Caca, gadis kecil ceria, berteman dengan Rafi tanpa tahu bahwa dia adalah putra kepala mafia Bara Pratama. Meskipun dunia mafia penuh bahaya dan banyak orang melarangnya, persahabatan mereka tumbuh kuat hingga menjadi cinta. Bersama, mereka berjuang mengubah organisasi mafia menjadi usaha hukum yang bermanfaat bagi masyarakat, menghadapi musuh dan masa lalu kelam untuk membangun masa depan bahagia bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA DI BALIK RUMAH BESAR
Setelah janji persahabatan kita dibuat, aku selalu datang ke rumah Rafi setiap hari setelah sekolah.
Kadang kita bermain di taman, kadang di ruang bermainnya yang penuh dengan mainan baru yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Tapi setiap kali mau masuk ke dalam rumah besar itu, Rafi selalu mengingatkanku untuk tidak menyentuh apa-apa dan tidak masuk ke kamar-kamar tertentu.
“Hanya boleh di ruang tamu dan ruang bermain ya, Caca,” ujar Rafi sambil mengunci pintu gerbang setelah kita masuk. “Ayah bilang kamar-kamar lain ada barang penting yang tidak boleh disentuh anak-anak.”
Aku mengangguk dengan patuh, tapi rasa penasaran ku terus tumbuh. Rumah Rafi benar-benar besar—dindingnya penuh dengan lukisan yang tidak kubaca maknanya, lantainya menggunakan ubin marmer yang mengkilap, dan di sudut ruangan selalu ada orang-orang dengan jas hitam yang berdiri diam seperti patung.
Mereka selalu menatapku dengan pandangan yang tidak ramah, membuatku sedikit takut.
“Sekarang kamu tidak takut sama mereka?” Tanyaku pelan sambil menunjuk salah satu pria berjubah hitam yang sedang berdiri di dekat pintu.
Rafi menggeleng-geleng kepala. “Mereka hanya penjaga yang dipanggil Ayah untuk melindungi kita. Kamu tidak perlu takut, mereka tidak akan menyakitimu kalau aku ada di sini.”
Saat kita sedang bermain dengan puzzle besar di lantai, pintu utama rumah terbuka dan seorang wanita cantik dengan baju putih masuk. Wajahnya lembut dan dia tersenyum saat melihat kita.
“Rafi, sayang. Siapa teman kecil kamu ini?” tanya wanita itu dengan suara yang lembut seperti musik.
“Bu, ini Caca. Dia temanku dari kampung,” jawab Rafi dengan senyum, wajahnya yang biasanya serius jadi lebih ceria.
Wanita itu mendekat dan mengusap kepalaku dengan lembut. Bau parfumnya sangat harum seperti bunga mawar. “Halo Caca, senang bertemu denganmu. Aku adalah ibu Rafi, Mama Lila. Kamu boleh panggil aku Mama Lila saja ya.”
“Apa kabar, Mama Lila,” ujarku dengan sopan, merasa sedikit malu karena tangan ku yang bermain puzzle masih sedikit kotor.
“Kamu mau makan kue tidak? Aku baru saja membuat kue coklat yang masih hangat,” ajaknya Mama Lila dengan senyum hangat.
Aku melihat Rafi dengan mata meminta izin, dan dia mengangguk dengan senang hati. Kita pergi ke dapur yang sangat besar dan bersih—ada lemari es yang sebesar kamar kecilku, kompor dengan banyak tungku, dan meja makan yang bisa ditempati puluhan orang sekaligus.
Mama Lila mengambil sepotong kue dari loyang besar dan memberikannya padaku bersama segelas susu hangat.
“Enak sekali, Mama Lila!” ujarku dengan mata berbinar setelah mencicipinya.
“Kalau suka kamu bisa datang kesini setiap hari untuk makan ya,” katanya sambil mengusap pipiku. “Rafi jarang punya teman yang mau bermain dengannya. Aku senang dia punya teman baik seperti kamu.”
Saat itu pula, pintu dapur terbuka dan Ayah Rafi—Pak Bara—masuk dengan wajah yang serius. Dia langsung melihatku, dan matanya yang tajam membuatku langsung menegakkan badan seperti sedang di depan guruku.
“Rafi, siapa anak kecil ini?” tanyanya dengan suara yang kuat dan tegas.
“Ayah, ini Caca temanku. Dia sedang makan kue yang dibuat Mama,” jawab Rafi dengan suara yang sedikit lebih kecil, tapi tetap tegas.
Pak Bara mendekat dan menatapku dari atas ke bawah. Aku merasa seperti dia bisa melihat sampai ke dalam hatiku.
Setelah beberapa saat, dia mengangkat satu alis dan memberikan senyuman kecil yang tidak terlalu ramah.
“Baiklah. Tapi ingat Rafi, janji yang kita buat tidak boleh dilanggar ya. Jangan sampai temanmu ini terkena masalah karena kita,” ujarnya dengan nada yang tegas sebelum pergi ke arah kamar belakang.
Setelah Pak Bara pergi, Rafi menarik bajuku dan membisikkan sesuatu di telingaku. “Itu kan Ayah bilang kalau kita harus menyembunyikan hubungan kita. Kamu tidak akan marah kan kalau aku tidak bisa bermain denganmu di depan orang banyak?”
“Aku tidak marah kok,” jawabku dengan senyum. “Yang penting kita bisa bermain bersama saja kan?”
Setelah selesai makan kue, Rafi mengajakku berjalan-jalan di halaman belakang rumah. Di sana ada kolam renang yang sangat besar dan taman bunga yang indah.
Tapi di pojok paling belakang halaman, aku melihat sebuah gedung kecil yang pintunya terkunci rapat dengan rantai besar.
“Apa ada di dalam sana, Rafi?” tanyaku dengan penasaran.
Rafi segera menarik tanganku dan membawa aku pergi dari sana. “Itu tidak penting, Caca. Jangan pernah mendekati gedung itu ya. Kalau tidak Ayah akan marah besar.”
Aku bisa melihat ekspresi wajahnya menjadi serius lagi, jadi aku mengangguk dan tidak bertanya lagi.
Namun ketika kita mau pulang, aku melihat Pak Bara berdiri di balkon rumah dengan wajah yang sangat serius, sedang menatap arah gedung kecil itu.
Ada sesuatu di matanya yang membuatku merasa bahwa di balik rumah besar itu tersembunyi rahasia besar yang tidak boleh aku ketahui.
Saat aku sampai di rumah, Mama sedang menungguku di depan pintu dengan wajah yang khawatir. “Caca, darimana kamu datang? Aku sudah mencari kamu kemana-mana!”
“Aku main sama Rafi di rumahnya, Mama,” jawabku dengan ceria. “Ibu Rafi bahkan memberiku kue coklat yang sangat enak!”
Mama wajahnya jadi lebih serius dan menarik aku masuk ke dalam rumah. “Caca, kamu tidak boleh lagi bermain dengan Rafi ya. Mama sudah tahu siapa ayahnya—dia adalah orang yang sangat berbahaya. Kamu bisa terkena masalah besar kalau terus bermain dengannya.”
“Aku tidak mau, Mama! Rafi adalah teman baik aku!” aku menangis dan mulai menolak. “Dia tidak seperti yang kamu pikirkan! Dia baik dan selalu melindungiku!”
“Cinta, Mama hanya khawatir denganmu,” ujar Mama dengan suara yang lembut sambil mengelus punggungku. “Dunia mereka sangat berbeda dengan kita. Kamu tidak akan mengerti betapa berbahayanya itu.”
Aku tidak bisa berbicara apa-apa lagi selain menangis. Mengapa semua orang tidak suka dengan Rafi? Dia hanya anak baik yang ingin punya teman saja.
Malam itu, aku tidak bisa tidur dengan tenang. Pikiranku terus terjebak pada rumah besar Rafi, pada wajah Pak Bara yang serius, dan pada gedung kecil yang terkunci rapat di halaman belakang.