Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan berkarisma. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik batin berkepanjangan dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Ethan tersentak melihat reaksi Athalia yang menatapnya tak berkedip dan wajahnya hampir berwarna pink. "Pakai dulu jacketnya, baru turun." Ucap Ethan untuk mengusir rasa hatinya yang bergetar.
Tanpa menunggu dikatakan kedua kali, Athalia menunduk dan mengikuti yang diminta. Ketika hendak melepaskan tali tas dari bahu, Ethan mencegah. "Biarkan tasnya di dalam." Ucap Ethan sambil terus melihat yang dilakukan Athalia.
Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Aliran hangat yang mengalir di hati terus mendorongnya untuk memastikan keamanan Athalia.
Athalia mengangguk pelan, karena mengerti yang dimaksudkan Ethan. Dia mengikuti yang diminta, tanpa tanya, tanpa protes. Walau dia sering naik ojol ke kantor dan pulang.
Setelah memakai jaket, Athalia melihat Ethan. "Mas, boleh tau namanya?" Athalia memberanikan diri bertanya, karena hal itu terus mengganggunya setelah mereka bertemu dan berbicara di lantai tiga. Dan agar dia tahu menyapa dan mencari untuk mengembalikan jaket.
"Maaf, supaya aku bisa tahu untuk kembalikan jacket ini." Athalia mengutarakan alasan, karena merasa tidak enak, meminta nama pria.
Ethan mengangguk, lalu mengulurkan tangan. "Mana ponselnya."
Walau tidak mengerti, Athalia menarik resleting jacket, lalu mengeluarkan ponsel dari tas. "Ini, Mas." Athalia meletakan ponselnya begitu saja ke dalam tangan Ethan.
Ethan mengambil jempol Athalia untuk membuka layar ponsel. "Oh, iya, lupa." Athalia terkejut, karena tidak membuka kunci layar ponsel.
"Ini. Kalau ada apa-apa, hubungi. Tapi bukan untuk kembalikan jacket. Simpan kalau diperlukan, seperti sekarang." Ucap Ethan tegas. Dia bukan saja menulis nama Niel, tapi juga nomor telponnya, agar bisa dihubungi Athalia.
Athalia jadi tahu, tidak diberikan nama saja, tapi juga nomor telpon. "Makasih, Mas." Athalia hanya bisa mengucapkan terima kasih setelah memasukan ponsel ke dalam tas.
"Sebentar. Ini ada kupluknya." Ethan membuka resleting di leher jaket lalu mengeluarkan kupluk. Gerakan tangan Ethan membuat Athalia menahan nafas, karena posisinya sangat dekat dengan wajah Athalia. Sehingga secara refleks, dia menunduk agar tidak melihat wajah Ethan yang begitu dekat dengannya.
Dengan Athalia menunduk, Ethan jadi menarik kupluk untuk menutupi kepalanya. Interaksi mereka seperti sepasang kekasih. Perhatian Ethan seperti pacar yang khawatir pacarnya akan masuk angin.
Sopir yang mendengar percakapan mereka, tidak berani melihat kaca spion. Walau hatinya tergoda, karena terkejut mendengar yang dikatakan bossnya kepada Athalia. Dia hanya perhatikan mobil yang keluar melewati pos penjagaan di depan gedung.
"Sudah. Hati-hati." Ucap Ethan setelah merapikan kupluk. Athalia mengangguk dalam diam. Suaranya seakan tersumbat di tenggorokan, mendapatkan perhatian melalui tindakan dan sentuhan Ethan.
Dia segera turun dan berlari kecil ke ojol yang sedang menunggu. Tanpa berani melihat ke mobil Ethan, agar hatinya tidak makin diaduk. Perhatian Ethan hampir membuat dia menangis.
"Pak, tunggu lihat mereka jalan baru kita ikuti. Tapi jaga jarak, jangan sampai ketahuan diikuti." Pinta Ethan kepada sopirnya yang diam menunggu perintah.
"Iya, Pak. Siap." Sopir segera lakukan permintaan Ethan.
Tidak lama kemudian, mobil Ethan mengikuti dari jarak jauh. "Mobil yang tadi tidak mengikutinya?" Tanya Ethan sambil mencari mobil Hendry.
"Tidak, Pak. Tadi keluar dari pos security, langsung pergi." Sopir melapor, sebab dia melihat mobil Hendry setelah mendengar permintaan Athalia. Jadi tanpa diminta, dia memperhatikan mobil yang dimaksud.
Sopir Ethan hafal mobil Hendry, karena sejak melihat sikap kurang ajar Hendry dan angkuh terhadap bossnya. Dia ingin menahan Hendry dan menghajarnya, sebelum naik ke mobil.
Tetapi dia melihat gerakan kepala Ethan yang menggeleng, melarang dia lakukan tindak kekerasan. Agar tidak jadi perhatian security dan semuanya terbongkar sebelum waktunya.
"Ok. Ikuti saja motor ojol tadi." Ethan merasa lega, karena bisa fokus pada Athalia.
Tidak lama kemudian, motor ojol yang dinaiki Athalia membelok ke arah yang tidak sesuai dengan pengetahuan Ethan. 'Mengapa dia membelok ke jalan itu? Apa lewat jalan potong?' Ethan heran dan bertanya dalam hati, karena alamat yang tertera pada CV Athalia tidak sesuai dengan arah yang dilewati motor.
Tapi Ethan tidak mengutarakan rasa herannya kepada sopir. Dia membiarkan sopir mengikuti Athalia. "Pak, sepertinya Nona Talia tinggal di gang itu. Apa kita ikut belok?" Tanya sopir yang melihat ojol membelok ke gang di depan.
"Tidak usah. Berhenti sebentar di depan gang untuk lihat saja." Ethan jadi penasaran dan ingin memastikan.
"Siap, Pak." Sopir memperlambat jalan mobil dan berhenti di depan gang. "Pak, Nona Talia masuk ke tempat kost itu." Ucap sopir untuk meyakinkan penglihatan Ethan. Dia yakin, karena ojol putar balik dari depan pagar yang di atasnya ada papan yang bertuliskan Kost Putri.
"Ok. Mari kita pulang." Ethan lega. Baginya, yang penting Athalia sudah tiba di rumah dengan aman dan tidak dibuntuti Hendry.
"Siap, Pak." Sopir segera menjalankan mobil. Dia ingat yang dikatan Rion, agar berhati-hati dengan gadis yang bernama Talia. Supaya dia bisa ikuti permintaan dan mendukung apa yang diinginkan bossnya.
~••~
Di sisi lain ; Setelah turun dari ojol, Athalia berjalan cepat ke kamar kost. Dia membuka pintu dan langsung duduk di tepi tempat tidur. Tanpa membuka jaket, dia memeluk jaket Ethan yang masih menempel di tubuhnya.
'Huuuuuu....' Athalia meniup berulang kali untuk melegakan dadanya yang sesak oleh sensasi perasaan haru, sedih, senang, bahagia, yang datang dan pergi bagaikan gelombang.
Dia harus menahannya sepanjang jalan, agar tidak meneteskan air mata. Suatu rasa baru menguasainya, hingga tidak memperhatikan sekitar. Hanya menggenggam erat depan jaket sambil ingat yang empunya.
Setelah sendiri di kamar, air matanya bergulir. 'Semoga ini pertanda baik buatku. Amin.' Athalia membatin penuh harapan.
Kemudian dia mengeluarkan ponsel dari tas untuk mengetahui nama yang diberikan. 'Jadi namanya Niel.' Athalia membaca nama yang disimpan dengan nomor telpon. 'Pria Cerdas dan cerdik.' Athalia berkata dalam hati melihat Ethan menelpon nomornya dari telpon Athalia. Jadi dia tidak perlu minta nomor telponnya, dia sudah tahu.
Namun tanpa diketahui Athalia, Ethan sudah tahu nomor telponnya dari CVnya. Ethan hanya mau memastikan, nomor telpon yang ada di CV sesuai, belum di ganti oleh Athalia.
~••~
Ke esokan hari ; Athalia masuk lebih pagi, tidak seperti kemarin. Hampir terlambat karena hampir tidak dapat ojol.
Ketika masuk lobby gedung kantor, Alea tersenyum melihatnya. "Akhirnya, kita bertemu di sini. Pertanda tidak terlambat." Ucap Alea senang.
"Hari ini Abang ojol ngga jadi mogok." Ucap Athalia sambil tersenyum. "Ayo, Lea, cepatan. Sebelum ada yang merusak hariku." Athalia menarik tangan Alea, karena melihat Hendry dari jauh.
"Ada apa?" Bisik Alea sambil berjalan cepat.
"Nanti aku cerita kejadian pulang kantor kemarin." Athalia balik berbisik.
Saat berjalan dengan Alea, dia memperhatikan sekitarnya sambil berharap dalam hati, bisa melihat Niel. Tapi hingga meninggalkan lobby, Niel tidak terlihat. Hanya Hendry yang tidak sabar mengantri dan uring-uringan sambil sesekali menatapnya.
...~•••~...
...~•○♡○•~...