Lima tahun sudah Nadira menjalani sebuah pernikahan. Lima tahun pula rahimnya dijadikan bahan cibiran, saat setiap kali mertuanya melontarkan kata-kata tajam. Mandul. Wanita bermasalah.
"Mas, aku sudah lelah menghadapi ibumu yang selalu menuduhku mandul. Padahal kenyataannya kamu jarang menyentuhku. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" (Nadira)
Namun respon Ardian membuat Nadira terdiam.
"Sudahlah Nadira, gak usah di dengarkan ucapan Ibu. Jadi sabar saja. Lagian aku gak pernah menyembunyikan apapun darimu." (Ardian)
Bersabar, katanya.
Tapi sampai kapan kesabaran itu bisa bertahan?
Apakah dibalik ucapannya, Ardian menyembunyikan sebuah rahasia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara Bernama Suami
“Sayang, semalam kamu tidur di mana?”
Nadira melirik sekilas ke arah Ardian. Tatapannya singkat, lalu berpaling.
“Di kamar sebelah, Mas.”
“Kenapa tidur di sana?”
Ia merapikan lipatan lengan bajunya, seolah mencari alasan di antara gerak kecil itu. “Butuh suasana baru.”
Hening menyela. Jam dinding berdetak jelas.
Nadira menarik napas tipis. “Dan… mungkin mulai sekarang kita pisah kamar saja ya, Mas.”
Kening Ardian berkerut. Ia menatap Nadira lebih lama, “Kenapa? Apa kamu—”
“Iya, Mas.” Nadira memotong pelan. Bibirnya terangkat sedikit, senyum yang tak sampai ke mata. “Aku tahu Mas kurang nyaman tidur denganku. Lagi pula ini soal privasi. Aku juga butuh ruang sendiri.”
Beberapa detik berlalu. Ardian akhirnya mengangguk, rautnya melunak. “Ya sudah.”
Nadira menunduk singkat. Senyum tipis itu kembali muncul, kaku, tertahan.
...
Usai makan, Nadira tak menunda lagi. Ia berangkat ke rumah sakit, mengikuti rencana yang sejak semalam berputar di kepalanya.
Kini ia berjalan melewati lorong putih yang terasa panjang, bahkan bau antiseptik menusuk hidungnya.
Di ruang periksa, Nadira duduk dengan punggung tegak. Jarinya saling mengunci di pangkuan.
“Saya mau periksakan tubuh saya Dok, apakah ada penyakit menular atau sebagainya.”
“Baik, saya periksa lebih dulu ya Bu. Mari, silakan berbaring.”
Nadira mengangguk, mengikuti arahan dari sang dokter. Sebuah alat mulai menempel di bagian tubuhnya.
Ia berusaha tetap tetang meski pikiran buruk selalu menghantuinya.
‘Jika sampai aku ketularan mu, Mas. Aku akan menuntut kamu, Mas. ’
Beberapa saat, Nadira duduk kembali ke posisi semula.
“Apa ada penyakit di dalam tubuh saya?” tanyanya pelan.
Dokter di hadapannya tersenyum tipis sambil menatap hasil pemeriksaan. “Tidak ada apa-apa. Semuanya normal.”
Nadira tak langsung lega. Ujung jarinya menegang. “Tapi, Dok… suami saya sering melakukan hubungan terlarang dengan seorang pria.” Suaranya sedikit turun.
Dokter itu berhenti sejenak, lalu mengangguk paham. “Kalau begitu, untuk berjaga-jaga, saya resep kan obat pencegahan penyakit menular dan untuk daya tahan tubuh.”
Nadira mengangguk. “Terima kasih, Dok.”
Ia bangkit dari kursi, melangkah keluar ruangan.
Di lorong rumah sakit, Nadira menghembuskan napas panjang. Bau obat masih menempel di hidungnya. Ia baru hendak melangkah lagi ketika langkahnya terhenti.
Ardian.
Suaminya baru saja masuk ke salah satu kamar rawat.
Jantung Nadira berdegup tak beraturan. “Kenapa Mas Ardian di sini? Siapa yang sakit?”
Tanpa sadar, kakinya bergerak mengikuti. Ia berhenti tepat di depan kamar itu, lalu mengintip dari balik kaca pintu.
Pemandangan di dalam membuat rahangnya mengeras.
“Kan sudah aku bilang, jangan makan yang pedas-pedas. Lihat, sakit kan?” suara Ardian terdengar jelas.
“Iya, Mas. Sakit sekali. Maaf, aku keras kepala.” Nada itu lembut, hampir manja. “
Dada Nadira terasa ditekan kuat. Wisnu…
Ia tetap berdiri di sana, tubuhnya kaku.
“Terus, kata Mas… Nadira mau pisah kamar?” tanya Wisnu pelan.
“Iya.” Ardian terkekeh ringan. “Tapi gak apa-apa. Lagian aku juga gak nyaman tidur sama dia. Rasanya berdosa.”
“Dosa kenapa, Mas?”
“Dosa bikin kesayanganku cemburu.”
Tawa kecil terdengar. “Ah, Mas bisa saja.”
Nadira memalingkan wajah. Pandangannya jatuh ke lantai lorong yang mengilap. Jarinya mengepal, ia memutuskan untuk berbalik, melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
‘Setidaknya satu bukti sudah di tanganku.’
...
Beberapa saat kemudian, Nadira tiba di rumah makan miliknya. Langkahnya melambat begitu pintu terbuka. Aroma masakan hangat menyambut, berpadu dengan suara sendok dan piring yang beradu pelan. Meja-meja terisi. Wajah-wajah tampak fokus pada makanan.
Pandangan Nadira menyapu ruangan.
“La, ada menu baru. Taruh di daftar menu,” ucapnya.
“Menu apa, Bu?” tanya Lala.
“Bubur Pak Salim. Nanti tawarkan ke pelanggan yang mau,” jawab Nadira.
“Baik, Bu.”
Ia mengangguk singkat, lalu melangkah menuju ruang kerjanya. Pintu ditutup perlahan. Nadira duduk di kursi, sandarannya berderit pelan saat tubuhnya jatuh lemas. Matanya terangkat, menatap langit-langit putih yang terasa semakin rendah.
Ia menarik napas dalam. “Lelah sekali.”
...
Tanpa terasa, waktu melesat hingga jarum jam menunjuk setengah tujuh malam. Nadira masih di ruangan yang sama. Posisi duduknya tak banyak berubah, hanya punggungnya yang terasa lebih berat.
Kling.
Ia meraih ponsel. Tatapannya berhenti di layar. Sudut bibirnya terangkat samar, pahit. Pesan dari Ardian. Bahkan untuk hal sesederhana ini, suaminya jarang lebih dulu mencarinya.
‘Kamu di mana? ’
Nadira tak langsung membalas. Beberapa detik kemudian, pesan lain masuk.
‘Kamu masih di rumah makan? Aku jemput ya?’
Jarinya terhenti sejenak di atas layar. Lalu ia mengetik singkat.
‘Aku bisa pulang sendiri, Mas. Gak perlu repot-repot.’
Ponsel dimasukkan ke tas. Nadira membereskan barang-barangnya, lalu bangkit dan meninggalkan ruangan itu.
Saat melewati dapur, langkahnya melambat. Beberapa karyawan masih sibuk, uap panas mengepul dari panci.
“Lanjutkan besok saja,” ucapnya.
“Baik, Bu. Sebentar lagi selesai.”
“Jangan malam-malam.”
“Iya, Bu.”
“Yang masih tersisa boleh dibawa pulang.”
Terima kasih Bu.”
Nadira mengangguk kecil. Senyum tipis terbit, lalu ia berbalik dan melangkah pergi.
Di luar, suara seorang pria menyusup ke telinganya.
“Bu, silakan. Pak Ardian sudah menunggu sejak tadi.”
Nadira mengangguk singkat. Ia masuk ke dalam mobil tanpa sepatah kata pun. Pintu tertutup, mesin menyala, kendaraan melaju meninggalkan halaman rumah makan.
Sepanjang perjalanan, Nadira menatap lurus ke luar jendela. Lampu-lampu jalan bergeser cepat.
Seandainya Gama di sini. Ia bisa mengadu tanpa ditahan. Meski sering membuatnya kesal, setidaknya Gama masih berani membela.
Nadira menarik napas pelan, lalu menoleh ke depan. “Pak, besok bapak nggak perlu kerja lagi, ya.”
Sopir itu langsung menoleh lewat spion. “Eh, Bu… kenapa? Apa pekerjaan saya kurang bagus? Atau karena saya sering libur?”
Nadira menggeleng. “Bukan begitu. Saya cuma… kurang nyaman saja.”
“Kurang nyaman?” ulangnya. Nadanya berubah, lebih berat. “Maksud Ibu apa?”
“Saya mau belajar nyetir sendiri,” jawab Nadira tenang. “Daripada terus menyusahkan orang.”
Mobil tetap melaju, tapi udara di dalamnya terasa menegang.
“Itu memang tugas saya, Bu,” balasnya cepat. “Apalagi saya dibayar Pak Ardian. Jadi, Ibu nggak bisa memecat saya.”
Nadira terdiam. Matanya kembali ke jendela. Pantulan wajahnya tampak samar di kaca, tanpa ekspresi.
...
Begitu mobil memasuki halaman rumah, lajunya mendadak terhenti.
Dug.
Tubuh Nadira terdorong ke depan. Keningnya menghantam kursi didepannya.
“Pak, bisa—”
Belum sempat kalimat itu selesai, pintu sopir sudah terbuka. Pria itu turun begitu saja, langkahnya cepat, tanpa menoleh sedikit pun.
Apa ini sikap aslinya?
Nadira menekan keningnya pelan. Pandangannya berkunang sesaat.
“Astaghfirullah,” gumamnya lirih. “Orang seperti apa yang kamu bayar untuk jadi sopirku, Mas?”
Ia turun dari mobil dengan langkah hati-hati. Kepala masih terasa berat saat ia masuk ke dalam rumah.
Di ruang tamu, Ardian duduk di sofa. Nadira hanya melirik sekilas, lalu terus melangkah menuju tangga, tak berniat berhenti.
“Nadira.”
Suara itu membuat langkahnya tertahan di anak tangga pertama.
“Katakan padaku, apa kamu mengetahui sesuatu?”
Nadira menoleh setengah. “Mengetahui apa? Aku nggak mengerti. Katakan yang jelas.”
“Sejak pulang dari rumah orang tuamu, sikapmu berubah.”
‘Sekarang dia memanggilku Nadira.’
“Ada masalah di sana,” jawabnya pelan. “Berhubungan dengan bulekku.”
Ardian berdiri. “Lalu?”
“Masalahnya sudah selesai. Tapi aku belum tenang. Mungkin itu yang kebawa sampai ke rumah.” Bibirnya melengkung tipis. “Maaf.”
Ardian terdiam sesaat, lalu mengangguk. “Yasudah. Istirahatlah. Kamu pasti capek.”
Nadira tak membalas apalagi sekedar memberikan anggukan.
Ardian yang berdiri di ruang tamu, pandangannya masih tertahan pada punggung Nadira yang menghilang di balik tangga.
“Pak.”
Ardian menoleh. Sopir itu berdiri tak jauh darinya, sikapnya sedikit kaku.
“Ada apa?” tanyanya.
“Bu Nadira memecat saya.”
Alis Ardian berkerut. “Kenapa? Apa alasannya?”
“Katanya beliau kurang nyaman. Jadi… saya lanjut bekerja atau bagaimana, Pak?”
Ardian terdiam sejenak. Lalu bibirnya bergerak pelan, nadanya dingin dan pasti.
“Kamu tetap bekerja. Jangan dengarkan dia.” Ardian melangkah mendekat sedikit. “Saya yang membayar mu. Jadi pantau pergerakannya.”
Sopir itu mengangguk cepat. “Baik, Pak.”
Ardian kembali menatap arah tangga. Rahangnya mengeras.
Nadira masih terpaku di balik tembok. Tubuhnya tak bergerak, hanya telinganya yang menangkap tiap potong kalimat dari ruang tamu. Suara Ardian. Suara sopir itu. Jelas.
Dadanya mengencang.
Jadi benar.
Setiap langkahnya selalu diawasi oleh orang-orang yang bekerja dirumah ini. Tatapan Nadira mengeras. Bibirnya terkatup rapat.
‘Sayangnya, aku sudah tahu rahasiamu, Mas.’
Ia mengintip sekilas. Ardian dan sopir itu masih berdiri berhadapan, suara mereka merendah, seperti dua orang yang sedang menyusun rencana. Nadira menarik tubuhnya menjauh.