NovelToon NovelToon
Istri Yang Mereka Remehkan

Istri Yang Mereka Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.

Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.

Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ratu tanpa takhta

"Nona Elina..." sapa Dewa begitu Elina memasuki ruangan privat. Sejak awal mereka memang sudah berjanji di salah satu restoran untuk membahas hal yang penting, sehingga ruangan itu sengaja dipilih agar percakapan mereka tak terdengar orang lain.

Elina mengangguk lalu duduk di sebelah Dewa.

"Bagaimana, Dewa? Semuanya berjalan lancar?"

Dewa mengangguk mantap. "Iya, Non. Para karyawan berterima kasih kepada Non Elina karena telah merekrut mereka kembali."

"Harusnya aku yang meminta maaf, Dewa. Gara-gara Mas Ares mereka sampai dipecat," ucap Elina dengan nada kesal. "Keluarga Bi Wati bagaimana?"

"Pasukan bayangan sudah menjaga keluarga Bi Wati, Non. Bahkan mereka tinggal di salah satu rumah kosong di dekat rumah Bi Wati agar bisa melakukan antisipasi," jelas Dewa. "Lagipula, yang mertua Non sewa hanya preman kampung, Non," lanjutnya dengan nada meremehkan.

Elina tersenyum tipis—senyum dingin yang sama sekali tak mencapai matanya.

Ping!

Suara penanda seseorang berada di luar ruangan privat itu terdengar jelas di tengah keheningan.

"Saya buka dulu, Non," ucap Dewa sambil berdiri, setelah mendapat anggukan singkat dari Elina.

Krek!

Pintu dibuka, dan dua orang pemuda tampak berdiri rapi di ambang pintu. Tanpa banyak bicara, Dewa langsung mempersilakan mereka masuk ke dalam ruangan.

"Nona Elina..." sapa mereka berdua bersamaan sambil menunduk hormat.

Elina membalas dengan anggukan tipis, lalu menunjuk kursi kosong di hadapan meja.

Kedua pemuda itu segera duduk, diikuti Dewa yang kembali ke tempatnya.

"Bagaimana?" tanya Elina langsung ke inti, sorot matanya tajam, seolah tak ingin membuang waktu.

"Aman, Nona. Tuan Ares percaya kepada saya kalau saya bisa membantu dia mengalihkan aset Anda," ucap Bayu dengan senyum miring penuh arti.

"Begitu pun dengan saya, Non. Tuan Ares percaya jika semua dana perusahaan akan masuk ke rekening pribadinya," sambung Dirga tanpa ragu.

Elina tersenyum puas. Sejak awal, memang dialah yang menyuruh mereka berdua untuk menjebak Ares yang diam-diam ingin mengalihkan perusahaan Anderson Internasional Group.

Elina menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, jemarinya saling bertaut di atas meja, menunjukkan sikap santai yang justru menyimpan tekanan.

"Berarti umpan sudah termakan," ucapnya pelan, nadanya tenang namun berbahaya.

Bayu dan Dirga sempat saling pandang sekilas sebelum kembali menunduk hormat.

"Iya, Non. Tuan Ares sama sekali tidak curiga. Bahkan beliau sudah menyiapkan dokumen awal untuk pemindahan saham," jelas Bayu.

"Dia pikir saya benar-benar memihaknya," tambah Dirga. "Besok pagi, dia minta saya datang ke kantor untuk menandatangani berkas lanjutan."

Elina terkekeh lirih, senyum tipis mengembang di bibirnya. "Dia selalu meremehkan orang lain. Termasuk saya."

Dewa yang sejak tadi diam ikut mencondongkan tubuh, menatap Elina dengan serius. "Non, kalau begitu kita tinggal menunggu dia menekan tombol terakhir. Begitu dana bergerak, bisa langsung mengunci seluruh aksesnya."

"Bukan hanya itu." Elina menatap Bayu dan Dirga satu per satu, membuat keduanya menahan napas. "Kalian pastikan semua tercatat rapi. Saya ingin dia tidak punya celah untuk menyangkal."

Bayu mengangguk mantap. "Semua sudah kami siapkan, Non. Jejak digital, rekaman percakapan, bahkan salinan email."

Dirga tersenyum tipis. "Begitu dia mendatangani, kita balikkan semuanya. Nama Anda akan kembali muncul sebagai pemilik sah, sementara Tuan Ares justru terlihat seperti pelaku penggelapan."

Elina menegakkan punggungnya, tatapannya kini semakin dingin dan penuh perhitungan.

"Bagus. Selama ini mereka pikir saya hanya diam dan tidak tahu apa-apa."

Elina lalu menatap Dirga dan Bayu. "Berapa biaya yang kalian minta padanya?"

"Satu miliar, Non," jawab mereka berdua hampir bersamaan.

"Setelah dia transfer, saya langsung mengirim kembali uang itu ke perusahaan, Non," tambah Dirga, yang langsung diangguki Bayu.

“Minta lagi,” perintah Elina sambil menyunggingkan senyum miring. “Kuras sampai dia benar-benar kehabisan uang, dan kirimkan bukti palsu seolah tinggal beberapa persen lagi, semua akan menjadi miliknya.”

“Siap, Non,” sahut Dirga dan Bayu serempak.

“Dewa, lakukan pengacauan pada seluruh rekening Ares. Aku ingin tahu berapa sisa tabungannya, termasuk semua rekening pribadinya,” lanjut Elina dengan nada datar namun penuh tekanan.

Dewa langsung mengangguk dan mulai mengetik cepat di laptopnya. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, memecah keheningan ruangan.

Tak lama kemudian, ia memutar layar laptop dan menyerahkannya pada Elina.

Elina membacanya dengan saksama, sorot matanya bergerak pelan mengikuti baris-baris data, sebelum akhirnya tersenyum miring.

“Sisa segini?” gumamnya, lalu mengembalikan laptop pada Dewa. “Dirga, Bayu, kalian pahamkan apa yang harus kalian lakukan.”

Keduanya kompak mengangguk.

“Minta waktu tambahan padanya, sebab saya akan mengundurkan pengajuan pengumuman CEO.”

“Baik, Nona,” jawab Dirga dan Bayu serempak.

Ping!

Suara penanda dari luar ruangan kembali terdengar, memecah keheningan yang masih menyisakan ketegangan. Kali ini Dirga yang beranjak, langkahnya ringan namun sigap saat membuka pintu.

Seorang gadis tampak masuk dengan napas sedikit tersengal. “Maaf, Nona Elina, saya telat datang, perjalanan sangat macet,” ucapnya sambil menunduk hormat.

Elina hanya mengangguk kecil. “Tidak apa-apa, Luna. Duduklah.”

“Makasih, Nona Elina,” balas Luna, lalu mengambil tempat di samping Elina, tubuhnya sedikit condong ke depan seolah tak sabar menyampaikan laporan.

“Bagaimana?” tanya Elina langsung, menatap Luna tanpa basa-basi.

“Maya dan Tuan Ares jadi menyicil rumah Anda, Nona." lanjut Luna dengan suara yakin. “Mereka melihat iklannya di internet. Iklan itu dibuat seolah-olah rumah tersebut milik investor luar kota yang sedang butuh dana cepat.”

Elina menyipitkan mata, bibirnya melengkung tipis, seperti sedang menahan kepuasan. "Jadi mereka benar-benar percaya rumah itu bukan milikku?"

Luna mengangguk mantap. "Iya, Nona. Maya yang menemukan iklannya lebih dulu. Dia bahkan meyakinkan Tuan Ares kalau harga cicilannya terlalu murah untuk dilewatkan. Mereka tidak tahu sama sekali kalau rumah itu milik Anda."

Dewa terkekeh pelan, nada tawanya sarat sindiran. "Iklan palsu itu kita sebarkan di beberapa situs properti. Semua datanya rapi, seolah-olah legal dan resmi."

Elina kembali menyandarkan punggungnya, tatapannya semakin tajam, seakan semua potongan rencana di kepalanya kini mulai tersusun sempurna.

"Bagus. Biarkan mereka terlena dengan mimpi memiliki rumah besar, sementara uangnya sedikit demi sedikit kembali ke tanganku."

Luna menatap Elina dengan mata berbinar kagum. "Mereka bahkan sudah membicarakan renovasi, Nona. Maya terlihat antusias, sampai mengirimkan desain interior ke Tuan Ares."

Bayu menggelengkan kepala tak percaya, seolah sulit menerima betapa mudahnya mereka tertipu. "Terlalu mudah memancing mereka."

"Karena mereka serakah," sahut Elina datar. "Dan orang serakah selalu lupa memeriksa siapa sebenarnya yang sedang mereka injak." Elina lalu mengalihkan pandangannya pada Dewa. "Pastikan cicilan pertama itu masuk ke rekening perusahaan melalui jalur yang sudah kita siapkan. Aku ingin mereka merasa aman, seolah tidak ada yang mencurigakan."

"Sudah siap, Non," jawab Dewa cepat tanpa ragu.

Elina menghela napas pelan, sejenak menutup mata sebelum membuka kembali dengan senyum dingin yang menghias wajahnya.

"Sebentar lagi, Ares akan sadar bahwa semua yang dia rencanakan justru menjadi jebakan untuk dirinya sendiri."

♡♡

Tok! Tok!

Ares yang sibuk di depan laptopnya menoleh ke arah pintu, lalu berkata, "Masuk."

Krek! Pintu terbuka. Terlihat asistennya, Restu, menghampirinya dengan wajah tegang.

“Ada apa, Res?” tanya Ares tanpa menoleh dari layar.

“Pengumuman CEO diundur satu minggu, Tuan,” jawab Restu pelan.

Ares langsung menghentikan pekerjaannya lalu menatap Restu dengan tajam. “Apa kamu bilang?”

Restu segera menyerahkan map pada Ares. Dengan gerakan kasar, Ares meraihnya dan langsung membaca isinya.

“Kenapa tak ada info langsung kepada saya?” ulang Ares dengan suara tertahan, jemarinya meremas map itu hingga kusut.

Restu menunduk. “Suratnya datang dari dewan direksi, Tuan. Instruksinya jelas, pengumuman CEO ditunda karena ada evaluasi ulang terhadap struktur kepemilikan saham.”

“Evaluasi ulang?” Ares terkekeh sinis. “Semua sudah beres. Nama saya sudah masuk sebagai kandidat utama. Ini tidak masuk akal.”

“Di dalam surat juga tertulis, Tuan, ada permintaan audit mendadak dari pemegang saham mayoritas,” lanjut Restu dengan hati-hati.

Ares membeku seketika.

“Pemegang saham mayoritas…” ulangnya pelan, sorot matanya menggelap. “Itu Elina.”

Restu tak menjawab, tetapi ekspresinya cukup menjadi konfirmasi.

Ares melangkah mondar-mandir di ruangan itu, napasnya memburu. “Dia pasti sudah mencium rencana kita. Makanya pengumuman ini ditunda.”

“Tuan, apa perlu saya hubungi pihak dewan untuk klarifikasi?” tanya Restu.

“Tidak,” potong Ares cepat. “Kalau aku bergerak sekarang, mereka akan makin curiga.” Ia berhenti di depan jendela, menatap gedung perusahaan dengan rahang mengeras. “Justru kita harus mempercepat pengalihan aset. Sebelum Elina sempat mengubah apa pun.”

Restu tampak terkejut. “Maksud Tuan… hari ini juga?”

“Ya,” sahut Ares dingin. “Hubungi Bayu dan Dirga. Katakan pada mereka, aku ingin seluruh proses dipercepat. Tidak ada penundaan lagi.”

“Baik, Tuan.”

Saat Restu berbalik pergi, Ares kembali duduk, membuka laptopnya dengan gerakan kasar. Tangannya sedikit bergetar saat membuka data keuangan perusahaan—bukan karena takut, melainkan karena ia sadar, kali ini Elina tidak sedang diam.

Dan untuk pertama kalinya, Ares merasa posisinya sebagai calon CEO mulai benar-benar terguncang.

1
tia
lanjut Thor
Nona Jmn: Sabar yah🫶🥰
total 1 replies
Ma Em
Sudah ga sabar nunggu kehancuran Ares dan keluarganya , Elina cepat tendang para benalu yg nempel dirumah mu .
Nona Jmn: Sabar
total 1 replies
Ma Em
Duh sdh ga sabar Ares dan keluarganya diusir dari perusahaan juga rumah Elina
tia
cepat singkirkan benalu
Nona Jmn: Sabar😭😁
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
keterlaluan area
Nona Jmn: Sabar😁
total 1 replies
kaylla salsabella
pasti si maya
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kaylla salsabella
anak buah dewa
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣 res Ares
kaylla salsabella
ayah belum tahu klu Ares selingkuh
kaylla salsabella
nah khawatir kan kamu res 🤣🤣
kaylla salsabella
lanjut thor
Nona Jmn: Besok ya kakak🥰 jangan lupa vote🙏😭🫶🫡
total 1 replies
@Mita🥰
😍😍😍
Nona Jmn
Besok ya kakak🥰
tia
lanjut Thor
kaylla salsabella
ooo ku kira Elina udah yatim piatu 🤭🤭
Ma Em
Semoga Elina selamat dari para benalu yg mau menguasai semua harta kekayaan nya , jgn sampai si mokondo Ares juga keluarganya yg benalu berhasil menguasai semua harta Elina .
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
yes ada yang baru
Nona Jmn: Jangan lupa mampir dan vote ya🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!