Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.
Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.
Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.
Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.
"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Arman
Dua minggu berlalu sejak hukuman tiga hari itu.
Dua minggu yang terasa seperti bulan, tapi juga terasa seperti hari.
Waktu menjadi konsep yang aneh bagiku sekarang. Kadang cepat. Kadang lambat. Kadang... tidak terasa sama sekali.
Aku sudah kembali ke rutinitas. Bangun pagi, sarapan dengan Leonardo, lalu dia pergi ke ruang kerjanya atau keluar rumah untuk urusan bisnisnya yang tidak pernah dia ceritakan detailnya. Aku menghabiskan hari dengan membaca buku di perpustakaan, atau duduk di taman sambil menatap danau, atau kadang berenang di kolam dalam ruangan.
Tapi semuanya terasa hambar. Seperti aku cuma robot yang menjalankan program.
Yang berubah adalah... aku tidak lagi mencoba melawan.
Aku makan saat diminta. Aku bicara saat ditanya. Aku tersenyum saat Leonardo ingin aku tersenyum.
Seperti boneka yang tahu kapan harus bergerak.
Dan Leonardo... Leonardo terlihat puas dengan perubahan ini.
Dia lebih sering ada di rumah. Lebih sering menghabiskan waktu denganku. Kadang kami makan malam bersama di taman seperti malam itu. Kadang dia mengajakku menonton film di ruang teather pribadi. Kadang dia hanya duduk di sampingku sambil membaca dokumen, tangannya sesekali menyentuh rambutku atau tanganku.
Sentuhan-sentuhan kecil yang seharusnya romantis. Tapi bagiku... entahlah. Aku sudah tidak tahu apa yang kurasakan lagi.
Aku membenci dia. Itu pasti. Tapi di saat yang sama, aku merasa... aman saat dia ada di dekat. Seperti selama dia ada, tidak ada yang akan menyakitiku.
Ironis, karena dialah yang paling menyakitiku sejak awal.
Tapi otakku sudah terlalu lelah untuk memproses ironi itu. Jadi aku cuma... menerima saja.
Pagi ini, seperti biasa, aku sarapan dengan Leonardo. Tapi ada yang berbeda. Dia terlihat lebih serius dari biasanya. Ada kerutan kecil di keningnya saat dia membaca sesuatu di tabletnya.
"Ada masalah?" tanyaku pelan. Ini pertama kalinya aku bertanya tentang pekerjaannya sejak insiden tablet itu.
Leonardo mengangkat pandang. Terkejut sebentar, lalu tersenyum tipis.
"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, sayang," jawabnya sambil meletakkan tabletnya. "Hanya urusan kecil yang perlu diselesaikan."
Aku mengangguk. Tidak bertanya lebih lanjut. Karena aku tahu dia tidak akan cerita lebih banyak.
"Oh ya," Leonardo tiba-tiba ingat sesuatu. "Hari ini kau akan mendapat email. Dari account yang kau gunakan dulu di Jakarta."
Aku menatapnya bingung. "Email? Tapi saya tidak punya akses internet..."
"Sekarang kau punya. Terbatas." Dia menuangkan kopi untuk ku. "Aku sudah setup laptop untuk mu di perpustakaan. Kau bisa akses email dan beberapa website tertentu. Tapi tetap dengan monitoring, tentu saja."
Monitoring. Tentu saja.
"Kenapa tiba-tiba saya dikasih akses?" tanyaku curiga.
"Karena aku pikir kau sudah cukup... terpercaya." Dia menatapku dengan tatapan yang intens. "Dan karena aku tidak mau kau merasa terlalu terisolasi. Sedikit kontak dengan dunia luar mungkin baik untukmu. Selama terkontrol."
Terkontrol. Semua harus terkontrol.
Tapi setidaknya ini kemajuan, kan? Setidaknya aku bisa... apa? Kirim email ke siapa? Aku bahkan tidak tahu siapa yang bisa kukirimi email.
Teman-temanku di Jakarta pasti sudah lupa padaku. Atau mungkin mereka pikir aku sudah bahagia dengan suami baruku.
Kalau mereka tahu kebenaran...
"Jangan berpikir macam-macam," suara Leonardo memotong lamunanku. "Semua email masuk dan keluar akan kuperiksa. Jadi kalau kau coba minta tolong atau memberitahu seseorang tentang kondisimu di sini... well, kau tahu konsekuensinya."
Aku tahu. Tentu saja aku tahu.
Setelah sarapan, aku pergi ke perpustakaan. Benar saja, ada laptop baru di meja. Slim, warna silver, terlihat mahal.
Aku membukanya. Langsung muncul layar login dengan akun yang sudah di-setup. Email ku yang lama. Password sudah tersimpan otomatis.
Aku membuka inbox.
Ratusan email yang tidak terbaca. Kebanyakan spam. Beberapa dari teman-teman lama. Newsletter dari website yang pernah kukunjungi.
Aku scroll pelan, tidak terlalu tertarik. Sampai satu email menarik perhatianku.
Pengirim: arman.prasetya.investigasi@protonmail.com
Subjek: Kau tidak sendirian
Jantungku berhenti sejenak.
Arman. Arman Prasetya.
Teman dari kampus dulu. Kami tidak terlalu dekat, tapi cukup kenal. Dia mahasiswa jurnalistik yang selalu penasaran dengan segala sesuatu. Selalu menyelidiki. Selalu mencari kebenaran.
Kenapa dia mengirim email padaku?
Aku melirik ke belakang. Memastikan tidak ada orang. Perpustakaan sepi. Hanya aku.
Dengan tangan gemetar, aku klik email itu.
"Nadira,
Aku tahu kau mungkin tidak ingat aku. Atau mungkin kau ingat tapi heran kenapa aku menghubungimu. Tapi aku harus kirim email ini.
Tiga minggu lalu, aku kebetulan ketemu Ibu kau di pasar. Aku tanya kabar kau, dia bilang kau sudah menikah dan pindah ke luar negeri. Seharusnya aku senang dengar itu. Tapi ada sesuatu di wajah Ibu kau. Dia terlihat... takut. Dan sedih. Seperti dia menyembunyikan sesuatu.
Aku coba tanya lebih lanjut, tapi dia langsung pergi. Bilang dia sibuk.
Rasa penasaranku tersulut. Aku mulai menyelidiki. Dan apa yang kutemukan... Nadira, ini tidak benar.
Kau menikah dengan Leonardo Valerio. Aku cari tahu siapa dia. Dan yang kutemukan sangat mengejutkan.
Leonardo Valerio bukan pengusaha biasa. Dia kepala organisasi kriminal internasional. Mafia. Aku menemukan koneksinya dengan perdagangan senjata, narkoba, bahkan perdagangan manusia.
Nadira, aku tidak tahu kau menikah dengan dia karena dipaksa atau apa. Tapi aku punya firasat buruk.
Aku akan mencari tahu lebih banyak. Dan kalau ternyata kau dalam bahaya, aku akan membawamu pulang.
Aku akan menyelamatkanmu.
Tunggu aku.
Arman"
Aku membaca email itu tiga kali.
Arman tahu. Dia tahu siapa Leonardo. Dan dia mau... menyelamatkanku?
Tidak. Tidak. Ini berbahaya.
Kalau Leonardo tahu ada orang yang menyelidiki dia, kalau dia tahu Arman mencoba "menyelamatkan" ku...
Arman akan mati.
Seperti Riccardo. Seperti ratusan orang lain yang namanya ada di daftar eliminasi itu.
Aku harus membalas. Harus bilang pada Arman untuk berhenti. Untuk tidak mencampuri. Untuk melupakan aku.
Tapi... tapi bagaimana caranya?
Leonardo bilang semua email akan diperiksa. Kalau aku balas dengan bilang "jangan selamatkan aku", Leonardo akan curiga. Akan tahu bahwa Arman menyelidikinya.
Kalau aku balas dengan bilang "aku baik-baik saja, jangan khawatir", Arman tidak akan percaya. Dia jurnalis. Dia tahu cara membaca antara baris.
Kalau aku tidak balas sama sekali... Arman akan terus menyelidiki. Dan itu lebih berbahaya.
Tanganku gemetar di atas keyboard. Otakku berputar cepat mencoba memikirkan cara terbaik.
Akhirnya aku mengetik:
"Arman,
Senang dengar kabar dari kau. Aku baik-baik saja. Menikah dengan Leonardo adalah keputusan ku sendiri. Dia memperlakukanku dengan sangat baik. Aku bahagia di sini.
Kumohon jangan khawatir tentang aku. Fokus saja pada karirmu. Aku dengar kau sekarang jadi jurnalis investigasi yang bagus.
Tapi tolong, jangan menyelidiki tentang Leonardo atau aku. Itu... itu bisa berbahaya. Untuk kau. Dan untuk orang-orang yang kau sayangi.
Percayalah padaku. Aku tahu apa yang kulakukan.
Terima kasih sudah peduli. Tapi aku benar-benar baik-baik saja.
Jaga dirimu.
Nadira"
Aku baca ulang email itu. Tidak sempurna. Tapi cukup untuk memberikan peringatan tanpa terlalu mencurigakan.
Dengan tangan yang masih gemetar, aku klik kirim.
Email terkirim.
Aku menutup laptop. Bersandar di kursi. Jantungku berdebar kencang.
Arman. Kenapa kau harus peduli? Kenapa kau harus menyelidiki?
Sekarang hidupmu dalam bahaya. Dan aku tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkanmu.
Bahkan aku tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri.
Suara pintu perpustakaan terbuka. Aku tersentak. Berbalik.
Leonardo masuk. Wajahnya tenang seperti biasa. Tapi matanya... matanya menatapku dengan tatapan yang membuatku tidak nyaman.
"Sudah kirim email?" tanyanya sambil berjalan mendekat.
"Sudah," jawabku pelan.
"Ke siapa?"
"Teman lama. Arman. Dia tanya kabar ku. Aku bilang aku baik-baik saja."
Leonardo mengangguk. "Boleh aku lihat emailnya?"
Bukan pertanyaan. Perintah.
Aku membuka laptop lagi. Menunjukkan email dari Arman dan balasanku.
Leonardo membaca dengan seksama. Wajahnya tidak berubah. Tapi aku bisa lihat rahangnya mengeras sedikit saat membaca bagian "menyelidiki".
"Arman Prasetya," gumamnya. "Jurnalis investigasi. Bekerja untuk media online independen. Pernah mengungkap beberapa kasus korupsi."
Dia tahu. Tentu saja dia tahu. Mungkin dia sudah melakukan background check pada Arman sejak email itu masuk.
"Dia orang yang berbahaya," lanjut Leonardo. Masih menatap layar. "Orang-orang seperti dia tidak tahu kapan harus berhenti. Selalu mencari kebenaran. Selalu ingin jadi pahlawan."
"Dia cuma khawatir," aku mencoba membela. "Dia tidak bermaksud apa-apa."
"Mungkin." Leonardo menutup laptop. "Atau mungkin dia sudah mulai menggali terlalu dalam. Dan kalau dia terus menggali..."
Dia menatapku. Tatapan yang sangat serius.
"Aku harus melindungi apa yang jadi milikku, Nadira. Dengan cara apapun."
Darahku mendingin.
"Jangan sakiti dia," bisikku. "Kumohon. Dia cuma... dia cuma peduli. Dia tidak tahu apa-apa."
"Belum." Potong Leonardo. "Dia belum tahu apa-apa. Tapi kalau dia terus mencari, cepat atau lambat dia akan menemukan sesuatu. Dan saat itu terjadi..."
Dia tidak melanjutkan. Tidak perlu. Aku sudah tahu apa yang dia maksud.
"Tapi kalau kau mau dia selamat," Leonardo melanjutkan dengan nada lebih lembut. "Kau bisa bantu aku."
"Bagaimana?" tanyaku cepat. Terlalu cepat.
Leonardo tersenyum tipis. "Kirim email lagi. Bilang padanya bahwa kau benar-benar bahagia. Bahwa kau tidak ingin dia mencampuri hidupmu lagi. Bahwa kalau dia terus menyelidiki, kau akan memutuskan semua kontak dengannya."
"Itu... itu akan membuatnya semakin curiga..."
"Atau itu akan membuatnya sadar bahwa kau serius. Bahwa ini bukan permintaan tolong tersamar. Tapi perintah nyata untuk mundur." Leonardo membuka laptop lagi. "Lakukan sekarang. Sementara aku di sini."
Aku menatap layar. Lalu menatap Leonardo. Lalu kembali ke layar.
Aku tidak punya pilihan.
Dengan tangan gemetar, aku mengetik email kedua:
"Arman,
Aku serius dengan apa yang kutulis tadi. Aku BAHAGIA di sini. Aku tidak butuh diselamatkan. Aku tidak dalam bahaya.
Kalau kau terus menyelidiki tentang Leonardo atau hidupku, aku akan menganggap itu sebagai pelanggaran privasiku. Dan aku akan memutuskan semua kontak dengan kau.
Ini bukan permintaan. Ini peringatan.
Berhenti sekarang sebelum terlambat.
Nadira"
Aku klik kirim sebelum aku berubah pikiran.
Leonardo membaca email itu di belakangku. Tangannya menyentuh pundakku.
"Bagus," bisiknya. "Semoga temanmu cukup pintar untuk mendengarkan."
Semoga.
Tapi aku kenal Arman. Dia keras kepala. Dia tidak akan mundur hanya karena email ancaman.
Dan itu artinya...
Aku baru saja menandatangani hukuman mati untuk teman sendiri.
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
Leonardo memutar kursiku, membuatku menghadap dia. Mengusap air mataku dengan lembut.
"Jangan menangis," ucapnya lembut. "Ini untuk kebaikannya. Dan untuk kebaikanmu juga."
Kebaikan. Tidak ada yang baik dari semua ini.
Tapi aku hanya bisa mengangguk. Membiarkan Leonardo memelukku. Membiarkan dia mengusap rambutku sambil berbisik kata-kata menenangkan yang tidak menenangkan sama sekali.
Karena aku tahu.
Arman tidak akan berhenti.
Dan Leonardo tidak akan membiarkan ancaman hidup.
Tinggal tunggu waktu saja sebelum nama Arman Prasetya masuk ke dalam daftar eliminasi.
Dan aku... aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menunggu dan berharap mukjizat yang tidak akan pernah datang.