NovelToon NovelToon
THE FORGOTTEN PAST

THE FORGOTTEN PAST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Dark Romance
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?

Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.

Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.

Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.

*
karya orisinal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

Di tengah lorong antara perpustakaan dan ruang tamu berdiri Hugo, dia tersenyum tipis tetapi matanya berkilat marah. Oh tidak! Hugo ternyata belum tidur dan sekarang sedang memergoki mereka yang hendak kabur.

Namun sebelum Karina sempat mengeluarkan suara, Tasya sudah berlari ke arah pria itu. Tasya bersujud di kaki Hugo.

“Tuan Fuller, biarkan aku pergi. Ibuku sedang sakit, aku harus menemani dia. Aku mohon…” Tasya memohon di kaki Hugo.

Karina mengepalkan tangan, ia benci melihat pemandangan itu. Tapi, ia juga tidak bisa menahannya, ia dan Tasya baru kenal dan belum cukup dekat untuk terlibat pada sesuatu yang lebih pribadi.

“Tentu,” Tetapi Hugo tidak menatap Tasya melainkan menatap langsung ke mata Karina. Meski dari jauh, Karina merasakan sekujur merinding. Tatapan pria itu mengisyaratkan sesuatu. Berbahaya.

“Benarkah?” Tasya mendongak, menatap penuh harap.

“Ya, kalau seseorang bersedia berkorban.” Hugo mengangkat kakinya, mendorong Tasya cukup keras hingga punggungnya jatuh ke lantai. Dia berjongkok, tapi matanya masih menatap Karina. “Kalau seseorang bersedia menyerahkan tubuhnya untuk aku nikmati malam ini.”

Setelah mengatakan itu, Hugo menyeringai lebih lebar. Karina mencengkeram erat ujung bajunya. Seseorang itu jelas merujuk pada dirinya.

“A–apa?” Tanya Tasya tidak mengerti, dia masih berbaring di lantai. Tidak berani bangun, atau mungkin dia takut kalau dia bangun, harapannya akan pupus sepenuhnya.

“Nona Karina Joram jelas lebih tahu, bagaimana menurut Anda, Nona? Anda bersedia berkorban untuk dia?” Hugo mengulurkan tangannya lalu meletakkan di leher Tasya, bersiap untuk mematahkannya.

Tasya menoleh ke pintu dimana Karina masih berdiri kaku. Air mata mengalir di pipi Tasya, ia hanya menatap Karina dan menggeleng.

'Jangan. Aku tidak perlu mengorbankan siapapun untuk selamat.’ gerakan bibir Tasya kaku, tidak ada suara yang keluar namun jelas sekali dia tengah ketakutan hebat dan putus asa.

Percakapan dengan Tasya beberapa saat lalu terngiang di kepala Karina. 'Aku datang kemari untuk meminjam uang kepada Tuan Fuller untuk pengobatan ibuku, dia perlu di operasi secepatnya.'

Di rumah Tasya masih ada seorang ibu yang menunggu anaknya kembali sambil menahan sakit, sedangkan Karina? Ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Tidak ada yang menunggunya pulang, kalaupun ia menghilang, tidak ada yang akan mencarinya.

“Aku bersedia.” Karina mengepalkan tangannya lebih kuat hingga buku-buku tangannya memerah. Menekan suaranya agar tidak terdengar gemetar, Karina melanjutkan. “Bebaskan dia, berikan dia uang yang cukup untuk pengobatan ibunya dan kamu bisa memakanku.”

Tasya terkejut, tidak menyangka orang yang baru dia kenal bersedia berkorban untuknya. Tasya mengerjapkan matanya, merasa ada yang salah dengan cara berpikir Karina. Jika itu dirinya, maka Tasya tidak akan melakukannya.

Namun dibanding Tasya, Hugo bahkan lebih terkejut. Dia menatap Karina tanpa berkedip, lalu perlahan melepaskan tangannya dari leher Tasya.

Tasya beringsut menjauh. Tanpa menatapnya, Hugo merogoh sakunya dan mengeluarkan kartu hitam tanpa limit. Dia melemparkan kartu tersebut kepada Tasya.

“Ranra, siapkan supir. Antarkan wanita menyedihkan ini pulang.” Perintah Hugo melalui sambungan telepon.

Sementara itu Hugo memberi perintah melalui telepon, Tasya menghampiri Karina di pintu.

“Apa yang kamu lakukan, Karin? Aku–”

“Jangan merasa bersalah, aku tidak keberatan melakukannya. Setidaknya, aku tidak punya salah padanya tapi dia tetap ingin menghabisiku, itu membuktikan dia hanya manusia yang tidak punya hati. Jika aku hanya melihatmu dibunuh, lalu ibumu tak selamat, aku akan merasa tidak ada bedanya dengan dia. Jadi, pergilah. Semoga ibumu cepat sembuh.” Kata Karina memeluk Tasya. Tubuh mereka sama-sama gemetaran, dan Tasya masih merasa keputusan Karina tidak realistis.

“Terima kasih, aku… aku tidak tahu bagaimana cara membalasnya.” Isak Tasya. Karina tidak menjawab, dia hanya mengusap punggung Tasya.

Tidak lama kemudian Ranra datang bersama seorang pria tua yang sepertinya supir di rumah ini.

“Nona Tasya, mari saya antarkan.” Kata Ranra dengan senyum formal yang selalu terpatri di wajahnya.

“Karin…” Tasya dengan enggan melepaskan pelukannya.

Karina mengangguk. “Pergilah, aku senang bisa membantu.”

Lalu, Tasya benar-benar pergi menyisakan keheningan setelah ketegangan di lantai satu itu. Setelah pintu tertutup, Karina melirik Hugo yang sudah berdiri di dekatnya. Karena perbedaan tinggi badan mereka yang cukup jauh, Karina harus mendongak untuk melihat wajahnya.

“Mari kita pergi ke lantai tiga,” kata Hugo dengan suara rendah. Karina mengangguk, hanya bisa pasrah mengikuti pria itu ke lantai tiga.

Lantai tiga ternyata tidak memiliki banyak ruangan. Hanya ada beberapa pintu yang tertutup. Hugo membawa Karina masuk ke salah pintu yang terletak di tengah-tengah.

Ketika pintu itu terbuka, Karina bisa melihat apa yang ada dibalik pintu itu.

Sebuah kamar mewah dengan interior yang di dominasi hitam dan abu-abu. Dekat jendela besar ada ranjang besar. Pemandangan malam hari terlihat jelas dari sana.

“Bersihkan dirimu, aku tidak suka menyentuh sesuatu yang tidak bersih.” Ujar Hugo menunjuk pintu yang terletak di sisi lain dinding.

Karina mengangguk, ia melangkah pelan ke pintu itu. Setidaknya ia harus mengulur waktu agar kematiannya tidak terlalu cepat.

Hugo menutup pintu, lalu membuka kemeja hitamnya dan melemparkan ke tempat penyimpanan pakaian kotor. Badan atletisnya dibiarkan terpampang jelas, dia juga mengganti celana panjangnya dengan celana pendek. Setelah itu dia berbaring telentang di ranjang.

Di dalam kamar mandi, Karina berendam dalam bathtub. Pikirannya sedikit rileks setelah berendam cukup lama dalam air hangat.

Selesai mandi, Karina hendak memakai kembali bajunya. Namun matanya terhenti pada dress merah yang digantung di belakang pintu.

“Apa aku harus memakai dress ini?” Gumam Karina tidak yakin, ia ngeri sendiri melihatnya karena dress itu dress malam yang biasanya digunakan oleh pasangan baru menikah yang hendak menghabiskan malam pertama mereka.

“Hm, mungkin supaya dia mudah memakanku.” Bahu Karina terkulai lemas, malam ini ia harus menjadi santapan seorang kanibal. Tapi ia juga tidak bisa lari karena ini akan pilihannya sendiri. Ia memakai dress itu, kulitnya yang biasanya selalu tersembunyi di balik pakaian kebesarannya sekarang terlihat dimana-mana. Karina merasa malu, tapi tentu ia merasa lebih takut karena sebentar lagi ia akan menjadi makanan penutup.

Karina keluar dari kamar mandi, tentu saja secara otomatis dia langsung mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang predator.

Matanya terpaku ke sosok Hugo yang berbaring di ranjang. Karina menelan ludah, untuk seorang pemangsa manusia, Hugo memiliki wajah tampan dan tubuh yang sangat bagus.

“Kemarilah,” panggil Hugo dengan suara serak.

Karina mendekat, matanya tidak bisa beranjak dari badan berotot Hugo yang sangat menggoda. Dia ingin menyentuhnya.

“Bagus, kamu cukup cerdas langsung memakai dress itu tanpa menunggu perintah.” Puji Hugo menatap Karina dari ujung rambut sampai ujung ujung kaki.

“Ya, aku tahu dress ini tidak diletakkan disana sebagai pajangan.” Gumam Karina, wajahnya sedikit merona karena Hugo terus menatapnya tanpa berkedip. Karina mencubit pipinya. 'Sadar Karina, ini bukan waktu untuk salah tingkah. Dia akan memakanmu sebentar lagi.'

Hugo bangkit dari ranjang, lalu berkata. “Berbaring disana. Ingat satu peraturan penting, kamu tidak boleh memejamkan mata. Kalau kamu melanggar, akan ada konsekuensinya.”

“Aku patuh.” Karina mengangguk cepat, lebih baik ia menurut supaya Hugo tidak terlalu brutal. Karina berbaring seperti yang diperintahkan Hugo.

...***...

...Like, komen dan vote ...

1
Maya Sari
Sangat menarik,seru ceritanya,bikin penasarn.
Maya Sari
Ceritanya seru….apa ada kelanjutan nya kk?
Nda
apakah yg berdiri di seberang jln itu hugo
Nda
makin penasaran thor,jangan sampe karina ketahuan Hugo.
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
Nda
double up donk thor🤭,makin penasaran😩
Nda
duhh.. makin penasaran,apa jgn² benar Hugo itu vampir
Nda
novelmu keren thor
Nda
ditunggu double up-nya thor
Nda
duh,tunggu kelanjutanya thor makin penasaran,apakah itu fto karina🤭
lisa_lalisa
duhh, makin penasaran 😞
Nda
sebenarnya Hugo manusia vampir atau kanibal
di tunggu double up-nya thor
Kevin
Next thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!