"Apakah kamu pernah merindukan seseorang yang bahkan wajahnya saja tidak pernah kamu lihat?"
Alexian hanyalah seorang perantau yang terjebak dalam rutinitas membosankan sebagai resepsionis Love Hotel di Tokyo. Baginya, cinta sudah lama mati sejak pengkhianatan di masa lalu membuatnya menjadi pria yang tumpul rasa.
Namun, sebuah mimpi aneh mengubah segalanya. Seorang wanita, jembatan taman, dan guguran sakura yang terasa begitu nyata.
Mona menyebutnya Yume no Kakehashi.
Jembatan Impian yang Mengambang. Sebuah mitos Jepang tentang dua jiwa yang saling mencari. Alexian menemukan seutas pita berwarna jingga di pagar jembatan itu. Kini, Alexian harus memilih tetap hidup dalam realitasnya yang aman namun sepi, atau mengejar bayangan senja di mata seorang wanita yang mungkin hanya ada dalam mimpinya.
Apakah Alexian bakal bertemu dengan wanita itu atau semua hanya kebetulan dalam mimpi?
Apa arti dari pita yang ia dapat di celah pagar jembatan itu?
Simak kelanjutannya ya! :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rexxy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Kunci Menuju Senja Abadi
Aku menatap pita jingga yang melingkar di tanganku. Kain itu terasa hangat, seolah ada detak jantung halus yang berdenyut di dalamnya.
Di tengah kesunyian bengkel, aku menyadari bahwa aku tidak bisa menunggu malam datang dan berharap keajaiban tidur akan membawaku kembali pada Sayuri.
"Miyuki," panggilku pelan.
"Kau bilang kakakmu terperangkap di 'Sisi Lain'. Bagaimana cara aku menyeberang ke sana secara sadar? Aku tidak bisa membiarkannya menunggu lebih lama lagi."
Miyuki yang sedari tadi sudah selesai mandi akhirnya duduk dengan kami. Ia menatap pita itu dengan pandangan dalam.
"Pita itu adalah separuh dari jiwanya yang tertinggal di dunia ini, Alexian. Untuk masuk ke sana tanpa harus menunggu mimpi, kau butuh pemicu. Sesuatu yang menghubungkan emosimu, indramu, dan memorimu pada saat foto itu diambil."
Ken mendekat, wajahnya tampak serius.
"Maksudmu... kita harus merekonstruksi saat-saat Alexian mengambil foto itu?"
"Lebih dari sekadar itu," Miyuki menoleh pada Mona.
"Mona, apakah kau membawa barang-barang dari loker Alexian yang sempat kau selamatkan?"
Mona mengangguk cepat. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah ponsel, ponsel yang kugunakan untuk memotret jembatan itu yang tidak sengaja Aku simpan di loker Hotel tempatku bekerja.
"Hanya ini yang sempat kuambil sebelum orang-orang itu masuk ke ruang staf."
Aku menerima Ponsel itu. Rasanya dingin di tanganku.
"Dengarkan aku, Alexian,"
Miyuki memegang tanganku, suaranya kini terdengar seperti instruksi sakral.
"Dunia Sayuri sekarang terbentuk dari memori dan keinginan yang kuat. Lihat fotonya Alexian, hirup bau pita nya dalam dalam kau harus percaya bahwa jembatan taman itu ada di sini, di ruangan ini."
Mona segera mematikan lampu bengkel. Ken menyalakan sebuah pemanas ruangan tua yang memberikan cahaya jingga remang-remang, menciptakan suasana yang mirip dengan cahaya senja di mimpiku.
"Tutup matamu, Lex," bisik Mona di telingaku.
"Bayangkan angin Di Taman Shinjuku gyoen. Bayangkan aroma sakura yang terbawa angin."
Aku memejamkan mata. Aku mulai menghirup wangi dari pita di pergelangan tanganku. Wangi sakura yang segar... perlahan-lahan aroma oli dan bensin di bengkel ini pun memudar.
Suara hujan di luar berubah menjadi suara gemericik air sungai yang mengalir tenang.
"Fokus pada jembatannya, Alexian," suara Miyuki terdengar menjauh, seolah ia berada di balik tembok kaca yang tebal.
"Jangan lepaskan pitanya. Jika kau melepaskannya, kau akan tersesat di antara dua dunia."
Tiba-tiba, rasa dingin yang menusuk di bengkel berganti menjadi kehangatan matahari yang hendak terbenam. Aku merasakan lantai semen di bawah kakiku berubah menjadi tekstur kayu yang kasar dan tua.
Aku membuka mataku.
Aku tidak lagi berada di bengkel. Aku berdiri di pangkal jembatan kayu merah itu. Langit di atas berwarna jingga darah, dan awan-awan menggantung rendah seperti kapas yang terbakar.
Di ujung jembatan, sosok itu ada di sana. Sayuri.
Ternyata baju yang ia kenakan berbeda dengan baju Miyuki di mimpiku. Dia memakai layaknya gaun lengan pendek berwarna putih. Rambutnya yang panjang kecoklatan tertiup angin. Serta Iris matanya, Iris matanya serupa seperti Iris mata Miyuki di mimpiku.
Namun kali ini berbeda. Sayuri tidak sedang membelakangiku. Ia berdiri tegak, menatap lurus ke arahku dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Kau datang..." suaranya bukan lagi bisikan, tapi seruan yang nyata.
"Tapi Alexian, kau tidak seharusnya berada di sini secara sadar. Mereka... The Eraser... mereka sudah mengikutimu masuk."
Aku menoleh ke belakang, dan jantungku hampir berhenti. Di ujung jembatan tempatku masuk tadi, bayangan hitam mulai merayap, menghancurkan keindahan senja itu menjadi kegelapan yang pekat.
Aku menoleh ke belakang, napas kutercekat. Bayangan-bayangan hitam itu merayap dari pangkal jembatan, menghancurkan keindahan senja abadi menjadi kegelapan yang pekat.
Pas aku lihat kebelakang, rasanya nyawaku mau lepas. Di ujung jembatan, warna jingga yang tadinya cantik sekarang berubah menjadi hitam yang merayap cepat banget. Gelap, dingin, dan kejam.
Sosok-sosok tinggi kurus muncul dari kabut hitam itu, mata mereka memancarkan cahaya merah menyala. The Eraser. Mereka benar-benar mengikutiku masuk.
"Kau datang..." Suara Sayuri bergetar, kini lebih dekat, lebih nyata.
"Sayuri!"
Aku berlari ke arahnya, tidak peduli dengan bayangan-bayangan yang semakin mendekat. Aku harus meraihnya. Aku harus membawanya keluar.
Tapi, belum sempat tanganku menggapai, salah satu bayangan hitam itu melesat. Dengan kecepatan yang mengerikan, ia memblokir jalanku.
Tubuhnya terbuat dari kabut pekat, namun rasanya padat seperti beton saat ia meninju dadaku.
Brugh!
Aku terhuyung ke belakang, rasa sakit menjalar di dadaku. Ini bukan mimpi biasa. Rasa sakit ini nyata. Aku bisa merasakan getaran di dadaku, seolah jantungku hampir remuk.
"Kau pikir bisa menyelamatkannya?"
Suara pria berjaket kulit yang tadi kutemui di hotel, kini terdengar melengking dan bergema di seluruh dimensi mimpi ini. Ia adalah salah satu bayangan yang mendekat.
Pita sampah itu harusnya udah hancur dari dulu. dan wanita itu... dia harus habisi sekarang juga."
Aku mencoba bangkit. Amarahku membuncah. Mereka ingin menghapus Sayuri? Wanita yang selama ini terjebak tanpa bisa pulang?
Aku balas menyerang. Melayangkan tinju ke arah bayangan terdekat. Tanganku menembus kabut tubuhnya, tanpa efek apa pun.
Bayangan itu hanya mendesis, lalu dengan cepat mencengkeram lenganku. Dinginnya tembus hingga ke tulang. Rasanya seperti jiwaku sedang ditarik paksa.
Tanganku gemetar. Aku bukan siapa siapa. Tapi sekarang aku di pukul kabut hitam yang rasanya kayak ketabrak truk.
Mataku beralih ke Sayuri. Ia tampak ketakutan, namun tatapannya masih penuh dengan harapan padaku.
Tidak, aku tidak boleh egois. Aku tidak bisa membuang waktu untuk bertarung sia-sia. Prioritasku adalah dia.
Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku meronta dari cengkeraman bayangan itu. Aku berbalik, melarikan diri dari pertarungan yang tidak mungkin kumenangkan.
"Sayuri!" teriakku.
Aku berlari lagi, menerobos kabut senja, mengabaikan rasa sakit di dada dan suara-suara mengancam dari belakang.
Kali ini, aku berhasil.
Aku meraih tangannya. Kulitnya terasa dingin. Matanya yang berwarna senja menatapku, seolah ingin mengatakan seribu kata tanpa suara.
"Kita pergi dari sini, Sayuri," bisikku.
Kami berbalik. Aku menarik tangannya, berlari sekuat tenaga menembus dimensi mimpi yang kini mulai runtuh di sekitar kami. Langit jingga itu pecah menjadi retakan-retakan cahaya.
Kabut-kabut putih dingin mulai menyelimuti kami, menarik kami kembali ke dunia nyata.
Genggaman tanganku pada Sayuri terasa semakin kuat, seolah itu adalah satu-satunya jembatan yang tersisa antara kami berdua.
Aku memejamkan mata, berharap saat aku membukanya lagi, Sayuri akan berada di sisiku, di dunia nyata.
Pantengin terus ya kak... heheh🙏😍
2. Check-out : Meninggalkan (hotel/ bandara) setelah membayar dan mengembalikan kunci.