NovelToon NovelToon
Chef Do

Chef Do

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Kontras Takdir / Romantis / Balas Dendam / Konflik etika / Gadis Amnesia
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: originalbychani

Seorang wanita bernama Eun Chae hampir memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang membosankan setelah mendapatkan diagnosa mengidap penyakit linglung atau amnesia di usianya yang baru 30 tahun. Terlebih parahnya, Eun Chae tidak ingat bagaimana dirinya telah kehilangan kedua orang tuanya setahun yang lalu, dalam sebuah kecelakaan saat berlibur ke luar negeri. Siapa sangka pria yang menolongnya ternyata seorang chef terkenal di media sosial?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon originalbychani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep 23 : Sikap Misteriusnya

(*Recap cerita sebelumnya*)

Hingga hari ini, Eun Chae belum pernah membayangkan akan bertemu dengan orang-orang di masa lampaunya. Itu karena ingatan pada masa tersebut sebagian besar telah hilang dari memorinya.

"Bagaimana? Apa kau bersedia?" tanya Yun Seok.

"Tunggu dulu. Beri aku waktu untuk berpikir," sanggah Eun Chae, lalu memasuki rumah dan menutup pintu.

Apa yang harus kukatakan? Jika aku menolak, mungkin dia tidak akan kembali lagi. Apa dia barusan berkata jujur? benak Eun Chae.

Setelah berpikir singkat, wanita itu mencapai keputusannya.

"Sebentar saja. Jika pembicaraanmu kuanggap layak, aku baru akan mendengarkanmu," syarat Eun Chae.

"Ok. Bersiaplah, kutunggu di sini."

Mendengar balasan dari pria itu, Eun Chae tersadar bahwa dirinya masih mengenakan piyama dan sarung tangan karet tebal bak ibu rumah tangga. Belum lagi, rambut panjangnya yang dikuncir dua terlihat sedikit berantakan. Karena sedang musim dingin di bulan Februari, penampilan sederhananya itu hanya ditutupi dengan jaket tebal.

"Ah, memalukan sekali!" jeritnya pelan, lalu segera bersiap.

Beberapa saat kemudian, Eun Chae telah siap dengan berpakaian lengan panjang santai, celana panjang, dan jaket rompi berwarna merah. Melihat sosok Eun Chae yang menarik, sekilas pria asing di hadapannya terpukau.

"Rapi sekali. Padahal, aku hanya mengenakan jas panjang, baju gelap, dan sepatu bot karet," komentarnya, seakan memuji.

"Masa? Aku hanya berpakaian biasa, karena ini bukan acara penting atau semacamnya," respon Eun Chae.

"Maksudku-- Kau nampak cantik," ralat Yun Seok, walau sedikit ragu mengucapkan kalimatnya.

Eun Chae membisu selama beberapa detik karena mendengar pujian tak terduga itu.

"Begitukah? Terima kasih," katanya, tanpa berkontak mata dengan sang lawan bicara.

"Ikut aku. Aku sudah menemukan tempat yang cocok," ajak Yun Seok, setelah diam-diam menelusuri riwayat kunjungan dan penilaian beragam cafe secara daring, saat menunggu Eun Chae.

Eun Chae pun berjalan di belakang Yun Seok, hingga keduanya menemukan jalanan besar yang dipadati oleh kedai, supermarket, toko kelontong, apotek, hingga beberapa cafe yang cukup ramai pengunjung.

"Di sini. Masuklah," arah Yun Seok, seketika berdiri di depan tempat yang dicarinya.

Mereka pun masuk, lalu memilih meja dekat dinding kaca yang menghadap ke jalanan tadi.

"New York Cheesecake dan Penne Arrabbiata adalah menu favorit di cafe ini," ujar pria itu.

"Oh. Kalau begitu, pesan dua-duanya saja," kata Eun Chae, tanpa berpikir panjang.

"Ok," balas Yun Seok, lalu memesan makanan dan minuman.

Sedetik kemudian, suasana kembali hening di antara kedua orang yang baru saja bertemu itu.

"Eun Chae-ya," panggil Yun Seok.

"Uhm, apa kau harus berbicara secara informal padaku?" respon Eun Chae, sembari berdecak pelan.

"Ah, maaf. Sepertinya, aku membuatmu tidak nyaman," kata pria itu canggung.

"Lupakan saja. Berbicaralah, akan kudengarkan," alih Eun Chae, tanpa sadar mulai menghitung waktu sebelum Chef Do kembali ke rumah.

"Ah, begini-- Sebenarnya, aku--"

Kali ini, Yun Seok nampak sedikit kewalahan mengatur pembicaraan pentingnya, hingga membuat wanita di depan matanya menunggu dengan kurang sabar.

"Sebenarnya, alasanku mengajakmu kemari untuk mengobrol adalah karena-- ada pertanyaan yang sejak lama ingin kuajukan padamu," jelas Yun Seok, sesingkat mungkin.

"Bertanyalah padaku," imbuh Eun Chae.

"Apa kamu tidak tertarik mengikuti orkestra lagi?"

Mendengar pertanyaan unik itu, Eun Chae berpikir sejenak dengan mengerjapkan mata, lalu berbicara.

"Orkestra? Aku?" ulangnya kebingungan.

"Benar. Bukankah kamu gemar bermain piano klasik dan piano keyboard?" lontar Yun Seok.

Karena terkejut, kedua mata Eun Chae yang bulat itu membelalak dan bersinar karena pantulan cahaya lampu dan matahari siang di tempat itu.

Peka terhadap reaksi Eun Chae, pria itu tidak mendesaknya untuk berkata-kata. Entah mengapa, pria itu seperti sedang bernostalgia dengan wajah Eun Chae.

"Kenapa kau terus menatapku? Ada yang aneh denganku?" tanya wanita itu spontan.

"Tidak-- sama sekali. Aku hanya kaget karena kamu masih sangat mirip dengan dirimu 15 tahun lalu," balas Yun Seok cepat.

"Maksudmu, aku belum menua? Apa ini pujian?" simak Eun Chae.

Pria itu mengangguk-anggukan kepala sebagai jawaban mudahnya.

"Uhm.. Terima kasih," ucap Eun Chae pelan, belum berani menatap kepada pria itu.

"Haha. Sejujurnya, aku merasa sedikit aneh. Dulu, akulah yang tidak berani bertatapan denganmu saat SMA. Kenapa kamu bersikap seperti ini sekarang?" bahas Yun Seok akhirnya.

Walau sikap Yun Seok cenderung bersahabat, Eun Chae tetap membatasi keterbukaannya.

"Uhm, makanan dan minuman kita sudah muncul. Lebih baik kita habiskan dulu," sela Eun Chae, seketika menghirup aroma hidangan yang baru saja disajikan oleh pelayan cafe.

Seusai makan dan minum, Yun Seok membayar di kasir dan hendak mengantar Eun Chae pulang.

"Tidak perlu. Terima kasih sudah mentraktirku makan. Berikutnya, aku akan membelikanmu camilan enak," tolak Eun Chae sopan, hingga Yun Seok tidak berkutik lagi.

Tanpa berpamitan atau berbasa-basi lebih lanjut, Eun Chae berjalan cepat menuju rumah Chef Do. Walau tak sengaja dikecewakan lagi oleh sang pujaan hati, Yun Seok hanya tersenyum sambil menghela nafas.

"Sayang sekali. Semestinya, aku lebih banyak berlatih berbicara sebelum bertemu dengannya," sesalnya, masih mengamati sosok Eun Chae dari kejauhan hingga tak nampak lagi.

Sementara itu, mobil Chef Do telah terparkir rapi di depan rumahnya, dan penumpangnya baru saja menjejakan kaki keluar sambil membawa dus berisi bahan-bahan.

"Chef!" seru Eun Chae, sambil berlari dari jarak beberapa meter.

"Hei, pelan-pelan saja. Nanti kamu terjatuh," sahut pria itu, dengan suara yang cukup keras.

"Hehe. Biar kubantu. Apa belanjaan oppa masih ada lagi di bagasi?" tawar Eun Chae, sembari mengatur nafas saat berada di dekat Chef Do.

"Tidak ada. Masuklah ke rumah, biar aku saja," katanya.

Saking sibuknya menata lemari penyimpanan dan bahan-bahan, keduanya hampir melupakan rasa lapar pada hari yang menjelang sore.

Kruuk.

"Eun Chae-ya, kamu lapar?" tanya Chef Do, seketika mengamati Eun Chae yang bersikap malu.

Wanita itu tidak sanggup berdalih, karena bunyi perutnya semakin kencang.

"Apa aku lupa memberimu makan, sampai perutmu keroncongan begini?" imbuh pria itu.

"Bu-- Bukan begitu--"

Walau masih berusaha mengarang alasan, Eun Chae gagal mengesampingkan fenomena alami itu. Mau tidak mau, Eun Chae berkata seadanya.

"Ya, Chef. Aku lapar, tadi siang aku kurang berselera. Bisakah kita mulai memasak sesuatu sekarang?" ungkapnya gelisah.

Chef Do yang terbiasa dengan kepolosan Eun Chae merespon dengan anggukan kepala dan senyuman khasnya.

Pria itu membuatkan masakan yang cukup instan tanpa membiarkan Eun Chae menunggu lama.

Seusai makan dengan lahap, Eun Chae teringat akan benda yang tak sewajarnya ditemukan olehnya di tempat pembuangan.

"Oppa," panggilnya.

"Hmm?" balas Chef Do.

"Apa ada sesuatu yang terlupakan saat oppa membersihkan rumah pagi ini?" pancing Eun Chae.

Lelaki itu berpikir singkat, lalu menggelengkan kepala.

"Sungguh?" selidik Eun Chae lagi.

"Tentu saja. Aku tidak pernah melewatkan apapun saat melakukan tugas rumah," jelas Chef Do.

"Bukan itu-- Maksudku, sesuatu yang berharga," ulas Eun Chae perlahan.

"Benda yang kugunakan? Sepertinya, tidak ada."

Mendapatkan respon sedemikian, Eun Chae mulai frustrasi.

"Bingkai foto. Apa oppa berniat membuangnya?"

Kini, sikap riang yang hanya ditujukan pada orang terdekat bagi pria itu mendadak sirna.

"Buang saja. Aku tidak memerlukannya," jawabnya singkat, dengan nada suara dan ekspresi yang terkesan dingin.

"Oh, begitu.. Baiklah," respon Eun Chae, walau kurang yakin.

Semenjak momen pahit itu, kesadaran Eun Chae melarangnya bersikap gegabah.

- Bersambung -

1
Tuan Gong
menggugah selera makan + selera baca💯👍🏻happy CNY in advance utk authornyaa.
Tuan Gong
hmmm antagonis muncul.💪
Tuan Gong
kerennn bro💪
Tuan Gong
karakter cwekny jg mantapp👍
Tuan Gong
pria sejatii tuh👍 kalau jatuh cinta n menghargai pasangan.
Tuan Gong
wakkk mantaps broo👍
Tuan Gong
astagaaa kasian bgt lu eun chae
Tuan Gong
mauuu
Tuan Gong
Wih kerenn💪
Tuan Gong
wahhh
Tuan Gong
Hhhh yaa ituu👍
Tuan Gong
Jantan💪
Tuan Gong
logis bgt cwok sih 💪
henryy
Critanyaseru dan menarik +ga dangkal. jadi aku sukaa very good ideas /Good//Gift//Sun/
ig@__02chani: wah makasih kak💜
total 1 replies
strawberryjam
karya yg menarik krn bnyak yg bs dipelajari soal kehidupan, ga hanya satu aspek romantis aja,.. jg ada humor.. kebutuhan khusus manusia... blm lg ada kuliner koreanya tuh mantap &unik banget /Good/sukaa sm chef do, karakter dia tuh cool bangett😍
ig@__02chani: wah makasih kak💜
total 1 replies
bambam
Baru mulai baca ini, tapi sangat menarik, tulisan rapiii banget, suka sm jokes dlm series nya jg, sipp deh/Good//Heart/
ig@__02chani: wah makasih kak💜
total 1 replies
bambam
Wow tulisan yg rapi banget aku smpe irii 👍 keren, semangat author
Panda CEO
ngakak lols baru aje makan nengg🤣/Heart/
Panda CEO
ini tuh ya Chae sma kyak kamu pas ngeliatliatin chef Do si cogan kesayanmuu🤭
ig@__02chani: hehe iya kak
total 1 replies
Panda CEO
Wajj menu barat/Chuckle/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!