"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."
Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Mansion megah yang terletak di kawasan elit Kota Medan itu tampak berkilau di bawah siraman cahaya matahari pagi. Arsitektur bergaya modern-classic dengan pilar-pilar putih menjulang dan hamparan taman yang tertata rapi menyambut kepulangan sang pemilik. Namun, suasana di dalam rumah itu tidaklah sehangat tampilannya.
Di ruang makan yang luas, aroma kopi arabika dan sarapan mewah dari koki pribadi mengudara, beradu dengan ketegangan yang menyesakkan dada. Garvi Darwin duduk di kursi utama, sementara Alsava Emily Claretta berada di sisinya. Di hadapan mereka, duduk sang patriark, Kakek Alfonso Darwin, yang menatap mereka dengan mata elang yang masih sangat tajam di usia senjanya.
Sava mengaduk tehnya pelan. Rambut brunette curly-nya jatuh dengan indah membingkai wajahnya yang tampak tenang, meski di dalam hati ia merasa seperti sedang duduk di atas bara api.
Kakek Alfonso meletakkan sendok peraknya dengan denting halus yang bergema di ruangan itu.
"Jadi," suaranya berat, penuh otoritas. "Rumor tentang perceraian itu... benarkah?"
Garvi yang baru saja hendak menyuapkan sarapannya, berhenti seketika. Ia menegakkan punggungnya yang atletis.
"Itu tidak benar, Kek. Hanya spekulasi murahan dari orang-orang yang ingin melihat Skyline Group jatuh."
Kakek Alfonso menyunggingkan senyum sinis. "Spekulasi murahan? Lalu bagaimana dengan surat cerai yang ditemukan di saku jasmu saat kecelakaan itu terjadi, Garvi? Surat yang sudah kau tanda tangani dengan tinta hitammu sendiri?"
Pertanyaan itu seperti ledakan bom di tengah meja makan. Sava terdiam, ia tidak terkejut lagi jika Kakek Alfonso tahu tentang surat cerai itu.
Garvi terdiam sejenak. Sorot matanya yang manipulatif berkilat, mencoba mencari celah.
"Itu... itu hanya emosi sesaat, Kek. Aku melakukannya saat pikiranku sedang kacau. Aku sama sekali tidak berniat menyerahkannya ke pengadilan. Lagipula, Kakek tahu sendiri, dalam tradisi keluarga Darwin dan Claretta, tidak ada kata perceraian. Sekali terikat, selamanya tetap satu."
Kakek Alfonso tidak mengalihkan pandangannya dari Garvi, namun tangannya bergerak mengusap lembut punggung tangan Sava yang berada di atas meja. Sebuah gestur kasih sayang yang sangat kontras dengan tatapan mautnya pada cucunya.
"Alsava," panggil Kakek Alfonso dengan nada yang jauh lebih lembut. "Kakek tidak peduli dengan tradisi kuno itu jika itu menyiksamu. Jika kau ingin mengakhiri semua ini, jika kau ingin benar-benar bebas dari pria posesif ini, katakan sekarang. Kakek akan setuju. Kakek akan melindungimu, tidak peduli jika harus menentang seluruh keluarga besar sekalipun. Yang terpenting bagiku adalah kebahagiaanmu."
Garvi tersentak. Rahangnya mengeras. "Kek! Apa yang Kakek katakan?"
"Aku bicara pada istrimu, Garvi. Bukan padamu," sahut Kakek Alfonso dingin.
Garvi langsung menatap Sava dengan tatapan yang sangat intens—tatapan yang seolah ingin mengunci wanita itu agar tidak bisa pergi ke mana pun.
"Aku tidak akan pernah bercerai, Kek. Tidak akan pernah sampai kapan pun. Ave adalah milikku, dan selamanya akan begitu."
Kakek Alfonso terkekeh, namun tawanya tidak mengandung humor sedikit pun. "Milikmu? Kau bicara seolah dia adalah properti bisnis Skyline Group. Garvi, jika aku jadi Alsava, aku sudah pergi sejak lama. Untuk apa bertahan dengan pria sepertimu? Pria yang hanya tahu cara mengendalikan, tapi tidak tahu cara menghargai."
Garvi mendebat dengan nada tidak terima. "Memangnya aku pria seperti apa di mata Kakek? Aku bertanggung jawab sepenuhnya. Aku memberikan segala kemewahan, kekuasaan, dan aku mapan secara posisi. Apa lagi yang kurang?"
"Kau tidak punya hati, Garvi. Itu saja kekurangannya," jawab Kakek Alfonso tajam, menembus langsung ke jantung pertahanan cucunya.
Suasana mendadak beku. Garvi mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku-bukunya memutih.
"Kakek salah. Di hatiku selama ini hanya ada Sava. Tidak ada wanita lain yang benar-benar kuberikan posisi seperti dia."
"Maka buktikan," tantang Kakek Alfonso. "Kata-kata manis tidak laku di depanku. Buktikan kalau kau bisa mencintainya tanpa rasa egois. Buktikan kalau kau layak bersanding dengan wanita sehebat dia."
Garvi menatap Kakek Alfonso dengan tekad yang menyala di matanya. "Beri aku satu kesempatan lagi, Kek. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan membuat rumah tangga ini benar-benar hidup, bukan hanya sekadar status di atas kertas."
Kakek Alfonso terdiam cukup lama, menimbang-nimbang. Ia kemudian menatap cucunya itu.
"Baik. Kakek akan memberikanmu satu kesempatan terakhir. Tapi ingat ini baik-baik, Garvi Darwin. Jika kau gagal lagi, jika kau menyia-nyiakan kesempatan ini dan kembali menjadi bajingan yang tak punya hati... Kakek sendiri yang akan menjemput Sava dan membawanya pergi jauh darimu. Kau tidak akan pernah bisa menemukannya lagi, bahkan dengan seluruh kekuasaan Skyline sekalipun."
Garvi menelan ludah, namun ia mengangguk mantap. "Aku akan membuktikannya."
Kakek Alfonso kemudian beralih menatap Sava. Sorot matanya penuh selidik namun hangat.
"Alsava, sayang... bagaimana menurutmu? Apakah kau masih sanggup memberi pria bebal ini satu kesempatan lagi? Jangan merasa tertekan karena keberadaanku di sini."
Sava menarik napas dalam. Ia merasakan tatapan Garvi yang membakar kulitnya, memohon dalam diam. Setelah bertahun-tahun hidup dalam kedinginan dan kepura-puraan, apakah ini saatnya untuk benar-benar mencoba?
"Iya, Kek. Sava akan memberi Mas Garvi satu kesempatan lagi," jawab Sava dengan suara lembut namun tegas.
"Kau yakin? Bukan karena ada Kakek di sini?" tanya Alfonso memastikan.
"Tidak, Kek. Sava yakin," jawab Sava singkat.
Kakek Alfonso menghela napas panjang, lalu bersandar di kursinya. Ia menatap Garvi dengan peringatan terakhir.
"Baik. Silakan berjuang, Garvi. Buktikan kau punya hati yang bisa berdetak untuk istrimu, bukan hanya untuk ambisimu."
Setelah sarapan selesai, Kakek Alfonso berpamitan untuk beristirahat di kamarnya. Kini, hanya tinggal Garvi dan Sava di ruang makan yang mendadak terasa jauh lebih sempit.
Garvi bangkit dari kursinya, melangkah perlahan menuju arah Sava. Ia berdiri tepat di belakang istrinya, meletakkan tangannya di bahu Sava, lalu membungkuk hingga bibirnya berada tepat di samping telinga Sava.
"Terima kasih sudah memberiku kesempatan, Ave," bisiknya, suaranya kini kembali penuh dengan nada posesif yang kuat. "Tapi kau harus tahu satu hal. Meskipun Kakek tidak ada di sini, aku memang tidak akan pernah membiarkanmu pergi. Surat cerai itu... aku sudah meminta Roy untuk membakarnya."
Sava tersentak, menoleh ke arah suaminya. "Apa? Mas membakarnya?"
“Iya, Aku membakarnya. Dari awal aku tidak pernah ingin bercerai darimu dan di kesempatan kali ini aku akan menggunakannya dengan sangat baik, aku tidak akan mengecewakanmu lagi.” Garvi menarik tubuh Sava, membawa tubuh itu dalam pelukannya.
“Maaf kalau selama ini aku sudah menorehkan luka yang sangat dalam,” bisik Garvi di sela-sela pelukan itu.
Sava tertegun, dia tidak tahu harus menjawab apa. Sebab ini adalah pertama kalinya Garvi meminta maaf untuk luka yang sudah dia beri.
***
mereka ini saling cinta mati tp saling menyakiti.... 😁😂🤭
pada gengsian mau bilang ilopeyu