Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.
"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.
“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.
“Eh -- "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Asoka Harsa
Bab 18
“Terima kasih, pak.” Asoka menyalami pria paruh baya. Pembimbing tesis yang juga guru besar dan dokter yang cukup terkenal di negeri ini.
Sang dosen akan semakin sibuk dua bulan ini, waktu untuknya menyelesaikan apa yang kurang sesuai masukan. Tantangannya saat bertemu nanti, Asoka diminta sudah menyelesaikan karya ilmiah itu dan bersiap untuk sidang.
Keluar dari gedung menuju mobilnya agak bergegas. Tidak sabar untuk menemui sang pujaan hati. Entah bercanda atau serius, tapi pesan yang dikirim Lisa cukup mengganggu dan membuatnya tidak nyaman. Mempertimbangkan tawaran Cecep untuk berkencan. Enak saja. Cemburu, sudah pasti dan Asoka yakini itu.
Sudah berada di dalam mobil dan menyalakan mesin serta pendingin udara, ponselnya bergetar. Ia menghela nafas saat nama penelpon muncul di layar.
“Halo, pah.”
“Di mana kamu?” suara pria terdengar di ujung sana.
“Kampus,” jawab Asoka lalu memijat dahinya pelan. Pasti ada sesuatu kalau papanya sampai menghubungi.
Hubungannya dengan sang papa – Aksa Mandala memang tidak harmonis. Aksa pemilik rumah sakit tempatnya mengabdi. Namun, Asoka yang lahir bukan dari istri sah Aksa membuat statusnya kurang kuat. Apalagi kedua putra Aksa dengan istri sahnya tidak menyukai kehadiran Asoka.
Sampai nama belakang Aksa pun tidak tercantum pada nama Asoka. Meski begitu, Aksa tetap bertanggung jawab dalam hidup Asoka, tidak kurang satu apapun termasuk menjamin pendidikan.
“Untuk apa kamu pindah ke pelosok. Cari perhatian atau menghindar dari tanggung jawabmu?"
“Aku ….”
“Pulang! Kita bicara di rumah.”
“Rumah yang mana? Aku tidak punya rumah untuk pulang semenjak Bunda pergi,” tutur Asoka. Tidak peduli Aksa akan marah atau mungkin mencoretnya sebagai ahli waris. Asoka tidak peduli.
“Jangan mulai kamu. Papa tunggu di rumah malam ini juga.” Panggilan pun berakhir.
Harusnya malam ini dia sudah tiba di Singajaya, tapi perintah Aksa tidak bisa diabaikan begitu saja. Mobilnya melaju meninggalkan area kampus menuju Jakarta. Tidak mengabarkan Lisa kalau ia menunda kepulangan, untuk sementara ia akan merahasiakan masalah dan latar belakang keluarganya.
Hampir jam 8 malam, Asoka tiba di kediaman Papanya. Rumah yang mewah dan megah seolah menunjukan kesombongan dan betapa kaya si pemilik rumah. Jarang menjejakan kakinya di rumah itu, Asoka tinggal di tempat berbeda pun saat bundanya masih ada.
Rumah itu tampak sepi, hanya dihuni Aksa dan istrinya juga pekerja di rumah. Kedua putra Aksa, yang pertama berprofesi sebagai dokter sama seperti Asoka dan Papanya. Sedangkan putra kedua memilih profesi yang berbeda, menjadi pengacara.
Mengucap salam saat memasuki ruang keluarga di mana Aksa dan istrinya berada.
“Malam, pah.”
Aksa menoleh lalu meletakan buku yang sedang dia baca ke atas meja. Sang istri melirik sekilas dan tidak mau peduli dengan kehadiran Asoka. Meski hubungan tidak harmonis, sopan santun dan adab tetap dijunjung tinggi oleh Asoka yang menyalami pasangan itu.
“Duduk!”
Tanpa basa basi, Aksa mengoceh dan menegur keputusan Asoka mengajukan diri untuk bertugas di pelosok.
“Apa kamu tidak ingin ikut jejak Papa dan kakakmu. Rumah sakit mana yang menolaknya, bahkan tawaran untuk bergabung selalu datang. Kliniknya pun semakin berkembang dan kamu memilih tugas di tempat terpencil.”
“Tidak usah emosi, ingat tekanan,” seru istri Aksa. “Dia sudah dewasa, tidak perlu dinasehati macam bocah.”
“Urus penarikan kamu kembali ke rumah sakit!” titah Aksa.
Asoka menghela nafas sebelum ia bicara, bahkan menegakkan tubuhnya. “Setahun pah, hanya setahun. Aku pastikan selama di sana, pendidikanku selesai.”
“Memang tidak bisa kamu selesaikan di Jakarta?”
“Jadwalku di UGD terlalu padat, jadi ….”
“Rumah sakit itu milikku, kamu bisa dapatkan privilege untuk kelonggaran jadwal bertugas.” Aksa bicara dengan nada tidak biasa, selalu begitu ketika berhadapan dengan Asoka.
“Berharap istimewa sebagai siapa? Aku Asoka Harsa, tidak tercantum di identitas dan berkas apapun kalau aku adalah putramu. Bukannya kalian yang minta aku tutup mulut dan menjaga semua rahasia. Aku sudah lakukan itu,” tutur Asoka dan sukses membuat Aska bungkam. Ultimatum yang pernah disampaikan oleh orangtuanya pada Asoka.
“Mulai berani kamu, menjawab terus,” keluh Aksa, melepas kaca mata lalu mengusap wajahnya.
“Dia papa kamu Asoka, seharusnya kamu lebih hormat. Bukan bikin orang marah-marah begini. Jangan jadi manusia tidak tahu terima kasih.” Istri Aksa menunjuk wajah Asoka.
“Aku tidak hormat, kapan aku begitu? Selama ini aku turuti apa yang kalian perintah termasuk masa depan sebagai dokter. Justru aku heran, sebenarnya salah siapa aku berada diantara kalian.”
“Asoka!”
“Seingatku, tidak pernah aku membangkang bahkan berteriak di hadapan kalian pun tidak.”
Aksa mendengus sebal. Apa yang dikatakan Asoka memang benar, apa salahnya sampai ia berlaku kejam dan keras seperti itu.
“Satu tahun,” seru Aksa. “Selesaikan pendidikanmu dan urus izin spesialis mu dan tunjukan siapa kamu!” titah Aksa lagi.
“Sebagai siapa? Putramu atau Aksa Harsa putra dari Rena Amanda?” cecar Asoka dan cukup membungkam Aksa.
Tidak meneruskan perbincangan mereka, Asoka pun akhirnya pamit. Kembali menyalami pasangan itu, bersikap santun sesuai didikan sang bunda untuk bisa memaafkan dan melapangkan hatinya.
Tidak memungkinkan langsung menuju desa tempatnya bertugas, selain sudah malam ia pun sudah lelah. Asoka pulang ke apartemennya untuk istirahat sebentar sebelum meneruskan perjalanannya.
***
“Lebat banget ya, mana dingin,” keluh Lisa melipat kedua tangannya di dad4 setelah menaikan tudung hoodie.
Di dapur, trio semprul sibuk mengatasi yang bocor dan tampias. Bahkan air di toilet meluap. Sejak tadi sore hujan lebat bahkan hampir tengah malam belum juga reda.
“Iya, mana laper. Dapur kayak gitu. Kita kaya korban kebanjiran ya.”
“Yul, Sa, bikinin kopi dong. Dingin banget ini!” teriak Rama.
“Biar gue,” cetus Yuli lalu menuju dapur.
Terdengar ketukan pintu dan teriakan dari luar. Lisa beranjak untuk melihat siapa yang datang.
“A Ujang,” ujarnya setelah menyibak gorden lalu membuka pintu. “Kenapa A, ada pasien?”
“Teh, tolongin saya. Anak saya ….”
“Anak A Ujang kenapa?” Lisa mengangguk dan mengernyitkan dahi mendengarkan penjelasan Ujang.
“Ada apa?” tanya Yuli.
“Ada pasien. Aku jalan ya.” Lisa mengambil payung yang ada di pojok ruangan.
“Eh, Lisa, tunggu…. Rama!” teriak Yuli tidak bisa mencegah Lisa yang sudah dibonceng Ujang dengan motor.
Rama Cs jadi tamengnya
rasakan kejahilan Yuli 😆😆😆😆
jangan lama-lama jangan lama-lama nanti aku kabur