Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….
21
Langit di atas Desa pagi itu berwarna biru pucat dengan sapuan awan putih yang tipis seperti kapas. Udara masih terasa dingin, membawa aroma tanah basah dan wangi mawar yang sedang mekar penuh di pagar rumah Anjeli. Di dalam dapur, suara percikan minyak dari wajan terdengar saat Anjeli menggoreng irisan tempe yang sudah dibumbui bawang putih dan ketumbar.
"Ayah, sarapannya sudah siap, ayo kita sarapan dulu" panggil Anjeli dengan suara lembut yang bergema di ruang tengah yang sunyi.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang berbeda. Bukan suara kriet-kriet dari roda kursi kayu yang biasanya, melainkan suara gesekan sandal di atas lantai ubin yang banyak corak. Anjeli menoleh dan terpaku di depan kompor. Ayahnya berdiri di ambang pintu dapur, tanpa tongkat jati yang biasanya ia genggam erat. Meskipun tangan Pak Burhan masih sedikit menyentuh dinding untuk menjaga keseimbangan, ia berdiri tegak dengan kedua kakinya sendiri.
"Ayah, Ayah sudah bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat?" Anjeli meletakkan spatula, matanya membelalak penuh haru.
Pak Burhan tersenyum, wajahnya tampak bercahaya oleh kebanggaan yang sederhana. "Ayah ingin mencoba berjalan tanpa tongkat pagi ini, Nak. Sejak makan nasi dari beras pemberianmu dan rutin diolesi minyak itu, rasanya ada aliran kekuatan yang terus mendesak dari telapak kaki Ayah. Jadi mau berjalan tanpa tongkat. Ayah tidak mau selamanya bergantung pada tongkat."
Aris yang baru saja selesai memakai seragam sekolahnya yang rapi segera berlari menghampiri. "Ayah! Lihat, Ayah bisa lepas tangan!" bocah itu melompat-lompat kegirangan di sekitar Ayahnya, namun tetap berhati-hati agar tidak menyenggol.
"Hari ini Aris ada ujian matematika terakhir, kan?" tanya Pak Burhan sambil perlahan melangkah menuju meja makan. Setiap langkahnya diambil dengan penuh perhitungan, pelan namun mantap.
"Iya, Ayah. Kalau Aris bisa dapat nilai seratus, Kak Anjeli janji mau buatkan sayur sop ayam pakai buncis dari kebun kita," jawab Aris dengan mata berbinar.
"Kalau begitu, hari ini Ayah yang akan mengantarmu sampai ke gerbang sekolah," ucap Pak Burhan.
Anjeli tertegun. Jarak dari rumah ke sekolah Aris sekitar lima ratus meter. Untuk orang yang setahun ini hanya duduk di kursi roda, itu adalah perjalanan yang sangat jauh. "Ayah, apa itu tidak terlalu jauh? Nanti kalau kaki Ayah kaku di tengah jalan bagaimana?"
Pak Burhan menggeleng pelan, tangannya mengusap pundak Anjeli. "Njel, Ayah harus menunjukkan pada orang desa, juga pada orang-orang kota yang sering mengintaimu itu, bahwa Ayah adalah kepala keluarga yang sudah pulih. Ayah tidak mau mereka punya alasan lagi untuk meragukan kemampuan kita menjaga Aris."
Anjeli mengerti. Ini bukan sekadar jalan pagi, ini adalah pernyataan martabat. Ia segera menyiapkan bekal nasi hangat dengan tumis buncis dan tempe goreng untuk Aris, lalu membantu Ayahnya mengenakan kemeja batiknya yang paling rapi, kemeja yang sudah lama tersimpan di dalam lemari kayu tua.
Pukul tujuh pagi, pintu pagar mawar terbuka. Warga desa yang sedang sibuk menyapu halaman atau bersiap ke pasar mendadak berhenti beraktivitas. Mereka melihat sebuah pemandangan yang seolah mustahil, Pak Burhan berjalan keluar gerbang. Di sisi kanannya, Aris menggandeng tangan Ayahnya dengan bangga, dan di sisi kirinya, Anjeli berjalan perlahan sambil membawa tas sekolah adiknya, matanya selalu waspada menjaga setiap langkah sang Ayah.
Pak Burhan berjalan menggunakan tongkat kayunya sebagai penyeimbang, namun ia melangkah dengan ritme yang stabil.
"Loh, itu Pak Burhan kan? Dia sudah bisa berjalan?" bisik seorang ibu di depan warung.
"Eh, benar! Padahal bulan lalu saya lihat dia masih didorong-dorong pakai kursi roda. Obat apa yang dikasih Anjeli ya?" sahut yang lain dengan nada heran bercampur kagum.
Anjeli merasakan pandangan-pandangan itu. Ada yang menatap dengan syukur, namun ada juga yang menatap dengan tatapan dingin penuh selidik. Di depan rumahnya, Bu Sumi berdiri dengan sapu lidi yang terhenti di udara. Wajahnya tampak pucat sekaligus geram melihat Pak Burhan yang kini bisa menyapa warga dengan anggukan kepala yang berwibawa.
"Pagi, Bu Sumi," sapa Pak Burhan saat melewati depan rumah wanita itu.
Bu Sumi hanya mendengus, tidak menjawab. Ia segera masuk ke dalam rumah dan membanting pintunya. Bagi Bu Sumi, kesembuhan Pak Burhan adalah ancaman bagi narasinya tentang pesugihan yang ia sebarkan selama ini.
Sepanjang jalan, Anjeli merasa hatinya membuncah. Ia melihat bagaimana Ayahnya menyapa para tetangga, menanyakan kabar sawah mereka, seolah-olah waktu dua tahun yang hilang karena lumpuh itu terhapus dalam sekejap. Ini adalah hasil dari setiap tetes Air Rohani dan setiap butir Padi Emas yang ia olah dengan penuh rahasia di Ruang Ajaib. Kebahagiaan ini, batin Anjeli, tidak boleh ada yang merusaknya.
Setelah mengantar Aris dan memastikan Ayahnya beristirahat di kursi panjang depan sekolah sambil menunggu jam masuk, Anjeli kembali ke rumah untuk bekerja di kebun. Namun, rumahnya kini tak lagi sepi. Dampak dari artikel majalah Gani mulai terasa nyata.
Tiga orang pria dengan seragam dinas pertanian kabupaten tampak berdiri di depan pagar mawarnya. Mereka membawa buku catatan dan alat pengambil sampel tanah.
"Selamat pagi, Dek Anjeli. Kami dari dinas pertanian. Kami tertarik dengan ulasan di majalah Warta Tani. Kami ingin melakukan observasi pada lahan Anda," ujar salah satu petugas yang bernama Pak Anwar.
Anjeli menarik napas panjang. Ia tahu saat ini akan tiba. Ia membuka pagar dan mempersilakan mereka masuk ke area kebun sepetaknya. "Silakan, Pak. Tapi mohon maaf, kebun saya hanya sepetak kecil. Mungkin tidak banyak yang bisa dilihat."
Para petugas itu mulai mengukur pH tanah, mengambil sampel tanah di sekitar tanaman jahe merah, dan mengamati daun selada keriting yang rimbun. Anjeli tetap pada pendiriannya; ia hanya menjelaskan tentang penggunaan kompos kotoran ayam dan air cucian beras yang difermentasi.
"Luar biasa," gumam Pak Anwar sambil memeriksa akar buncis. "Tanahnya sangat gembur dan kaya akan mikroba baik. Meskipun ini lahan berbatu, tapi Anda berhasil membuat lapisan topsoil yang sangat sehat. Apakah Anda menggunakan hormon tambahan?"
"Tidak, Pak. Saya hanya menggunakan ramuan herbal yang saya buat dari sisa-sisa akar di hutan," jawab Anjeli tenang.
Saat mereka sedang sibuk, Anjeli menyadari adanya gerakan di balik jendela rumah Bu Sumi. Ia tahu tetangganya itu sedang mengamati setiap gerak-gerik orang dinas tersebut. Anjeli merasa ada sesuatu yang sedang direncanakan buk Sumi. Ia merasa mawar-mawar di pagarnya seolah bergetar pelan, memberikan firasat yang tidak enak.
Malam harinya, setelah makan malam yang hangat, di mana Aris dengan bangga menunjukkan nilai matematikanya yang sempurna dan Pak Burhan bercerita betapa senangnya ia bisa mengobrol kembali dengan bapak-bapak di depan sekolah. Anjeli tidak bisa langsung tidur.
Ia duduk di teras belakang, menatap tanaman jahenya yang mulai tumbuh subur. Cahaya bulan menerangi dedaunan hijau itu, membuatnya tampak perak. Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki yang sangat pelan dari arah luar pagar belakang, dekat pohon jati.
Anjeli mematikan lampu teras agar ia bisa melihat lebih jelas dalam kegelapan. Ia mengintip dari celah pagar bambu yang rimbun oleh mawar. Di sana, ia melihat dua orang bayangan. Salah satunya bertubuh pendek tambun yang ia kenali sebagai Pak Darmo, suami Bu Sumi. Orang satunya lagi tampak membawa sebuah botol jeriken plastik.
"Cepat siramkan saja di akar mawar itu, biar cepat mati. Kalau pagarnya mati, kita bisa masuk dan ambil sampel tanahnya untuk dikasih ke orang kota itu," bisik suara yang sangat mirip dengan Bu Sumi.
Anjeli merasakan darahnya mendidih. Mereka ingin meracuni tanamannya!
Ia tidak langsung berteriak. Ia meraba cincin di jarinya. Tiba-tiba, ia merasakan energi dari Ruang Ajaib mengalir ke arah tanaman mawar pelindungnya. Mawar-mawar itu, yang biasanya hanya diam, tampak bergerak halus meskipun tidak ada angin. Duri-durinya seolah menegang dan memanjang.
Saat Pak Darmo hendak menuangkan isi jeriken itu ke pangkal mawar, tiba-tiba dahan mawar itu meliuk seperti cambuk karena tertiup angin kencang yang tiba-tiba muncul. Duri-durinya yang tajam menyabet lengan Pak Darmo.
"Aduh! Sialan! Mawar ini tajam sekali!" teriak Pak Darmo tertahan. Jeriken plastiknya jatuh dan isinya yang berbau tajam seperti solar tumpah ke arah luar pagar, bukan ke arah dalam kebun.
Anjeli segera menyalakan lampu senter besar dan mengarahkannya ke arah pagar. "Siapa di sana?!" teriaknya dengan suara lantang.
Kedua bayangan itu lari terbirit-birit menembus gelapnya hutan jati. Anjeli tidak mengejar. Ia segera mendekati pagar mawarnya. Beruntung, karena pagar itu cukup tebal dan mawar-mawar itu seolah memiliki pertahanan sendiri, cairan beracun itu tidak sampai menyentuh tanah kebunnya.
Anjeli duduk bersimpuh di samping pagar mawarnya. Ia mengelus dahan mawar yang tadi sempat menyabet Pak Darmo. "Terima kasih sudah menjaga kami," bisiknya.
Ia menyadari bahwa keberhasilannya kini membawa risiko yang semakin besar. Kecemburuan tetangga sudah sampai pada tahap ingin merusak tanaman dan kebunnya. Namun, ia tidak merasa takut. Ia justru merasa semakin kuat karena Ayahnya sudah mulai pulih dan adiknya memiliki harapan.
Malam itu, Anjeli masuk ke Ruang Ajaib. Ia mengambil Air Rohani lebih banyak dan menyiramkannya ke seluruh garis pagar. Ia ingin memastikan benteng alaminya semakin kuat. Di dalam gubuk, ia melihat catatan baru yang muncul di lemari akar
“Kesuburan yang mendatangkan iri hati harus dijaga dengan keikhlasan. Tanaman yang tumbuh dari cinta tidak akan mudah mati oleh racun benci."
Anjeli memejamkan mata, menghirup aroma harum Padi Emas di dalam ruang itu. Ia tahu besok pagi pasti akan ada desas-desus baru di sumur desa tentang mawar yang bisa bergera, tapi ia tidak peduli. Selama ia bisa menjaga senyum di wajah Ayahnya dan binar di mata Aris, ia akan menjadi penjaga kebun yang paling tangguh di dunia.
Keesokan paginya, saat Anjeli sedang membantu Ayahnya berlatih jalan di halaman depan, ia melihat Pak Darmo lewat dengan lengan yang dibalut kain perban. Pak Darmo tidak berani menoleh ke arah rumah Anjeli.
"Ayah, hari ini Ayah mau jalan ke mana?" tanya Anjeli sambil menggandeng tangan Ayahnya.
"Ayah mau ke kebun belakang, Njel. Ayah mau ikut membantumu menyiangi rumput. Ayah sudah kuat sekarang, Nak.” jawab Pak Burhan dengan suara yang mantap.
Anjeli tersenyum. Langkah kaki Ayahnya yang semakin kuat di atas tanah adalah jawaban terbaik bagi setiap orang yang ingin menjatuhkan mereka. Dan di saku bajunya, tabungan dari hasil penjualan sayur buncis dan selada kini sudah hampir mencapai setengah dari jumlah hutang ibunya. Perjalanan masih panjang, tapi kebahagiaan itu kini bukan lagi sekadar impian.
______________🌹❤️
Terimah kasih sudah mengikut dan membaca cerita perjalanan Anjeli🙌🏾
Jangan lupa like dan komen ya…
Lanjut ceritaaaanyaa….
semangat updatenya 💪💪