Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Telur Gulung dan Bola Plastik
Dapur rumah Joglo itu luas, tapi terasa hangat berkat tungku kayu yang menyala di sudut ruangan. Seno tidak menggunakan kompor gas modern untuk masakan rumahnya. Dia percaya api dari kayu memberikan rasa yang lebih "jujur".
Di meja kayu besar di tengah dapur, Alya sedang berjuang melawan musuh bebuyutan setiap koki pemula: Bawang Merah.
Cres... cres...
Alya mengiris bawang dengan kaku. Matanya pedih, air mata mengalir deras bukan karena sedih, tapi karena syn-propanethial-S-oxide—gas iritan dari bawang yang menguap ke udara.
"Pak... ini pedih banget," keluh Alya sambil mengusap matanya dengan punggung tangan, yang justru membuat pedihnya makin menjadi.
Seno, yang sedang menumbuk bumbu di cobek batu, berhenti sejenak. Dia menghampiri Alya. Dia mengambil pisau dari tangan Alya, lalu mencontohkan cara memegang bawang yang benar: jari-jari ditekuk ke dalam seperti cakar kucing agar tidak teriris, dan gerakan pisau yang mengayun, bukan menekan.
Seno kemudian mengambil selembar daun sirih dari keranjang, meremasnya sedikit, lalu menempelkannya di telinga Alya.
Alya bingung. "Buat apa, Pak?"
Seno menunjuk hidung Alya, lalu membuat gerakan bernapas lega.
Ajaib. Bau menyengat bawang itu berkurang drastis. Rasa pedih di mata Alya mereda. Alya tidak tahu apakah itu efek ilmiah daun sirih atau mantra kecil Seno, tapi itu berhasil.
Seno mengambil papan tulis kecilnya yang kini tergantung di dinding dapur.
JANGAN MASAK DENGAN KESAL. NANTI MAKANANNYA JADI RACUN. IRIS DENGAN PERASAAN. BAYANGKAN KAMU SEDANG MEMBUANG HAL-HAL BURUK SETIAP KALI PISAU TURUN.
Alya membaca tulisan itu. Dia mengambil pisau lagi.
Cres... (Ini untuk Ayah tiri yang galak).
Cres... (Ini untuk teman sekelas yang jahat).
Cres... (Ini untuk nilai matematika yang merah).
Alya tersenyum tipis. Ternyata memasak bisa jadi pelampiasan amarah yang produktif.
Malam itu, mereka makan malam sederhana: Sayur Lodeh, Ikan Asin, dan Sambal Terasi.
Bagi Alya yang terbiasa makan fast food atau makanan katering yang dingin, masakan Seno terasa luar biasa. Sayur lodehnya gurih, santannya kental tapi tidak bikin enek. Ikan asinnya renyah. Dan sambalnya... pedasnya sopan, tidak menyiksa tapi bikin nagih.
"Bapak kenapa nggak buka restoran beneran aja?" tanya Alya sambil nambah nasi untuk kedua kalinya. "Pasti laku keras. Bisa masuk Michelin Star."
Seno hanya tersenyum simpul, lalu menggeleng pelan. Dia menunjuk ke arah jendela yang gelap. Tugasku bukan di sini. Tapi di sana.
Pukul 00.30 WIB. Warung Tengah Malam sudah buka kembali.
Malam ini udara lebih lembap. Awan mendung menggantung rendah di langit Yogyakarta, menyembunyikan bulan. Suara kodok bersahutan di kejauhan.
Alya sudah lebih sigap. Dia membantu menata piring, menyiapkan gelas, dan memastikan stok air cuci piring (yang ajaib itu) penuh. Dia masih merasa takut, tentu saja. Bayangan Sundel Bolong semalam masih menghantuinya. Tapi rasa penasaran dan rasa tanggung jawab mulai tumbuh di hatinya.
"Pak, malam ini menunya apa?" tanya Alya.
Seno menunjuk ke arah bahan-bahan yang dia siapkan di meja: Telur ayam sekeranjang penuh, botol saus sambal encer merah menyala, tusuk sate bambu, dan minyak goreng yang banyak dalam wajan cekung.
"Telur dadar?" tebak Alya.
Seno menggeleng. Dia mengambil satu tusuk sate, mencelupkannya ke kocokan telur, lalu memutarnya di minyak panas dengan gerakan tangan yang sangat cepat dan skillful.
Srrreeeet... Gulung... gulung... gulung...
Dalam hitungan detik, telur itu melilit rapi di tusuk sate, tebal, empuk, dan berminyak.
Telur Gulung. Jajanan SD legendaris.
Alya melongo. "Wow. Itu teknik tingkat tinggi, Pak."
Tiba-tiba, sebuah benda menggelinding masuk ke dalam tenda.
Dug... dug... dug...
Sebuah bola plastik murah bermotif garis-garis merah biru. Bola yang biasa dijual di pasar malam seharga lima ribuan.
Bola itu berhenti tepat di kaki Alya.
Alya mematung. Dia menatap ke arah kegelapan di luar tenda.
"Pak... ada bola."
Seno tidak mengambil garam atau pisau. Wajahnya berubah menjadi sangat lembut, hampir sedih. Dia mematikan api besar, mengecilkannya menjadi nyala lilin yang hangat. Dia memberi isyarat pada Alya: Ambil bolanya. Berikan padanya.
Alya menelan ludah. Dia membungkuk, memungut bola plastik yang basah oleh embun itu.
Dia berdiri dan melihat sosok itu.
Bukan hantu menyeramkan berwajah hancur. Bukan monster bertaring.
Yang berdiri di batas cahaya lampu adalah seorang anak laki-laki kecil. Usianya mungkin baru tujuh atau delapan tahun. Dia memakai kaos oblong bergambar Ultraman yang sudah luntur dan celana pendek merah SD. Dia tidak memakai sandal.
Anak itu tampak normal, kecuali satu hal: ada bekas luka memanjang di keningnya yang masih mengeluarkan darah segar, dan kulitnya sangat pucat.
Anak itu menatap Alya dengan mata bulat besar yang berkaca-kaca. Dia memegang ujung kaosnya dengan gugup.
"Kak..." suaranya cicit, kecil sekali. "Bolaku..."
Hati Alya mencelos. Rasa takutnya lenyap seketika, digantikan oleh gelombang rasa iba yang menghantam dadanya. Ini cuma anak kecil. Anak kecil yang tersesat.
Alya berjongkok, menyamakan tingginya dengan si anak hantu. Dia mengulurkan bola itu.
"Ini bolamu, Dek. Namanya siapa?"
Anak itu maju selangkah, masuk ke dalam lingkaran cahaya tenda. Dia mengambil bola itu dari tangan Alya. Tangannya dingin sedingin es batu.
"Bagas," jawabnya. "Aku Bagas."
"Bagas main bola malam-malam?" tanya Alya lembut, menahan getaran di suaranya.
Bagas mengangguk, lalu menggeleng. "Tadi sore... main bolanya tadi sore. Bolanya gelinding ke jalan raya. Bagas kejar... Terus... terus ada truk besar. Truknya bunyi tiiinnn kenceng banget. Terus gelap."
Alya menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak tangis. Kecelakaan. Anak ini meninggal kecelakaan tadi sore saat mengejar bola ini.
"Sekarang Bagas bingung," lanjut anak itu, bibirnya mulai gemetar mau menangis. "Bagas mau pulang. Tapi Bagas nggak tahu jalannya. Ibu pasti marah Bagas belum pulang. Bagas laper..."
Seno membunyikan sutilnya pelan. Ting.
Dia sudah siap.
Alya menoleh ke Seno, lalu kembali ke Bagas.
"Bagas jangan nangis ya. Makan dulu yuk? Itu ada Om Koki baik hati mau bikinin jajan."
Mata Bagas berbinar saat melihat gerobak Seno.
"Telur gulung?" tanyanya antusias, melupakan kesedihannya sejenak. "Bagas suka telur gulung! Yang sausnya banyak!"
Seno tersenyum. Dia mulai beraksi.
Dia memecahkan tiga butir telur sekaligus. Crak!
Dia mengocoknya dengan sedikit air dan bumbu rahasia—bukan penyedap rasa, melainkan Serbuk Tawa Kanak-Kanak (diambil dari bunga Dandelion yang ditiup anak kecil).
Srrrooot! Seno menuangkan adonan telur ke minyak panas. Minyak berbuih.
Gulung... gulung... gulung...
Seno membuat lima tusuk telur gulung ukuran jumbo. Dia mencelupkannya ke dalam saus merah encer—saus khas abang-abang SD yang rasanya pedas manis dan sedikit asam.
Dia meletakkan sate telur itu di piring plastik kecil berwarna hijau cerah.
Bagas naik ke bangku kayu lincak. Kakinya yang pendek menggantung, tidak sampai ke tanah.
Dia mengambil satu tusuk. Dia memakannya dengan lahap sampai pipinya belepotan saus.
"Enak!" seru Bagas gembira. "Ibu suka marahin Bagas kalau jajan ini. Katanya nggak sehat. Tapi Bagas suka banget."
Alya duduk di samping Bagas, memperhatikannya makan.
"Makan yang banyak, Gas. Biar kuat."
Bagas mengunyah sambil bercerita dengan polos. "Kakak tahu nggak? Besok Bagas ulang tahun. Ibu janji mau belikan kue Ultraman. Tapi Bagas malah ilang..."
Wajah Bagas mendung lagi. Dia berhenti makan.
"Kak... Ibu nangis nggak ya?"
Pertanyaan itu menghujam jantung Alya. Dia teringat ibunya sendiri. Apakah ibunya menangis saat Alya kabur? Atau ibunya malah lega beban hidupnya berkurang?
Tidak. Tidak ada ibu yang lega kehilangan anaknya. Bahkan ibu Alya yang cerewet pun pasti akan hancur jika Alya mati.
"Ibu Bagas pasti nangis," kata Alya jujur, mengusap kepala anak hantu itu (rambutnya terasa halus tapi dingin). "Tapi Ibu Bagas juga pasti mau Bagas kenyang dan nggak sedih lagi. Kalau Bagas sedih, Ibu makin sedih."
Bagas mengangguk. Dia menghabiskan telur gulung terakhirnya.
Setelah suapan terakhir, luka di kening Bagas perlahan menutup. Kulit pucatnya berubah menjadi cerah bercahaya. Baju Ultraman-nya yang lusuh berubah menjadi bersih dan baru.
"Kenyang," kata Bagas sambil menepuk perutnya. Dia tersenyum lebar, memperlihatkan gigi susunya yang ompong satu.
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara wanita memanggil lembut. Bukan suara hantu, tapi suara gema dari alam lain.
"Bagas... Pulang, Nak..."
Bagas menoleh. Wajahnya cerah.
"Itu suara Eyang Putri!" seru Bagas. "Eyang Putri udah nungguin!"
Bagas melompat turun dari bangku. Dia memeluk kaki Alya sebentar.
"Makasih ya, Kakak Cantik. Makasih Om Koki. Telur gulungnya enak banget!"
Bagas berlari keluar tenda sambil membawa bola plastiknya. Di batas cahaya, sesosok wanita tua bercahaya putih (arwah neneknya yang sudah meninggal duluan) muncul, mengulurkan tangan.
Bagas menggandeng tangan neneknya. Mereka berdua berjalan menjauh, menembus kabut, menuju cahaya yang hangat.
Alya menatap kepergian mereka sampai tak terlihat lagi.
Tanpa sadar, air mata Alya menetes. Kali ini bukan air mata sedih, tapi air mata haru.
Kematian ternyata tidak selalu menakutkan. Kadang, kematian hanyalah kepulangan ke pelukan nenek.
Seno menyodorkan selembar tisu pada Alya.
Alya menerimanya, mengusap hidungnya.
"Pak," kata Alya serak. "Ternyata... pekerjaan ini... indah ya."
Seno mengangguk pelan. Dia menatap langit yang mendung.
Malam ini dia berhasil menyelamatkan satu jiwa kecil dari tersesat menjadi tuyul atau hantu penasaran. Satu telur gulung menyelamatkan satu masa depan akhirat.
Seno menepuk pundak Alya, lalu menunjuk tumpukan piring kotor.
Momen haru selesai. Kembali kerja.
Alya tertawa kecil di sela tangisnya. "Siap, Bos. Siap."
Dia kembali ke ember cuciannya dengan hati yang jauh lebih ringan. Dia mulai mengerti kenapa Seno bertahan di warung ini selama bertahun-tahun.
Namun, di kegelapan di balik pohon beringin, sepasang mata merah yang tadi malam diusir Seno kembali mengintai. Dan kali ini, dia tidak sendirian.
Ada sosok lain bersamanya. Sosok tinggi besar dengan jas hitam necis dan aura yang membuat daun-daun layu seketika.
Sang Penagih sudah mencium bau perubahan di warung itu.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
alya 😂
3 hari dalam ambang batas dunia nyata dan maya
belajar berdampingan
menghantarkan mereka pulang
mungkin hal yang tak pernah terpikirkan.
3 hari menyulam asa, dari keputus asaan.
haru, sedih dan gembira berbaur
ilmu yang berat baru saja terlewati
IKHLAS
jago sekali anda merayu eyang banaspati, amarah melunak ,melebur dalam cita rasa ,aroma khas nusantara.
kereen thor, tetap semangat yaa mengetik karya indah.
menyusun kalimat perkata dengan ketelitian ekstra
sepanjang apik runut no typo
ciamik
endah thor, ora bakal cukup ratusan mangsi
horor tapi beda, auranya gak menakutkan.
perjuangan remaja putri yang merasa tidak dapat kasih sayang ,kenyamanan hidup bersama keluarga.
diambang putus asa malah ketemu sosok misterius yang terbelenggu perjanjian , pertukaran nyawa demi sang terkasih, meski tragis ...
pada akhirnya cinta tak berpihak padanya.
hanya bisa memandang dari kejauhan.
ketulusan kasih tanpa perhitungan .
memendam bara asmara seorang diri ,menuangkan rasa lewat cita masakan ,walau beda alam.
semoga di penghujung pak seno bisa menemukan kebahagiaan sejati..
bersama alya saling membantu terlepas dari kerumitan sebuah janji
adakah semua ini terinspirasi dari sana thor? atau hanya suatu kebetulan belaka?
tapi kepala yang ditanam di undakan itu desas desusnya adalah seorang penghianat? benarkah ? atau hanya cerita dongeng untuk kita selalu bersikap baik ,tulus? sebab konon barang siapa yang menginjak undakan yang ada kepalanya itu sudah dianggap menginjak nginjak harga diri sebagai hukuman sang kepala?
yang memberi pelajaran berharga buat alya.
seburuk apapun keluarga adalah tempat pulang.
tempat yang nyaman dibanding keganasan hidup diluaran.