COVER FROM PINTEREST
.
.
Dinda tidak mengingat apa yang terjadi pada dirinya, dia hanya mengingat bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan dan tak hanya itu, dia masih mengingat jelas ketika pria yang dia cintai itu merenggut masa depannya. Namun dengan tatapan mata pria itu, Dinda bisa memastikan bahwa ada jutaan rahasia yang tidak dia ingat. Termasuk tentang bayi perempuan yang baru dia lahirkan. Bayi itu..., sangat mirip dengannya dan pria brengsek itu.
"Dia anak kita yang ke dua, Dinda," ucapnya dan mulai dari situ Dinda merasa semakin gila karena tidak bisa mengingat apapun.
Bagaimana dia bisa mempunyai anak ke dua sedangkan anak ke satu pun dia tidak mengingat siapa namanya.
PERHATIAN!
Cerita ini memiliki alur maju-mundur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Daniel POV
“Kau Daniel! Kau brengsek!” Teriak Belinda membuatku mengulang tawaku di hadapannya.
“Kau yang brengsek!. Kau sudah membunuh saudara tirimu berikut dengan Ayahmu sendiri. Kau tidak tahu diuntung! Di mana berkas-berkas harta warisan Pamanku! Cepat katakan atau aku bisa saja membunuh ibumu, kapan saja yang aku mau," bisikku padanya.
“Jangan! Jangan sentuh Ibuku.”
“Baiklah, aku tidak akan menyentuh Ibumu, tapi di mana semua harta yang kau ambil milik Pamanku, cepat katakan!”
“Mereka ada di kantor. Ada di dalam ruanganku dan aku menyimpannya di dalam brankas.”
“Bagaimana dengan kodenya?” Belinda terdiam seperti masih tidak rela untuk menyerahkannya padaku. Sudah tahu dia akan segera mendekam di tahanan. Untuk apa juga dia memikirkan harta yang jelas-jelas bukan miliknya.
“Aku akan mengatakannya, tapi tolong jangan ganggu Ibuku dan kumohon..., kau mau memberi bagian untuk hidup Ibuku setiap perbulannya. Ayahku akan sangat sedih jika tahu Ibu sedang sakit keras.”
“Hah? Ayahmu? Ayah yang kau bunuh maksudmu?”
“Kumohon Daniel!”
“Baiklah, baiklah, kau menghabiskan waktu kepolisian saja! Cepat beritahu kodenya!”
“Hanya angka satu dan ada brankas lainnya. Itu sungguh uang milikku. Aku mohon berikan pada Ibuku.” Aku terkekeh mendengarnya. Hanya angka satu? Dia benar-benar terlalu percaya diri memasang kode hanya dengan angka satu.
“Apa kau tidak salah sedang meminta tolong pada orang yang pernah kau tahan dulu?” kini ledekku membuatnya semakin geram tentunya, tapi dia tidak lagi bisa berbuat apa-apa selain memohon padaku.
“Kumohon! Ibuku harus tetap hidup. Aku tidak bisa membahagiakannya lagi. Kumohon Daniel!”
“Oh ya Tuhan mana ada orang yang sudah membunuh memohon pertolongan pada keluarga korbannya. Oh ya aku lupa kau juga keluarga korban. Keluarga yang tidak tahu diri!”
“Daniel cepatlah, aku tidak punya lagi,” kata Four membuatku akhirnya menghela nafas.
“Baiklah. Aku akan menuruti kemauanmu, tapi kau juga harus mengakui kesalahanmu. Kau harus menebus semuanya, Belinda.”
“Aku menyesal, Daniel.”
“Tentu saja kau memang harus menyesalinya.”
“Baiklah waktu habis kawan,” ungkap Four seraya menyeret Belinda. “Ayo kau harus segera dimintai keterangan.”
Aku pun mengikuti mereka keluar. Memperhatikan semua penjahat yang sudah 2 tahun ini aku usahakan untuk segera jeblos ke dalam penjara. Belinda pun masuk ke dalam mobil bergabung dengan mereka. Finally, aku bisa mendapatkan semuanya kembali. Aku akan segera menghubungi keponakanku---Gilang untuk menebus janjiku.
“Apa kau begitu senang, kawan?” tanya Four menimbulkan tawa dari bibirku.
“You know that,” ungkapku seraya mengangkat bahuku. Terlihat Four ikut tersenyum dan menepuk bahuku.
“Aku akan segera mengajakmu makan malam, Four. Tunggu saja telepon dariku.”
“Hei aku melakukannya karena ini tugasku,”
“Dan kau sudah membantuku. Ayolah hanya minum sebentar dan makan malam denganku apa itu membuat istrimu marah. Aku pria normal, Four. Ya, meski belum berniat untuk terikat dengan sebuah pernikahan. Kau tahu sendiri aku sangat takut...,”
“Ya, ya aku tahu kau takut jika nanti wanita yang kau cintai, meninggalkanmu lagi seperti Mia, tapi Daniel kau harus bisa melupakan wanita itu. Kau harus mencari lagi. Mulailah hidup barumu.”
Aku mengangkat bahuku seraya menghela nafasku. “Entahlah. Aku hanya belum siap untuk kembali mencintai. Aku takut. Sungguh itu sangat menakutkanku.” Mengingat Ayah-Ibu yang juga meninggalkanku. Aku anak semata wayangnya dan aku merasa kesepian dengan kepergian mereka. Aku tidak mau kembali menangisi orang baru yang meninggalkanku. Aku tidak siap untuk itu.
“Baiklah sampai jumpa. Semoga sukses dengan kembalinya perusahaanmu.” Four melambaikan tangannya ke arahku dan sekarang aku harus ke kantor untuk segera mengambil apa yang sudah Belinda ambil.
......................................
TOP epribadeeeeehhhh ...👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍