiliki target, dan memiliki senjata.
Ia mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan singkat untuk Rini:
*"Rin, kemasi barang-barang. Kita pindah malam ini. Aku dapat modal."*
Alana melangkah masuk ke lift. Di pantulan cermin lift, ia melihat wajahnya sendiri. Matanya tidak lagi sendu. Ada api kecil yang mulai menyala di sana. Perang baru saja dimulai, dan kali ini, ia tidak bertangan kosong.