NovelToon NovelToon
Dilarang Sentuh Mami: Si Kembar Rahasia Tuan CEO

Dilarang Sentuh Mami: Si Kembar Rahasia Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Lari Saat Hamil / Single Mom / Anak Genius / One Night Stand / Hamil di luar nikah
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"


Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.

Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.

​Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.

Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Kantor Kena Imbas (The Devil is Back)

​​"Font apa ini?"

​Suara itu rendah, tenang, tapi memiliki daya rusak setara gempa bumi skala 9 Richter.

​Di ruang rapat berdinding kaca itu, Pak Rudi, Manajer Pemasaran yang sudah mengabdi sepuluh tahun, gemetar hebat. Keringat sebesar biji jagung meluncur deras dari pelipisnya, membasahi kerah kemejanya yang sudah basah oleh keringat dingin.

​"I-itu... Arial, Pak Cayvion. Font standar perusahaan..." jawab Pak Rudi tergagap.

​"Arial?" Cayvion menunjuk layar proyektor dengan pulpen laser. Titik merahnya bergoyang sedikit, menandakan tangan Cayvion juga tidak stabil—bukan karena takut, tapi karena lapar dan kurang kafein.

​"Saya minta Helvetica Neue Light ukuran 12. Kenapa kamu kasih saya Arial ukuran 11? Kamu pikir mata saya mikroskop? Atau kamu sengaja mau bikin saya buta biar kamu bisa korupsi anggaran iklan?!"

​"Bu-bukan begitu, Pak! Saya cuma..."

​BRAK!

​Cayvion menggebrak meja. Tumpukan kertas di depannya melompat kaget.

​"Ganti! Sekarang! Saya tidak mau lihat slide presentasi yang estetikanya nol besar seperti ini. Mata saya sakit! Keluar dan jangan balik sebelum font-nya benar!"

​Pak Rudi buru-buru menyambar laptopnya, membungkuk berkali-kali seperti boneka per, lalu lari terbirit-birit keluar ruangan. Dia bersyukur masih hidup.

​Cayvion menghempaskan punggungnya ke kursi kulit yang empuk. Kepalanya berdenyut-denyut. Perutnya perih. Bayangan roti bakar selai kacang dan nasi goreng yang dimakan Elio tadi pagi menari-nari di pelupuk matanya, mengejeknya.

​Pintu ruangan terbuka pelan.

​Seorang OB (Office Boy) muda masuk dengan nampan berisi cangkir kopi. Aromanya harum. Ini penyelamat. Ini satu-satunya hal yang bisa waras di hari yang gila ini.

​"Kopi Bapak," kata OB itu sopan, meletakkan cangkir di meja dengan hati-hati.

​Cayvion langsung menyambar cangkir itu. Tanpa meniup, dia meneguk cairan hitam itu dengan rakus.

​Satu detik. Dua detik.

​PUHH!

​Cayvion menyemburkan kopi itu kembali ke dalam cangkir (dan sedikit tumpah ke meja mahalnya). Wajahnya mengerut jijik seolah baru saja menelan racun serangga.

​"HEI! KAMU!" bentak Cayvion.

​OB itu langsung mematung, wajahnya pucat pasi. "Y-ya, Pak?"

​"Apa yang kamu masukkan ke dalam ini? Gula? Kamu mau membunuh saya pelan-pelan dengan diabetes?!"

​"Ta-tapi Pak... biasanya Bu Hara pesan kopi Bapak pakai gula aren sedikit supaya..."

​"Hara tidak ada di sini!" potong Cayvion tajam. Mendengar nama istrinya disebut membuat dadanya makin sesak. "Kopi ini... rasanya manis. Terlalu manis!"

​Cayvion menatap cangkir itu dengan tatapan terluka.

​"Kenapa kopi ini rasanya seperti pengkhianatan?!" teriak Cayvion dramatis. "Pahit di depan, tapi meninggalkan rasa manis palsu yang bikin mual! Bawa pergi! Ganti dengan Americano double shot, tanpa gula, tanpa air mata, sehitam nasib saya hari ini!"

​OB itu mengangguk panik, mengambil cangkir itu dengan tangan gemetar, lalu kabur secepat kilat.

​Di luar ruangan, suasana kantor Alger Corp mencekam. Para karyawan berbisik-bisik di kubikel mereka, tidak ada yang berani tertawa atau bicara keras.

​"Siaga satu, Gaes," bisik resepsionis ke grup chat kantor. "Si Iblis sudah kembali. Mode Beast-nya aktif lagi."

​"Dengar-dengar Bos lagi perang dingin sama Nyonya Besar," balas staf HRD. "Tadi pagi datang tanpa dasi yang bener, mukanya kusut, sarapan angin. Kita semua dalam bahaya. Jangan ada yang cari masalah."

​"Kasihan Nadia," sahut yang lain. "Dia dipanggil masuk ke kandang singa sekarang."

​Di depan pintu ruangan CEO, Nadia—sekretaris baru yang malang—sedang merapikan roknya dengan tangan gemetar. Dia menarik napas panjang, berdoa pada semua dewa yang dia tahu, lalu mengetuk pintu.

​Tok. Tok.

​"MASUK!"

​Teriakan dari dalam membuat nyali Nadia ciut seketika. Dia mendorong pintu, melangkah masuk dengan kaki lemas.

​"Mana berkas kontrak delegasi Amerika? Mr. Robert minta revisi klausul nomor lima," tagih Cayvion tanpa basa-basi. Dia sedang memijat pelipisnya.

​"I-ini, Pak," Nadia meletakkan map merah di meja.

​Cayvion membukanya. Dia membolak-balik halaman dengan cepat.

​"Mana lampiran data pendukungnya? Kenapa cuma kontrak induknya?" tanya Cayvion, nadanya mulai naik.

​"Eh? Lampiran? Sa-saya pikir sudah disatukan, Pak..." Nadia mulai panik. Dia mengaduk-aduk tumpukan kertas di tangannya.

​"Kamu pikir?!" Cayvion menutup map itu dengan keras. "Saya tidak gaji kamu untuk berpikir, Nadia! Saya gaji kamu untuk memastikan semua lengkap! Hara selalu menyiapkannya dengan klip warna beda! Di mana klipnya?!"

​"Sa-saya tidak tahu sistem warna Bu Hara, Pak! Beliau tidak meninggalkan catatan!" bela Nadia, matanya mulai berkaca-kaca.

​"Telepon dia! Tanya dia! Jangan diam saja!"

​"Sudah, Pak! Saya sudah telepon Bu Hara lima kali, tapi..."

​"Tapi apa?!"

​"Tapi tidak diangkat!" Nadia akhirnya meledak. Tekanan dua hari ini terlalu berat untuk bahu ringkihnya. Air matanya tumpah ruah membasahi pipi.

​Nadia melempar map di tangannya ke lantai. Kertas-kertas berhamburan.

​Cayvion ternganga. Tidak pernah ada karyawan yang berani melempar barang di depannya.

​"Saya capek, Pak!" jerit Nadia histeris sambil sesenggukan. "Saya nggak sanggup! Bapak galak, Bapak perfeksionis, Bapak maunya dimengerti kayak pacar posesif! Saya sekretaris, Pak, bukan dukun yang bisa baca pikiran Bapak!"

​Nadia mencopot kartu identitas (ID Card) yang menggantung di lehernya, lalu meletakkannya dengan kasar di meja Cayvion.

​"Saya resign! Detik ini juga! Bapak urus sendiri itu kontrak, kopi pengkhianatan, sama font jelek itu! Saya mau pulang kampung jualan seblak aja!"

​Tanpa menunggu jawaban, Nadia berbalik dan berlari keluar ruangan sambil menangis meraung-raung, meninggalkan Cayvion yang bengong sendirian di tengah kekacauan kertas.

​Pintu terbanting menutup.

​Hening.

​Cayvion menatap pintu tertutup itu, lalu menatap ID Card Nadia di mejanya.

​Dia sendirian. Benar-benar sendirian.

​Tidak ada kopi. Tidak ada jadwal yang benar. Tidak ada sekretaris. Kantornya lumpuh. Dan yang lebih parah, hatinya kosong.

​Dengan gerakan putus asa, Cayvion mengambil ponselnya. Dia menekan nomor satu-satunya orang yang bisa membereskan kekacauan ini. Nomor yang sejak tadi malam mengabaikannya.

​Tuuuut... Tuuuut...

​Di dering kelima, panggilan itu diangkat.

​"Halo?"

​Suara di seberang sana terdengar serak dan lemah. Tapi Cayvion tahu itu akting.

​"Hara," suara Cayvion terdengar memohon, wibawa CEO-nya hilang tak berbekas. "Tolong ke kantor. Sekarang. Kantor hancur. Sekretaris baru itu baru saja resign sambil melempar ID Card. Saya butuh kamu."

​Terdengar suara batuk yang dibuat-buat dari seberang.

​"Uhuk... uhuk..." Hara batuk kering. "Maaf, Pak. Saya tidak bisa. Badan saya panas dingin. Kepala saya pusing. Dokter bilang saya butuh istirahat total dari sumber stres."

​"Sumber stres?" ulang Cayvion. "Maksud kamu... saya?"

​"Bapak pintar," jawab Hara datar, lalu batuk lagi. "Uhuk. Silakan Bapak urus sendiri kerajaannya. Bapak kan CEO hebat yang nggak butuh siapa-siapa. Semoga sukses nyari berkasnya di gudang ya, Pak. Good luck."

​Klik.

​Sambungan terputus.

​Cayvion menjatuhkan ponselnya ke meja. Dia membenamkan wajah ke telapak tangan.

​Dia kalah. Dia butuh Hara. Bukan sebagai asisten. Tapi sebagai oksigen di ruangan kedap udara ini.

​"Hara..." erangnya frustrasi. "Kejam sekali kamu."

1
Niken Dwi Handayani
Dan dimulailah hilangnya wibawa, peraturan di rumah Big bos oleh krucilnya😀😀
Savana Liora: hahahaha
total 1 replies
tia
butuh kesabaran cayvion,,,🤭
Savana Liora: kesabarannya setipis tisu bagi 10
total 1 replies
olyv
mantep twins 🤣🤣👍
Indah Wahyuni
aku suka, konfliknya ringan. ayahnya butuh benturan untuk menyadari kasih sayang ke anaknya. mungkin rasa ke ibuknya belum tapi ke anak harus. harta tidak bisa membeli waktu.
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
Savana Liora: iya. makasih y
total 1 replies
tia
kapok 😄
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
Indah Wahyuni
hari ini apa up satu kali? di tunggu kelanjutannya
Indah Wahyuni: ok, ditunggu.
total 2 replies
kalea rizuky
pergi ja tinggalin egois bgt ini laki
kalea rizuky
gemes deh
olyv
bagus hara diamin aja suami kulkas mu itu... g peka atau gimn sih cayvion.. udah tau salah, setidak nya minta maaf gitu pd anak2 mu
Savana Liora: tau tuh cayvion yak
total 1 replies
olyv
/Sob//Sob/ aahh twins sini aunty bantu peluk juga..
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri
Savana Liora: ngeselin yak
total 1 replies
olyv
😔😔🥺🥺🥺🥺
olyv
🤣🤣🤣🤣🤣
Savana Liora: hahaha
total 2 replies
BONBON
kk, ini kamu kejar deadline kah, aku sampe bingung mau baca yg mana... satu satu Napa??😭 kebut"👍
Savana Liora: emang agak ngebut sih tayangnya karna mau ngajuin kontrak setelah bab 20. tp dari bab 21 bakalan santai kok. pagi siang malam kek minum obat.
total 2 replies
Alfi Alfi
bikin senyam senyum 🤭🤭🤭
Savana Liora: iya haha
total 1 replies
Alfi Alfi
gemesin banget ceritanya
Savana Liora: makasih kak
total 1 replies
Alfi Alfi
di tunggu thor
tia
lanjut Thor ,, cerita ny bikin gemes
Savana Liora: besok pagi terbit lg ya kk. sudah terjadwal
total 1 replies
Siti Sa'diah
keluarga koplak, yg normal itu cuma hara and thekids🤣
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
Siti Sa'diah
gkgkgk rasakan itu tuan perfect/CoolGuy/
Savana Liora: kena mental dia
total 1 replies
olyv
nah kan tantrum si elia... papa mu payah elia g cocok bacain dongeng tidur 🤣🤣🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!