Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reynaldi Lahir
Usia kehamilan Nayara sudah memasuki minggu ke-38. Perutnya besar sekali, berat, bikin jalan susah. Setiap gerakan terasa berat. Napas sesak karena bayi menekan diafragma. Tidur juga susah, mau posisi gimana juga tidak nyaman.
Gilang? Dia makin jarang pulang. Seminggu terakhir bahkan hanya pulang dua kali. Itupun cuma buat ganti baju terus pergi lagi. Tidak ada yang tanya "gimana kehamilannya?" atau "kapan HPL-nya?". Tidak ada sama sekali.
Nayara sudah pasrah. Dia tahu dia akan melahirkan sendirian. Tapi dia sudah siap mental. Sudah siapkan tas untuk ke rumah sakit, sudah kasih tahu Bu Sari kalau sewaktu-waktu kontraksi datang, tolong antar dia ke rumah sakit.
Malam itu, jam dua belas lewat, Nayara terbangun karena sakit perut. Sakit yang berbeda dari biasanya. Bukan kencang biasa. Tapi sakit yang datang dalam gelombang. Meremas perutnya kuat-kuat, lalu reda, lalu datang lagi.
Kontraksi.
Nayara duduk di tepi ranjang, memegangi perutnya yang terasa keras. Napasnya terengah. Sakit. Sakit sekali.
Lima menit kemudian kontraksi datang lagi. Lebih sakit dari yang tadi.
Nayara meraih ponselnya dengan tangan gemetar, melihat jam. Dua belas lewat tujuh belas. Tengah malam.
Dia buka kontak Gilang, menekan tombol panggil.
Nada tunggu. Satu. Dua. Tiga. Empat.
Tidak diangkat.
Kontraksi datang lagi. Nayara merintih, tangannya mencengkeram sprei kuat-kuat. "Aahhh!" Sakit. Rasanya seperti perut mau robek.
Nayara telepon Gilang lagi.
Masih tidak diangkat.
Lagi.
Lagi.
Lagi.
Sepuluh kali Nayara telepon. Sepuluh kali tidak diangkat.
Nayara mengirim pesan dengan tangan gemetar.
"Mas, aku lagi kontraksi. Mau lahiran. Tolong pulang sekarang."
Pesan terkirim. Centang dua biru. Dibaca.
Tapi tidak ada balasan.
Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit.
Kontraksi makin sering. Sekarang setiap tiga menit sekali. Sakit luar biasa. Nayara sampai menangis.
Tidak ada balasan dari Gilang.
Nayara telepon Bu Sari dengan tangan gemetar.
"Halo? Bu Sari? Ini Nayara. Maaf ganggu tengah malam. Aku, aku lagi kontraksi. Bisa, bisa antar aku ke rumah sakit?"
"Ya ampun! Tunggu ya, Ibu ke sana sekarang!" Bu Sari langsung bersedia tanpa tanya-tanya.
Lima menit kemudian Bu Sari dan suaminya, Pak Hadi, datang ke rumah Nayara. Mereka bantu Nayara turun tangga, angkat tas persalinan, masukkan Nayara ke mobil mereka.
"Suamimu mana, nak?" tanya Bu Sari sambil memegangi tangan Nayara di jok belakang.
"Dia, dia lagi keluar kota, Bu. Tidak sempat pulang." Nayara berbohong lagi. Masih saja membela Gilang yang tidak ada gunanya.
Bu Sari menatap Nayara dengan tatapan prihatin tapi tidak bilang apa-apa.
Perjalanan ke rumah sakit terasa sangat lama walau sebenarnya cuma dua puluh menit. Setiap kontraksi datang, Nayara merintih keras, mencengkeram tangan Bu Sari sampai berbekas.
"Sabar ya, nak. Bentar lagi sampai." Bu Sari terus menenangkan.
Sampai di rumah sakit, Nayara langsung dibawa ke ruang bersalin. Perawat mengecek pembukaan.
"Sudah pembukaan lima, Bu. Proses persalinan berjalan cepat. Mungkin beberapa jam lagi bayi lahir." Perawat itu tersenyum.
Beberapa jam lagi. Nayara menatap langit-langit ruang bersalin. Sendirian. Tidak ada Gilang di samping. Tidak ada yang pegang tangannya. Tidak ada yang bilang "kamu pasti bisa, sayang."
Bu Sari dan Pak Hadi menunggu di luar. Mereka bukan keluarga, tidak boleh masuk ruang bersalin.
Nayara sendirian menghadapi rasa sakit yang datang bertubi-tubi.
Kontraksi makin kuat. Makin sering. Sekarang tiap dua menit sekali. Nayara berteriak kesakitan.
"Bu Nayara, tarik napas dalam-dalam. Hembuskan pelan-pelan. Jangan berteriak, nanti tenaganya habis." Bidan yang menemani Nayara memberi instruksi.
Tapi gimana caranya tidak berteriak kalau sakitnya kayak gini? Rasanya seperti perut dipukul pakai palu besar berkali-kali.
Jam tiga pagi, pembukaan sudah delapan. Nayara berkeringat banyak sekali. Baju rumah sakitnya basah kuyup. Rambut lengket di dahi. Napas terengah-engah.
"Bu Nayara, suami tidak bisa dihubungi ya? Biasanya kami sarankan ada pendamping." Bidan bertanya hati-hati.
Nayara menggeleng dengan air mata mengalir. "Dia, dia tidak bisa datang."
Tidak bisa atau tidak mau? Nayara sendiri tidak tahu lagi.
Jam empat pagi, pembukaan sudah lengkap. Saatnya mengejan.
"Bu Nayara, sekarang kalau ada kontraksi, Ibu harus mengejan sekuat tenaga. Tarik napas dalam, tahan, terus kejan ke bawah seperti mau buang air besar." Bidan memberi instruksi.
Kontraksi datang. Nayara mengejan dengan sekuat tenaga.
"AAAAAHHHHH!" Teriakan Nayara memenuhi ruang bersalin.
"Bagus, Bu! Lagi! Kejan lagi!"
Nayara mengejan lagi. Air matanya mengalir deras. Bukan hanya karena sakit fisik. Tapi karena sakit hati.
Dia melahirkan sendirian. Tanpa suami. Tanpa keluarga. Hanya ditemani bidan dan perawat yang bahkan bukan orang terdekatnya.
"Mas, kenapa kamu tidak ada di sini? Kenapa kamu tinggalin aku?" Nayara berbicara di sela-sela kontraksi, suaranya serak.
"Bu Nayara, fokus ya. Jangan mikirin yang lain. Fokus ke bayi. Bayi butuh Ibu kuat sekarang." Bidan mengingatkan dengan lembut.
Nayara mengangguk. Iya. Dia harus kuat. Untuk bayinya. Walau Gilang tidak ada, dia harus kuat.
Kontraksi datang lagi. Nayara mengejan dengan seluruh tenaga yang tersisa.
"Kepala bayinya sudah kelihatan, Bu! Lagi sedikit! Kejan sekuat-kuatnya!" Bidan bersemangat.
Nayara mengejan. Berteriak. Menangis. Semua bercampur jadi satu.
"GILAAAANG! KENAPA KAMU TIDAK ADA DI SINI? KENAPA?" Nayara berteriak di tengah mengejan.
Dan dengan satu teriakan panjang terakhir, bayi keluar.
Tangisan bayi memecah keheningan pagi.
"Selamat, Bu Nayara! Bayinya laki-laki! Sehat dan sempurna!" Bidan mengangkat bayi yang masih berlumuran darah dan vernix.
Nayara menatap bayinya dengan mata berkaca-kaca. Bayi mungil dengan mata terpejam, mulut terbuka menangis kencang, tangan kecil mengepal.
Anaknya.
Anak laki-lakinya.
"Boleh, boleh Ibu pegang dia?" Nayara bertanya dengan suara serak.
"Sebentar, Bu. Kami bersihkan dulu." Bidan membawa bayi ke meja periksa, membersihkannya dengan lembut.
Beberapa menit kemudian, bayi sudah bersih, dibedong dengan kain putih lembut. Bidan meletakkan bayi di dada Nayara.
Nayara memeluk bayinya untuk pertama kali. Hangat. Lembut. Kecil sekali di pelukannya.
"Halo, sayang. Mama di sini. Mama ada buat kamu." Nayara berbisik sambil menangis. Air matanya jatuh di pipi bayi yang mungil.
Bayi itu berhenti menangis. Seolah mengenali suara ibunya.
"Maafin Mama ya, sayang. Maafin Mama karena Papa tidak ada waktu kamu lahir. Tapi tidak apa-apa. Kita punya satu sama lain. Kita akan kuat berdua." Nayara mengecup kening bayinya berkali-kali.
Bidan tersenyum melihat pemandangan itu. "Ibu mau kasih nama apa untuk bayinya?"
Nayara menatap wajah anaknya. Mata kecil yang mulai terbuka sedikit. Hidung mancung. Bibir merah mungil.
"Reynaldi," bisik Nayara. "Reynaldi Mahesa Putra."
Reynaldi. Artinya raja yang bijaksana. Nayara berharap anaknya akan tumbuh jadi laki-laki yang bijaksana, yang tidak seperti ayahnya. Yang tidak menyakiti perempuan. Yang tidak mengkhianati.
"Nama yang bagus, Bu." Bidan mencatat di formulir.
Nayara dipindahkan ke ruang rawat inap. Reynaldi ditidurkan di box bayi di samping tempat tidur Nayara. Nayara menatap anaknya yang tidur pulas, tangannya masuk ke dalam box, menyentuh tangan mungil Reynaldi. Jari-jari kecil itu menggenggam jari telunjuk Nayara refleks.
"Kamu kuat ya, sayang. Seperti Mama. Kita akan hadapi dunia ini berdua." Nayara berbisik dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.
Bu Sari dan Pak Hadi masuk ke ruangan membawa bunga dan buah.
"Alhamdulillah, Nayara. Selamat ya, nak. Bayinya lucu sekali." Bu Sari memeluk Nayara.
Nayara menangis di pelukan Bu Sari. Menangis seperti anak kecil. "Terima kasih, Bu. Terima kasih sudah antar aku. Kalau tidak ada Ibu, aku tidak tahu harus gimana."
"Sama-sama, nak. Kamu kuat sekali. Ibu bangga sama kamu." Bu Sari mengelus rambut Nayara.
Hari pertama. Gilang tidak datang.
Hari kedua. Masih tidak datang.
Nayara sudah tidak berharap lagi. Dia rawat Reynaldi sendiri. Belajar menyusui sendiri walau puting lecet sakit sekali. Belajar ganti popok sendiri. Belajar mandikan bayi sendiri.
Sore hari kedua, jam lima sore, pintu ruang rawat terbuka.
Gilang masuk.
Nayara sedang menyusui Reynaldi. Dia menatap Gilang dengan tatapan kosong. Tidak ada harap lagi. Tidak ada senang. Hanya kosong.
Gilang berdiri di pintu. Wajahnya lelah. Tapi tetap tampan dengan jas abu-abu dan dasi biru.
"Udah lahir?" tanya Gilang datar.
"Iya. Dua hari yang lalu. Jam empat pagi." Nayara menjawab dengan suara pelan.
Gilang berjalan mendekat, melirik ke box bayi. Reynaldi sudah selesai menyusu, tidur di pelukan Nayara.
"Cowok?" tanya Gilang.
"Iya. Laki-laki. Namanya Reynaldi Mahesa Putra." Nayara memperkenalkan anaknya pada ayahnya sendiri.
Gilang hanya mengangguk. Tidak ada ekspresi senang. Tidak ada ekspresi bangga. Tidak ada apa-apa.
"Lo udah bisa pulang kapan?" tanya Gilang.
Bukan "gimana proses lahirannya?" Bukan "sakit tidak?" Bukan "kamu hebat."
Cuma "kapan pulang."
"Besok, kalau kondisi aku dan Aldi sudah stabil." Nayara menjawab sambil mengelus kepala Reynaldi yang masih botak.
"Aldi?" Gilang mengernyit.
"Panggilan sayangnya. Reynaldi Mahesa Putra. Aldi." Nayara menjelaskan.
Gilang hanya ber-oh singkat.
"Mas, kamu, kamu mau gendong dia?" Nayara menawarkan, masih berharap ada ikatan antara ayah dan anak.
"Enggak. Gua tidak bisa. Takut jatuh." Gilang menolak cepat.
Takut jatuh. Alasan yang dibuat-buat.
Nayara tidak memaksa. Dia peluk Reynaldi lebih erat.
"Gua titip uang di meja. Buat biaya rumah sakit sama keperluan lo berdua. Gua pergi dulu." Gilang menaruh amplop cokelat tebal di meja, lalu berbalik mau pergi.
"Mas." Nayara memanggil.
Gilang berhenti tapi tidak berbalik.
"Terima kasih sudah datang." Suara Nayara pelan, hampir seperti bisikan.
Gilang tidak menjawab. Dia keluar, menutup pintu pelan.
Nayara menatap pintu yang tertutup. Lalu menatap Reynaldi yang tidur pulas di pelukannya.
"Tidak apa-apa, sayang. Kita tidak butuh Papa. Kita punya satu sama lain. Itu sudah cukup."
Tapi di lubuk hatinya yang paling dalam, Nayara tahu itu bohong.
Tidak cukup.
Reynaldi butuh ayah.
Nayara butuh suami yang mencintainya.
Tapi semua itu tidak akan pernah terjadi.
Dan Nayara harus menerima kenyataan pahit itu sambil terus tersenyum untuk anaknya.
Karena Reynaldi tidak boleh tahu kalau ayahnya tidak menginginkannya.
Tidak boleh.
Walau harus Nayara pendam sendiri semua sakitnya seumur hidup.
penyakit selingkuh tak bakal sembuh
ntar kalau rujuk kembali gilang pasti selingkuh lgi 🤭